Let me Love You

Let me Love You
Bab 16.



Andin merasa tersanjung di perlakukan layaknya putri mereka sendiri. Pantas saja Toni sangat mencintai Adam dan Natalie. Karena Andin juga merasakan hal yang sama justru dari orang asing. Dia jauh dari rumahnya, tapi malah di situlah dia menemukan kedamaian.


Andin tidur nyenyak di rumah orang tua Toni. Dia seolah tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Untuk sementara, Andin memakai baju lama Natalie. Ukuran tubuhnya ternyata hampir sama dengan Andin.


Toni juga tak lagi terlihat setelah memasuki kamar nya. Mungkin dia juga kelelahan karena perjalanan mereka yang panjang.


Mereka tertidur pulas sampai pagi hari.


Keesokan paginya, Andin terbangun.Dia segera bergegas ke kamar mandi membersihkan diri dan kemudian pergi ke dapur. Di sana, para pelayan sedang bekerja membuat sarapan.


"Nona,, sebaiknya tunggu di depan saja, katakan kalau ada yang nona butuhkan".


"Ah...tidak,, maaf mengganggu".


"Andin......di sini kau rupanya".


"Ayo,, ada yang ingin ku katakan pada mu".


"Ada apa Toni??".


"Kau harus bersiap,, Natalie akan menunjukkan rumah mode yang nantinya akan kau kelola".


"Setelah kita menikah,, kau bisa bekerja di sana".


"Tapi apa aku bisa??".


"Kau pintar Andin, aku yakin kau pasti bisa".


"Aku akan membantu mu kalau kau kesulitan".


Dari arah tangga, Natalie datang dengan membawa gaun pendek berwarna biru. Dia memberikan nya kepada Andin.


"Kau di sini rupanya sayang".


"Ayo..bersiaplah, pakai gaun ini...hati ini aku akan mengajak mu jalan-jalan".


"Kita akan ke butik sekalian memesan gaun pengantin kalian".


Andin menerima gaun dari Natalie. Saat ini dia tak punya pilihan lain. Walaupun Andin belum mencintai Toni, tapi dia harus setuju menikah dengan nya. Lagi pula Andin harus mewujudkan rencana balas dendam nya kepada Bram. Untuk itu dia harus jadi wanita yang sukses. Biar Bram tidak lagi meremehkan dirinya suatu saat nanti.


Dan Toni serta keluarganya bersikap sangat baik pada Andin.Tak apa kalau baginya dia harus mengorbankan perasaan nya dan di berikan pada Toni. Dia sudah bertekad,, tak akan lagi menjadi Andin yang dulu. Yang lah dan selalu dimanfaatkan.


Mereka bertiga segera berangkat ke rumah mode milik teman Natalie. Kebetulan pemiliknya teman baik Natalie. Tapi saat ini, mereka sedang mempersiapkan pernikahan putrinya yang akan di gelar sebulan lagi.


"Kau lihat,,ini putri mereka Vaness dan calon suaminya Bram".


"Bulan depan mereka menikah, jadi Sarah dan John sedang mempersiapkan segalanya".


Andin dan Toni saling berpandangan.Rupanya


kabar itu benar adanya. Dan Natalie adalah teman dari Vanesa juga. Sungguh, dunia sangat kecil rasanya.


"Kenapa,,kalian pasti mengenalnya??".


"Mereka pasangan selebritas karena berasal dari keluarga ternama".


"Hmmm....jadi pernikahan itu bukan omong kosong belaka".


"Tentu tidak Toni,, Acar di sini sendiri sudah ada undangan nya".


"Sayang,, kalian berdua nanti ikut ke acara ya".


"Aku juga ingin menunjukkan pada teman-teman ku kalau menantu ku sangat cantik".


"Tentu mom,, kami pasti datang".


Natalie dan Toni membawa Andin ke salon. Mereka merubah dandanan dan gaya rambut Andin. Kali ini dia tampak sangat berbeda. Terlihat seperti seorang bangsawan. Andin sangat cantik dan elegan.


Setelah ke salon mereka membawa Andin berbelanja baju dan perlengkapan lain nya.


Andin benar-benar sudah berubah sekarang. Dia menjadi gadis Inggris yang cantik jelita. Tak akan ada yang bisa mengenalinya lagi sekarang.


Tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah butik milik Vanessa. Orang tuanya kebetulan sudah kembali, sementara Vanessa akan menyusul sore ini.Pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Persiapan pun sudah 100 persen. Tinggal menunggu acara terlaksana.


Mereka tiba di rumah mode Vaness dan di sambut sendiri oleh Sarah. Natalie segera masuk dan duduk di sofa.


"Sarah,,,aku ingin memesan gaun pengantin untuk putra ku Toni".


"O,,,rupanya kau tak mau ketinggalan ya??".


"Tentu saja,,kenal kan ini menantu ku, dia A...".


"Ya,,,menantu ku Bella yang akan memakai gaun tersebut".


"Ok,,baiklah...gaun seperti apa yang kau inginkan?".


"Menantu mu cantik sekali Natalie,, gaun apapun pasti akan nampak indah di tubuhnya".


"Toni sungguh beruntung mendapat istri seperti Bella".


"Anda terlalu memuji nyonya, putri anda juga cantik".


"Iya Sarah,,di mana dia, aku ingin mengenalkan nya pada Bella".


"Nantinya, rumah mode ku akan dikelola oleh Bella sendiri".


"Jadi dia bisa bertukar pikiran dengan Vaness bila diperlukan".


"Dia masih di Jakarta, pagi ini dia kembali".


"Pernikahan mereka akan di gelar di sini".


"Dan kalian juga harus hadir Bella,Toni".


"Aku secara khusus mengundang kalian berdua".


Toni dan Bella hanya tersenyum. Mereka setuju untuk datang. Setelahnya mereka berpamitan, karena Natalie masih ingin tinggal. Andin dan Toni pergi berdua saja.


Di dalam mobil, Andin masih saja murung. Toni yang mengetahui masalahnya segera menghentikan mobil. Di genggam nya tangan Andin erat, seolah memberi kekuatan padanya.


"Menangis lah,,keluarkan semua racun Bram dari hati mu".


"Maaf Toni,,aku tak bisa menahan diri".


"Aku mengerti perasaan mu,,,jadilah kuat".


"Tunjukkan pada Bram kalau kau bukan gadis lemah".


"Toni,,aku punya satu permintaan".


"Katakan Andin,,aku siap mendengar nya".


"Aku ingin tak ada orang yang mengenali ku lagi nanti".


"Jadi, mulai sekarang aku akan memakai nama belakang ku Bella".


"Andin sudah mati di Jakarta".


"Yang ada hanya Bella mulai sekarang".


"Baiklah, kalau itu keputusan mu".


"Terima kasih Toni,, kau dan keluargamu sangat baik padaku".


Andin sudah lega sekarang. Dia jadi yakin untuk menghapus nam Bram dari hatinya.


Nyatanya, pernikahan mereka tidaklah palsu dan pura-pura. Buktinya, semua persiapan mewah sudah selesai jauh-jauh hari. Dan dalam proses itu, Bram terlibat di dalam nya.


Bella mantap merubah identitasnya. Dia akan menjadi orang yang berbeda mulai sekarang. Tak apa jika harus menikah dengan Toni. Dia juga sangat baik. Dan menerima Bella apa adanya.


Hari berganti hari. Bella juga sudah mulai beraktivitas di butik Natalie. Bella sangat pintar, sehingga dalam waktu singkat bisa menangani butik yang diberikan kepadanya.


Dia tak sungkan untuk belajar dan mencari tahu di internet, sehingga butiknya menjadi rame semenjak di pegang oleh Bella.


Persiapan pernikahan keduanya juga hampir selesai. Sesekali dia menelpon Vanessa sebagai Bella.Tanpa sadar keduanya sudah jadi sahabat. Mereka sering bertukar pikiran tentang trend mode yang sedang di sukai masyarakat.


Bella tak pernah mendengar kabar Bram lagi. Dia sibuk dengan pekerjaan baru nya. Sedangkan Bram sangat terpuruk. Kehilangan Andin membuatnya down. Kerjanya hanya minum-minum saja. Dia mengira kalau Andin memang benar sudah meninggal.


Keluarganya selalu menekan dirinya. Memaksakan kehendak mereka pada Bram.


Hari ini pun adalah hasil dari ulah keluarganya. Pernikahan nya dengan Vanessa digelar. Bram seolah sudah mati rasa. Dia tak menghiraukan apa-apa lagi. Walaupun semalam sudah tiba di Inggris, dia tetap tak mau keluar dari kamar. Dia tak bersemangat untuk melakukan apapun.


"Bram, aku tak tahu apa yang sedang kau pikirkan".


"Tapi untuk pernikahan mu kali ini, aku tak mau ada kekacauan".


"Lekas ganti baju mu dan bersiaplah,, atau kita akan kehilangan segalanya kalau kau sampai membatalkan acara ini".


Bram diam saja, dia bangkit dan mengenakan baju pengantin nya. Setelah itu dia keluar ke ruangan make up. Di sana, Vanessa sudah menyambutnya dengan senyum sumringah.


...****************...