Let me Love You

Let me Love You
Bab 48.



Pagi-pagi sekali Andin dan Toni sudah ada di bandara. Hari ini mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Toni bahkan tidak sempat berpamitan kepada orang tuanya. Rencana


nya nanti setelah tiba di Jakarta, mereka baru akan menelpon Natalie.


Pesawatnya berangkat sesuai jadwal. Keduanya saat ini sedang berada di dalam pesawat terbang. Andin kelihatan sangat cemas. Sepanjang naik pesawat tadi, tangan nya tak lepas menggenggam jemari Toni.


"Jangan terlalu khawatir sayang,,aku sudah mengatur semuanya".


"Orang ku juga sudah menemukan tempat baru bagi paman Burhan".


"Aku yakin, tak ada yang bisa mengganggunya lagi di sana nanti".


"Iya sayang,, aku mengerti!!".


"Terima kasih banyak atas bantuan mu".


"Santai lah...nikmati perjalanan nya,,sebentar lagi kita sampai".


Andin sebetulnya tidak begitu khawatir, karena dia yakin, Toni pasti sudah berupaya semaksimal mungkin untuk paman Burhan.


Tapi Andin masih berpikir tentang segala hal yang mungkin bisa membangkitkan kenangan nya kembali dengan masa lalunya.


Rumah kontrakan yang di tinggalkan nya, lengkap dengan semua barang-barang miliknya. Seperti apa keadaan nya sekarang.


Mungkin saja sudah di jual oleh pemilik rumah. Padahal banyak sekali kenangan yang tertinggal di rumah itu.


Saat akhirnya pesawat nya mendarat, Andin masih melamun. Toni menggandeng tangan nya menuruni tangga depan pesawat Garuda Indonesia yang mereka tumpangi. Sambil antri di depan bagasi, Toni menelpon Natalie.


"Mom,,,selamat pagi,,kau sudah bangun bulan??".


"Ada apa sayang, kau butuh sesuatu".


"Tidak mom,, hanya aku ingin bilang kalau aku sedang berada di Jakarta sekarang".


"Ada sesuatu yang mendadak terjadi di sini".


"Jadi, tanpa pikir panjang,aku dan Andin segera berangkat".


"Tapi Toni,,kau kan masih belum sembuh benar".


"Tenang saja mom,, aku membawa suster cantik bersama ku".


"Dia akan mengurus ku dengan baik".


"Dan mom, sudah dulu ya....bagasi ku sudah selesai".


Selalu saja seperti ini, Toni sering sekali bertidak sesuai keinginan hatinya sendiri. Terkadang, Natalie bahkan tidak melihat wajahnya untuk waktu yang lama.


Namun terkadang juga, dia betah berlama-lama di Inggris menemani dirinya dan Adam.


Namun, sejak menikah dengan Andin, Toni jauh kelihatan lebih bahagia.Sepertinya Natalie dan Adam bukan lagi menjadi prioritas utamanya.


Kedua pasangan itu menaiki taxi menuju ke hotel tempatnya menginap. Sepanjang jalan Andin terlihat sangat gelisah. Seperti ada yang sedang di pikirkan olehnya.


"Kau masih saja murung??".


"Katakan, apa yang kau ingin kan??".


"Atau kau sedang memikirkan sesuatu??".


"Toni,,,kau masih ingat rumah kontrakan ku dulu bukan??".


"Aku ingin sekali melihatnya".


"Siapa tahu, mereka masih menyimpan barang-barang ku".


"Memangnya kau masih membutuhkan nya??"


"Itu kan barang-barang lama".


"Iya,,,aku cuma ingin memastikan".


"Sekalian kita lihat kondisi restoran paman Burhan".


"Hmmm....sayang,,apa yang tidak ku lakukan untuk mu".


"Hanya sekedar melihat rumah bukan??".


"Kenapa tidak,, kita akan sekalian ke sana nanti".


Di akui Andin, Toni memang sungguh baik. Segala keinginan Andin selalu di penuhinya.


Mungkin Toni memang orang yang sengaja di kirimkan untuk senantiasa menjaga dan melindungi dirinya. Selepas kekecewaan mendalam yang di alaminya.


Keduanya masuk ke dalam hotel. Tak berapa lama, Andin mendapatkan telepon kembali dari no Bram. Dia segera menjawab telepon nya.


"Silahkan kau cari info, dan lihat kebenaran nya".


"Mungkin nanti, suami kaya mu itu bisa berguna untuk mu".


"Atau malah kau sama sekali tidak perduli!?".


"Karena sekarang kau sudah jauh lebih bersinar di bandingkan yang dulu".


"Hentikan penghinaan mu terhadap ku dan suami ku".


"Kau bahkan tidak tahu hatinya ketika asal bicara seperti itu".


"Aku tak mau mendengar omong kosong yang tak berguna".


"Apalagi dari orang seperti mu".


Dengan wajah marah, Andin menutup ponselnya. Untung saja Toni sedang berada di kamar mandi. Kalau tidak dia pasti juga akan jauh lebih marah mendengar kalimat yang di lontarkan oleh Bram.


"Siapa yang menelpon mu, sayang??".


"Salah sambung!!!".


"Entah kenapa di ponselku banyak sekali nomer telepon nyasar".


"Kau ganti saja lagi nomer mu".


"Tidak usah sayang,, aku pakai ini saja".


"Ya sudah,, kau sudah siap ke rumah sakit sekarang??".


"Tentu saja,, aku sudah menunggu mu dari tadi bukan??".


"Ok,, ayo kita ke tempat paman Burhan sekarang".


Andin dan Toni keluar dari hotel dan menyewa mobil untuk mengantar mereka ke rumah sakit. Di tengah jalan, mereka sempatkan mampir membeli buah tangan. Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung menuju kamar perawatan.


"Alangkah terkejutnya Andin dan Toni, melihat Bram ada di kamar paman Burhan untuk merawatnya. Dengan telaten dia menyuapi makanan yang di berikan rumah sakit. Kegiatan nya terhenti ketika melihat Andin dan Toni masuk.


Paman mengenali mereka berdua, tapi kondisinya yang sudah tua, sepertinya tak memungkinkan lagi bagi paman untuk kembali membuka restoran. Mereka sepertinya harus mengubah rencana memberikan sebuah kios kepada paman Burhan.


Bram sudah tidak terlihat lagi. Dia cukup tahu diri, dengan pergi ke luar dan membiarkan Andin dan Toni bicara dengan paman Burhan.


Tak seberapa lama, no ponsel Bram mengirimkan pesan kepada Andin. Dia mengucapakan terima kasih untuk yang di lakukan Andin hari ini.


Sebelum pulang, Toni meninggalkan sejumlah uang kepada paman Burhan. Dia juga berjanji untuk mencarikan perawat yang bisa mengurusnya selama di rumah sakit.


Sesuai janjinya, Toni mengantar Andin ke restoran dan ke rumah kontrakan yang dulu di tinggali nya. Restoran paman Burhan sudah rata dengan tanah. Hanya puing-puing nya saja yang tersisa. Hal itu sangat di sesalkan oleh Andin. Rupanya mereka terlambat untuk menyelamatkan nya.


Andin kemudian bejalan menuju rumahnya. Masih tampak sama dengan saat pertama kali dia tinggalkan. Rupanya, rumah tersebut terkunci. Andin melangkah ke samping menemui pemilik rumah.


"Maaf Bu, apa rumah di depan masih di sewakan??".


"Saya ingin sekali menyewanya kembali".


"Maaf nona, tapi rumah itu sudah di beli orang".


"Saya sudah tidak punya hak lagi".


"Lalu siapa yang membeli rumah ini, kalau saya boleh tahu Bu??".


"Saya tidak yakin, tapi beberapa hari ini, dia tinggal di situ".


"Ini no telpon nya nona, anda tanya sendiri saja".


"Atau tunggu saja, sebentar lagi dia pasti pulang".


Andin menerima kertas yang diberikan oleh pemilik rumah. Dia menghampiri Toni dengan raut wajah kecewa. Keinginan nya untuk melihat isi dalam rumahnya, tak mungkin terlaksana.


"Rumah nya sudah di beli orang".


"Mungkin saja dia sudah membuang barang-barang ku di dalamnya".


"Sudah lah sayang,,jangan bersedih lagi".


"Setidaknya kita sudah mencobanya bukan?".


"Kau benar Toni, kita kembali ke hotel saja".


"Aku ingin istirahat sebentar".


Kekecewaan Andin bertambah besar. Restoran dan rumahnya sudah tidak mungkin lagi bisa di dapatnya. Padahal kedua tempat itu menyimpan kenangan dan saksi hidup perjuangan Andin di masa lalu.


...****************...