Let me Love You

Let me Love You
Bab 62.



Sore hari, Bram kembali menjemput Andin di tempat kerjanya. Dia sengaja melakukan itu, karena perut Andin yang sudah semakin besar, membuatnya khawatir. Mungkin saja di jalan terjadi hal yang tak di ingin kan. Walaupun perasaan Andin kepada Bram masih belum berubah, Laki-laki itu tetap mencintai nya.


"Bram, malam ini aku sudah tak pulang ke kontrakan".


"Kau menginap saja, temani Andin di sana".


"Kasihan kalau dia harus di rumah sendirian".


"Pernikahan mu masih lama kan, kenapa kau sudah keluar?".


"Satu bulan lagi Bram, dan aku harus mengurus semuanya di rumah orang tua ku".


"Maafkan aku kalau tak bisa menjaga Andin lagi".


"Jangan cemas mbak, aku bisa sendiri kok".


"Aku kan bukan anak kecil lagi".


"Tetap saja kau harus di temani, bagaimana kalau sewaktu-waktu terasa kontraksi??".


"Tenang mbak, serahkan saja pada ku".


"Pengawalnya ini bersedia 24 jam di samping nya".


"Kami pulang dulu mbak Tari".


"Hati-hati kalian berdua".


Andin berjalan di samping Bram. Perutnya yang semakin membesar, membuatnya susah untuk berjalan. Bram menawarkan lengan nya untuk tempat Andin berpegangan.


"Bram, aku ingin bicara serius dengan mu?".


"Bisa kita mampir di restoran, sekalian makan".


"Baiklah, tapi jangan lama-lama, kau harus segera beristirahat".


"Aku sudah mulai cuti besok pagi Bram".


"Kau tenang saja".


Andin dan Bram mampir ke restoran favorit Andin. Ada hal penting yang harus di sampaikan Andin padanya. Setelah sampai, keduanya segera mencari meja kosong yang nyaman untuk Andin.


"Bram, aku sudah pikirkan semua yang kau katakan".


"Ini sudah hampir satu tahun, dan kau terus bertahan di sisi ku".


"Mungkin mbak Tari memang benar, anak ini berhak bahagia".


"Dan aku memutuskan untuk menerima mu".


"Tolong, sayangi dia seperti anak mu sendiri".


"Mulai hari ini kau adalah ayahnya, aku tak mau dia mendengar nama lain selain diri mu".


"Kau tidak sedang bercanda kan Andin?".


"Apa itu artinya, kau bersedia menikah dengan ku?".


"Kali ini aku akan langsung mengurusnya kalau kau setuju".


"Dulu aku salah, karena tak mengikat diri mu".


"Kali ini aku akan benar-benar menjadikan mu sebagai istri ku".


"Tunggu Bram,,aku bersedia menikah dengan mu".


"Tapi aku tidak bisa berjanji kalau hati ku bisa langsung terbuka untuk mu".


"Aku masih butuh waktu Bram".


"Tidak mudah bagi ku melupakan sakit nya pengkhianatan".


"Aku masih harus meyakinkan diriku kalau pilihan ku kali ini tidak salah".


"Apa kau masih mau, bersabar sedikit lagi untuk ku?".


"Atau, kau boleh mundur kalau kau sudah bosan".


"Seberapa lama pun waktu yang kau butuh


kan, aku akan tetap menemani mu".


"Hanya, ijinkan aku berada di samping mu".


"Melewati semua momen ini berdua dengan mu".


"Kita akan membesarkan putra kita bersama-sama".


"Aku janji, dia tidak akan pernah kekurangan kasih sayang seorang ayah".


"Aku pastikan akan selalu membahagiakan putra kita".


"Besok pagi, aku akan mengurus persiapan pernikahan kita".


"Supaya setelah anak ini lahir, dia sudah bisa memakai nama ku".


"Baiklah Bram, aku setuju".


Bram tersenyum dan memegang jemari Andin. Entah kenapa kali ini dia merasa sangat bahagia. Perjuangan nya selama 10 bulan, membuahkan hasil. Andin akhirnya bersedia menikah dengan nya.


Setelah ini, Bram tidak akan melepaskan Andin lagi untuk alasan apapun. Tidak juga untuk Toni, ketika dia menyadari kesalahan nya nanti. Dia akan sangat menyesal kehilangan putranya. Terlebih lagi kehilangan sosok wanita seperti Andin.


Keduanya meninggalkan restoran dan menuju rumah kontrakan Andin. Setelah masuk ke dalam, Bram menawarkan kepada Andin untuk tinggal dengan nya saja.


"Bagaimana kalau kau pindah ke apartemen ku saja".


"Di sana lebih dekat dengan rumah sakit".


"Lagipula mbak Tari juga sudah keluar bukan?".


"Kau jauh lebih aman tinggal di sana".


"Baiklah Bram, kalau memang itu yang terbaik".


"Ok,, biar aku telpon pegawai ku untuk membereskan barang-barang mu".


"Kita langsung saja ke apartemen".


Andin menuruti semua perkataan Bram. Sore itu juga dia keluar dari rumah kontrakan dan pindah ke apartemen Bram. Di sana ada tiga kamar kosong dengan fasilitas yang lebih lengkap. Bram yakin, Andin pasti lebih nyaman tinggal di tempatnya.


Sementara itu, di kediaman Natalie, Rossi tengah merancang pesta pernikahan nya dengan Toni. Akhirnya, dia bisa menjadi ratu di rumah Natalie nanti. Satu-persatu, penghuni rumah tersebut akan tunduk kepadanya. Di mulai dari Toni yang sudah menggantungkan hidup nya pada Rossi.


Dalam 10 bulan ini, Rossi sudah berhasil membuat Toni bercerai dengan Andin dan melupakan putranya. Hal itu dia lakukan semata-mata hanya demi harta saja. Lagi pula Rossi sebenarnya enggan kalau harus menikah dengan orang yang cacat. Namun demi kemewahan dan uang, akhirnya dia setuju untuk menikah dengan Toni.


Natalie sendiri keberatan dengan pernikahan ini. Sedikit banyak, dia sudah tahu sifat Rossi selama 10 bulan ini. Natalie merasa, Rossi tak sepenuhnya tulus mencintai putranya itu.


"Dear,,kau sudah yakin ingin menikah dengan Rossi??".


"Sepertinya hanya Rossi yang sabar menghadapi ku mom".


"Pikirkan sekali lagi, kau bilang ingin menunggu Andin melahirkan dulu".


"Aku rasa tak perlu mom!!".


"Rossi benar, anak itu tak mungkin putra ku".


"Bisa saja itu anak Andin dan Bram".


"Jadi, aku tak perlu mengurusnya lagi".


"Kau dari dulu memang keras kepala".


"Ingat sayang, penyesalan itu datangnya di akhir".


"Berpikirlah dahulu sebelum kau bertindak".


Natalie meninggalkan Toni di kamarnya. Perasaan nya sedang tidak enak. Dia melihat layar ponselnya. Nama Andin masih ada di kontaknya. Natalie iseng, mencoba menghubunginya. Panggilan nya tersambung ke ponsel Andin. Namun, ketika Andin sudah menjawab telepon dari Natalie, Rossi tiba-tiba muncul dan merebut ponsel nya.


"Ku mohon mom, kita sudah sepakat bukan??".


"Tidak ada lagi nama Andin di sini, meskipun kau hanya ingin menyapa nya".


"Rossi, aku hanya merindukan gadis itu, seperti apa keadaan nya sekarang".


"Sebagaimana dia berasal mom, gadis miskin akan kembali miskin".


"Lain kali jangan mencoba menelpon nya lagi mom".


"Kalau Toni tahu, dia tak akan memaafkan diri mu".


Rossi meninggalkan Natalie yang termangu di ruang tamu. Sudah bisa di pastikan apa yang akan Rossi katakan kepada Toni. Sejak keduanya tiba dari Indonesia, Toni sangat penurut terhadap Rossi. Dia menuruti semua perkataan gadis itu. Seolah-olah Toni sudah tak memperdulikan diri nya lagi.


"Rossi, kau sudah mencari tahu tentang Andin?".


"Apa dia sudah melahirkan?".


"Aku tak sabar untuk membawa anak itu kemari".


"Kau tahu kan syarat untuk mendapatkan hak


asuh?".


"Kita harus menikah dulu, dan turuti keinginan ku, kalau kau memang menginginkan anak itu".


"Baiklah, sesuai permintaan mu Rossi".


Rossi tersenyum senang. Satu persatu,


keinginan nya mulai terwujud. Itu karena kepintaran nya membodohi Toni. Dan tentu saja dirinya senang, karena bisa membuat hidup Andin menderita.


...****************...