
Bram menghampiri meja tempat Risa duduk. Gadis itu tampak tersenyum saat melihat kedatangan nya. Risa menyambut Bram dengan menjabat tangan nya.
"Selamat datang Bram,, kau masih ingat dengan ku kan??".
"Risa,, kau sudah banyak berubah sekarang".
"Silahkan duduk Bram,, kau mau minum apa,, biar aku pesan untuk mu".
"Aku lemon tea saja".
"Ok,, tunggu sebentar Bram".
"Katakan Risa,, penawaran apa yang kau punya untukku".
"Aku tak punya banyak waktu untuk bermain-main".
"Duduklah dulu, dan lihat ini".
"Ini foto ku bersama Andin kemarin bukan,, kenapa kau mengambilnya diam-diam".
"Dengar Bram,, kau masih ingin mendapatkan Andin kembali bukan??".
"Jadi, kita akan gunakan foto ini, untuk menyatukan kau dan Andin kembali".
"Apa maksud mu,, aku tidak mengerti".
"Mari kita berbisnis Bram,, kau dapat Andin, dan aku akan merebut Toni darinya".
"Kau gila,,, sahabat macam apa kau ini".
"Merebut suami kawan baik mu sendiri".
"Rupanya selama ini, Andin salah sudah berteman dengan mu".
"Ayolah Bram,, jangan naif...untuk harta dan cinta,, semuanya sah dilakukan".
"Dan aku ingin kedua hal itu dari Andin".
"Terserah kau saja,, ingin ikut dengan cara ku ini,, atau kau ingin mundur".
"Aku tak pernah memaksa Bram,, tapi pikirkan baik-baik,, ini kesempatan bagus untuk mu bisa bersatu dengan Andin lagi".
"Apa kau yakin Andin akan kembali pada ku".
"Tentu saja Bram,,saat Toni sudah marah padanya, melihat foto kemesraan kalian, saat itu aku akan masuk menggantikan Andin".
"Dan bisa ku pastikan, tak akan ada celah untuk Andin dan Toni bisa bertemu kembali".
"Bagaimana,, sudah jelas sekarang??".
"Menurut mu hanya sesederhana itu??".
"Toni sudah bertahun-tahun mencintai Andin".
"Bahkan setelah Andin bersama ku pun, dia masih mau menerimanya".
"Cinta yang sebegitu dalamnya, tak akan tergoyahkan hanya dengan foto murahan macam ini".
"Kau bisa mencobanya kalau tak percaya".
"Aku akan memberi mu hadiah, kalau rencana mu berhasil".
"Jadi, kau menantang ku Bram".
"Iya,,,kita lihat siapa nanti yang menang".
"Kalau kau bisa memisahkan mereka berdua, temui aku untuk mengambil hadiah mu".
Bram melenggang keluar dari restoran. Dia merasa waktunya sudah terbuang percuma.
Rencana Risa, sama sekali tak masuk akal. Mungkin dia kurang mengenal Toni selama ini. Jadi dia asal bicara sesuka hatinya.
Toni sudah mencintai Andin sejak lama. Bahkan berulangkali dirinya kerap ditolak. Namun dia tak putus asa. Saat tahu Andin bersama dengan Bram pun, Toni tak menyerah. Dia selalu mencari celah agar bisa memisahkan Andin dan Bram. Saat peluang itu akhirnya tiba,Toni memanfaatkan kesempatan dengan baik, sehingga saat ini dirinya bisa bersatu dengan Andin. Bukan hanya itu, Toni pun sekarang mendapatkan cinta Andin seutuhnya. Buah dari kesabaran nya selama ini.
Keadaan Toni sudah semakin membaik. Dia sudah di perbolehkan untuk berjalan-jalan oleh dokter. Makanya kali ini, sepulangnya dari ruang sakit, mereka berdua mampir ke taman untuk menghirup udara segar.
"Bagaimana sekarang sayang,, apa aku sudah bisa mencium mu lagi".
"Boleh saja kalau hanya mencium,, tapi tidak disini juga kan??".
"Setelah pulang nanti, kau boleh mencium ku sesuka hati mu".
"Itu baru namanya istri ku, kenapa kau berubah menjadi baik seperti ini??".
"Dari dulu kan aku memang baik sayang!!".
"Sayang,, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,, tapi kau janji jangan marah ya??".
"Ada apa ini, kau tak biasanya bersikap seperti ini".
"Oke,, coba katakan...biar aku dengarkan dulu".
"Sayang,, kau ingat kan tempo hari aku meninggalkan mu untuk membeli makanan".
"Hmm....lanjutkan!!".
"Aku bertemu dengan Bram".
"O..ya,, lalu apa yang terjadi??".
"Kami berbicara dan terjadi insiden yang tidak di inginkan,,".
"Maksudmu,, insiden apa??".
"Bram menarik ku dengan paksa, sehingga aku terjatuh menindihnya".
Toni terdiam. reaksi wajahnya tidak terbaca sama sekali. Andin jadi ragu untuk melanjutkan ucapan nya.
"Sayang,, kau mendengar ku kan??".
"Dimana insiden itu terjadi??".
"Tentu saja di depan restoran,, dia memaksa
ku untuk bicara dengan nya".
"Ya sudah,, apa masalahnya...asal kau tak menindihnya di tempat tidur, kurasa bukan masalah besar".
"Tapi,,,ada seseorang yang memanfaatkan hal ini dan memeras ku".
"Dia bilang akan mengirim foto ini padamu kalau aku tak memberi nya uang".
"Coba kau lihat sendiri saja,, tentu kau lebih paham".
Toni menerima ponsel Andin yang di sodorkan padanya. Dia membaca kata-kata ancaman untuk istrinya tersebut. Sontak saja dia marah. Ada seseorang yang sudah berani memanfaatkan kelemahan istrinya. Pantas saja beberapa hari ini Andin terlihat berbeda dari biasanya. Rupanya ada orang yang ingin bermain-main dengan dirinya.
"Apa dia sudah menelpon mu??".
"Tidak,,,,belum sayang....dia hanya terus-menerus meneror ku".
"Bagus,,turuti permintaan nya, aku akan mencari tahu siapa dia,,lalu kita akan menjebaknya".
"Berarti, kau tak marah padaku kan??".
"Untuk apa aku marah,, cintaku padamu jauh lebih besar, kalau hanya ingin di hancurkan dengan foto murahan semacam ini".
"Aku sudah mempercayai mu lebih dari diri ku sendiri".
"Jadi, kau pasti tahu bagaimana harus bersikap bukan,, terutama tentang Bram".
"Bagus sekali kau mau jujur padaku tentang hal sekecil ini pun".
"Karena kalau sampai aku mengetahui foto ini dari orang lain,, mungkin sulit bagiku memaafkan mu".
"Setelah kita berhasil menangkap orang ini nanti, ganti ponselmu !!!!".
"Jangan mengambil resiko, kejadian yang sama bisa terulang kembali pada mu".
"Oh,,,sayang.....aku benar-benar mencintaimu".
Andin merangkul Toni dan menciuminya bertubi-tubi. Sekarang tak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Andin sudah lega setelah mengatakan segalanya. Dan reaksi Toni, sungguh membuatnya bertambah cinta.
"Kendalikan diri mu,, ini di tempat umum".
"Apa kau tak malu dilihat semua orang??".
"Sayang,,, itu kan dialog ku,, kenapa kau memakainya".
"Biasanya juga kau cuek kan, tak perduli situasi dan kondisi".
Andin melingkarkan tangan nya ke perut Toni, dan merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. Rasanya nyaman sekali, setelah berhari-hari di landa kecemasan. Dia tak perduli orang-orang di taman memperhatikan nya. Dia hanya ingin berada di dekapan suaminya yang menenangkan hatinya.
"Ayo kita pulang sayang".
"Gara-gara ulah mu, kita jadi pusat perhatian sekarang".
"Ayo pulang....kita lanjutkan di apartemen saja".
Toni menarik tangan Andin dan merangkul bahunya. Dia sangat bahagia dengan sikap yang ditunjukkan Andin hari ini padanya.
Toni sudah tidak mungkin ragu lagi tentang perasaan Andin. Hanya tinggal mengurus Bram dan satu lagi orang yang berusaha mengancam istrinya.
Dia akan mendapatkan pelajaran dari Toni nanti. Supaya dia tidak lagi mempermainkan perasaan istrinya dengan seenak hati. Toni akan berdiri paling depan, jika mereka sudah mengganggu ketenangan hidup istrinya.
...****************...