
Toni menarik tangan Rossi dan membawa nya menjauh dari hadapan Andin. Kali ini dia terlihat sangat marah. Rossi sudah salah mengira tentang Andin. Dia lancang menuduh istrinya macam-macam.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku hilang kendali, Rossi".
"Kau tahu,,Andin itu istri ku".
"Dan aku tak akan membiarkan siapapun menghina atau bertindak kasar padanya".
"Tidak juga diri mu,,,kau mengerti??".
"Sekarang, minta maaf pada istri ku,,atau jangan pernah lagi menginjak kan kaki mu di sini".
"Apa kau bilang,,,sejak kapan wanita ini jadi istri mu,,,,hah......!!".
"Aku tak rela ada wanita lain yang memiliki mu".
"Hanya aku yang boleh mencintai dan menjadi milik mu".
"Bukan kah kau sudah berjanji akan menunggu ku??".
"Lihat diri mu Rossi,, kau masih muda, baru lulus kuliah,,jalan mu masih panjang".
"Kau bisa mencari orang lain yang lebih baik dari aku".
"Aku sudah menikah dengan Andin,,,hormati dia mulai sekarang".
"Jangan lagi coba-coba menyinggung perasaan nya".
"Kau tahu Toni,,kau jahat.....sungguh jahat!!".
"Aku tak perduli,,kau hanya milik ku dan akan selalu jadi milik ku".
"Lihat saja nanti,,kau pasti akan jadi milik ku".
"Bukan wanita sialan ini".
"Rossi berlari meninggalkan rumah Natalie sambil berurai air mata. Kenyataan pahit baru saja di terimanya. Dia menaruh harapan besar pada Toni,,,nyatanya dirinya sekarang tidak ada artinya lagi.Semua ini gara-gara Andin. Sehingga Toni berpaling dari nya.
Di dalam rumah, Natalie mencoba menjelaskan duduk permasalahan nya dengan Andin. Semula Andin merasa kecewa telah di bohongi oleh Toni. Namun setelah mendengar penjelasan dari Natalie, dia mulai paham. Rossi menaruh harapan besar pada Toni. Sedangkan Toni hanya menganggap dirinya teman biasa saja.
"Natalie,,lain kali, jangan ijinkan dia masuk ke rumah ini lagi".
"Aku tak mau ada yang menghina Andin di depan ku".
"Sudah lah Toni,,aku tidak masalah".
"Mungkin gadis itu sudah salah menaruh harapan besar pada mu".
"Aku justru kasihan padanya,,dia terlalu mencintai mu".
"Sudah-sudah,,,,ini masih pagi,,jangan bertengkar".
"Sana.....teruskan aktivitas kalian".
"Jangan sampai hal ini membuat kalian bertengkar".
"Aku dan papa mu pergi sebentar, Nancy mengundang kami sarapan pagi ini".
Natalie naik ke lantai atas kamar tidur nya, sementara Toni dan Andin masih terdiam membisu di ruang tamu. Toni mendekati Andin dan merengkuh tubuhnya. Dia membawa istri nya kembali ke kamar nya.
"Toni, lepaskan aku,, mau apa kau???".
"Melanjutkan misi kita yang tertunda karena Rossi".
"Misi apa yang kau maksud, hah??".
"Misi ini sayang,,,, misi memberi cucu untuk Natalie".
Ciuman Toni sudah bertubi-tubi, mendarat ke bibir istrinya. Lidah nya berputar menyusuri deretan gigi Andin.Sementara tangan nya
sibuk membuka baju dan celana yang di kenakan oleh istrinya.
Bibir keduanya saling menyatu. Toni seolah tak sabar untuk memiliki istrinya. Dia kemudian membaringkan Andin di tempat tidur. Wajah keduanya sudah tersapu oleh gairah kenikmatan. Saling mencumbu memberi kenikmatan. Tak berapa lama, yang terdengar hanya suara ******* saling bersahutan di antara kedua insan yang di mabuk cinta tersebut.
Tak mengenal waktu dan tempat, Andin dan Toni benar-benar di mabuk asmara. Entah sudah berapa kalinya,keduanya merasakan kenikmatan. Mereka kini masih berbaring berpelukan di dalam kamarnya.
"Sayang,,,aku sungguh-sungguh mencintai mu".
"Hmm.....aku sudah tak tahu lagi sayang,,,kalau ada yang lebih nikmat dari semua ini, entahlah apa aku kuat menanggungnya".
Sekali lagi Toni membaringkan tubuh istrinya. Dia menyatukan kedua tangan nya ke atas. Sementara bibirnya sibuk memberikan tanda kemerahan di tubuh Andin.
Andin sudah tak punya kekuatan lagi. Dia pasrah merasakan ledakan kenikmatan lagi dan lagi. Dirinya pasti malu kalau bercermin dan mendapati tubuhnya penuh dengan tanda
merah akibat ulah Toni. Sementara saat ini tubuh Andin sudah tak bertenaga lagi. Mereka tertidur di dalam kamar. Untung saja Natalie dan Adam sedang pergi. Kalau tidak, bisa di bayangkan betapa malunya Andin seharian di dalam kamar.
Dengan rambut masih basah, Andin keluar dari kamar mandi. Rupanya Toni juga sudah bangun. Dia memperhatikan istrinya yang terlihat menawan, sambil tersenyum penuh arti.
"Jangan mesum sayang,,,aku tahu arti senyum di bibir mu itu".
"Sudah cukup,, kita sudah seharian di dalam kamar, lagipula sebentar lagi Natalie pasti pulang".
"Ayo cepat,, mandi sana...!!".
Toni bangkit, meraih tangan istrinya dan menciumnya lembut. Dia kemudian memandang mesra tepat ke arah mata Andin.
"Entah kenapa aku tak pernah puas memiliki mu".
"Aku sangat mencintai mu sayang ku".
"Apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku".
"Aku ingin selalu bersama diri mu".
"Aku juga mencintai mu sayang".
"Kau terlalu sempurna untuk ku".
"Aku harap kau akan selalu seperti ini ".
"Jangan pernah ada wanita lain di hati mu".
"Tentu saja,,, aku janji,, hanya diri mu satu-satunya Andin".
Mereka berpelukan, dan setelahnya Toni masuk ke kamar mandi. Dirinya juga segera mandi dan berpakaian. Andin masih menunggu di dalam kamar sambil memainkan ponselnya.
"Apa kau tidak lapar,, kita bahkan belum makan seharian ini bukan??".
"Itu karena kau juga kan???".
"Ya sudah,,,ayo kita cepat cari makan".
"Memangnya kita mau cari makan di mana sayang??".
"Aku akan membawa mu ke tempat makan paling enak di kota ini".
"Kau pasti suka dengan makanan nya".
"Toni,, sebenarnya aku ingin sekali kembali ke Indonesia".
"Memangnya kenapa,,, kau tak bahagia di sini".
"Aku bahagia,,, asal bersama mu aku pasti bahagia".
"Hanya saja,, aku merindukan Jakarta".
"Apalagi Bram juga ada di sini,,, belum lagi Rossi".
"Aku ingin menjauh dari masalah".
"Lagi pula kasihan Natalie, kalau setiap hari harus menghadapi kemarahan Rossi".
"Baiklah,,, aku akan bicara dengan mom nanti".
"Kalau memungkinkan, kita bisa kembali ke Jakarta".
"Tapi bersabarlah,, kalau mom masih keberatan, maka kita harus menunggu".
"Hanya mereka yang ku miliki di dunia ini selain kau, sayang!!".
"Iya,, aku mengerti....aku akan menunggu sampai Natalie mengijinkan".
Mobil mereka memasuki halaman restoran yang bangunan nya sangat indah. Nuansa klasik khas kerajaan Inggris terasa, Andin sangat terpana melihat keindahan restoran tersebut.
"Aku baru melihat restoran seindah ini di Inggris".
"Ini baru luarnya sayang,,,saat kau masuk nanti, kau pasti takjub".
"Aku selalu kesini setiap kali ada masalah".
"Ini tempat favorit ku".
"Aku merasa tenang dan damai berada di tempat ini".
Toni membawa Andin memasuki ruangan restoran. Kebetulan dia sudah memesan private room. Konsep restoran ini mirip dengan kafe, dan pemandangan setiap ruangan berbeda-beda.
Ruangan yang di masuki Andin dan Toni terdapat sofa dan meja kaca. Ada aroma terapi di dalam ruangan. Di pojok terdapat kolam mini dengan air mancur dan dilengkapi ikan hias. Wallpaper dindingnya pun bisa di ganti sesuai selera. Suara musik klasik yang di putar, benar-benar dapat menghilangkan stress bagi orang yang sedang punya masalah berat.
...****************...