Let me Love You

Let me Love You
Bab 64.



Toni mondar-mandir di kamarnya. Telepon nya dari tadi sama sekali tidak di jawab.Orang yang di sewanya untuk mengawasi Andin, rupanya melalaikan tugasnya. Berulang kali Toni menelpon nya, tetap saja tidak aktif. Dia terus mencoba, sampai akhirnya telepon nya. di jawab.


"Kemana saja kau, aku sudah menunggu kabar mu dari kemarin".


"Maaf boss, kami sedang berusaha mencari nona Andin".


"Tiba-tiba dia menghilang dari rumah kontrakan nya".


"Sampai saat ini dia masih belum kembali".


"Bahkan pemilik rumah sudah menyewakan rumah nya lagi".


"Kau sudah mencarinya ke rumah sakit, siapa tahu dia melahirkan".


"Sudah boss, semua rumah sakit di Yogya tidak ada nama Andin".


"Cari lagi sampai ketemu, nanti malam, kau telepon aku lagi".


"Siap boss".


Betapa pun Toni bilang tidak perduli, dia tetap saja cemas kalau tak mendengar kabar dari Andin. Seharian ini dia gelisah memikirkan hilang nya Andin.


"Sayang,, aku sudah datang,, kau ada di mana??".


"Rossi,, mau kemana kau dengan pakaian seperti ini??".


"Apa kau lupa kalau kita akan melihat gedung untuk resepsi".


"Rossi, aku sedang tak enak badan sekarang".


"Kita pergi lain kali saja".


"Tapi kau kan sudah janji Toni".


"Ku mohon Rossi, jangan sekarang!!".


Rossi memandang raut wajah Toni. Dia terlihat cemas dan gelisah. Seperti ada yang tengah di pikirkan oleh nya.


"Katakan pada ku, apa ini masih tentang wanita itu?".


"Kau sudah memutuskan untuk melupakan nya bukan??".


"Lalu,,apa ini....kau cemas memikirkan dirinya?".


"Kau tak percaya dengan kata-kata ku??".


"Aku memang sedang tidak sehat Rossi, ini tak ada hubungan nya dengan Andin sama sekali".


"Mengertilah dengan keadaan ku sekarang".


Rossi meraih ponsel Toni yang ada di atas ranjang. Dilihatnya riwayat chat dan panggilan


telpon. Tidak ada sama sekali riwayat panggilan ataupun pesan dari Andin.


"Apa kau sudah puas memeriksanya?".


"Aku tidak pernah menghubungi Andin sama sekali".


"Maaf kan aku Toni, aku takut kehilangan diri mu".


"Aku tak mau Andin merusak rencana pernikahan kita".


"Kau sudah janji Rossi, begitu kita menikah,


kau akan mencari tahu tentang anak itu".


"Iya,,,aku tidak mungkin lupa".


"Ya sudah,, kau istirahat saja, lain waktu baru kita pergi".


Rossi keluar kamar Toni dan segera meninggalkan rumah nya. Rencananya berantakan, hanya karena Toni tak enak badan. Padahal dia bisa pergi sendiri, tapi agar Toni tak curiga, dia akan menunggu hingga Toni sehat.


Tak berapa lama, orang suruhan Toni menelpon dari Yogya. Dia belum bisa menemukan keberadaan Andin. Namun dia masih tetap mencari.


"Kau sebenarnya kemana membawa anak ku Andin??".


"Aku sangat mengkhawatir kan kalian berdua".


Toni masih saja kepikiran tentang Andin dan putranya. Dia kelihatan frustasi, tak tahu jalan keluar. Sesekali dia melihat ke layar ponsel, mana tahu Andin sudah di temukan.


Di apartemen, Andin sudah berpakaian rapi. Dia menantikan kepulangan Bram dari kantor.


Andin sudah menyiapkan makanan untuk suaminya. Hanya tinggal menunggu sampai suaminya pulang.


Pukul 5 sore, Bram tiba dari kantor. Saat membuka pintu, Andin sudah terlihat sangat cantik. Aura kehamilan, membuatnya terlihat menawan. Dengan tersenyum, Andin menghampiri Bram.


"Kau pasti capek, sini biar aku bawakan tas mu".


"Capek ku hilang saat melihat mu tadi".


"Aku senang kalau kau merasa nyaman disini".


"Ini kopi mu, kalau ingin mandi, aku juga sudah siap kan".


"Kau tak perlu lakukan ini Andin".


"Aku tak mau kau kecapaian".


"Hanya ini yang bisa ku lakukan,, aku bosan di rumah seharian".


"Bukan nya aku sudah menyuruh mu belanja".


"Lain kali saja kalau dengan mu".


Andin masuk ke kamar dan mengambil ponselnya. Ada pesan dari dokter kandungan nya, terkait hasil pemeriksaan beberapa waktu yang lalu.


"Sekarang kau suami ku kan,, bacalah".


"Apa ini,, pemberitahuan memilih tanggal operasi??".


"Bukan nya kau ingin melahirkan normal?".


"Tidak bisa Bram, kita harus memilih tanggal secepatnya, ada masalah dengan air ketuban".


"Sore ini aku harus masuk rumah sakit".


"Ya sudah,, lakukan saja secepatnya, kalau menurut dokter itu yang terbaik".


"Yang penting kalian berdua selamat".


"Aku mandi dulu, baru kita berangkat ke rumah sakit".


Bram masuk ke kamar mandi, sementara Andin membereskan pakaian ganti untuk nya dan bayi nya. Setelah selesai, dia menunggu Bram bersiap.


"Kita berangkat sekarang, biar pakaian mu di urus asisten ku nanti".


"Ayo,, biar aku bantu".


Kedua nya keluar kamar kemudian menuju ke mobil. Bram mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit. Dia sudah siap jika Andin harus melahirkan malam ini.


Dokter kandungan Andin sudah siap di ruangan nya. Sebelum berangkat tadi, Bram sudah lebih dulu menelpon nya. Air ketuban Andin jumlahnya sudah sangat berkurang. Jadi harus segera diambil tindakan Caesar.


Begitu sampai di rumah sakit, dokter langsung memeriksa kondisi Andin secara menyeluruh. Untuk memastikan bahwa kondisinya fit untuk menjalani operasi.


"Pak Bram, kami akan melaksanakan Caesar malam ini pukul 7".


"Apa Anda ingin menunggui di ruang operasi??".


"Kalau di perbolehkan, saya bersedia dokter".


"Baiklah,, mulai saat ini Bu Andin sudah puasa".


"Nanti kami akan datang lagi untuk tindakan operasi nya".


"Kau sudah siap menjadi ibu bukan??".


"Tentu saja Bram,, aku sudah menantikan hal ini".


"Sebentar lagi, kita akan berjumpa nak".


"Ibu tak sabar untuk menimang diri mu".


"Kau tenang saja, sebentar lagi kita pasti akan segera bertemu dengan jagoan kita".


"Terima kasih Bram, kau sudah sangat baik pada kami berdua".


"Dia anak ku juga Andin, kau tak usah khawatir".


"Aku akan selalu menyayangi kalian berdua".


Tepat pukul 7 malam, perawat mendorong Andin ke ruang operasi. Bram menemani di sisi Andin. Setengah jam kemudian seorang bayi laki-laki sudah berada di gendongan Bram. Raut wajah bahagia tampak dari muka keduanya. Andin bahkan menangis terharu atas kelahiran putranya.


Selang 1 jam, Andin sudah berada di kamar pemulihan. Dokter memberikan sederet pesan untuk ibu muda tersebut. Dia juga meresepkan obat untuk penyembuhan luka di perutnya.


"Selamat Andin, kau akhirnya jadi seorang ibu".


"Dia terlihat sangat tampan dan sehat".


"Apa kau juga bahagia Bram?".


"Tentu saja, dia adalah putraku mulai sekarang".


"Tak akan ada yang bisa memisahkan kami berdua".


"Aku akan memberikan apapun untuknya di dunia ini".


"Dia tak akan pernah kekurangan cinta dan kasih sayang".


"Dan mulai hari ini, jangan katakan tentang ayah kandungnya".


"Hanya aku ayahnya, dan cukup itu yang harus dia tahu".


"Berjanjilah padaku Andin".


"Iya Bram,, aku berjanji".


Andin sangat terharu menerima penerimaan Bram terhadap buah hatinya. Manakala Toni sama sekali tak perduli.Dan Andin memang sudah berjanji pada dirinya sendiri. Anak nya hanya akan menjadi miliknya dan Bram saja.


...****************...