
Toni dan Andin sejak tadi sadar, ke mana arah pembicaraan Bram. Dia berusaha membangkitkan memorinya tentang kisah percintaan dirinya dan Andin dulu. Toni sudah mengepalkan tangan nya di bawah meja sejak tadi. Sementara Andin menatapnya dan menggenggam jemari tersebut erat. Dia berusaha memberi dukungan pada suaminya.
"Kami memang rencananya akan kembali ke Jakarta Bram".
"Tapi aku dan Toni sedang mencari waktu yang tepat".
"Bagus kalau begitu,,beritahu aku kalau kalian mau berangkat nanti".
"Kita bisa berangkat bersama ke Jakarta".
"Sudah,,,jangan bahas yang lalu-lalu".
"Kita nikmati makan malam kali ini".
"O, ya Bella....apa kau sudah mulai beraktivitas,, aku ingin sekali mengunjungi butik mu".
"Rencananya besok pagi,, aku dan Toni akan kembali bekerja".
"Kau datang saja Vaness,, tapi mungkin agak siang,, aku harus menyiapkan keperluan suami ku dulu".
"Dia sangat manja dengan ku, belakangan ini".
"Ya,,aku bisa melihatnya,, kalian berdua sungguh pasangan romantis".
"Tidak seperti yang di sana,, dia bahkan sangat acuh padaku".
"Vaness,, cobalah belajar pada Bella, dia tahu caranya memanjakan suami".
"Kalau boleh memilih,, aku akan tinggal seharian di ranjang dengan nya".
"Sudah....cukup,, pembicaraan ini sama sekali tak berguna".
"Lebih baik kita bicarakan yang lain,, Vaness, ambil pencuci mulutnya".
Vanessa beranjak hendak mengambil dessert di dapur. Sementara telpon Toni berdering, dan dia keluar rumah untuk mengangkatnya. Hanya tertinggal Andin dan Bram di sana.
Dia beranjak dari kursinya dan Menghampiri Andin. Bram berdiri di belakang kursi Andin, dan mengungkungnya dengan kedua tangan nya. Nafasnya hangat menyapu leher jenjang Andin. Bram mendekatkan bibirnya di telinga Andin.
"Aku merindukan mu sayang,,,,sudah lama sekali sejak kita bersama".
"Ini wangi parfum yang sama dengan yang kau pakai dulu di Jakarta".
"Lepaskan aku, atau aku akan berteriak".
"Kau tak ingin Toni menghajar mu kan??".
"Aku justru ingin sekali mencium bibir mu dan merasakan kehangatan pelukan mu".
"Ayo kita bertemu,,sekali saja,,,hanya berdua".
"Aku jamin,,,kau pasti akan mengingat petualangan liar kita".
Bram segera kembali ke tempat duduk nya saat Toni sudah selesai menelpon. Dia memandang wajah istrinya yang terlihat berbeda. Toni mendekati Andin dan berbisik di telinga nya.
"Apa dia mengganggu mu tadi??".
"Tidak sayang,, kau jangan khawatir".
Bram tersenyum samar,,dia sangat yakin kalau Andin masih punya perasaan padanya. Buktinya, dia diam saja dan tak mengadukan perbuatan nya pada Toni.Itu berarti Andin masih mengingat kenangan manis saat bersama dengan Bram. Tinggal mencari waktu yang tepat untuk bisa bicara berdua saja dengan Andin. Bram yakin,, saat itu semua kesalahpahaman mereka berdua bisa hilang seketika.
"Ayo Bella, Toni,, sayang....aku sudah siapkan dessert yang lezat untuk kalian".
"Silahkan di cicipi,, kalian pasti ketagihan nanti".
"Hmmm.....semua masakan mu memang juara Vaness,,,".
"Kapan-kapan aku ingin sekali belajar dengan mu".
"Silahkan Bella, pintu rumah ini terbuka lebar untuk mu".
"Dengan senang hati, aku akan mengajarimu".
Semua orang di ruang makan tersenyum bahagia. Mereka larut dalam obrolan santai. Bram tak terlihat membuat ulah lagi. Dia hanya duduk diam dan lebih banyak memperhatikan.
Setelah puas mengobrol, Andin dan Toni berpamitan pulang. Mereka berterimakasih kepada Vanessa karena telah menjamu keduanya dengan baik. Tak lupa, Vaness mengingatkan janji temu besok pagi di butik Bella.
"Terimakasih banyak kalian mau menghadiri makan malam kali ini".
"Aku yang harusnya berterimakasih padamu Vaness".
"Kapan-kapan giliran kalian untuk berkunjung ke apartemen ku".
"Baiklah,,, nanti aku usahakan".
"Hati-hati di jalan Bella, Toni".
Vanessa melepas kepergian Toni dan Andin, sampai mobilnya menghilang di jalan raya.
Bram tersenyum senang kepada Vanessa.
"Kenapa kau kelihatan gembira,, karena bisa melihat kekasih mu??".
"Terima kasih sudah membantu ku meminta maaf pada mereka".
"Asalkan kau berhenti membuat ulah".
"Jangan sampai reputasi ku di pertaruhkan karena ulah mu di luar sana".
"Kau tenang saja, aku janji,, tak akan mengganggu Andin lagi".
"Aku sudah cukup senang mempunyai istri seperti mu".
Di dalam mobil, Toni tak bisa lagi menyembunyikan kekesalan nya atas ulah Bram tadi. Dia bahkan sempat mengumpat karena mengingat perkataan Bram di meja makan tadi.
"Sialan......laki-laki itu masih saja belum mau menyerah".
"Terang-terangan dia memancing emosi ku".
"Aku sungguh kasihan pada Vaness, karena bersuamikan pria brengsek macam Bram".
"Tenang lah sayang,, kenapa malah kau yang emosi".
"Sejak semula, kita sudah tahu kan tujuan nya
mengundang kita??".
"Hanya karena memandang Vanessa, kita bersedia menghadirinya".
"Sayang,, berjanjilah padaku, kau jangan terpengaruh perkataan nya".
"Jangan sampai dia merayu mu lagi".
"Atau.....malah,, jangan pernah berbicara dengan nya".
"Apa yang kau khawatirkan sayang".
"Aku sudah bilang kan,, aku hanya mencintai mu saja".
"Bram adalah masa lalu,, percayalah padaku".
"Tak kan ada apa pun juga yang bisa memisahkan kita berdua".
"Aku janji padamu sayang".
Toni lega,, dia membawa tangan Andin dan menciumnya. Dia tak pernah membayangkan kalau sampai kehilangan dirinya. Entah,, mungkin dia bisa gila.
Tapi dalam hati kecilnya, dia selalu was-was, takut kalau perbuatan nya dulu membohongi Andin terbongkar. Bukan tak mungkin, Andin akan langsung meninggalkan nya dan kembali kepada Bram.
Saat ini Toni masih menutup rapat, rahasia nya tersebut. Toni takut kehilangan Andin.
Biarlah, untuk saat ini, Toni akan mengubur dalam-dalam kebenaran cerita penculikan Andin dulu. Kalau bisa, Toni tak akan pernah berkata jujur dengan Andin.
Ponsel berdering, mengagetkan lamunan Toni. Ada telepon dari Rossi. Toni enggan menjawab telpon darinya. Namun, panggilan nya tak mau berhenti. Akhirnya, Toni menepi dan menjawab telpon dari Rossi.
"Toni,, kau harus menolongku sekarang juga".
"Mereka saat ini sedang mengejar ku".
"Oh Toni,, aku sedang dalam bahaya".
"Mereka membawa pisau dan mendekat ke arah ku".
"Rossi,, tenang,,,katakan kau ada di mana??".
"Aku di belakang gedung dekat dengan bar milik Wendy".
"Cepat kemari Toni,, aku sangat takut".
Ponsel Rossi mati. Toni bertambah panik.
Dai kemudian memutar arah mobilnya menuju bar Wendy untuk menolong Rossi.
"Ada apa sayang,, kiata mau kemana??".
"Rossi sedang dalam bahaya,, aku khawatir kepadanya".
"Kita harus segera menolongnya sayang".
"Dia di kejar sekelompok lelaki membawa pisau".
"Sebaiknya kita telepon polisi sayang, katakan di mana posisinya, biar aku yang melapor".
Andin menelpon petugas polisi dan melaporkan kejadian yang menimpa Rossi. Polisi segera bergerak menuju lokasi. Sementara Toni dan Andin sudah tiba di sana lebih dulu.
Mereka mencari keberadaan Rossi, Namun tak di temukan. Sampai mereka mendengar suara teriakan perempuan di balik dinding.
Andin dan Toni segera berlari mencari sumber suara. Rupanya Rossi sudah di kepung oleh 5 pemuda yang berusaha melecehkan dirinya.
...****************...