
Sepanjang jalan menuju apartemen, Andin dan Bram lebih banyak terdiam. Keduanya sedang menata hati mereka masing-masing.
Saat ini Bram hanya harus bersabar pada Andin. Setidaknya, dia sudah mau berbicara dengan nya. Andin juga bersedia diantar pulang oleh Bram. Itu sudah sangat bagus untuk nya.
Sesampainya di apartemen, keduanya turun dan langsung naik ke lantai atas. Andin membuka pintu dan menyuruh Bram untuk masuk. Bram melihat-lihat apartemen Andin dan Toni. Begitu banyak foto kemesraan mereka tergantung di dinding. Begitu juga dengan foto pernikahan keduanya. Semuanya menunjukkan kemesraan satu sama lain.
Andin masuk ke kamarnya dan mengambil semua dokumen Toni. Setelah itu, dia mengambil berkas-berkas untuk butik nya.
Lama menunggu di luar, Bram berinisiatif untuk masuk ke kamar Andin. Dia sudah tidak tahan lagi melihat potret kemesraan keduanya.
"Andin sedang berdiri di depan lemari untuk mengambil semua keperluan nya. Tiba-tiba, Bram berdiri di belakangnya dan mendekap erat tubuhnya. Bibirnya mencium mesra puncak kepala Andin.
"Hentikan Bram,,, apa yang kau lakukan??".
"Tolong Andin,, sebentar saja.....ijinkan aku kembali memeluk mu".
"Sudah lama aku merindukan mu Andin".
"Lama sekali,,, sampai akhirnya kau pergi meninggalkan aku untuk selamanya".
"Tolong lepaskan aku Bram,, kita tak seharusnya seperti ini".
"Hormati suami ku,, dia sedang terbaring di rumah sakit sekarang".
"Suami kau bilang,,,bangga sekali kau menyebutnya suami mu".
"Karena Toni memang suami ku...!!!".
"Apa aku salah menyebutnya seperti itu, hah...!!".
"Salah,,,sangat salah Andin,,,, Hatiku terluka setiap kali kau menyebut namanya".
"Tadinya kau adalah milik ku,, dan sekarang ataupun selama nya, kau tetap akan jadi milik ku".
"Lupakan Toni,,, pergilah bersamaku saat ini juga".
"Aku akan membawa mu ke tempat yang jauh,, dimana tak seorang pun bisa mengenali kita".
"Kau sudah gila Bram,,, benar-benar gila".
"Dan aku tak mau meladeni kegilaan mu ini".
"Aku buru-buru, dan suami ku sudah menunggu di rumah sakit".
Andin menutup lemari dan melangkah keluar kamar tanpa menghiraukan ucapan Bram. Sejurus kemudian, Bram mengikutinya dari belakang. Sebelum mencapai pintu, Bram lebih dulu menarik tangan nya dan mengungkung tubuh Andin di dinding. Bram lalu memaksa mencium bibir Andin dengan terus memegangi tangan nya ke atas.
Andin berontak dan meronta-ronta. Mulutnya tertutup rapat menerima serangan lidah Bram. Namun Bram tidak hilang akal, tangan nya yang bebas, dia gunakan untuk menyentuh pipi Andin. Saat mulut Andin mulai terbuka, Bram langsung menyambar mulutnya. Seketika Andin pun menggigit bibir Bram dengan keras, sampai akhirnya dia melepaskan ciuman nya.
Bram terdorong ke belakang dengan memegangi bibirnya yang berdarah. Tidak cukup sampai di situ, Andin menghampirinya dan menampar pipinya berulang kali.
"Kurang ajar kau Bram......itu hukuman yang pantas untuk laki-laki brengsek seperti diri mu".
"Belum jera juga kau rupanya,, apa memang kau mau masuk penjara??".
"Sekali lagi kau lakukan ini padaku,, aku akan langsung menyeret mu ke kantor polisi".
"Maaf kan aku Andin,,,aku tak dapat menahan diri, setiap kali berada di dekat mu".
"Pesona mu, begitu kuat mengikat diri ku".
"Kau tentu ingat kan kebersamaan kita".
"Tak ada hari yang ku lalui tanpa menyentuh tubuhmu".
"Sudah,,,cukup Bram....aku tak mau dengar lagu".
"Aku akan kembali ke rumah sakit sekarang".
"Silahkan saja kalau kau mau pulang duluan".
"Tidak,, aku akan mengantar mu".
"Aku janji, tak akan macam-macam lagi".
"Ayo,, kita pergi sekarang".
Andin percaya dengan ucapan Bram. Dia masih mengijinkan Bram untuk mengantarnya ke rumah sakit. Dalam hati Andin, dia merasa kasihan terhadap Bram.
Kelihatan nya, dia sangat menderita. Tapi, Andin masih ingat, saat Bram meninggalkan nya demi Vanessa.
Andai saat itu bukan Toni yang menculiknya, tentu saja Andin sudah tidak bernyawa sekarang. Dan Bram malah menikahi kekasihnya. Sama sekali dia tidak berusaha mencari keberadaan Andin. Bahkan Bram malah memanfaatkan waktu untuk sesegera mungkin menikahi Vanessa.
Tak terbayangkan, betapa sakit hatinya kala itu. Dia meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja. Hanya Toni yang selalu mendampinginya. Perasaan cintanya kepada Andin sangat tulus. Bahkan ketika Andin belum mau menerimanya. Toni tetap bersabar menantinya.
Ketika malam-malam yang di lewati Andin, terasa bagai di neraka. Terbangun tengah malam dan menangisi nasibnya. Toni selalu ada untuk mendukung dan menguatkan nya.
Sampai hari itu tiba. Perasaan Andin kembali terbuka. Dia menerima cinta Toni seutuhnya. Ketulusan hatinya telah mengetuk hati Andin.
Andin akhirnya menerima cintanya. Tanpa syarat dan tanpa memandang apapun jua.
Bram datang untuk meminta hak nya. Dia pikir masih ada tempat di hatinya untuk cinta Bram. Tanpa Bram tahu,,,Andin sudah menutup rapat pintu hatinya untuk Bram.
Dia hanya ingin mencintai Toni dengan tulus.
"Andin,,apa kau bahagia bersama Toni??".
"Tentu saja Bram,,kenapa kau tanyakan hal itu?".
"Entah lah....mungkin aku harus meyakinkan diri ku lagi".
"Saat ini mustahil bisa meraih mu kembali".
"Ku pikir, kau dan Toni tidak serius menjalani hubungan".
"Nyatanya, aku yang salah".
"Dengar Bram,,dulu aku pernah sangat mencintai mu".
"Memuja mu layaknya orang gila".
"Tapi, aku sadar kalau semua itu hanya kegilaan semata".
"Begitu tersadar, kau sudah bersama dengan Vanessa".
"Kau tahu kan,,aku dan Vanessa hanya bersandiwara".
"Aku tidak sungguh-sungguh mencintai nya".
"Tapi tidak dengan Vanessa bukan!?".
"Aku wanita Bram,,,aku tahu apa yang di rasakan nya".
"Dia sangat mencintai mu".
"Kembalilah padanya,, lupakan kalau kita pernah bersama".
"Andin,,banyak yang ingin ku katakan".
"Tapi kita sudah sampai di rumah sakit".
"Nanti saja, kita atur untuk bertemu kembali".
Bram memarkirkan mobilnya dan langsung mengikuti Andin masuk ke kamar tempat Toni di rawat. Keduanya masuk ke dalam, dan melihat Toni sedang makan bersama Natalie.
"Kenapa kalian bisa masuk berdua??".
"Memangnya kalian bertemu di mana sayang??".
"Bram ingin menjenguk mu, aku melihatnya di parkiran, lalu sekalian saja kami masuk bersama".
"Aku sudah masukkan dokumen mu".
"Sini mom, biar aku saja yang teruskan".
"Kau terlihat jauh lebih baik Toni".
"Kau benar Bram,, Andin merawat ku dengan penuh cinta".
"Dia tak meninggalkan ku walau sedetik pun".
"Dan kau lihat,,,aku cepat pulih berkat perawatan dari nya".
"Syukurlah Toni, aku senang mendengar nya".
Sejenak mereka berbincang-bincang santai.
Setelah itu, Bram pamit untuk pulang. Tak seberapa lama, Natalie dan Adam juga pamit kembali ke rumah. Tinggal Andin sendirian bersama Toni.
"Apa pekerjaan mu sudah selesai sayang,,,kau pulang lama sekali".
"Aku sudah selesaikan semua sayang, kau jangan khawatir".
"Aku juga sudah mengajukan kepulangan mu".
"Sore ini, dokter yang akan memberi jawaban".
"Apa kau tadi sempat berbincang dengan Bram".
"Iya sayang,,bukan hal penting, kami cuma ngobrol biasa".
Toni bersyukur, Andin dan Bram tidak menyinggung masalah penculikan waktu itu.
Kalau tidak, masalahnya akan lebih panjang lagi. Untungnya, Andin mungkin masih enggan bicara dengan Bram.
...****************...