Let me Love You

Let me Love You
Bab 22.



Toni menjemput Andin ke salon. Tidak butuh waktu lama, karena jarak salon dengan rumah Vanessa sangat dekat. Dia segera masuk dan melihat perawatan yang dilakukan oleh calon istrinya.


"Kau memotong rambut panjang mu rupanya??".


"Kenapa,,apa kelihatan jelek,,,kau tidak menyukainya ya??".


"Tidak,,,,bukan begitu Bella,,malah sebaliknya kau cantik sekali".


"Penampilan mu kelihatan berbeda, aura kecantikan mu juga makin kelihatan".


"Iya,,,kau terlihat lebih segar Bella,,pasti Natalie senang sekali punya menantu diri mu".


"Terimakasih miss, ini sungguh cantik".


"Apa ini sudah selesai??".


"Aku masih punya 1 tempat lagi untuk di kunjungi".


"Kemana lagi sekarang Toni??".


"Ayo,,ikut aku,,ini kejutan untuk mu".


Andin menyambut tangan Toni dan mengikutinya ke mobil. Mereka berkendara jauh ke luar kota. Tak berapa lama, mereka tiba di tepi pantai. Toni dan Andin memasuki


villa mewah yang ada di sana.


"Masuklah,,aku sudah menyiapkan semua ini untuk mu".


"Ini indah sekali Toni,,aku sangat menyukainya".


"Suasana hening, hanya suara deburan ombak saja".


"Oh,,,,betapa lama nya aku sudah memimpikan tempat ini".


"Aku tahu, makanya aku membawamu ke mari".


"Toni,,,aku bahagia sekali".


Toni sudah menyiapkan segalanya dengan di bantu oleh teman nya. Nanti, tepat di saat matahari terbenam, Toni akan melamar Andin untuk menjadi istrinya. Dia akan mewujudkan satu demi satu impian gadis itu yang sempat di hancurkan oleh Bram.


"Andin, ikut aku sekarang".


"Kemana??".


"Melihat matahari terbenam,,,indah bukan??".


"Seperti lukisan hidup".


"Aku serasa bermimpi Toni".


"Andin,,di depan cakrawala dan debur ombak di pantai ini, aku ingin menanyakan sesuatu padamu".


"Maukah kau menikah dengan ku Andina Larasati".


"Berbagi suka dan duka bersama ku??".


Toni berlutut di hadapan Andin dengan menyerahkan cincin berlian kepadanya. Tak ada kata yang terucap dari mulutnya, hanya air mata yang mengalir di pipi mulusnya. Dengan perasaan yakin dia menjawab lamaran dari Toni.


"Iya Toni,,,aku bersedia.......aku mau jadi istri mu".


Andin menerima Toni dengan panorama matahari tenggelam deburan ombak yang menjadi saksi cinta mereka. Andin tak lagi memikirkan apapun karena di depan nya ada pria yang begitu tulus menyerahkan hatinya untuk dirinya.


Entah apa yang akan terjadi nanti, Andin sudah menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada Toni. Dia tak ragu lagi melangkah ke depan asal itu bersama dengan nya.


Toni bangkit dan memasangkan cincin berlian di jari manis Andin. Setelah itu dia mencium keningnya erat. Toni lalu menggenggam tangan Andin dan membawanya ke meja makan. Mereka mengawali nya dengan makan malam yang romantis.


"Kau menyiapkan semua kejutan ini untuk ku??".


"Tentu saja sayang,,, aku ingin hari ini kau kenang dalam hidup mu".


"Aku ingin tunjukkan kesungguhan cinta ku kepada mu".


"Terima kasih Toni, aku sangat tersanjung dengan perlakuan mu ini".


"Tidur di bawah langit dengan di temani debur ombak dan angin pantai malam hari".


"Ya,,,suasana hening, tenang, sunyi.....aku sudah lama memimpikan hal ini".


"Tentu saja aku bersedia".


"Tapi bagaimana dengan orang tua mu".


"Aku sudah memberitahu mereka, kau tenang saja".


Mereka menghabiskan makan malam sambil berbincang-bincang. Setelah nya Toni dan Andin berjalan-jalan ke pantai. Hari mulai gelap dan pakaian mereka yang basah, membuat keduanya segera kembali ke villa.


"Aku tidak sempat membawa baju ganti, bagaimana ini?".


"Aku sudah membawakan untuk mu, bukalah...ada di lemari".


"Kau mandilah dulu, ada air hangat di dalam".


Andin segera mandi di dalam kamarnya. Sementara, Toni melakukan hal yang sama. Keduanya sudah kelihatan segar setelah seharian berkeliling. Mereka duduk di depan villa sambil menikmati suara binatang malam dan melihat bintang.


Toni mengambil tempat duduk tepat di belakang tubuh Andin. Dia memeluknya dari belakang dan menggenggam tangan nya erat.


"Bolehkan aku memelukmu seperti ini??".


"Tentu saja Toni,, kenapa kau harus bertanya??".


"Karena aku sudah pernah bilang pada mu kan,, aku hanya akan menyentuh mu saat kau sudah menerimaku".


"Dan aku akan menepati janji ku itu".


"Sejak kau melamar ku tadi, aku adalah milik mu".


"Kau boleh melakukan apa pun pada ku".


"Aku sudah menerima mu".


"Itu artinya aku sudah menjadi bagian dari hidup mu sekarang"


Toni kian erat memeluk Andin. Kepala gadis itu disandarkan di dada Toni. Toni mencium lembut pipi dan kening Andin. Andin memejamkan mata, menikmati keindahan suasana tepi pantai.


Toni mengalungkan satu tangan nya di leher Andin. Sementara tangan lain nya menggenggam erat telapak tangan gadis itu.


Aroma tubuh Andin yang wangi membuat bibir Toni tak henti menelusuri leher jenjang Andin. Dia meninggalkan tanda di sana.


Terbawa suasana, Andin lalu berbalik dan mengalungkan kedua tangan nya di leher Toni. Bibir mereka saling berciuman. Lidah mereka bersatu menciptakan gairah yang membara. Keduanya sudah hilang kendali, bibir Toni sudah menjelajahi seluruh leher Andin dan kemudian turun ke dadanya. Di sana pun tak luput, Toni meninggalkan tanda merah.


Andin sudah pasrah, gairah nya pun tak bisa di bendung lagi. Kalau akhirnya mereka bercinta, itu karena perasaan keduanya telah menyatu. Bukan hanya emosi sesaat dan tidak dengan kekerasan. Toni melakukan nya dengan lembut dan penuh perasaan. Andin bak seorang putri yang sedang terbang ke langit ke tujuh. Dia dibuai oleh kaya-kata cinta dan perlakuan manis Toni kepadanya.


Andin meletakkan kepalanya di dada bidang Toni, setelah mereka berdua menuntaskan hasrat masing-masing. Andin merasa damai dan tenang. Tidak seperti saat bersama Bram


yang kasar.Toni memejamkan mata sambil tangan nya masih memeluk tubuh Andin.


Mereka berdua tertidur dengan posisi berpelukan. Andin telah menjadi milik Toni sepenuhnya. Bahkan sebelum hari pernikahan mereka. Toni menyadari bahwa memang Andin lah wanita yang tepat untuknya.


Tengah malam Toni terbangun. Dia mengusap lembut kepala Andin yang masih terlelap di dada bidang nya. Toni tak tahan untuk mencium kening nya. Rasanya tak percaya kalau dia bisa mendapatkan cinta Andin. Setelah perjuangan yang panjang untuk menyingkirkan Bram dari hatinya, Andin akhirnya menjadi miliknya.


"Em....apa ini sudah pagi??".


"Belum sayang, tidurlah lagi....ini masih malam".


"Lalu kenapa kau tak tidur Toni??".


"Aku menjaga mu,, tidurlah....bersamaku kau aman sekarang".


Andin membelai dada bidang Toni dengan lembut. Hal itu tentu saja membuat pria itu kembali merasakan gairah nya. Dia lalu membalik posisi Andin dan mengungkungnya di bawah tubuhnya. Mereka kembali saling ******* bibir. Keduanya kembali saling memberi kenikmatan. Sampai seluruh tubuh dan leher Andin penuh dengan tanda merah yang di buat oleh Toni.


Malam yang panjang, bagi sebagian orang di gunakan untuk beristirahat. Tapi bagi Toni dan Andin, inilah waktunya bagi kedua insan itu untuk melakukan pembuktian dari cinta mereka. Hingga dini hari aktivitas panas keduanya masih berlangsung, hingga mereka tak memejamkan mata sedikit pun.


...****************...