
"Kemarilah Bram, kau terlihat tampan sekali".
"Lepaskan aku Vaness, kau ingat kan kalau ini hanya sandiwara".
"Iya,, aku tahu...makanya tersenyum lah".
"Tunjukkan kalau kita pasangan yang bahagia".
"Setidaknya kau lihat penampilan ku, apa aku cantik??".
"Ya,,, kau cantik memakai apapun".
Para penata rias sibuk menyiapkan riasan kedua mempelai. Mereka tak mau sampai
mengecewakan pemilik acara. Akad nikah sebentar lagi digelar. Para tamu undangan juga sudah hadir di hotel tempat mereka menggelar acara.
Begitu juga dengan keluarga Natalie. Bella dan Toni sudah tiba di hotel. Wajah Bella terlihat sangat sempurna. Memakai gaun pesta, kecantikan nya terpancar keluar, membuat bangga Natalie dan Adam.
"Ini menantu mu Natalie,, cantik sekali".
"Iya,,, kenalkan..ini Bella".
"Sebentar lagi giliran mu yang datang ke pernikahan putra ku".
"Baiklah,,,dengan senang hati aku menunggu undangan mu".
Bella dan Toni duduk berdampingan di belakang Adam dan Natalie. Mereka menunggu pengantin masuk ke dalam hotel untuk acara resepsi. Kemarin pemberkatan di gereja hanya dihadiri keluarga inti saja.
Sepanjang acara, Toni menggenggam tangan Bella. Dia seolah memberi kekuatan padanya. Toni tahu, tidak mudah bagi Bella untuk melupakan Bram begitu saja. Maka dari itu, Toni hanya bisa menunggu, Bella mencintai dirinya dari hatinya sendiri.
"Kau yakin mau menghadiri acara ini".
"Iya Toni,,hanya.....tolong jangan tinggalkan aku".
"Tetaplah di sampingku".
"Aku mengerti,,, maafkan aku Bella".
"Aku hanya ingin kau mengerti kenyataan yang sebenarnya".
"Iya,,,aku tahu Toni".
Lonceng dan iringan musik sudah berbunyi, itu tandanya pengantin sudah berjalan masuk ke pelaminan. Semua tamu undangan berdiri untuk menghormati pengantin.
Dari kejauhan, Andin melihat wajah Vanessa tersenyum sumringah. Samar-samar di lihatnya lelaki di samping Vanessa. Tak ada yang berubah. Hanya di terlihat lelah dengan senyum agak di paksakan. Mungkin dia kelelahan atau kurang tidur bersama istri barunya.
Bella mengalihkan pandangan nya. Dia tak mau Bram mengenali wajahnya saat mereka melintas di depan nya. Dia tersenyum dan mengangguk pada Vanessa. Untung saja Bram tak memperhatikan dirinya.
Mereka berjalan ke pelaminan dengan anggun. Keduanya tampak serasi bersanding di pelaminan. Acara di mulai dengan mengucap ikrar pernikahan. Setelah selesai, keduanya berciuman,,lama dan mesra.
Andin tak kuasa menahan air mata nya. Nuklir bening itu jatuh membasahi pipi nya. Hatinya sungguh hancur. Lelaki yang di cintai nya meninggalkan dirinya demi wanita kaya. Entah apa artinya Andin bagi dirinya.
"Kau ingin kita pulang??".
"Tidak Toni, aku baik-baik saja".
"Aku tak mau Natalie kecewa,,tenang saja".
"Aku masih bisa menguasai diri ku".
Setelah acara inti,,,tiba saatnya mereka mengucapkan selamat kepada pengantin baru. Natalie dan Adam mengajak Toni dan Bella maju ke pelaminan. Mereka segera mengikuti langkah orang tua Toni tersebut untuk mengucapkan selamat kepada Bram dan Vanessa.
Natalie dan Adam sudah maju duluan. Toni segera menggandeng tangan Bella dan menyalami Bram dan Vanessa. Alangkah terkejutnya Bram melihat Bella yang bersama Toni. Dia segera bereaksi dengan tidak melepaskan tangan Bella.
"Andin,,, aku mencari mu ke mana-mana".
"Tolong lepaskan tangan kekasih ku Bram,,,kau tak lihat Vanessa memandangi mu dari tadi??".
Bram tak menghiraukan ucapan Toni. Bahkan Toni harus turun tangan membawa Andin pergi dari pelaminan. Sementara Andin tak mengucapkan sepatah kata pun.Vanessa terlihat marah dan memperingati Bram.
"Kendalikan diri mu Bram,, dia bukan Andin".
"Namanya Bella, dia tunangan Toni, sebentar lagi mereka akan segera menikah".
"Aku peringatkan kau,, jangan pernah lagi menyebut nama Andin saat di depanku".
"Wanita itu mungkin sudah mati di luar sana".
"Stop Vaness,,sejauh ini aku masih menghormati mu".
"Jangan sampai kau dan keluarga mu malu karena aku pergi dari sini".
"Aku minta maaf pada mu".
Bram tetap bertahan di pelaminan sampai acara selesai. Tapi matanya tak lepas menatap Bella dan Toni. Bram ingin sekali memeluk wanita nya. Bram yakin itu Andin
Apalagi Toni yang bersamanya. Berarti, Toni yang menculik Andin. Tapi, bagaimana bisa Andin tak mengenali nya. Bram harus mencari kesempatan untuk bicara dengan nya.
Saat acara dansa pengantin, Toni dan Irene terlihat turun ke lantai dansa. Hal itu tidak di
sia-sia kan oleh Bram. Dia mendekati Bella dan bertukar pasangan dengan nya. Bram menggenggam tangan Bella. Dia membisik kan sesuatu di telinga nya.
"Aku akan segera mengetahui siapa diri mu".
"Walau kau lari sekalipun, aku akan tetap bisa menangkap mu".
"Jangan harap kau bisa lari dari ku".
"Hanya tinggal menunggu waktu,, maka aku akan mendapatkan mu kembali".
Bella tetap bergeming. Dia tak menjawab sepatah kata pun.Hal itu membuat Bram terlihat sangat marah. Saat bertukar pasangan dengan Toni pun, Bella tetap diam.
Toni yang penasaran segera bertanya kepada Andin.
"Apa dia mengganggumu??".
"Tidak,, dia hanya masih penasaran dengan Bella".
"Dia tetap menyebut ku Andin".
"Biarkan saja,, kita lihat sejauh apa dia penasaran dengan mu".
Bram terlihat marah sekali. Dengan Toni, Andin bahkan bercakap-cakap mesra. Andin bahkan sesekali tertawa. Terlihat aura kecantikan nya di mata Bram. Dan itu membangkitkan gairah nya. Entah kenapa dia langsung bisa mengenali Andin seketika.
Toni dan Bella duduk kembali bersama Natalie dan Adam. Mereka bercakap-cakap sambil menyantap jamuan makan siang.
"Vaness, aku lapar sekali,, sebaiknya kita ke meja makan".
"Baiklah,,,ayo...meja kita di dekat pelaminan".
Niat Bram mendekati Andin lagi-lagi gagal.
Ternyata meja tamu dan keluarga memang terpisah. Bram hanya bisa memandang Andin dari kejauhan.
"Kenapa kau memperhatikan Bella dari tadi".
"Tidak,, aku hanya terkejut karena tak pernah tahu Toni dekat dengan seorang gadis".
"Hmmm...mereka kelihatan serasi bukan??".
"Bella memang sangat cantik,, apalagi dia desainer top di Inggris".
"Jadi dia memang berasal dari sini??".
"Tidak,, dia pemilik butik yang dibangun oleh Natalie".
"Kami sering bertukar pikiran tentang dunia mode".
"O,,ya...jadi kalian berteman??".
"Kurang lebih seperti itu".
Bram tersenyum penuh arti. Jalan nya sudah terbuka lebar sekarang. Tinggal meminta nomor handphone kepada Vanessa, dan Andin akan segera kembali padanya.
"O, ya Bram...mereka berdua akan segera menikah".
"Kita juga harus hadir nanti,, jadi kau tunda dulu kepulangan mu".
"Tak masalah Vaness, aku punya banyak waktu di sini".
"Yang benar,, kau bilang tidak tertarik menetap di Inggris".
"Aku berubah pikiran sekarang".
Bukan nya curiga, Vanessa justru senang karena Bram menemaninya tinggal di Inggris. Tinggal mencari cara untuk membuatnya jatuh cinta padanya. Dan itu pasti bisa dilakukan oleh Vanessa.
Sementara di meja yang berbeda, keluarga Natalie bersiap-siap untuk pulang. Dia mengajak serta Toni dan Bella. Mereka mengendarai mobil yang berbeda. Sekilas pandangan Bella melihat kedua mempelai yang tersenyum satu sama lain. Mereka berdua kelihatan sangat bahagia. Andin kemudian berlalu dari tempat acara.
...****************...