Let me Love You

Let me Love You
Bab 20.



"Tanggalkan gaun itu sekarang, atau aku akan merobeknya di depan mu".


"Maaf Tuan, seharusnya anda malu karena menghina gaun buatan istri anda".


"Hentikan sandiwara mu ini sekarang juga".


"Aku mencari mu ke mana-mana asal kau tahu".


"Seperti orang gila aku mencemaskan mu".


"Nyatanya kau malah lari dengan Toni".


"Sekali lagi maaf tuan,,aku sama sekali tak mengerti apa yang kau katakan".


"Baik,,kita lihat sekarang,,,apa kau masih belum mengerti juga".


Bram menarik pinggang Andin dan mencium bibir nya dengan kasar. Andin terkejut mendapat perlakuan yang memalukan dari Bram. Reflek tangan nya menampar Bram dan mendorongnya menjauhi dirinya.


"Berani sekali anda melakukan ini".


"Tunggu sampai tunangan ku dan istri mu mengetahuinya".


"Ternyata kau lelaki kasar yang tidak punya sopan santun".


"Sangat di sayangkan, Vanessa mendapatkan suami seperti anda".


"Rupanya kau masih ingin bersandiwara,, baiklah ..aku akan ikuti permainan mu".


"Kita lihat, siapa di antara kita yang akhirnya menyerah....Bella".


"Keluar dari sini sekarang juga, atau aku akan berteriak".


Bram menuruti perintah Andin. Dia keluar dari ruangan fitting. Raut mukanya memerah menahan amarah. Bram sudah membuktikan nya. Walaupun ciuman singkat,,tapi itu adalah Andin kekasih nya.


Melihat Bram keluar dengan mata memerah, Toni segera menghampiri nya.


"Ku harap kau tidak melewati batas mu dan berbuat macam- macam di dalam tadi".


"Kenapa Toni,, kau takut...".


"Walaupun kau mengubah namanya, bagi ku dia tetap Andin yang sama".


"Persetan dengan ucapan mu,,yang jelas Bella adalah milikku".


"Apa pun yang coba kau buktikan,,Bella tetaplah Bella istri ku".


"Kami sudah tinggal bersama".


"Setiap malam aku yang memeluk dan mencium nya penuh gairah".


"Tiada hari yang kami lewatkan tanpa bercinta".


"Bahkan aroma tubuh Bella sudah menyatu dengan keringat ku".


"Kami sedang merencanakan untuk punya bayi yang lucu".


"Kau tentu tahu kan, seberapa besar usaha kami untuk mendapatkan nya".


"Percintaan yang luar biasa".


"Dia selalu memohon kepadaku untuk kenikmatan yang dia dapatkan".


Muka Bram sudah merah padam menahan amarah. Tangan nya terkepal mendengar bagaimana Toni memperlakukan Andin. Pada puncaknya, dia langsung melayangkan pukulan ke wajah Toni hingga membuatnya tersungkur ke lantai.


Bella dan Vanessa segera berlari mendengar suara orang terjatuh. Melihat Toni berdarah, Bella segera menolongnya, dan membawanya ke sofa. Sementara Vanessa menarik suaminya dan memarahi nya.


"Ada apa ini Bram, mereka pelanggan ku".


"Kau sudah bersikap buruk hari ini".


"Cepat minta maaf pada Toni sekarang juga".


Bella masih sibuk membersihkan darah di bibir Toni, sementara Bram masih memperhatikan mereka. Sikap lembut dan perhatian dari Bella untuk Toni, semakin menyulut amarah nya. Toni berusaha bersikap bijak dengan tidak memperpanjang masalah di antara mereka.


"Vanessa,,dia tak perlu minta maaf".


"Mungkin sikap nya memang seperti itu".


"Hanya saja kau harus berhati-hati dengan nya".


"Tindakan nya sama sekali tak terduga".


"Seperti nya dia punya masalah dengan kejiwaan nya".


"Tarik kembali kata-kata mu Toni,,atau aku akan membuat mu tidak bisa berjalan lagi".


"Ayo lakukan tuan, dan aku akan membuat anda mendekam di penjara".


"Kau sudah memukul calon suami ku dan bersikap buruk pada ku".


"Untuk kesalahan itu, paling tidak 6 bulan kau tidak akan bisa bebas".


Toni tersenyum penuh kemenangan. Dia benar-benar sudah mendapatkan Bella kali ini. Tinggal menambah lagi kebencian di hatinya dengan memanfaatkan kemarahan Bram.


"Bella,,,tolong jangan lakukan itu".


"Maaf kan suami ku, ku mohon..demi pertemanan kita".


"Sayang,,,Bella, sudahlah..mereka pengantin baru, kasihan Vanessa".


"Lagipula Bram mungkin tidak sengaja melakukan nya".


"Mana bisa seperti itu Toni,, kau berdarah dan bibir mu sobek".


"Kita harus ke rumah sakit sekarang".


"Kemarilah....!!".


Bella menyambut uluran tangan Toni. Dia kemudian memandang wajahnya dan mencium nya lembut di depan Vanessa dan Bram. Melihatnya, Bram langsung keluar dari butik, sementara Vanessa sibuk mengejarnya.


Di dalan butik, Toni dan Andin masih saling berciuman. Mereka seolah terlupa dengan suasana dan tempat. Sesaat setelah berciuman, darah masih menetes di bibir Toni.


"Apa masih sakit sekarang??".


"Tidak sama sekali,, bahkan aku rela kalau setiap hari begini".


"Karena aku mendapat kan ciuman dari mu"


"Kau membuat ku malu Toni".


Ibu Vanessa menghampiri mereka yang masih berdiri berhadapan. Dia menanyakan gaun kepada Bella.


"Kalian manis sekali,,aku suka melihat pasangan seperti kalian berdua".


"Bagaimana Bella, ada yang perlu diperbaiki lagi dari gaun mu".


"Tidak madam, semuanya sempurna, aku sangat menyukainya".


"Bagus kalau begitu,,,nanti aku akan mengirimnya".


"Terima kasih madam, kami permisi dulu".


Andin menggandeng lengan Toni dan membawanya ke dalam mobil. Sementara Vanessa sudah berhasil mengejar Bram.


"Kau ini kenapa,,sikap mu buruk sekali hari ini".


"Aku sudah bilang kan,,jangan buat skandal".


"Tapi kau malah memukul tunangan Bella".


"Tinggalkan aku sendiri Vaness, aku sedang tidak ingin berdebat sekarang".


"Memangnya ada hubungan apa di antara kalian?".


"Aku bilang diam.....pergi dari sini".


"Aku tak ingin kau menjadi sasaran kemarahan ku".


"Rupanya sikap mu seperti ini, tak heran kalau Toni dan Bella membenci mu".


Vanessa berbalik dan meninggalkan Bram sendirian. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya itu.Yang jelas, Vanessa hampir hilang kesabaran menghadapi tingkahnya.


Sementara di tempat lain, Toni membawa Andin ke apartemen miliknya. Rencananya mereka akan tinggal di sana setelah menikah nanti.


"Masuk lah,, ini apartemen yang aku beli khusus untuk mu".


"Nanti kita akan tinggal di sini setelah menikah".


"Kau yakin Toni,, lalu Natalie dan Adam??".


"Mereka tak akan keberatan,,".


"Kita akan sering mengunjungi mereka nanti".


"Aku tak enak pada Natalie, dia sudah begitu baik,, masa kita akan meninggalkan nya".


"Kalau begitu, ini buat liburan kita saja".


"Kalau kita sedang butuh privasi".


Andin tertunduk malu. Teringat kala dirinya tadi mencium bibir Toni yang berdarah.


"Bibir mu,, sudah lebih baik".


"Kalau kau mau menambahkan obat, silahkan".


"Toni,, jangan menggoda ku, aku jadi malu".


"Kenapa harus malu,, sebentar lagi kita menikah bukan??".


"Lagi pula, aku senang, tindakan mu tadi membuat kau tahu seperti apa Bram sebenarnya".


"Kalau hal itu, aku sudah tahu Toni".


"Dia temperamen dan mudah marah pada hal kecil sekalipun".


"Tapi sejauh bersama ku, dia selalu bisa menjaga sikapnya".


"Entah kenapa hari ini dia begitu marah dan memukul mu".


"Karena dia ingin memancing emosi mu".


"Kalau itu terjadi, dia bisa tahu siapa kau sebenarnya".


"Dan dia akan seenaknya mempermainkan kau dan Vanessa".


"Untungnya kau mau mencium ku untuk membuat dia yakin kalau kau memang bukan Andin".


"Toni..........".


"Aku mencium mu bukan karena itu".


"Aku ingin memberi diri ku kesempatan untuk membuka hati terhadap mu".


Andin mantap mengatakan perasaan nya, sementara Toni hanya bisa terdiam. Akhirnya,,


Bram tergeser juga dari hati Andin.


...****************...