
Malam itu juga Bram menyiapkan acara akad nikahnya di lobby apartemen yang di sewanya. Hanya di hadiri oleh teman dekatnya saja dan di saksikan oleh tetangga satu apartemen dengan nya, Bram memanggil penghulu beserta saksi nikahnya.
Keduanya melangsungkan akad nikah dengan sederhana. Yang terpenting, pernikahan mereka sah di mata hukum dan negara.
Mbak Tari menangis menyaksikan akad nikah Andin dan Bram. Dia tak menyangka justru Andin yang lebih dulu resmi menikah daripada dirinya. Walaupun hanya berlangsung sederhana, tapi bagi Andin itu sangat bernilai.
Setelah penghulu meninggalkan apartemen, satu-persatu teman Bram dan Andin memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru tersebut. Mereka bahkan menggoda keduanya dengan ucapan-ucapan nakal.
"Kalian ini rupanya sengaja memberi kejutan".
"Aku menyuruhmu menemani dia dikontrak kan, tapi kau malah menikahinya".
"Aku tak ingin di hakimi massa mbak".
"Nanti kami di kira kumpul kebo".
"Kalau di Yogya hal ini masih di perhatikan bukan??".
"Aku ingin kami menikah dulu sebelum tinggal satu atap".
"Pengalaman yang dulu, aku kehilangan Andin karena tak buru-buru melamarnya".
"Sekarang kami sudah jadi suami istri, jadi tak akan ku biarkan Andin pergi dari sisi ku lagi".
"Hmm.....sedari tadi aku belum melihat kalian berciuman?".
"Bukan kah pengantin baru harus menunjukkan cinta mereka".
"Mbak Tari,, kau sengaja mengerjai kami ya".
Bukan nya menjawab, Mbak Tari dan teman-teman Andin justru berteriak menyuruh Bram mencium Andin. Mereka terlihat malu-malu.
Rona merah terlihat semburat di pipi Andin.
Bram maju dan mencium bibir Andin sekilas, hanya agar teman-teman nya berhenti berteriak.
Pesta pernikahan Andin dan Bram, berakhir tengah malam. Keduanya segera masuk ke apartemen mereka . Barang-barang Andin sudah tertata rapi di sana.
"Kau tidur saja di kamar sebelah, aku sudah membersihkan untuk mu".
"Barang-barang mu juga sudah ku rapikan di sana".
"Terima kasih Bram,, atas semua yang kau lakukan".
"Tenang saja, kalau butuh sesuatu, kau boleh memanggilku di kamar sebelah".
"Dan,, Andin......maafkan aku atas ciuman tadi".
"Aku terpaksa melakukan nya".
"Mungkin kau tak suka dengan yang ku lakukan".
"Tak apa Bram, aku mengerti".
"Aku tak akan menyentuh mu kalau kau tidak mengijinkan nya".
"Buatlah diri mu nyaman, dan jangan khawatir kalau aku akan berbuat macam-macam".
Bram melangkah masuk ke kamarnya. Seharusnya malam ini mereka bersama sebagai pengantin baru. Tapi, dia sudah berjanji kepada Andin, untuk urusan yang satu itu. Sampai Andin siap dan mengijinkan Bram menyentuhnya, baru dia akan melakukan nya.
Andin masuk ke kamarnya. Rupanya Bram memang sudah menyiapkan semuanya. Ada boks bayi di pojok kan kamar Andin, serta tempat tidur untuknya. Lemari untuk dirinya sendiri, serta lemari kecil untuk putra nya.
Bahkan ayah dari putranya, menolak kehadiran bayi tersebut. Sementara Bram yang terus ada di samping nya.
Andin merebahkan diri di atas ranjang. Malam ini dia merasa tenang. Mungkin karena sudah tidak lagi memikirkan tentang putra nya lagi. Bram sudah resmi menjadi ayah kandungnya.
Kalau suatu saat nanti Toni datang, dia tak akan mungkin bisa mengambilnya.
Pagi hari, Andin bangun kesiangan. Tidurnya terasa nyenyak sekali. Dia keluar kamar dan melihat Toni sudah siap dengan pakaian kerjanya.
"Ini susu mu, minumlah selagi hangat".
"Duduk lah, kita sarapan bersama".
"Kau menyiapkan semua ini Bram??".
"Iya,,,siapa lagi, hidup di apartemen harus mandiri bukan?".
"Jadi, kau tenang saja,,aku yang akan melayani mu".
"Aku sudah siapkan buku dan video tentang persalinan dan mengurus bayi".
"Kau bisa pelajari semuanya, supaya tak bosan disini".
"Kalau ingin keluar shopping atau jalan-jalan kau bisa menelpon ku untuk menemani mu".
"Ingat, jangan pergi sendiri".
"Telpon aku kalau kau merasa kesakitan atau apa pun itu".
"Iya Bram,, aku sudah paham".
"Makan dengan benar, habiskan buahnya dan minum susu mu".
"Aku berangkat dulu".
"Hati-hati di jalan Bram".
Andin meraih tangan Bram dan mencium nya.
Dia lalu meletakkan tangan Bram di perutnya yang semakin membuncit.
"Selamat bekerja papa, hati-hati di jalan".
"Jaga mama baik-baik, anakku".
Bram menunduk, mengelus perut Andin dan mencium nya. Dia bahagia sekali bisa melakukan hal tersebut.
"Lain kali kalau kau pergi atau pulang, kau harus berpamitan pada putra mu".
"Agar dia tahu kalau ayahnya sedang berjuang untuk nya".
"Baiklah, aku akan mengingatnya".
Andin mengantar Bram sampai ke pintu. Dia lalu masuk dan membereskan meja makan. Setidaknya dia harus mengerjakan pekerjaan di rumah, mengingat Bram sudah bekerja.
Tak berapa lama, ponselnya berbunyi. Telepon dari mbak Tari membuatnya tersenyum senang. Buru-buru dia mengangkatnya.
"Halo pengantin baru, apa kabar malam pertama mu?".
"Jangan menggodaku mbak,, mana ada malam pengantin untuk wanita yang sudah hampir melahirkan seperti ku".
"Jangan salah Andin, justru hamil tua seperti mu, harus banyak-banyak berhubungan dengan suami mu, supaya kau cepat melahirkan".
"Mbak Tari, kau tahu kan alasan ku menikah dengan Bram".
"Iya,, aku tahu Andin".
"Tak ada salahnya bukan kalau kau membuka diri".
"Mantan suami mu saja tak perduli lagi padamu".
"Tapi kau masih menyimpan cinta untuknya".
"Entah sekarang dia sudah tidur dengan berapa wanita".
"Mungkin kau malah sudah hilang dari pikiran nya".
"Terimalah Bram, dia tulus mencintai mu".
"Dia sudah membuktikan hampir setahun belakangan ini".
"Iya mbak, aku akan pikirkan perkataan mbak Tari".
Andin mematikan ponselnya setelah berbincang-bincang dengan mbak Tari lewat telepon. Dia memeriksa pesan masuk dari Bram. Isi pesan masuk itu mengingatkan Andin untuk minum vitamin dan sederet pesan lain nya. Ada rasa haru menyelinap di relung hatinya. Rupanya selama ini Bram memang tulus mencintai dirinya.
Terlepas waktu itu tingkahnya kasar dan arogan,itu mungkin bentuk kemarahan nya karena Andin lebih memilih Toni. Ternyata, cintanya tak pernah berubah sedikit pun untuk Andin. Dan dia sudah membuktikan hal tersebut sejauh ini.
Di sisi negara bagian lain, Toni memandangi foto Andin di layar ponselnya. Entah kenapa akhir-akhir ini dia sangat merindukan mantan istrinya tersebut. Ada rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam karena keputusan nya. Andin yang tengah hamil harus menderita, banting tulang untuk bekerja.
Namun Toni juga takut, kalau Andin tetap bersamanya, dia akan menanggung malu.
Toni menghitung kalender di kamarnya. Kalau bulan ini Andin melahirkan, berarti itu adalah putranya. Mereka sudah 7 bulan berpisah. Berarti saat Toni meninggalkan dirinya, dia sudah hamil 2 bulan. Tapi kalau Andin masih lama melahirkan, berarti dia memang anak Bram.
Rossi yang seharusnya mencari tahu, malah sama sekali tak ada kabar. Dia harus menyewa orang untuk mendapatkan berita dari Andin setiap hari. Dan sudah dua hari ini, dirinya tak mengabarkan keadaan Andin kepada Toni.
...****************...