
Tergesa-gesa Bram mengejar pesawat yang akan berangkat ke Jakarta. Untung saja tiket nya sudah di pesan oleh kakak Han. Jadi dia langsung menuju ke ruang pemeriksaan. Dia akhirnya meninggalkan Inggris dan kembali ke Jakarta.
Luka hatinya di bawa pergi menjauh. Andin sudah tidak terjangkau lagi dalam genggaman nya. Lebih baik dia bermanfaat untuk orang lain. Setidaknya, dengan menolong paman Burhan, bisa mengurangi sesak di hatinya. Andin sudah menjadi bintang, yang mustahil bisa di raih. Hanya menyisakan kenangan tentang kebersamaan mereka berdua.
Dan kenangan satu-satu nya itu, hari ini hampir musnah, di hancurkan oleh kelompok baru yang berkuasa. Tempat yang menjadi saksi kisah percintaan nya bersama Andin hampir saja di ratakan. Itulah alasan mengapa Bram kembali. Untuk membangun kembali reruntuhan hati nya yang menyatu dengan bangunan restoran tersebut.
Turun dari pesawat, Bram sudah dijemput oleh pengawal kakak Han. Mereka langsung menuju rumah paman Sing, pemimpin kelompok baru di wilayah paman Burhan.
Kedatangan Bram di sambut dingin oleh paman Sing. Namun Bram masih tetap dengan kepala dingin menghadapinya.
"Paman Sing, perkenalkan nama ku Bram".
"Aku adik dari kakak Han".
"Hmmm...aku tahu maksud kedatangan mu kemari".
"Kalau begitu paman, mari kita minum kopi dulu, biar pembicaraan kita lebih akrab".
Bram mengawali pembicaraan dengan berkenalan dan basa-basi. Selanjutnya mereka melakukan negosiasi. Tentu saja kepintaran Bram dalam berbicara memberikan nya keuntungan tersendiri.
Paman Sing bersedia memberikan restoran paman Burhan untuk di kelola oleh Bram.
Dia bahkan tak menarik sepeser pun, karena Bram sudah berjanji kalau dia sendiri yang akan mengelolanya. Nantinya restoran tersebut akan di buat sebagai tempat hiburan bagi para kelompok anak muda di wilayah tersebut.
Setelah mencapai kesepakatan, Bram meninggalkan rumah paman Sing dan langsung menuju rumah lama Andin. Di tempat itu lah, dia biasa menghabiskan waktu. Tanpa di ketahui oleh siapa pun, Bram sudah lama membelinya. Tak sedikit pun dia mengubah isi perabotan di dalamnya. Barang-barang Andin pun masih tersimpan rapi, sama persis dengan kondisi sewaktu dia di culik dulu.
"Kakak tidak ke rumah kakak Han lebih dulu".
"Nanti saja, aku butuh istirahat sekarang".
"Bilang pada kakak, besok pagi aku akan datang".
"Nanti malam, aku akan menemui paman Burhan".
"Kami harus bekerja sama mulai sekarang".
"Kau pulang lah, sampaikan pesan ku pada kakak Han".
"Baik kak".
Bram segera mengambil kunci rumah Andin, yang selalu di simpan nya di saku celana. Rumah kenangan, tempatnya memadu cinta.
Keadaan nya masih sama, rumahnya bersih dan terawat, karena Bram menyuruh orang untuk mengurus nya. Yang terutama, barang-barang Andin, semua masih utuh tersimpan di sana.
Itulah mengapa cinta yang di rasakan Bram tak pernah hilang selama ini. Karena Bram menyimpan dan merawat semua yang di tinggalkan, ketika waktu itu Andin harus menghilang karena di culik.
Bram masuk dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa nyaman inilah yang selalu di rindukan nya. Seakan Andin di sini menemaninya.
Sementara di Inggris, Vaness baru saja pulang dari kantor. Di lihat nya ke seluruh penjuru rumah, Bram tak ada di mana pun.
Dia lalu memanggil asisten rumah tangganya.
Karena menghubungi Bram pun percuma, ponselnya sama sekali tidak aktif.
"Kalian ada yang melihat Bram??".
"Seharian ini aku kehilangan dia".
"Kami tidak tahu Bu, bapak tadi pergi ke luar dengan terburu-buru".
"Tapi sampai sekarang belum kembali juga".
" Ya sudah, kalian boleh pergi".
Vanessa menghubungi semua teman Bram di Inggris. Tak satu pun yang melihat dirinya.
Vaness khawatir karena kejadian semalam. Dia takut Bram berbuat nekat lagi. Namun, bila Bram mengganggu Andin, harusnya Toni sudah menghubungi nya. Namun dari tadi tidak ada panggilan masuk, baik dari Andin maupun Toni.
"Kau kemana Bram,, kenapa tak menghubungi ku?".
"Kau tak tahu kalau aku cemas sekali".
"Sebenarnya, apa yang terjadi pada mu".
Vanessa masih berusaha menghubungi Bram. Ponsel nya pun masih belum aktif.
Sementara Andin masih di butik, untuk menyelesaikan pesanan yang sempat tertunda.
Tak lama, ponselnya berdering. Nomer yang tidak di kenalnya menghubungi Andin sore itu. Dia kemudian menjawab panggilan dengan rasa penasaran.
"Andin,,ini aku Bram...tolong jangan kau matikan ponselnya".
"Bram,,aku sedang kerja, tolong berhentilah mengganggu ku".
"Aku tak ingin mengganggu, cuma saja aku merindukan mu disini".
"Cukup Bram,,jangan melewati batas".
"Andin, kau harus tahu ini, paman Burhan sedang tertimpa masalah".
"Kau ingat pria tua itu bukan??".
"Dia sudah seperti ayah mu".
"Katakan cepat, kenapa dengan paman Burhan".
"Kalau kau perduli, seharusnya kau kembali dan mencari tahu sendiri".
"Tapi, kurasa kau sibuk bercinta dengan suami mu bukan??".
"Jadi, sudahlah....tak ada gunanya memberitahu mu".
Bram langsung saja mematikan sambungan telepon nya. Tinggal Andin yang panik sendirian. Bagaimana tidak, paman Burhan adalah ayah bagi Andin. Jadi tak mungkin dia tinggal diam, ketika orang yang begitu baik dengan nya sedang mengalami kesusahan.
Andin masih melamun, saat Toni tiba di butik untuk menjemputnya. Sama sekali Andin tak mendengar panggilan dari suaminya.
"Hei....sayang,,kau kenapa??".
"Apa ada yang mengganggu pikiran mu??".
"Toni,apa aku bisa minta tolong padamu??".
"Ini sungguh masalah yang sangat serius".
"Coba kau katakan, barang kali aku bisa menolong mu".
"Tolong kau cari tahu keadaan paman Burhan di Jakarta".
"Dengan koneksi yang kau miliki, aku yakin kau pasti bisa dengan mudah mengetahuinya".
"Tentu saja bisa,, tapi...kenapa kau tiba-tiba teringat paman Burhan".
"Ada seorang teman yang mengabarkan kondisi paman Burhan".
"Tapi, aku belum jelas betul dengan keadaan nya".
"Baiklah,, kau tenang saja, biar aku cari tahu dulu".
"Terima kasih sayang".
Toni mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang-orangnya di Jakarta. Mereka kemudian menceritakan kejadian yang di alami paman Burhan. Bahkan saat ini, dia masih menjalani perawatan di rumah sakit.
"Sayang, kau benar...paman Burhan sedang terkena masalah".
"Benarkah,,,apa yang terjadi dengan nya?!".
Toni lalu bercerita detail kepada Istrinya tentang kondisi paman Burhan. Dia paham betul, arti laki-laki tua itu bagi hidup Andin.
Paman Burhan lebih dari sekedar seorang majikan. Dia merangkap sebagai paman dan juga ayah bagi istrinya itu.
Saat ini, ketika dia sedang tertimpa musibah, mustahil ada orang yang menolongnya. Sebab, dia hidup sebatang kara, sama seperti Andin. Makanya, Andin mengerti benar kesusahan paman Burhan saat ini.
"Sayang,,kalau kau tak keberatan, aku ingin sekali melihatnya".
"Mungkin hanya aku yang dia punya".
"Aku bisa pergi sendiri ke Jakarta".
"Hanya untuk melihat paman Burhan".
"Kau pikir aku tak punya chemistry dengan nya".
"Kita akan segera ke Jakarta".
"Aku tak mungkin membiarkan istri ku pergi sendirian".
"Ya,,,kau benar sayang,, lagi pula, sudah lama sekali sejak terakhir kali kau membawa ku pergi ke Inggris".
"Aku bahkan tak tahu, apakah keadaan di sana masih sama".
"Atau malah sudah berubah??".
"Tenang saja sayang,, kita akan segera mencari tahu".
Andin sedikit lega karena pemikiran suaminya ternyata sama dengan nya. Mereka berdua akan segera kembali ke Jakarta. Tempat di mana Andin meninggalkan semua cerita cintanya bersama Bram.
...****************...