
Andin sudah cukup beristirahat seharian hanya berbaring dan tidak keluar kamar. Tak heran kalau dia bosan dan ingin berganti suasana. Dia merayu Toni yang masih bermalas-malasan di ranjang sambil me- mainkan ponselnya.
"Sayang,,,aku bosan di kamar terus".
"Apa kau tak ingin mengajak ku keluar malam ini??".
"Memangnya kau sudah tidak capek??".
"Aku sudah fit lagi sekarang,,,bagaimana kalau kita cari makan di luar?".
"Baiklah,,bersiaplah....kita pergi sekarang".
Andin tersenyum sambil berganti pakaian.
Dia hanya memakai make up natural saja, tapi masih tetap kelihatan cantik. Toni sampai merajuk kepadanya.
"Kalau seperti ini, lebih baik kita tidak jadi keluar".
"Memangnya kenapa,, aku sudah siap kan??".
"Kau terlalu cantik, aku takut istri ku ini diambil orang".
"Hmm....jangan menggoda ku sayang,,ayo kita segera berangkat".
"Ayo,, tapi jangan jauh-jauh dari ku,, nanti kau tersesat".
Andin menggandeng lengan suaminya itu.Kepalanya di sandarkan di bahunya. Mereka kemudian keluar dan menuju ke pusat perbelanjaan. Kurang lebih satu jam waktu berkendara dari penginapan nya.
Keduanya memasuki pusat perbelanjaan dan membeli oleh-oleh untuk kedua orang tuanya.
Keduanya berjalan-jalan mengelilingi mall.
Setelah puas berkeliling, keduanya makan malam di restoran dalam mall.
Andin dan Toni sedang menikmati makan malam bersama. Sesekali keduanya tampak bercanda dan bersikap mesra. Tak sadar kalau ada seorang pria mendatangi meja keduanya. Dia adalah Ricky, pengusaha muda yang juga mencintai Andin sewaktu berada di Indonesia.
"Andin,,,senang sekali bisa bertemu dengan mu di sini".
"Aku sudah lama mencari mu,,tapi kau menghilang tanpa jejak".
Andin dan Toni serempak melihat ke arah pria yang menyapanya tersebut. Andin kemudian tersenyum, mengenali sosok Ricky di sampingnya.
"Ricky,,,sedang apa kau di sini??".
"Aku ada urusan di sini,,,kau sendiri,, kenapa bisa sampai di sini".
"Oh....itu,,,Ricky .......kenalkan ini suami ku Toni".
"Kebetulan kami sedang berbulan madu".
Toni dan Ricky bersalaman saling memperkenalkan diri. Toni kemudian menawari Ricky untuk bergabung bersama mereka di mejanya.
"Padahal aku masih menunggumu untuk interview di perusahaan ku".
"Nyatanya Toni jauh lebih beruntung karena langsung bisa menjadi suami mu".
"Terakhir kali ku ingat, aku hampir berseteru dengan Bram".
"Tapi ternyata kau berjodoh dengan Toni".
"Asal kau tahu Ricky,,susah payah aku mendapatkan nya".
"Putri salju ini sangat sulit membuka hatinya".
"Aku setuju Toni,,,wanita ini berlian langka".
"Kau harus hati-hati menjaganya".
"Hello,,,kalian ini pria tidak sopan".
"Membicarakan wanita di depan nya,,,aku bisa besar kepala nanti sayang".
"Tak apa honey,,bahuku masih cukup kuat untuk tempat mu bersandar".
Toni dan Ricky tertawa bersama karena berhasil mengolok-olok Andin. Wanita itu pun manyun di buatnya. Mereka asyik berbincang hingga tak sadar kalau sudah malam.
"Ricky,,kami senang mengobrol dengan mu,,tapi nampaknya istri ku sudah ingin pulang cepat".
"Maklum, kami kan pengantin baru".
"Kalau besok kau masih ada di sini, kita bisa ngobrol-ngobrol lagi".
"Oke,,,besok aku kabari lagi".
"Kalian pulanglah sekarang,, nanti keburu ada setan' lewat".
"Dasar kau Rick, mama ada setan' di pulau seindah ini".
"Yang ada juga buaya macam kamu".
Toni dan Andin segera meninggalkan restoran setelah berpamitan dengan Ricky. Melihat sikap Toni, Andin bertambah kagum kepadanya. Suaminya ini sangar dewasa dan bijaksana. Kalau saja dia adalah Bram, sudah pasti Ricky di hajar nya sejak pertama datang tadi.
"Sayang,,,boleh aku bertanya padamu??".
"Kau tidak cemburu melihat Ricky tadi??".
"Honey,,,lelaki mana yang tidak cemburu melihat pria lain menatap istrinya mesra".
"Lalu, kenapa kau malah bersikap baik pada Ricky??".
"Karena aku tidak bisa mengatur perasaan orang lain".
"Dia berhak untuk menyukai siapa pun, aku tak berhak melarangnya".
"Lagipula, Ricky bisa menjaga sikapnya padamu di depanku".
"Jadi,,aku mengontrol rasa marah ku, dan justru menawarkan persahabatan dengan nya".
"Lalu, bagaimana kalau suatu saat dia berhasil merebut ku dari mu".
"Berarti memang kelas mu serendah itu honey".
"Tapi aku yakin kau tidak seperti itu".
"Aku percaya pada mu, pada cintaku dan pada
kesetiaan mu".
"Jadi, tak perlu ada yang ku khawatirkan".
"Sayang,,i love you".
Andin mencium mesra bibir suaminya. Satu lagi kelebihan Toni di matanya. Sikapnya sungguh bijaksana.
"Honey,, bukan berarti aku mengijinkan mu bertemu dengan Ricky tanpa aku".
"Aku memberi mu kebebasan, tapi harus dalam batas wajar".
"Kau mengerti maksud ku kan honey??".
"Iya sayang, kau tenang saja".
"Aku sudah paham maksud mu".
Toni dan Andin kembali ke cottage, sementara Ricky juga melakukan hal yang sama. Sesampainya dia di cottage, dia langsung menghubungi Bram. Ricky tahu,,lelaki itu mungkin menunggu informasi tentang Andin, mengingat sayembara yang di umumkan nya di media tidak main-main kala itu.
Bram melihat layar ponselnya, ketika terdengar suara panggilan. Nomer asing masuk menghubungi dirinya. Dia lantas segera menjawab panggilan tersebut.
"Bram,,, aku punya informasi untuk mu".
"Kalau kau masih tertarik, kita bisa bicarakan harganya".
"Ini siapa,,informasi apa maksud mu".
"Informasi mengenai kekasih mu yang hilang dulu".
"Apa kau masih merindukan nya??".
"Aku tak punya waktu meladeni omong kosong seperti ini".
"O ya,,,kau lihat saja video yang akan ku kirimkan padamu".
Ricky menutup ponselnya dan mengirim video kebersamaan nya dengan Andin tadi. Dia sangat tahu kalau Bram pasti tertarik. Dan dia pasti bersedia membayar mahal hanya untuk sebuah informasi saja.
Benar saja, Bram menghubungi ponsel Ricky kembali. Dia tertarik untuk mengetahui keberadaan Andin.
Sementara, Ricky tersenyum puas karena umpan nya mengenai sasaran dengan tepat. Sebentar lagi dia akan mendapatkan uang sekaligus mendapat perhatian Andin. Dengan membuat Bram dan Toni bermusuhan, otomatis mereka akan melupakan Andin. Saat itu Ricky akan masuk dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Toni.
Dalan sekali tepuk, dua lalat mati sekaligus.
Dia akan mendapatkan uang dan merebut cinta Andin. Rencana yang sempurna.
"Katakan,, di mana Andin sekarang??".
"Tunggu Bram,, jangan terburu-buru".
"Aku bisa memberi mu informasi, tapi harus ada imbalan nya".
"Katakan, berapa harga yang harus ku bayar??".
"Baik,,, 5 juta dollar, dan aku akan melaporkan aktivitas Andin selama dia berada di tempat ini".
"Tempat apa maksud mu,, di mana Andin sekarang".
"Transfer dulu ke rekening ku, baru aku ceritakan semuanya padamu".
"Kirimkan no rekening mu padaku".
"Aku kirim uangnya sekarang,,, tapi awas,,, kalau ternyata kau berbohong, aku tidak tanggung apa yang akan terjadi padamu".
Ricky tersenyum penuh kemenangan. Dia segera mengirim no rekeningnya pada Andin. Setelah itu dia menceritakan semua informasi tentang Andin sedetail mungkin. Bram merasa sangat puas karena akhirnya dia bisa menyusul mereka ke pulau Maldives.
...****************...