
Bram masih menempuh perjalanan ke pantai untuk menyusul Andin. Sementara mereka baru saja menyelesaikan makan malam di ruang makan keluarga Natalie.
"Kalian harus istirahat anak-anak".
"Besok pagi hari penting kalian kan, aku ingin menantu ku terlihat cantik".
"Iya mom, kau tenang saja, ku pastikan dia akan tidur nyenyak malam ini".
"Ya sudah,,aku tidur duluan,,selamat malam anak-anak".
"Malam mom, dad...have a nice dream!!".
Natalie dan Adam segera naik ke kamar mereka, menyisakan Andin dan Toni di ruang makan. Keduanya saling berpandangan, lalu beranjak meninggalkan ruang makan.
"Aku ke kamar ku dulu,,selamat tidur Toni".
"Tunggu,,kau mau kemana??".
"Kau bilang harus tidur nyenyak malam ini bukan??".
"Ya,, dan tidur nyenyak ku tentu saja di samping mu, honey".
"Aku tahu senyuman itu,, kita pasti tidak hanya sekedar tidur malam ini".
"Toni, aku ingin sempurna di hari pernikahan ku".
"Dan raut wajah mesum mu itu, aku tahu ke mana arah pembicaraan ini".
"Ok,,, aku janji,, aku hanya akan memeluk mu saja,, dengan memandang wajah mu, aku merasa damai".
"Percayalah padaku,,,, kita hanya akan beristirahat malam ini".
Ragu-ragu Andin mengijinkan Toni masuk ke dalam kamarnya. Dia segera menuju ke kamar mandi untuk berganti baju tidur. Sementara Toni sudah berbaring di ranjang nya. Dia memandangi Andin, dan tersenyum nakal padanya.
Toni menarik tangan Andin hingga tubuhnya terjatuh tepat dia atas Toni. Dia segera menangkapnya dan langsung mencium bibirnya. Lidahnya bermain menyusuri deretan gigi Andin yang putih.
"Em....lepaskan aku Toni".
"Salah siapa kau begitu cantik seperti ini".
"Bagaimana mungkin aku bisa tahan untuk tidak menyentuh mu".
"Aku tidur di kamar tamu saja, kalau kau masih seperti ini".
"Jangan honey,, mari kita tidur, hanya tidur,, apa susahnya memejamkan mata".
Toni menahan diri untuk tidak mengganggu Andin. Padahal dari tadi dirinya sudah tergoda dengan pesona wanita yang di cintai nya tersebut. Terpaksa dia hanya bisa memeluknya erat di dalam dadanya. Hanya satu malam saja, setelah ini Andin akan terus jadi miliknya.
Sudah hampir pagi, Toni terbangun di samping Andin. Dia memandangi wajah wanita yang dalam hitungan jam akan segera jadi miliknya. Toni mengusap pipinya dan mencium kening Andin.
"Hmm......jam berapa ini sayang,,,apa sudah pagi??".
"Baru jam 5 pagi, tapi aku sudah tidak sabar untuk segera menikah dengan mu".
"Aku sungguh tak bisa tidur menantikan hari ini".
"O,,ya....jadi apa kerjamu semalaman ini??".
"Memandangi wajah mu".
"Memastikan kau tidur dengan nyenyak".
"Dan satu lagi,, mencintai mu".
Mata Andin berkaca-kaca mendengar penuturan Alex. Tak terasa wajah Irene mendekat ke arah Toni. Dia mencium lembut, lelaki yang ada di depan nya. Tak cukup sampai di situ. Keduanya sudah saling menyentuh dan membelai. Mereka meluapkan rasa cinta dengan penyatuan yang singkat pagi itu. Toni tidak mungkin akan tahan untuk tidak menyentuh Andin.
Keduanya masih berpelukan sambil menunggu pagi tiba. Toni membelai kepala Andin mesra. Mereka sepertinya memang sedang kasmaran, menjelang detik-detik pernikahan nya.
"Apa kau bahagia bersamaku Andin??".
"Kenapa kau tanyakan itu??".
"Aku merasa cinta mu tak sebesar cinta ku untuk mu".
"Itu hanya perasaan mu saja honey".
"Tentu saja aku mencintai mu".
"Kau telah menjadikan ku wanita seutuh nya".
"Apalagi yang belum aku punya".
"Bersama mu, aku merasa memiliki segalanya".
Buru-buru dia mandi setelah meminta penata rias untuk menunggunya. Toni masih berbaring di atas ranjang kamar mereka. Dia memperhatikan Andin yang sibuk bersiap-siap.
"Ayo,, bangun lah....apa kau tak ingin mandi??".
"Hmm.......beri aku satu ciuman,, lalu aku akan ke kamar mandi".
"Kau nakal sekali Toni".
Andin terpaksa menuruti permintaan Toni, atau calon suaminya itu tak akan beranjak dari ranjang. Andin segera keluar dan menuju kamar tamu untuk di rias.
Sementara waktu pernikahan semakin dekat, Bram sudah tiba di pantai tengah malam tadi. Dia mencari keberadaan Andin dan Toni. Namun sampai menjelang pagi, dia sama sekali tidak menemukan mereka berdua. Bram kesal sekali. Wajahnya memerah menahan amarah.
Tiba-tiba dari saku celananya, ponsel Bram berbunyi. Dia mengangkat panggilan telepon dari istrinya.
"Kau kemana saja,, semalam tidak pulang??".
"Aku ada urusan Vaness, jangan mengganggu ku".
"Tidak,, aku hanya menanyakan kabar mu".
"Aku mungkin akan pergi seharian,, jadi jangan tunggu aku".
"Memangnya mau kemana kau??".
"Aku menghadiri pernikahan Bella,, kami sudah di lokasi, sebentar lagi mereka mengucapkan janji suci".
"Apa,,, mana bisa seperti itu, kata mu masih dua bulan lagi".
"Mana ku tahu,, ini mendadak, hanya keluarga saja yang hadir".
"Jaga diri mu,, pengantin sudah hampir tiba".
Bram merasa kecolongan. Dia ditipu habis-habisan oleh Toni. Bahkan kembali ke kota sekarang pun, tidak akan bisa menghentikan pernikahan mereka.
"Sial........kurang ajar kau Toni...!!!".
"Habis sudah sekarang,,,segalanya sudah hancur..!!!!".
"Andin............aku bisa mati kalau sampai kehilangan mu".
"Ku mohon,,,jangan lakukan ini,,, jangan menikah dengan Toni".
Walaupun Bram berusaha kembali saat itu juga, tetap tak akan bisa menggagalkan pernikahan keduanya. Karena saat ini Andin tengah berjalan menuju altar gereja dengan didampingi oleh Adam.
Andin terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih,berkerah pendek, dengan ukiran mawar putih di bagian punggungnya, serta sulaman emas di bagian depan nya.
Rambutnya di tata rapi dengan memakai Tiara. Terlihat sangat anggun dan cantik. Para tamu undangan di buat takjub oleh kecantikan pengantin wanita.
Andin berjalan lurus ke depan dengan senyum tersungging di bibir nya. Di depan altar, Toni menunggu dengan memakai jas putih dan tatanan rambut ala opa Korea. Dia meneteskan air mata ketika tangan Andin diberikan kepadanya oleh Adam sebagai pendamping wanita.
Keduanya berdiri di depan altar dan mengucapkan janji suci sehidup semati. Pendeta yang memimpin upacara pemberkatan mempersilahkan pengantin berciuman setelah mereka sah sebagai pasangan suami istri.
Raut bahagia terpancar dari wajah keduanya. Mereka saling berciuman mesra. Setelahnya berjalan meninggalkan altar dan bersiap mengikuti pesta kebun di samping gereja.
Natalie dan Adam menangis menyambut anggota baru keluarga nya. Mereka kemudian turut larut dalam pesta perayaan pernikahan Toni dan Andin.
Sepanjang pesta berlangsung, Toni tak melepaskan sedikit pun genggaman tangan nya kepada Andin. Dia terus menempel pada Andin. Tak perduli pandangan mata keluarganya, Toni tetap saja menggenggam erat tangan istrinya.
"Toni, apa aku boleh berdansa dengan Bella".
"Jangan,,, aku tidak ijinkan siapa pun menyentuh istri ku".
"Kau jangan berlebihan sayang,,kami hanya berdansa".
"Kau bisa berdansa dengan ku kan??".
"Atau kau memang sengaja ingin pergi dari ku".
"Mana mungkin,, aku sudah jadi milikmu sekarang".
"Kemanapun kau pergi, aku pasti akan mengikuti mu".
"Bisakah kita pergi dari sini sekarang??".
"Aku tak sabar untuk memakan mu saat ini juga".
Kata-kata Toni membangkitkan imajinasi liar dari Andin. Dia tahu pasti, malam ini mereka tidak akan memejamkan mata sedikit pun. Toni akan menghujani nya dengan cinta dan kenikmatan. Andin yakin, suaminya itu tak akan membiarkan dirinya terlelap sedetikpun.
...****************...