
Andin sudah bertekad dalam hati untuk tidak lagi menghubungi Toni. Dia sudah putus asa, setelah beberapa kali menghubunginya, namun tak di respon sama sekali. Pesan suara darinya hanya di dengarkan, tanpa satu pun di jawabnya.
Andin memutuskan untuk berhenti berharap pada Toni. Dia akan berusaha membesarkan anaknya sendiri. Walaupun Toni meninggalkan tabungan yang cukup besar, Andin sama sekali tak menyentuhnya. Dia enggan menerima pemberian dari orang yang tidak menghargainya sama sekali.
Hari ini Andin memutuskan akan mencari
pekerjaan. Sudah beberapa hari dia tinggal di rumah Bram, setelah keluar dari rumah sakit.
Sementara dia seorang yatim piatu, jadi dia harus bisa mandiri. Andin yakin, berdua dengan anaknya, dia bisa melalui semua ini.
"Andin,,buka pintunya,,aku membawakan sarapan untuk mu".
"Tunggu sebentar Bram".
Andin ke depan dan menyambut kedatangan Bram. Dia membawa bubur ayam, dan menawarkan sarapan bersama.
"Tunggu, koper sebesar ini.....kau mau pergi ke Inggris menemui Toni??".
"Aku ingin memulai hidup baru dan pindah dari sini".
"Toni mungkin sudah tak menginginkan ku".
"Jadi aku tak perlu mencarinya lagi".
"Aku ingin pindah ke Yogya Bram,, di sana kampung halaman ibuku".
"Aku akan bekerja dan memulai hidup baru di sana".
"Kalau cuma bekerja,,aku bisa mencarikan mu di sini".
"Tak perlu kau susah-susah pergi ke Yogya segala".
"Maaf Bram, tapi keputusan ku sudah bulat".
"Aku ingin melupakan semua yang terjadi di sini Bram".
"Aku ingin memulai hidup baru".
"Baiklah kalau begitu, biar aku yang mengantar mu".
Bram menyuruh Andin kembali duduk dan makan sarapan. Namun, baru masuk satu suap saja, Nisa sudah memuntahkan makanan nya kembali.
"Lihat saja, kau masih sakit seperti ini, mana bisa kau naik pesawat ke Yogya??".
"Aku akan membawa mu ke dokter, aku tak perduli kau mau atau tidak".
"Tidak usah Bram,, aku memang seperti ini".
"Apa maksud mu seperti ini??".
"Aku sedang hamil Bram, jadi tak semua makanan bisa masuk ke perutku".
Bram terdiam dan memandang wajah Andin yang sayu. Rupanya Andin sedang mengandung anak Toni. Dan dia cukup pengecut untuk menghadapi kondisinya bersama Andin di sini. Padahal dia akan mempunyai buah hati, namu dia lebih memilih untuk pergi.
"Kau serius dengan ucapan mu??".
"Dan, Toni tak tahu hal ini??".
"Hanya kau yang tahu Bram, dan tolong jangan beritahu siapa pun termasuk Toni".
"Dia anak ku, dan aku bisa membesarkan nya sendiri, walaupun tanpa bantuan ayahnya".
"Kalau dia saja tidak menginginkan ku, apalagi anak ku??".
"Makanya, aku harus pergi sekarang juga".
Bram sungguh tak bisa berkata-kata lagi. Dia sangat terharu mendengar keputusan dari Andin. Ada banyak luka di sana, dan Bram tahu itu. Tidak mudah pasti menjalani semua ini sendiri nantinya. Andin butuh orang yang memberinya semangat dan menemaninya.
Terlebih lagi dalam kondisinya yang seperti ini.
Bram akhirnya mengantar dan menemani Andin sampai di Yogya. Bagaimanapun Bram masih sangat mencintai nya. Dia tak akan mungkin tega membiarkan Andin hidup seorang diri.
Sementara di Inggris, kondisi Toni masih tetap sama. Dia mengurung diri di kamarnya.
Natalie dan Adam sudah menyerah untuk membujuknya. Sampai Rossie datang dan langsung masuk ke kamarnya.
Dia membuka semua korden pintu dan jendela. Setelah itu dia mendorong tubuh Toni ke kamar mandi dan mengguyur kepalanya dengan air.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku,, pergi dari sini gadis bodoh!!!".
"Kau yang bodoh,, lihat diri mu sendiri".
"Apa kau tidak malu bersikap seperti ini ??".
"Kalau begitu, bunuh aku sekarang,, aku memang ingin mati!!!".
"Baiklah kalau itu yang kau ingin kan".
"Kau ingin mati bukan,,, baik....akan segera ku kabulkan".
Tanpa pikir panjang, Rossie segera mendorong kursi roda Toni menuju ke jalan raya. Sampai di tengah jalan, di langsung meninggalkan nya. Toni menutup mata, sudah pasrah kalau ada orang yang menabraknya. Namun kenyataan nya, semua orang malah memakai dirinya. Sampai ada seorang nenek tua mendorong nya kembali ke pinggir jalan.
"Apa yang kau lakukan nak??".
"Kau ingin bunuh diri??".
"Hmm.....sayang sekali anak muda seperti mu berpikiran picik macam ini".
"Kau pikir kematian itu mudah,,, sulit nak....sangat sulit".
"Nenek yang sudah 90 tahun saja masih di beri nyawa,, walaupun nenek berharap untuk mati saja".
"Maaf nek,, aku sedang sangat frustasi"
"Kondisi ku ini membuat susah orang-orang di sekitar ku nek".
"Aku sekarang cacat, tak bisa berjalan lagi nek".
"Nenek tahu,,, dan kau langsung menyerah
dengan keadaan mu ini??".
"Memangnya kenapa kalau Tuhan mengambil kaki mu,, bukan kah kau masih punya otak dan hati,,, serta mata untuk melihat".
"Sedangkan aku,, Tuhan mengambil mata ku,,,tapi aku tetap tidak menyerah".
"Di luar sana, banyak sekali orang yang tidak beruntung seperti kita".
"Tapi mereka tetap berjuang, dan berusaha membuat hidupnya berguna nak!!!".
"Jangan sia-sia kan kesempatan hidup yang sudah di berikan Tuhan kepada kita".
"Sampai dia memanggil kita kembali dengan rasa bangga karena bisa berguna untuk hidup orang lain".
Nenek buta itu pergi dari hadapan Toni. Langkahnya pasti, walaupun tidak bisa melihat. Dia juga memberi kan uang kepada pengamen di pinggir trotoar. Toni terus memandanginya sampai menghilang di tikungan. Sejenak dia tersadar, betapa dia sudah menyia-nyiakan hidup nya selama ini.
Dia sangat malu dengan dirinya sendiri.
Kalau seorang nenek tua saja, bisa berjuang sendiri dengan kondisinya yang buta,,lalu kenapa dirinya tidak bisa melakukan nya.
Hanya kehilangan kaki,,, dan sekarang pun sudah tersedia banyak kaki palsu untuk membantunya beraktivitas. Kenapa dia harus begitu terpuruk dengan kenyataan hidupnya.
Toni memencet tombol kursi rodanya dan kemudian berusaha kembali ke rumah. Hari ini dia sudah mendapat kan pelajaran berharga dari seorang nenek tua. Untuk berhasil, harus menghargai hidup dan menjadi berguna.
Natalie dan Adam sudah cemas dengan keadaan Toni. Mereka berdua menelpon kesana kemari, ketika tiba-tiba Toni muncul dari luar.
"Sayang ku, kau dari mana saja??".
"Kami cemas memikirkan mu".
"Mom,, tolong telepon dokter orthopedi,, aku
ingin berkonsultasi soal pemasangan kaki palsu".
Natalie dan Adam terkejut sekaligus bercampur bahagia mendengar keputusan Toni. Akhirnya, putranya itu telah kembali lagi menjadi dirinya. Tak terlukiskan kegembiraan Natalie. Buru-buru dia membuat janji dengan dokter.
"Siang ini kita bisa ke sana sayang".
"Mom akan mengantar mu,, gantilah dulu baju mu, biar mom membantu mu".
"Tak perlu mom, aku bisa sendiri".
"Selama ini aku sudah menyusahkan kalian berdua,, aku sungguh minta maaf".
"No...dear,, jangan bicara seperti itu".
"Kami hanya punya diri mu di dunia ini".
"Jadi, ayo sayang....kita berjuang sama-sama".
Toni mantap dengan langkahnya untuk segera bangkit dan memperbaiki dirinya.
Sudah habis waktunya untuk terus meratapi diri. Tidak ada yang di hasilkan nya sama sekali. Lebih baik memang memperbaiki keadaan yang sudah lama kacau karena ulahnya.
...****************...