Let me Love You

Let me Love You
Bab 51.



Pria muda itu duduk di lobi hotel sejak tadi. Matanya tak berhenti mengawasi orang- orang yang keluar masuk hotel. Nampaknya dia belum menemukan orang yang di carinya, terbukti dia masih nyaman di sofa sambil memainkan ponselnya.


Dari kamar hotel tempat Andin menginap, belum ada tanda-tanda kehidupan. Pasangan ini kelelahan setelah semalaman menuntaskan sesi bercinta mereka sampai pagi. Keduanya memang berniat untuk segera punya momongan.


Baru setelah jam 11 siang, Andin membuka matanya. Di samping nya, suaminya Toni masih terlelap. Andin bangun dengan hati-hati


dan langsung menuju kamar mandi.


Saat keluar kamar mandi, rupanya Toni sudah bangun. Di tatapnya wajah istrinya yang masih tertutup handuk.


"Kau tidak membangunkan ku sayang??".


"Aku baru saja mau membangun kan mu, tapi kau sudah bangun duluan".


"Cepat lah mandi,, aku ingin mengajak mu ke suatu tempat".


"Memangnya mau ke mana??".


"Aku ingin mengunjungi sahabat lama ku".


"Siapa mereka,,apa aku mengenalnya??".


"Cepat mandi sana,,aku menunggumu".


Toni bergegas masuk ke kamar mandi. Tak lama dia keluar dan berpakaian. Setelah itu keduanya keluar kamar dan menuju ke parkiran. Hari ini rencananya, Andin ingin mengunjungi panti asuhan tempatnya di rawat dulu.


Sejak keluar dari lobby hotel, pria yang sedari tadi menunggu Andin dan Toni, segera membuntuti mobil keduanya. Atas perintah dari Bram, pria muda tersebut di tugaskan menghabisi Toni.


Hanya foto Toni yang di tunjukkan oleh Bram.


Dan pria muda itu rencananya akan membuat Toni celaka di jalan nanti. Makanya, mobilnya terus mengikuti keduanya, mencari kesempatan untuk menabraknya dari belakang.


Kebetulan jalanan yang di tuju tidak terlalu ramai. Dan di kiri dan kanan jalan terdapat jurang lebar menganga. Kesempatan itu segera dia gunakan untuk memacu mobilnya


dengan lebih cepat. Saat melihat jalanan sepi, pria itu menggunakan kesempatan dengan menabrak mobil Toni dari belakang.


Melihat mobil nya di tabrak, Toni banting setir ke arah kanan,tepat di saat sebuah truk kontainer melintas. Toni tak sanggup menjaga keseimbangan mobilnya. Setelah menabrak pembatas jalan, mobil keduanya terguling masuk jurang.


Pria yang menabrak Toni dan Andin, segera putar arah dan melaju kencang. Tanpa memastikan kondisi keduanya, dia segera menelpon Bram.


"Tugas sudah beres boss, mobil mereka sudah masuk jurang".


"Mereka,,sedang bersama siapa dia, apa bersama perempuan??".


"Benar boss, dan dia juga ikut terjun di dalam mobil tersebut.


"Dasar....bodoh ...!!!!!?".


"Di mana lokasinya sekarang,aku segera ke sana".


Warga sekitar segera memanggil polisi dan melaporkan kecelakaan yang baru saja terjadi. Mobil yang di tumpangi Andin dan Toni terperosok masuk ke dalam jurang.Entah bagaiman kondisi mereka berdua saat ini.


Tidak berapa lama, polisi tiba di tempat kejadian. Mereka segera menyusuri lokasi tempat jatuhnya mobil tersebut. Medan yang cukup terjal dan cuaca yang berkabut, menyulitkan tugas polisi mengevakuasi korban.


Tak berapa lama, Bram tiba di lokasi kejadian.


Dia segera bergabung dengan para polisi untuk mencari keberadaan Andin. Tak berapa lama, polisi berhasil menemukan Andin tersangkut di atas pohon. Sementara Toni masih belum di temukan.


Bram langsung membawa Andin ke rumah sakit, sementara polisi meneruskan pencarian terhadap tubuh Toni. Tak berapa lama, tubuh Toni di temukan terjepit di dalam mobil yang ringsek. Butuh waktu lama bagi polisi dan petugas medis untuk menyelamatkan nyawa Toni. Sore hari, baru tubuh Toni berhasil di keluarkan dari mobilnya dan langsung di bawa ke rumah sakit.


Andin masih belum sadarkan diri. Bram selalu menemani di sampingnya. Sementara Toni masih di operasi. Dokter terpaksa mengamputasi kedua kaki Toni, karena sudah hancur tergencet bodi mobil.


Butuh waktu semalam bagi para dokter untuk menyelamatkan jiwa Toni. Mereka terpaksa harus mengambil keputusan yang tersulit, demi keselamatan Toni.


Bram terus berjaga di sisi Andin tanpa sedikit pun meninggalkan nya. Keputusan nya salah dengan memerintahkan orang amatiran menjalankan rencananya. Akibatnya, Andin jadi ikut menjadi korban. Di samping Toni juga terluka parah. Ada sedikit penyesalan di hatinya.Namun itu langsung di tepisnya.


Tengah malam, Andin akhirnya siuman.Dia kehausan dan merintih meminta air. Bram segera memanggil dokter untuk melihat kondisi Andin.


"Air.......air........".


"Tunggu sebentar Bu, biar dokter memeriksa ibu dulu".


"Kondisi nya bagus suster, berikan dia air,, tapi


"Baik dokter".


Perawat segera memberi minum kepada Andin dengan menggunakan sendok. Pelan-pelan dia membantunya. Luka di kepalanya


sedikit parah, jadi perawat harus ekstra hati-hati.


Ketika dokter keluar, Bram segera menghampiri nya untuk menanyakan kondisi Nisa.


"Bagaimana keadaan Andin dokter??".


"Sudah lebih baik, tapi besok pagi harus tetap CT scan untuk luka di kepalanya".


"O..ya,suami Bu Andin juga sudah kami pindahkan ke ruang perawatan".


"Dengan terpaksa kami harus mengamputasi kaki nya".


"Tolong, anda segera hubungi keluarga mereka, untuk berjaga-jaga jika ada tindakan lanjutan".


"Baik dokter,,saya akan sampaikan pada keluarganya".


Bram terduduk di kursi koridor. Tindakan nya


kali ini sudah berakibat fatal bagi Toni. Di satu sisi dia senang karena Toni kehilangan kakinya, tapi di sisi lain dia jadi khawatir kalau


Andin malah jadi bersimpati pada Toni nantinya. Dia segera menelpon pemuda suruhan nya tadi agar menghilang sementara, sampai penyelidikan selesai.


"Aku tak mau tahu, malam ini juga kau harus meninggalkan kota ini".


"Aku tak ingin nama ku terseret dalam kasus ini".


"Uang yang ku transfer, cukup untuk biaya hidup mu di negara lain".


"Kau mengerti bukan??".


"Baik boss!!".


Bram menutup telpon nya dan segera menemui Andin di kamar perawatan. Suster sudah mengijinkan dirinya masuk. Lagipula Andin juga sudah sadar.


"Andin,, kau mengenal ku bukan??".


"Bram,,, apa yang terjadi dengan ku,, di mana Toni sekarang??".


"Kalian berdua mengalami kecelakaan".


"Toni juga di rawat di ruangan sebelah".


"Antar aku kesana Bram,, aku ingin melihatnya".


"Sabar Andin,, kau masih harus beristirahat".


"Aku belum boleh bangun".


Andin menangis mengingat kejadian yang di alaminya. Mobil yang di tumpangi nya masuk jurang. Mereka terjebak di dalam mobil. Tapi Andin ingat, Toni sempat mendorongnya keluar dari dalam mobil. Hal itu di lakukan nya agar Andin bisa tersangkut di dahan dan tak ikut jatuh ke bawah apabila mobil nya meledak.


Dia bahkan tak tahu sama sekali bagaimana kondisi suaminya saat ini. Hanya dia merasa tenang karena Toni juga berhasil di selamat


kan oleh petugas medis.


"Kau ingin sesuatu Andin, aku mungkin bisa membantu mu??".


"Kau bisa pinjamkan ponsel mu pada ku??".


"Aku ingin menghubungi mom dan dad".


"Ini....pakai lah".


Andin menekan nomor ponsel Andin dan mengabarkan tentang kecelakaan yang menimpa mereka. Tentu saja Natalie terkejut mendengar berita tersebut. Dia buru-buru memesan tiket pesawat ke Jakarta untuk menyusul Toni dan Andin.


...****************...