
"Aku bingung kenapa nasib mempermainkanku? Tapi aku percaya rencana tuhan lebih indah hanya berbeda waktunya saja"
~ Alfero Putra Adiwijaya ~
🍃🍃🍃
Tinnnnnnnn........
Seorang pria berseragam rapi bergegas membukakan gerbang mewah yang dilengkapi dengan pengamanan sidik jari.
Dua mobil mewah Lamborghini Lp720 berwarna merah dan BMW 8i melaju memasuki rumah kediaman keluarga berdarah biru Adiwijaya .
Rumah yang super duper +++ megah dengan tanah yang begitu luas. (Ajegilee rumah gw berapa kali lipatnya tuh??? Maybe kamar gw setara dengan WC hewan peliharaanya dah*author*).
Halaman depan dihiasi beberapa bunga warna-warni nan harum yang berpadu dengan rerumputan hijau, pohon dan batu-batuan kecil tersusun rapi, udara yang begitu sejuk kupu-kupu yang berkejaran kesana kemari terasa ikut menyambut kedatangan Viana.
Viana dan bokapnya mulai menginjakan kaki di rumah megah itu, diikuti dua body guard nya. Ketika baru menginjakan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara melengking. Viana kenal dengan sumber suara itu ... Siapa lagi kalau bukan???
" Gressyll qooh ... Ooh darling ...my baby sweety lope lope... i miss you so much," ( Gressyll qooh ... Ooh sayang...cintaku manisku .... aku sangat merindukanmu) kata kak Fero seraya berlari menuruni tangga,yang langsung mencium kening dan memeluk Viana erat... lagi dan lagi Viana kesulitan bernafas.
"Ceileee... sejak kapan kak Fero berubah jadi super alay bin ajaib gini???? Mungkin dia terkena virus-virus michin yang disebarkan oleh kaum Alaykers," pikir Viana dalam hati (Miris banget kan yak*author*)
"Ka..kkkk..ka..kauuu mem
..mem buatku...sus...su...lit bernafas...," kata Viana yang berusaha mengatur nafasnya setelah kak Fero melepaskan pelukanya itu,yang ditegur malah nyengir kuda .
" Sorry," masih nyengir kuda.
"Hi Gressyll when did you arrive?" (Hai Gressyll kapan kau sampai?) tanya wanita paruh baya itu yang baru datang dari dapur.
"I just arrived at mom" (aku baru saja sampai mom) balas Viana.
"How are you Darling?" (bagaimana kabarmu sayang).
"I'm fine mom, and you." (aku baik-baik saja,dan kamu?).
"Me too." (aku juga).
"Kau pasti lelah bukan?Beristirahatlah sayang... dan kau Fero selesaikan pekerjaanmu!" Perintah wanita itu yang ternyata nyokapnya Viana. Viana hanya mengangguk .
"Tapi mom... aku masih ingin mengobrol dengan Gressyll...," rengek kak Fero bak anak kecil yang minta balon nggak diturutin mamanya (uluulululu sayang*author*).
"Tidak ada tapi-tapian titik!"
"Mom please," rengek kak Fero lagi sambil masang puppy eyes. (asli imoettt banget *author*)
"Fero... Gressyl pasti lelah... kau tidak kasian padanya? Kita bisa mengobrol denganya nanti saja," jelas nyokapnya. Sadar akan hal itu kak Fero hanya mengangguk pasrah.
"Bi Ijah, Sumi ... tolong bawakan koper dan barang-barang Gressyll ke kamarnya...," perintah nyonya rumah itu.
" Baik nyonya," balas Bi Ijah dan Sumi bebarengan .
"Jika kau butuh apa-apa panggil
kita saja okay?" Titah nyokapnya seraya mencium kening Viana. Perintah nyokapnya hanya dibalas dengan anggukan kecil.
"Mari non saya antar ke kamar," bi Ijah
Viana mulai menaiki anak tangga. Satu langkah dua langkah hingga anak tangga teratas .
🍃🍃🍃
Ceklekkk ....
Pintu kamar terbuka, terlihat ruangan yang begitu terawat dihiasi dengan pigura-pigura cantik berisikan foto Viana waktu kecil.
Semua kenangan-kenangan masa kecilnya tersimpan utuh dalam pigura itu. Kamar sejuta kenangan yang ia rindukan selama ini, entah kapan terakhir dia menempati kamar ini.
"Bi...kalian boleh pergi biar saya saja yang membenahkan barang-barangnya," perintah Viana.
"Tapi non... kata nyonya saya ...," jelas Bi Ijah yang belum selesai berbicara sudah dipotong Viana lebih dulu.
"Tidak apa-apa, biar saya saja."
"Baiklah non, apa non ingin dibuatkan sesuatu?" Tawar Bi Sumi.
"Tidak perlu," balasnya singkat.
"Jika non butuh sesuatu panggil bibi ya non," timpal bi Ijah.
"Okay."
Sudut per sudut kamar dia telusuri, Viana mengamati satu demi satu pigura yang tersusun rapi itu, saking asiknya tanpa sadar sampailah pada sebuah pigura yang berwarna putih kuno.
Viana terpaku sejenak dan mengambil pigura itu. Terlihat jelas seorang gadis kecil berbalut perban dikepalanya serta infus dan selang oksigen yang memenuhi tubuhnya.
Tertera tanggal 25 Februari 2012, ya itulah tanggal terjadi peristiwa itu. Viana kembali mengingat serpihan-serpihan masa lalunya.
Flasback on ...
Siang yang cerah, di kediaman keluarga Adiwijaya sedang menyiapkan pesta peresmian kantor cabang Adiwijaya yang baru di Bandung. Semua orang sibuk mempersiapkan pesta itu hingga mereka mengabaikan rengekan seorang gadis kecil bergaun putih bermotif bunga-bunga yang menghiasi perutnya.
Gadis itu membawa boneka teddy bear coklat ditanganya, boneka yang selalu menemaninya disaat ia sedang suka maupun duka.
Terlihat jelas kesedihan diraut wajahnya, pasalnya dia ingin bermain tapi tidak ada yang menggubrisnya. Gadis itu menghampiri kakaknya yang sedang asik dengan i pad nya itu.
"Kak ... kak ... hayuk main yuk ... hayuk main bellsama Glessyll ... ayolah kak ...,"
rengek gadis kecil itu sambil menarik narik tanganya.
"Bentar dek ... kaka selesaikan dulu permainanya tanggung nih bentar lagi menang ...," ucap kakanya masih asik dengan i pad nya.
"Kak hayuk main ... hayuk kakkk ...," rengek gadis itu yang tidak digubris kakaknya sama sekali. Gadis kecil itu pasrah dan mencoba mengajak mom & daddy nya yang masih sibuk dengan klienya.
"Mom ...daddy hayuk main sama Gressyll yuk ... main sama Glessyll yuk ...," rengeknya.
"Sebentar sayang mom & daddy sedang sibuk ... nanti saja ya?" Jelas nyokapnya.
"Nggak mau!!! Glessyll maunya sekallang!!!" rajuknya setengah berteriak.
"Bi ijah!!!!!" teriak nyonya Adiwijaya itu memanggil pembantunya.
"Iya nyonya ada apa?"tanya bi Ijah tergopoh-gopoh.
"Bi Ijah tolong bawa Gressyll kekamarnya!!!" Perintah nyonya Adiwijaya itu.
"Baik nyonya ... ayo non Gressyll main sama bibi ajh yah," tawar bi Ijah pada gadis itu, seraya membawa kekamarnya.
"Non tunggu disini sebentar yah... bibi ada perlu ...,"
"Katanya bibi mau main sama Glessyll?" Gadis kecil itu cemberut.
"Bibi lagi sibuk nanti kalau udah nggak sibuk kita main ok ... diam disini ya anak manis," titah bibinya seraya pergi melanjutkan kesibukanya.
Gadis kecil itu cemberut kesal dengan semua orang. Kenapa semua sibuk dengan urusanya sampai lupa dengan dirinya.
Dia membuka jendela kamarnya lebar-lebar dan melihat dari jendela terlihat anak-anak sebayanya bermain dengan riang dan begitu asik.
Gadis kecil itu iri pasalnya dia hanya bisa main ketika sekolah saja, di rumah iya tidak diperbolehkan keluar rumah dan hanya bermain dengan orang-orang rumah itupun jika mereka tidak sibuk.
Dia juga melihat gerbang depan terbuka, terlindas ide di kepalanya untuk keluar gerbang dan berjalan mengendap-endap.
Orang-orang tak sadar akan hal itu. Mereka barulah sadar ketika Nyonya Adiwijaya menanyakan di mana gadis itu berada.
"Bi, di mana Gressyll?"
"Ada nyonya di kamarnya, sebentar saya panggilkan."
Bi Ijah langsung menuju kamar Viana yang terletak dilantai atas ... Alangkah terkejutnya saat gadis kecil yang dia cari tidak ada dikamarnya. Bi Ijah bergegas menuruni tangga dan memberi tahu semua orang akan perihal tersebut.
"Nyonya-nyonya!!!!!" ucap bi Ijah yang baru setengah menuruni tangga...
"Ada apa bi? Kok teriak-teriak? Lhoo di mana Gressyll?" tanya Nyonya mulai cemas.
"Anu nyonya ... ampun ... Gressyll ... anu ...," bi Ijah berusaha menjelaskan.
"Bi kalau ngomong yang jelas! Jangan setengah-setengah...! Ada apa sih?" Nyonya Adiwijaya teriak membuat penghuni rumah berkumpul menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Ada apa sih Mom, kok ribut-ribut gini?" Tanya tuan Adiwijaya.
"Tau nih mom ada apa sih?" timpal kaka gadis itu.
"Non Gressyll tidak ada di kamarnya...," singkat kata tetapi membuat semua orang terkejut dan membelalakan matanya. Cemas, gelisah, takut menghantui mereka.
"Apah!!!!! Bibi ini bagaimana sih? Kan saya suruh jaga Gressyll baik-baik!!!" marah Nyonya Adiwijaya sambil nangis terisak-isak.
"Mom tenang dulu, semuanya akan baik-baik saja," ucap Tuan Adiwijaya menenangkan istrinya.
"Ampun nyonya...,"
"Sudah-sudah sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan!semuanya cari Gressyll bahkan disetiap sudut ruangan terkecil sekalipun!!!" perintahnya.
Semua orang sibuk mencari Viana disetiap sudut tapi hasilnya Nihil. Semua bertambah panik ketika tau gerbang utama terbuka.
"Gressyll nggak ada dad, gimana inih?" tangis sang nyonya menjadi-jadi.
"Tenang mom, apa kalian sudah mencarinya dengan baik?!" Tanya tuan Adiwijaya.
"Sudah gan," jawab Bi Ijah.
"Astaga Mom!!! dad!!! Gerbangnya terbuka!!!" teriak Kaka gadis itu histeris.
"Astaga!!! Cepat cari Gressyll sampai dapat!!!" perintahnya.
Semua orang kembali sibuk mencari gadis kecil itu, kali ini mereka mencarinya diluar rumah. Mereka bertanya pada tetangga sekitar di mana Viana berada.
Banyak tetangga yang tidak tau dimana Viana, tetapi pria paruh baya berpakaian lusuh memberitahu dimana Viana berada.
"Siapa yang kalian cari?" tanya pria itu.
"Apa bapak tau dimana gadis kecil ini?" tanya nyonya Adiwijaya sambil menunjukan foto gadis kecil itu.
"Ooh ... dia ada di taman, bermain bersama teman-temanya...," jelas pria itu membuat semua orang bergegas menuju taman sebelum sesuatu terjadi padanya.
"Terima kasih pak,anda sangat membantu kami."
Setelah sampai mereka di seberang taman, benar saja terlihat gadis kecil yang mereka cari sedang bermain dengan riangnya. Nyonya Adiwijaya teriak memanggil namanya dan gadis itu segera menghampiri asal teriakan itu.
"Gressyll!!!!!" Teriak momnya bahagia.
"Mom ... daddy ... kaka ...," balasnya sambil melambaikan tangan dan berlari keseberang taman itu di mana asal teriakan itu berada .
Saat Viana berlari ke arah mereka tiba-tiba mobil hitam melintas dan menabrak Viana hingga terpental ke bahu jalan...
Brakkkkkkkk!!!!!!!
Semua orang terperanjat!!! Dan bergegas menghampiri gadis itu ...
"Gressyll!!!!!!!!!!!!!!!!!" Ucap mereka bersamaan.
"Gressyll bangun sayang...mom di sini ...bangun Gressyll ...," ucapnya sambil terisak berusaha membangunkan gadis kesayanganya...
"Gressyll bangun .... Gressyll kau dengar kaka!!! Gressyll bangun ayo kita main sepuasnya tapi kau janji harus bangun!!!" Ucap kakanya sambil menggoncang-goncang tubuh Viana.
"Cepat panggil ambulance!!!!!" perintah tuan Adiwijaya.
Tak butuh waktu lama, ambulance datang membawa Viana ke rumah sakit terdekat untuk segera ditangani.
Viana dibawa keruangan ICU untuk penanganan lebih lanjut.
Cemas, resah, takut, ya seperti itulah yang terlihat pada raut wajah semua orang. Mereka berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan gadis kecil yang amat mereka sayangi itu.
Perasaan bersalah muncul pada pribadi mereka masing-masing seharusnya mereka tidak mengabaikan rengekan gadis kecil yang hanya meminta bermain bersamanya.
Nasi sudah menjadi bubur, kemarahan tak akan mengembalikan suatu keadaan. Mereka hanya bisa pasrah kepada Tuhan.
Peristiwa itu membuat Viana koma berminggu-minggu. Untunglah takdir berkata baik kepada mereka.Viana perlahan mulai sembuh dari komanya. Alangkah bahagianya keluarga itu saat Viana mulai membuka matanya dan melihat dunia ini lagi.
Mereka berjanji untuk selalu menjaga gadis itu. Peringatan ini sudah cukup membuat mereka sadar dan tak akan pernah terulang lagi.
Flashback off ...
Viana mengerjapkan matanya dan melihat jam pada hpnya yang tertera pukul 06.00 pm. Viana baru sadar bahwa dirinya masih memeluk foto itu.Serpihan-serpihan masa lalunya membuat dia lelah dan tertidur lelap.
Viana bergegas mandi dan mempersiapkan diri untuk makan malam bersama keluarganya.
-- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- --
-- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- --
Tbc