Let me Love You

Let me Love You
Bab 38.



Pagi-pagi sekali, Toni sudah bangun dan membersihkan dirinya. Andin bahkan sudah mengantikan baju untuknya. Semalam dokter sudah mengijinkan nya pulang ke rumah. Namun lukanya harus tetap di rawat setiap hari, supaya tidak infeksi.


"Tinggal menunggu dokter datang sekali lagi, dan kita siap pulang".


"Padahal aku sudah siap dari tadi".


"Sabar,,sebentar lagi dokter juga datang".


Toni kembali berbaring. Luka di perutnya baru saja selesai di bersihkan dan di ganti perban.


Dia masih belum boleh beraktivitas terlalu banyak. Jahitan nya bisa terbuka kembali nanti.


"Selamat pagi pak Toni,, sudah siap pulang hari ini??".


"Dokter lihat kan,,saya sudah siap dari tadi".


"Biar saya periksa sebentar".


Dokter kemudian membuat kemeja Toni dan memeriksa lukanya. Dia kemudian menuliskan resep obat yang harus di minum.


"Silahkan Bu,,ini obatnya, harus diminum teratur".


"Dan ingat,,,, jangan beraktivitas fisik dengan istri dulu ya pak".


"Tahan, sampai lukanya benar-benar kering".


"Atau bisa berakibat fatal".


"Iya dokter,,saya akan mengingatnya".


"Ya sudah,,,selamat jalan dan semoga cepat sembuh".


Dokter dan perawat meninggalkan Toni dan Andin. Mereka berdua lantas berkemas dan langsung keluar dari kamar inap. Toni diantar perawat sampai ke parkiran. Andin yang menyetir mobil mereka. Setelah berterimakasih dan berpamitan pada perawat, Andin langsung membawa mobilnya menuju apartemen.


Sepanjang jalan, tangan Toni tak henti menyentuh wajah dan tubuh Andin. Teringat kemarin dia bersama dengan Bram. Toni takut, Andin terpengaruh oleh kata-kata lelaki tersebut.


"Hentikan sayang,,aku sedang menyetir".


"Kau perhatikan jalan saja, biar aku yang memperhatikan mu".


"Mana bisa aku konsentrasi kalau seperti ini".


"Lagi pula dokter melarang mu untuk menyentuh ku bukan??".


"Dokter itu memang tak paham,,mana bisa aku mengabaikan istri ku yang cantik ini".


"Sudah,,hentikan.....jangan menggoda ku terus".


Sepanjang jalan Toni tak melepaskan tangan nya dari tubuh Andin. Sampai di parkiran pun, Andin harus menolong Toni untuk keluar dari mobil. Dia memapah suaminya menaiki lantai 3 kamar mereka. Andin membantunya berbaring di tempat tidur.


"Kau sudah nyaman bukan,,aku ambil barang-barang dulu di bawah".


"Sayang,,jangan lama-lama".


Andin hanya menanggapi dengan senyuman, kata-kata suaminya tersebut.Dia segera berlalu menuju ke parkiran mobil.


Andin sibuk menurunkan baju-baju kotornya dan barang lain yang di bawanya ke rumah sakit. Dia lalu menutup pintu mobilnya. Dan dia sungguh terkejut melihat Bram ada di samping mobil miliknya tersebut.


"Sedang apa kau di sini Bram, mengagetkan ku saja".


"Untuk mencari mu,, mereka bilang kau sudah pulang".


"Aku rasa saat ini suami ku sedang tidak ingin menerima tamu".


"Kau bisa kembali lain waktu Bram".


"Aku mencari mu, bukan Toni".


"Kau yang sangat ingin ku temui".


"Jangan mulai lagi Bram,,kita sudah membahas ini kan??".


"Iya Andin,,aku mengerti".


"Ternyata, aku yang tidak bisa kalau harus menjauh dari mu".


"Sudah....stop,,aku sibuk hari ini, suamiku membutuhkan aku".


"Maaf Bram, aku harus pergi".


Terburu-buru Andin membawa tas nya memasuki apartemen. Dia tak mau lebih lama lagi berduaan bersama Bram. Dia tak ingin membuat Toni kecewa kalau sampai tahu nanti.


"Apa yang kau ambil,, kenapa lama sekali di bawah".


"Memang banyak kan, aku harus balik dua kali


mengambilnya".


"Sayang,,tinggalkan itu dan kemarilah".


"Memangnya kau mau apa sayang??".


"Aku ingin kau menemaniku di sini".


"Aku tahu kau pasti capek".


"Berbaringlah,,,kau tidak tidur dengan benar selama di rumah sakit".


"Jangan sampai kau ikut-ikutan sakit".


Toni memang benar,,badan nya terasa sangat lelah. Sejak Toni masuk rumah sakit, dia tidak


istirahat dengan benar. Kali ini, baru saja kepalanya menyentuh banyak, dia bisa langsung tertidur. Tentu saja, Toni membelai lembut rambutnya di pangkuan nya.


Saat jam makan siang tiba, telepon tak berhenti berdering. Andin terbangun dan langsung mengambil ponsel Toni. Rupanya Natalie yang menelpon.


"Ya..mom,,kenapa??".


"Kalian sudah kembali ke apartemen??".


"Iya mom,,,kami istirahat di sini sebentar".


"Mom pikir kalian akan pulang kemari".


"Aku bahkan sudah masak makan siang untuk kalian".


"Maaf mom, tapi Toni ingin ke apartemen agar lebih dekat dengan rumah sakit".


"Setelah pengobatan selesai, baru nanti kami pulang ke rumah".


"Ya sudah,,terserah kalian saja".


"Makan siang kalian, mom sudah kirim ke apartemen kalian".


"Terimakasih mom, kau memang yang terbaik".


Sejenak Andin merasa tak enak. Dia takut Natalie marah kepadanya, karena mengira Andin lah yang sengaja membawa Toni ke apartemen.


"Ada apa,, mom bilang sesuatu padamu??".


"Iya sayang,,,mereka menunggu kita di rumah".


"Tapi kita malah pulang kemari".


"Aku merasa bersalah pada mom".


"Bahkan dia mengirim kita makan siang".


"Kau tenang saja Andin, mom memang seperti itu".


"Tapi, dia tak pernah bisa marah".


"Aku sudah mengenalnya dengan baik".


"Dia hanya mengkhawatirkan kita".


"Kemarilah,,biar aku memelukmu".


"Kau pasti akan merasa lebih baik".


Dengan wajah risau, Andin mendekati Toni.


Suaminya langsung memeluknya dengan erat. Bukan itu saja, dia memegang dagu Andin dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Inilah yang dirindukan nya berhari-hari di rumah sakit.


Cukup lama mereka berciuman dan bermain lidah, hingga membangkitkan gairah satu sama lain. Toni tak kuasa menahan dorongan rasa, untuk memiliki Andin. Namun saat tubuhnya di gerakkan, dia meringis kesakitan.


Andin melepaskan dirinya dari dekapan Toni. Dia langsung membuka kaosnya dan memeriksa luka tusuk di perutnya.


"Apa kau bilang,,salah mu karena menggoda ku".


"Kau lihat,,lukanya kembali berdarah".


"Tenang sayang,,ini belum seberapa".


"Aku bukan anak kecil yang lemah hanya karena luka sepele ini".


"Sudah Toni,,lebih baik aku menjauh dari mu".


"Jangan sayang,,sama saja kau membunuhku kalau ku melakukan nya".


"Tenang saja,,aku tak akan mati hanya karena berciuman".


"Kalau perlu, aku bisa memiliki mu sekarang juga".


"O...ya,,dan mengambil resiko, ranjang kita penuh darah seperti waktu itu??".


"Maksudmu,,aku tak paham,,kapan kita bercinta dengan ranjang penuh darah??".


"Seingat ku aku tak pernah melakukan hal itu".


Andin tersadar dengan ucapan nya. Bukan mereka berdua yang melakukan itu, tapi Andin dengan Bram saat tangan nya terluka waktu itu.


Andin bingung, mengapa dirinya bisa keceplosan bicara seperti itu di depan Toni. Pastilah hal ini akan menjadi panjang. Sejak Bram datang lagi, Andin memang kerap mengingat momen romantis mereka berdua.


"Kenapa kau terlihat bingung begitu??".


"Aku menunggu jawaban mu".


"Itu,,,aku hanya mengingat film romantis yang pernah ku tonton dulu".


"Tangan si pria terluka, tapi dia memaksa untuk bercinta".


"Alhasil, ranjang mereka berubah jadi lautan darah".


"Hmm....bagaimana kalau kita mencobanya".


"Aku jadi terinspirasi adegan romantis seperti itu".


"Buang pikiran kotor mu sayang, jangan macam-macam".


Andin ketakutan, khawatir Toni mengetahui kebohongan nya. Untungnya dia tak bertanya lebih lanjut. Kalau tidak, tentu Andin bingung menjelaskan kalau itu pengalaman nya bersama Bram.


...****************...