
Pagi ini Toni mendatangi kantor pengacara dengan lesu. Dia sudah menyerahkan urusan perceraian nya dengan Andin di tangan pengacaranya sepenuhnya. Biar lah Andin bebas dan memilih jalan hidupnya bersama Bram.
Acara kejutan semalam, membuat rumah kontrakan pagi ini macam kapal pecah. Untung saja dia dan mbak Tari masuk shift
siang, jadi mereka bisa membereskan rumah terlebih dahulu.
"Sudah Din...kamu duduk saja, biar mbak yang bereskan semuanya".
"Nggak papa mbak, lagian ini juga bukan tugas berat".
"Sekalian olahraga biar bayi ku ini sehat".
"Kau ini memang bandel,,nggak mau nurut sama orang tua".
Andin tersenyum. Dia senang sekali menggoda mbak Tari. Wanita itu sudah seperti kakaknya sendiri. Dia merawat dan menyayangi Andin dengan sangat tulus.
"Andin,,omong-omong...hadiah dari pak Rey semalam, sudah kau buka??".
"Belum mbak, aku sudah capek, begitu masuk kamar langsung tidur".
"Sepertinya dia juga ada rasa dengan mu Lo".
"Buktinya, dia mau ikut kesini memberi mu kejutan".
"Mungkin karena dia teman nya Bram, dan sekaligus atasan kita juga kan?".
"Mana tahu semua pegawai di perlakukan seperti itu".
"Aku ini sudah lama jadi pegawai di hotel tersebut, tapi tak pernah di beri kejutan ulang tahun seperti mu".
"Mungkin memang nasib mu bagus, di sukai banyak lelaki".
"Mbak Tari apaan sih".
"Udah ah.....lanjut beberes lagi aja".
Keduanya terlihat begitu ceria. Sampai-sampai tak menyadari kalau mobil Bram sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Wah.....selain cantik, rupanya kalian berdua juga rajin ya".
"Bram,, tumben sepagi ini kau sudah kemari?".
"Aku ada perlu dengan Andin sebentar".
"Ya sudah, kalian bicara saja,, aku buatkan minum dulu untuk mu".
Bram masuk ke dalam dan menghampiri Andin yang sedang duduk di sofa. Dia membawa secarik kertas untuknya.
"Kau bacalah....Toni mengirimkan ini ke email ku tadi pagi".
"Apa ini Bram?".
"Kurasa,,,Toni ingin mengakhiri hubungan nya dengan mu".
"Dia meminta mu menandatangani surat ini segera".
Andin membaca surat yang di sodorkan Bram dengan seksama. Isinya memang surat perceraian dan pembatalan pernikahan. Andin harus segera menandatangani nya, agar segera bisa di proses.
"Kau pikirkan saja dulu, jangan terburu-buru mengambil keputusan".
"Aku akan menelpon Toni dan membujuknya, supaya membatalkan tuntutan nya ini".
"Dia harus tahu kalau kalian akan punya bayi".
"Tak perlu Bram,, dia sudah mengambil keputusan bukan??".
"Kalau itu yang di inginkan nya, aku bersedia menerimanya".
"Mungkin memang dia ingin segera menikah dengan Rossi".
Andin masuk ke dalam dan mengambil bolpoin untuk menandatangani surat perceraian nya dengan Toni. Dia terlihat begitu tenang dan sama sekali tanpa ekspresi. Lain halnya dengan mbak Tari yang justru murka mengetahui hal tersebut.
"Laki-laki macam apa sih Toni itu??".
"Dia begitu pengecut, sehingga untuk bercerai pun hanya dengan mengirim email".
"Bukan begitu mbak, mungkin dia sibuk, jadi tak sempat kemari".
"Alah.....kau masih saja membela lelaki busuk itu".
"Laki-laki macam itu tak pantas mendapatkan diri mu".
"Cepat tanda tangani dan bebaskan diri mu darinya".
"Tapi,, aku tak boleh membencinya kan mbak?".
"Bagaimanapun, dia ayah dari anak yang sedang ku kandung".
"Mulai saat ini, lelaki itu sudah kehilangan haknya atas anak kalian".
Mbak Tari sangat murka melihat Andin di perlakukan semena-mena oleh suaminya. Dia hanya tertunduk menahan tangis. Sementara Bram, dia bisa memahami bagaimana perasaan Andin saat ini. Dia pasti sangat terluka, tapi dia sama sekali tak ingin menunjukkan nya pada orang lain.
"Sebaiknya hari ini kau libur kerja saja".
"Biar aku bicara dengan Rey".
"Tak usah Bram,, ini bukan masalah besar".
"Lalu kenapa kalau Toni menceraikan ku??".
"Ini bukan lagi hal yang mengejutkan bukan??".
"Cepat atau lambat, ini memang harus terjadi".
"Dan aku sudah siap menghadapi semuanya".
Andin masih saja bicara untuk menutupi perasaan nya. Hanya Bram yang tahu, betapa sebenarnya Andin ingin menangis, menumpahkan segalanya. Namun, dia lebih memilih untuk memendam semuanya.
Ketika Bram sudah pergi, Andin dan Tari bersiap untuk berangkat ke hotel. Bagaimana
pun mereka harus tetap bekerja. Sebenarnya mudah bagi Andin karena sudah mendapat kartu ATM dari Toni, namun sekalipun dia belum pernah menggunakan nya. Dia memilih bekerja dan berusaha sendiri.
Di hotel, keduanya bekerja seperti biasanya. Kehadiran teman-teman yang menghibur hatinya, membuat Andin sejenak melupakan masalah Toni.
Bram sudah mengirim kembali email yang sudah di tanda tangani oleh Andin. Toni tak menyangka kalau akan secepat ini Andin memutuskan masalah perceraian ini. Mungkin dia dan Bram ingin segera menikah.
Jadi, Andin sama sekali tak keberatan untuk tanda tangan.
"Lihat mom, dia langsung setuju untuk berpisah".
"Tak butuh waktu lama baginya untuk berpikir".
"Kau juga tidak memberinya pilihan Toni".
"Bukankah kau meninggalkan nya begitu saja?".
"Tanpa memberinya kesempatan untuk mengatakan isi hatinya".
"Ini kan yang kau inginkan??".
"Andin sebenarnya sudah cukup memberi mu waktu".
"Tapi mungkin dia sudah lelah, menanti kepastian dari mu".
"Mungkin ini jalan kalian berdua".
"Kau sudah memilih ini kan Toni?".
"Kalau aku masih boleh memberi mu saran,, temui lah Andin, sekali saja".
"Supaya kau tidak menyesal sudah mengambil keputusan ini".
Kata-kata Natalie memang ada benarnya juga. Wanita mana yang bisa sesabar Andin. Di tinggalkan begitu saja tanpa pamit. Tak ada kabar berita sedikitpun dari suaminya.
Toni mungkin tak bisa memahami apa yang selama ini di rasakan oleh Andin. Seperti apa hidupnya, bagaimana hari-harinya. Toni tak pernah sampai sedalam itu.
Setelah memikirkan masak-masak perkataan Natalie, malam itu juga Toni terbang ke Indonesia. Dia di temani oleh Rossi, mengingat kondisi kaki nya yang masih menjalani terapi. Tiba di Jakarta, Toni langsung menuju rumah kontrakan Andin.
Dari tetangga di sebelahnya, dia tahu kalau Andin pindah ke Yogya. Tanpa membuang waktu, Toni dan Rossi langsung berangkat ke sana. Keduanya tiba di hotel tempat Andin bekerja. Kebetulan dia melihat Bram dan Andin sedang bersama. Tangan Bram memegangi lengan Andin yang hampir jatuh.
Bukan itu saja, Toni melihat perut Andin yang tampak membesar. Sepertinya dia tengah hamil. Mungkinkah karena hal ini Andin langsung bersedia menandatangani surat cerai nya. Rupanya diam-diam dia sedang mengandung anak Bram.
"Tenang Toni, kita check in dulu, biar nanti aku yang cari tahu".
"Aku tidak salah lihat kan Rossi,, itu benar Andin bukan??".
"Iya,,kau lihat,, sepertinya Andin memakai baju yang sama dengan pegawai hotel".
"Berarti dia juga bekerja di sini".
"Kau tunggu di sini sebentar, biar aku cari tahu".
Rossi berjalan kembali menuju bagian resepsionis. Dia menanyakan alamat Andin kepada pegawai di sana. Karena mengira Rossi benar teman nya, Maya memberikan alamat rumah kontrakan Andin. Setelah mendapat informasi tentang Andin, Rossi lalu kembali ke kamar Toni.
...****************...