
Mobil Alphard hitam memasuki pelataran parkir gedung utama hotel tempat di selenggarakan pesta. Bram menggandeng Andin memasuki ruangan pesta. Dia sama, tampak beberapa wajah yang sudah di kenalnya. Bahkan kedua mertuanya juga hadir di sana.
Sejak masuk ke hotel tadi, kamera wartawan tak henti-hentinya menyorot Andin dan Toni.
Mereka di sambut dengan iringan tepuk tangan dan di persilahkan duduk di meja khusus.
Andin yang masih belum sadar apa yang terjadi, segera berbisik di telinga Toni.
"Acara apa ini,, kenapa penyambutan nya meriah sekali".
"Acara ini untuk mu,,, malam ini seluruh dunia akan tahu kalau kau adalah istri ku".
"Jangan bercanda sayang, aku tak menginginkan semua ini".
"Bukan karena ingin, tapi karena kau pantas mendapatkan nya".
"Nikmati saja acaranya sayang!".
Andin terdiam. Sepanjang masuk ke hotel tadi, Toni memang tak melepaskan genggaman tangan nya kepada Andin
Kelihatan sekali kalau Toni sangat mencintai nya.
Sekilas Andin melihat Bram dan Vanessa di meja tamu. Mereka juga kelihatan serasi sekali. Tak berapa lama, dari pintu masuk, tampak hadir para pebisnis senior memasuki ruangan.Andin dan Bram berdiri menyambut mereka dengan hangat.
"Kenapa kita duduk di sini??".
"Yang lain ada di belakang,, mom juga ada di sana".
"Tunggu saja,, akan ada kejutan untuk mu, sayang".
Acara malam penghargaan para pengusaha sedang berlangsung. Kedua pasangan tersebut mengikuti dengan seksama. Bahkan ketika nama Toni di umumkan sebagai peraih penghargaan untuk pengusaha muda di kawasan Eropa, Andin hampir tidak sanggup menahan rasa terkejutnya.
Dia memeluk suaminya dengan penuh rasa gembira. Andin sama sekali tak menyangka, Toni mempunyai prestasi yang luar biasa.
"Penghargaan ini untuk mu sayang,, ayo ikut aku menerimanya".
Toni maju ke panggung dengan di dampingi oleh Andin. Dia menggenggam erat tangan istrinya mesra. Pun ketika piala itu di berikan, Toni menyerahkan penghargaan itu kepada istrinya. Mereka kemudian memberi sambutan singkat di atas panggung. Dia mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah memilihnya. Dan kata-kata terakhir, dia tujukan untuk istrinya.
"Segala pencapaian ini tidak lah lebih indah daripada pencapaian saya memenangkan hati istri saya Andin".
"Kesuksesan merebut cintanya mengiringi kesuksesan saya di bidang lain nya".
"Pencapaian dan penghargaan ini saya persembahkan untuk bidadari terindah saya, yang akan selalu menemani langkah dan karir saya menuju puncak".
"Terimakasih banyak untuk semuanya".
Di akhir sambutan nya, Toni mencium bibir Andin di hadapan para tamu undangan dan media. Mereka bersorak kegirangan. Sedangkan Andin, dia malah menangis haru, mendapat perlakuan istimewa dari suaminya.
Keduanya turun dari panggung dan kembali ke tempat duduk nya. Sudah bisa di bayangkan, setelah ini keduanya tidak akan lagi punya privasi. Kemana mereka melangkah, para pemburu berita tentu bersiap untuk meliput kegiatan nya.
Dari tempatnya duduk, Bram menyaksikan semuanya. Api cemburu tentu saja membara di dadanya. Seharusnya dia yang berada di posisi Toni sekarang. Mendapatkan wanita seperti Andin,, Bram rela menukar nyawanya sekalipun.
Setelah acara penghargaan selesai, para tamu undangan larut dalam pesta. .Natalie dan Adam segera menghampiri Andin dan Toni. Mereka memberi selamat kepada putranya tersebut. Tak ketinggalan Vanessa turut memberi selamat atas kesuksesan yang di raih Toni.
Sementara di sudut ruangan, Bram memperhatikan dari jauh kemesraan Andin dan Toni. Entah sudah berapa gelas yang dia habiskan untuk melampiaskan kekesalan nya.
Pasangan itu menunjukkan kemesraan di depan kedua matanya. Seolah-olah Bram sudah tidak lagi mempunyai perasaan.
Padahal di hati Bram, ingin sekali menggantikan posisi Toni. Menggandeng mesra, membelai dan mencium Andin. Sudah lama sekali gadis itu tak di sentuhnya. Padahal hanya Andin saja satu-satunya wanita yang bisa membangkitkan hasratnya.
Fantasi liar Bram ingin sekali menyeret Andin dan melemparkan nya ke ranjang, kemudian menghujani nya dengan bertubi-tubi kenikmatan, hingga Andin mengerang memohon untuk di puaskan. Seperti waktu dulu, saat keduanya masih bersama. Momen bercinta selalu menegangkan, karena penuh dengan gaya dan fantasi yang berbeda-beda.
Bram sudah setengah mabuk. Matanya merah dan jalan nya sempoyongan. Dia menghampiri tempat Andin dan Toni berdiri.
"Andin,, kau mau berdansa dengan ku'.
"Maaf Bram, aku sedang tak ingin berdansa".
Bram mencengkram erat lengan Andin dan sedikit menekan nya, hingga dia merasa kesakitan. Toni tidak suka melihat perbuatan nya. Dia maju dan hendak melepaskan genggaman tangan Bram.
"Kau sedang mabuk Bram, lepaskan istri ku, jangan membuat skandal di depan media".
"Apa kau takut dia kembali pada ku".
"Selama ini kau membohonginya bukan,, makanya Andin bisa jatuh ke pelukan mu".
"Kau orang yang licik,,, harusnya aku menyadarinya sejak awal".
Toni terlihat panik. Kalau di biarkan, Bram bisa saja mengatakan semuanya. Dan itu akan mengancam keharmonisan nya dengan Andin. Toni tak tinggal diam.Dia segera menarik Andin ke belakang tubuhnya.
"Vanessa, urus suami mu, dia sedang mabuk saat ini".
"Jangan sampai aku kehilangan kendali karena dia mengganggu istri ku".
"Maaf Toni,, akhir-akhir ini dia memang sering sepeti ini".
"Ayo Bram kita pulang,, kau hanya bikin malu saja di sini".
"Andin,, buka mata mu...Toni tidak sebaik yang kau kira".
"Dia merahasiakan sesuatu dari mu".
"Suatu saat nanti, aku akan membongkar semuanya".
"Ingat itu baik-baik Toni!!!".
Bram terus berteriak tidak karuan, sehingga petugas keamanan terpaksa membantu Vanessa membawa Bram ke mobil.
Andin berusaha meredakan kemarahan Toni di dalam. Untung nya, dia hanya menganggap kata-kata Bram sebagai ocehan yang tak berguna.
"Tenang sayang,,jangan terpancing emosi".
"Dia hanya tak suka melihat keberhasilan mu".
"Jangan sampai reputasi mu rusak hanya karena kejadian ini".
"Mungkin ini memang tujuan Bram".
Toni meremas tangan Andin untuk meredakan amarah nya. Raut wajah istrinya begitu sejuk di pandang nya. Perkataan nya benar. Di momen seperti ini dia tak boleh terbawa suasana dan mengacaukan semuanya. Citra yang sudah bertahun-tahun di bangun nya, bisa hancur dalam sekejap kalau hanya menuruti amarah nya.
Toni akhirnya bisa meredakan emosinya. Dia mencium lembut dahi istrinya.
"Terima kasih sayang,, kau memang yang terbaik".
"Apa,,,,aku tak merasa melakukan apa-apa".
"Tak salah aku memilihmu menjadi pendamping ku".
"Selamanya tetap lah seperti ini,, jangan tinggalkan aku saat aku sedang marah".
"Bersabarlah menghadapi ku".
"Kau bersedia bukan??".
"Memangnya kalau aku tak bersedia,, kau akan mencari siapa??".
"Tidak ada,,sudah cukup bagi ku memiliki mu".
"Berjanjilah,,,jangan pernah tinggalkan aku".
Tingkah kemesraan keduanya, tanpa sengaja dari tadi terekam kamera. Para awak media salut dengan pasangan romantis yang ada di depan nya. Apa pun tak menggoyahkan perasaan cinta satu sama lain. Seolah Bram hanya angin lalu yang tidak pantas untuk di hiraukan.
...****************...