
"Maaf Bram, Andin, aku ada acara sebentar,
kalian ngobrol saja dulu".
"Aku lupa kalau ada janji dengan teman ku".
"Rupanya dia sudah menunggu di mall".
"Aku pergi dulu Andin,, Bram".
"Hati-hati mbak Tari".
Baru saja masuk ke rumah kontrakan, mbak Tari sudah kembali lagi pergi keluar. Mungkin dia sengaja meninggalkan Bram berdua dengan Andin. Sejak awal dia paham kalau Bram sangat mencintai gadis itu. Namun sepertinya Andin belum bisa move on dari suaminya yang dulu.
"Andin, selamat ulang tahun,, semoga kau selalu berbahagia".
"Ini hadiah untuk mu".
"Bram,, apa ini, aku justru lupa kalau hari ini aku berulang tahun".
"Ya,,,karena kau terlalu sibuk bekerja, jadi melupakan hari ulang tahun mu".
"Bukalah,,,itu spesial buat mu".
Andin membuka kotak perhiasan yang di berikan Bram. Sebuah cincin berlian berukir namanya. Andin merasa takjub memandangnya. Hadiah yang begitu mewah untuk kehidupan Andin yang sekarang.
"Aku tak bisa menerimanya Bram".
"Ini terlalu mewah untuk ku".
"Jangan menolaknya Andin,, nama mu bahkan sudah terukir di cincin tersebut".
"Aku hanya ingin kau tahu,, aku masih setia menunggu mu di sini".
"Bram,, ku mohon, jangan bahas itu lagi".
"Kenapa Andin,, apa kau masih berharap kalau suatu saat Toni akan datang dan menjemput mu".
"Dia bahkan tak tahu kalau kau sedang hamil".
"Suami macam apa dia,, sudah hampir 4 bulan, dan dia sama sekali tak menghubungi mu bukan??".
"Suami macam itu yang terus kau tunggu dan kau pikirkan??".
"Aku sudah berhenti memikirkan nya Bram".
"Aku hanya memikirkan anak ku saja sekarang".
"Kalau kau memikirkan anak mu, setidaknya kau terimalah aku jadi ayahnya Andin".
"Kau ingin dia tumbuh tanpa seorang ayah di sisinya?".
"Bram,, kau masih istri sah Vanessa, tak pantas bagi mu untuk menyakiti dirinya".
"Aku sudah bercerai dengan nya,, kau lihat..ini akta perceraian kami".
"Aku dan Vanessa hanya bersandiwara".
"Tak sulit bagi kami berdua untuk langsung mengurus perceraian".
Andin terdiam. Banyak hal yang telah terjadi selama 4 bulan ini rupanya. Hanya dirinya yang masih tetap berada di posisi yang sama.
Mengharapkan keajaiban dengan kehadiran Toni. Tapi rasanya mustahil hal itu terjadi.
"Kau mengurus perceraian mu di Inggris bukan??".
"Kalau kau ingin bertanya tentang Toni,, ya.....
dia ada di sana".
"Dan kondisinya,, apa dia baik-baik saja?".
"Dia cukup sehat untuk mengurus bisnisnya".
"Dia bahkan sempat berjalan-jalan dengan seorang wanita cantik".
"Kau lihat saja videonya kalau kau pikir aku berbohong padamu".
Andin mengambil ponsel Bram. Dengan gemetar dia melihat aktivitas Toni di mall dengan di temani oleh Rossi. Rupanya, hal itulah yang sudah membuatnya berubah.
Andin mengerti sekarang. Suaminya meninggalkan dirinya demi wanita teman masa kecilnya.
"Kau lihat kan sekarang Andin,, tangisan mu selama ini sama sekali tidak berguna".
"Dia tega meninggalkan mu begitu saja, dan bersenang-senang dengan wanita lain".
"Bram,, kau tak bilang kan kalau aku sedang hamil?".
"Tapi melihat kelakuan nya, aku jadi urung melakukan nya".
"Jangan pernah katakan apapun padanya".
"Baik keberadaan ku atau pun kehamilan ku".
"Kami berdua bisa berjuang sendiri".
"Kau janji kan Bram".
Bram belum sempat menjawab, ketika mbak Tari dan teman-teman hotel serta pak Reynaldi masuk memberikan kejutan ulang tahun untuk Andin. Mereka membawa kue yang besar dengan lilin yang banyak untuk mengerjai Andin.
Lagi-lagi Andin menangis. Tapi kali ini tangisan bahagia, karena semua orang di sekitarnya memberikan perhatian yang besar padanya. Padahal baru 4 bulan mereka mengenal dan bekerja bersama.
"Jadi.....mbak Tari berbohong padaku??".
"Ya,,,itu karena perintah Bram, dia yang mengatur ini semua".
"Sudah,, jangan menangis lagi".
"Nanti anak mu di dalam juga ikut cengeng Lo".
Andin memeluk mbak Tari erat. Dia tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir di pipinya. Entah dirinya harus bahagia atau harus menangis. Andin sudah tak mampu lagi berkata-kata. Dia hanya bisa menyimpan semua masalahnya di dalam hati saja.
Di Inggris sendiri, Toni tentu ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun istri yang sangat di cintai nya. Sudah 4 bulan sejak dia mengambil keputusan meninggalkan Andin di Jakarta dan kembali ke Inggris. Bukan karena Toni tak lagi mencintainya. Bukan pula karena dia ingin bersama wanita lain. Toni hanya tak ingin Andin malu dengan keadaan dirinya yang sudah cacat.
Sampai hari ini, ketika Toni sudah bangkit dari keterpurukan dirinya, dia masih belum berani menemui Andin. Bahkan untuk sekedar menelpon, lidahnya kelu dan dirinya sama sekali tak punya nyali. Biarlah, Andin mencari kebahagiaan nya bersama orang lain. Daripada seumur hidup harus menanggung beban, melayani suami yang sudah tak punya kaki lagi.
Natalie melihat raut wajah putranya yang kembali bersedih. Sebagai ibu, dia sudah melewati banyak hal, sehingga Toni bisa seperti saat ini. Dia bersedia menjalani terapi
orthopedi dan melakukan pemasangan kaki palsu. Setelah 4 bulan, dia sudah tampak normal dan melakukan aktivitas di luar rumah seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Natalie mendekati Toni dan memeluknya erat. Putranya itu pasti mengingat istrinya. Hari ini memang hari ulang tahun Andin. Natalie paham betul bagaimana perasaan nya.
"Kau tidak ingin menelpon nya??".
"Sebaiknya memang seperti ini mom".
"Biarkan Andin bahagia,, dia berhak bersama lelaki yang normal, tidak cacat seperti ku".
"Dear,,,ku lihat Andin bukan gadis seperti itu".
"Dia tentu bertanya-tanya, kenapa kau meninggalkan nya seperti itu dulu".
"Akan lebih baik kalau Andin tidak tahu mom".
"Aku tak ingin dia mengasihani ku".
"Biarlah,, dia mungkin sudah bahagia bersama Bram".
"Aku bertemu dengan nya beberapa waktu lalu".
"Dia kemari untuk mengurus perceraian nya dengan Vanessa".
"Mungkin Bram akan segera menikahi Andin mom".
"O,,ya...kalau begitu, harusnya Andin juga minta cerai dari mu kan??".
"Tapi dia tidak melakukan nya sampai saat ini"
"Temui dia Toni, sekali saja".
"Katakan yang sebenarnya, dan yakin kan dia agar kembali padamu".
"Mom yakin, Andin pasti bersedia menerima mu apa adanya".
"Pikirkan kata-kata mom ini sayang".
"Kalian berdua berhak bahagia".
Natalie meninggalkan Toni di kamarnya. Sudah cukup baginya menasehati putranya tersebut..Keputusan nya dia serahkan sepenuhnya di tangan Toni. Masih ingin mempertahankan rumah tangganya dengan Andin atau memilih melepaskan nya.
Toni memikirkan semua perkataan Natalie.
Semua yang di katakan nya ada benarnya juga. Sangat tidak adil bagi Andin kalau terus-menerus di gantung tanpa status. Apalagi ini sudah lebih dari 4 bulan.
Toni sudah memutuskan, dia akan segera menceraikan Andin. Biarlah dia berbahagia bersama Bram. Kebetulan Minggu depan dia dan Rossi akan berangkat ke Indonesia. Toni akan menyerahkan surat cerai itu, saat nanti berada di sana.
Keputusan Toni sudah bulat. Dia segera mematikan lampu dan memejamkan mata.
Tak terasa bulir bening menetes dari kedua matanya. Toni mengucapkan selamat ulang tahun kepada istrinya di dalam hati.
...****************...