
"Sudah.....buang pikiran mesum mu dan sekarang cepat tidur".
"Kau masih ingat perkataan dokter tadi kan??".
"Perasaan kau yang memancing ku tadi".
"Aku hanya menuruti ide mu bukan??".
"Lupakan ide gila seperti itu, kalau kau masih sayang dengan perut mu".
"Aku tak mau senam jantung lagi, harap-harap cemas dengan keadaan mu".
"Sayang,, kemarilah.....aku justru suka dengan sikap mu ini".
"Jadi, kau suka kalau aku mati berdiri karena mencemaskan mu??".
"Bukan seperti itu,, aku suka kalau kau khawatir padaku, itu berarti..kau sangat mencintai ku".
"Kau takut kehilangan ku bukan??".
"Toni,, ini bukan main-main".
"Setengah mati aku mengkhawatir kan mu di ruang operasi,, sempat-sempatnya kau masih bercanda seperti ini".
"Asal kau tahu,, aku sudah meninggal kan segalanya dan memilih diri mu".
"Aku bahkan sudah menutup kisah kelam ku di masa lalu".
"Kau tak perlu lagi menguji kesetiaan ku".
"Bisa ku pastikan kalau aku tak akan bergeming dari sisi mu".
"Inilah yang ingin ku dengar dari mu sayang".
"Kata-kata setia yang keluar dari hati mu".
"Aku sempat meragukan mu ketika Bram kembali hadir di antara kita".
"Aku sangat takut kau akan kembali padanya".
"Apalagi dia tak menyerah untuk mendapatkan diri mu kembali".
"Kau bisa pegang kata-kata ku Toni".
"Aku dulu pernah sangat mencintainya,, lebih dari diri ku sendiri".
"Tapi, saat aku tahu Bram hanya memanfaatkan tubuh ku untuk pelampiasan nafsu nya, dan bukan untuk cinta".
"Saat itu juga, dia kehilangan hak nya atas cinta ku".
"Aku menyerah Toni,, aku tak mau berjuang, sementara aku tidak di inginkan".
"Untung nya kau masih mau menerima ku".
"Aku melihat ketulusan di hati mu,,dan aku akhirnya mulai bersimpati".
"Kesabaran mu, cinta mu,, dan perhatian mu akhirnya membuat ku jatuh cinta pada mu".
"Terimakasih sayang,, sudah menerima ku menjadi istri mu".
"Tak perduli seberapa buruk masa lalu ku,, kau tetap menerima ku".
"Aku justru yang beruntung karena mendapat kan cinta mu".
"Syukurlah kalau begitu,, aku tak perlu khawatir lagi sekarang".
"Bram tidak akan berpengaruh pada diri mu".
Andin menghampiri Toni dan menggenggam tangan nya. Meyakinkan dirinya kalau Andin akan selalu di sisinya. Mereka berpelukan sampai Bella pintu mengagetkan keduanya.
Andin keluar dari kamar untuk membuka pintu. Rupanya Rossi yang datang untuk menjenguk Toni. Dia membawa makanan dari Natalie. Andin lalu membuka pintu dan menyuruhnya masuk ke dalam.
Rossi langsung masuk ke kamar, tanpa memandang Andin. Dia kembali pada sifat angkuhnya. Dia langsung mendatangi Toni di tempat tidurnya.
"Toni,, syukurlah kau sudah boleh pulang".
"Aku takut sekali kalau sampai tidak bisa melihatmu lagi".
"Ini karena ulah mu bukan??".
"Lain kali jaga tingkah mu di luaran sana".
"Ini bukan Amerika Rossi,, jangan samakan gaya hidup mu dengan di sana".
"Perbaiki gaya berpakaian mu,, bersikap lah sopan saat kau berada di negara ini".
"Kau sudah seperti ayah ku saja,, terlalu banyak bicara".
"Ayo lah,, semuanya sudah berlalu bukan,, dan kau terlihat baik-baik saja".
"Jangan marahi aku lagi Toni,, aku sudah cukup tertekan kemarin".
"Baguslah......kalau kau menyadari kesalahan mu".
"Andin,,apa dia selalu membosankan seperti ini??".
"Kau sudah banyak berubah rupanya Toni".
"Ini,, aku bawa makanan dari Natalie".
"Ayo...Andin, siapkan dan bawa kemari".
"Apa tingkah mu juga selalu membosankan seperti ini Rossi??".
"Tidak tahu sopan santun".
"Jaga sikap mu,, ini apartemen kami".
"Kau tak bisa seenak nya seperti itu di sini".
Andin sudah benar-benar kesal dengan tingkah Rossi. Sejak dia datang, tak sedetik pun dia meninggalkan Toni. Andin jadi terkesan sebagai pembantu di apartemen nya sendiri.
Toni pun tak bisa berbuat banyak. Dulu mereka berteman dekat. Bahkan Rossi terang-terangan menyatakan cinta kepadanya. Toni lalu mengalihkan perhatian Rossi dan menyuruhnya ke Amerika melanjutkan studi nya di sana.
Kini, saat Rossi sudah lulus, mungkin dia teringat kembali janji mereka berdua. Tapi Toni sudah memilih wanita lain untuk jadi istrinya. Pilihan yang tepat bagi Toni, karena untuk mendapatkan nya perlu perjuangan yang berat.
Andin membawa masuk sarapan dan air minum untuk Toni. Ini waktu nya baginya untuk minum obat. Saat Rossi melihat Andin, dia langsung mengambil nampan dan membawanya ke depan Toni. Dia sendiri yang akhirnya menyuapi Toni.
"Kau ini.....benar-benar,, katanya pendidikan mu tinggi".
"Tapi ternyata attitude mu nol".
"Kau hanya iri dengan ku kan Andin??".
"Siap-siap saja, sebentar lagi aku yang akan tinggal di sini bersama Toni".
"Dia akan segera menceraikan mu".
"Rossi,, jaga bicara mu,, !!".
"Aku memberi mu kebebasan, bukan berarti kau bisa menghina Andin sesuka hati mu".
"Kalau kau tidak bisa menghormati istri ku, lebih baik kau pergi dari sini".
"Dan asal kau tahu,, aku dan Andin, tidak akan pernah bercerai".
Rossi menunduk mendengar kata-kata Toni. Harapan nya untuk bisa merebut hati Toni kembali, rupanya masih jauh dari yang di pikirkan nya. Cinta Andin sudah melekat di hatinya. Akan sangat sulit bagi Rossi untuk bisa memisahkan mereka berdua. Namun Rossi tak akan menyerah. Dia akan tetap memikirkan cara agar Toni bisa kembali padanya.
Andin sendiri lebih memilih untuk menonton televisi di ruang tamu.Dia malas kalau harus berdebat dengan Rossi di dalam. Badan dan pikiran nya masih capek sepulang dari rumah sakit. Jadi lebih baik dia menghindari perdebatan yang tidak ada artinya.
Toni bangkit dari ranjang nya setelah memarahi Rossi. Dia kemudian keluar dari kamar dan mencari Andin. Dia menyusul istrinya duduk di sofa.
"Kenapa kau duduk di sini,, kau tak mau melayani suami mu ini??".
"Bukan nya sudah ada Rossi di dalam,, mana tahu aku malah mengganggu kalian nanti".
"Sebenarnya kau istri ku atau bukan?".
"Aku memang istri mu, tapi kurasa...teman masa kecil mu menganggap dirinya lebih punya hak atas mu".
"Ya sudah,, silahkan kalian lanjutkan".
"Aku lebih baik beristirahat di sini saja".
Rossi menyusul Toni duduk di sofa. Dia masih belum ingin pulang rupanya. Dia malah
duduk di sebelah Toni. Benar-benar tidak punya perasaan sama sekali.
"Kenapa kau malah keluar sih,,, yang ada nanti kau tak kunjung sembuh".
"Ayo Toni,, berbaringlah di dalam kamar,, aku akan mengantar mu".
"Rossi,, kau sudah menjenguk ku kan,, sebaiknya kau pulang sekarang".
"Aku dan istri ku butuh istirahat,,".
"Kau bisa kesini lagi nanti".
"Oh,,,jadi wanita ini menyuruh mu untuk mengusirku??".
"Bagus,,, kenapa kau tak bilang sendiri??".
"Hei....asal kau tahu, aku dan Toni sudah berteman lama".
"Kau hanya orang baru yang kebetulan jadi istri Toni".
"Dengar,, sebentar lagi aku akan membuat kalian berpisah".
"Toni akan jadi milikku lagi seperti dulu".
Rossi mengambil tas nya dengan kasar dan keluar dari apartemen. Dia sangat kecewa dengan perlakuan dari Toni. Demi istrinya, Toni rela mengusirnya. Rossi bahkan membanting pintu apartemen dan segera pergi meninggalkan apartemen mereka dengan wajah marah.
...****************...