Let me Love You

Let me Love You
Bab 46.



Pesta penghargaan yang di warnai insiden memalukan, akhirnya berakhir juga. Andin dan Toni, sudah tiba kembali di apartemen nya. Mereka membawa pulang piala yang diberikan kepada Toni dengan wajah bahagia.


Keduanya sudah duduk di sofa sambil menimang piala hasil kerja keras Toni selama ini.


"Kau tak pernah bilang kalau kau seorang pengusaha yang hebat".


"Yang aku tahu, Toni adalah pengangguran yang suka main ke tempat paman Burhan".


"Itu hanya alasan ku untuk mendekati mu".


"Nyatanya, aku harus bekerja keras membantu mom dan dad mengembangkan bisnisnya".


"Dan aku sekarang sedang memetik hasilnya".


"Aku sudah persiapkan ini untuk mu".


"Dan sekarang benar-benar terwujud,, aku sudah menikmati keberhasilan bersama mu di sampingku".


"Aku merasa tersanjung Toni,, siapa lah aku ini".


"Apa aku pantas mendapatkan ini semua?".


"Kenapa tidak, aku yang memilih mu sejak awal bukan??".


"Apa pun yang terjadi,, aku hanya ingin diri mu saja".


Tanpa pikir panjang lagi, Andin segera meraih tengkuk Toni dan ******* bibirnya. Baginya tidak ada lagi yang bisa di katakan. Toni sangat memanjakan Andin melebihi dirinya sendiri. Andin pun berusaha mengungkapkan bahasa cintanya.


"Itu....ucapan terima kasih dari ku".


"Kau sangat seksi sekali ketika tengah bergairah seperti ini".


"Apa kita bisa melakukan lebih dari ini??".


"Aku sudah merindukan aroma wangi tubuh mu".


"Pelukan mu, ciuman mu,,, aku sudah gila ingin segera bercinta dengan mu".


"Kita akan melakukan nya,, tapi kali ini aku yang pegang kendali".


"Kau nikmati saja pelayanan dari ku malam ini, sayang....!!".


"Aku tak mau ambil resiko dengan luka di perut mu".


"Terserah kau saja sayang,,, lakukan apa saja yang kau suka".


"Malam ini aku sepenuhnya milik mu".


Andin bangkit, menggandeng tangan Toni menuju ke kamarnya. Satu persatu Andin menanggalkan pakaian suaminya, dan menyuruhnya berbaring di ranjang.


Dengan gerakan erotis, Andin melepaskan satu persatu, baju yang melekat di tubuhnya.


Toni menyaksikan semua itu di depan matanya. Dia bahkan tak berkedip melihat aksi nakal istrinya.


Andin naik ke atas ranjang dan menyapu seluruh bagian tubuh Toni dengan lidahnya. Dengan tatapan mata yang menggoda, serta aksi liar nya di atas tempat tidur, Toni di buat tak berdaya. Dia mengerang hebat, mendapatkan pelepasan nya. Istrinya malam ini sungguh sangat liar melayani dirinya.


Keduanya tergeletak lemas di atas tempat tidur. Nafas mereka masih naik turun menahan kelelahan. Malam yang indah baru saja di lalui keduanya.


Andin terbangun di pagi hari. Sementara Toni masih terlelap, Andin melihat luka di perutnya. Dia bernafas lega, karena aktivitas panasnya semalam tidak berpengaruh sama sekali. Yang ada, suaminya senyum-senyum kesenangan melihat wajah panik istrinya.


"Kau kira aku selemah itu, hingga wajah mu tegang seperti ini".


"Semalam kan aku tidak banyak bergerak".


"Kau malahan yang sangat luar biasa".


"Aksi mu hebat sekali sayang..!!!".


"Ah....sudah lah Toni, jangan menggodaku, aku malu sekali".


"Kenapa harus malu, kita sudah menjadi suami istri bukan??".


"Lain kali aku ingin kau seperti ini lagi".


"Liar,,nakal,, dan seksi".


Andin berlari ke kamar mandi dengan menutup kedua telinganya. Kata-kata Toni membuatnya merinding. Terbayang aksinya semalam yang di luar dugaan. Tapi justru malah membuat suami nya ketagihan.


"Kau masih belum beranjak dari situ,, ayo sana mandi lah!!".


"Tapi kau kan harus berangkat ke kantor".


"Hari ini aku libur sayang!!".


"Mana boleh,, kau sudah sembuh bukan,, lagi pula kau baru saja dapat penghargaan".


"Ayo semangat,,, kau harus lebih rajin datang ke kantor".


Andin menarik lengan Toni dan menyuruhnya masuk ke kamar mandi. Pria itu iseng mencium pipi istrinya. Sementara Toni sedang mandi, Andin menyiapkan sarapan di dapur. Hari ini rencananya dia juga akan mulai berangkat ke butik.


"Sayang,, aku ikut dengan mu ya,, nanti turun kan aku di depan butik".


"Kau juga sudah mulai kerja??".


"Iya,, aku tak enak, mom sudah memberi ku pekerjaan, tentu aku harus mengurusnya".


"Siapa tahu aku bisa sesukses diri mu nanti".


"Ya sudah,, habiskan sarapan mu lalu kita berangkat".


Pasangan muda itu beriringan berjalan menuju tempat parkir. Keduanya berangkat ke kantor bersama. Sampai di butik, Toni menurunkan istrinya dan bergegas berangkat.


"Selamat pagi Hana,, kau cantik sekali pagi ini".


"Bu Andin,, senang sekali melihat anda kembali".


"Apa yang kau lewatkan selama cuti Hana, kau bisa beritahu aku".


"Baik Bu, ini laporan rincinya".


"Termasuk kerja sama dengan ibu Vanessa".


"Ok,, biar aku baca dulu,, dan kau kerjakan yang lain saja".


Laporan yang di sodorkan Hana dibacanya dengan seksama. Gadis itu detail sekali pekerjaan nya. Hal-hal kecil pun tak luput dari pengamatan nya. Tak salah kalau Andin mempercayakan butik kepada Hana, selama dia cuti.


Sementara di kediaman Vanessa, Bram masih terbaring di tempat tidurnya. Vanessa sudah sangat kesal dengan sikap suaminya. Di hanya mandi dan langsung berangkat, tanpa berpamitan lebih dulu dengan Bram.


Saat dirinya terbangun, kepalanya terasa berat. Bram memanggil Vanessa untuk menolong nya, namun tak ada sahutan sama sekali. Bram terpaksa berdiri dan berjalan ke lantai bawah untuk memeriksa Vaness.


"Apa istri ku pergi tadi??".


"Iya tuan, nyonya Vaness berangkat ke butik pagi-pagi sekali".


"Apa tuan butuh sesuatu??".


"Berikan aku teh hangat dan obat sakit kepala".


"Baik tuan".


Setelah memberi perintah kepada asisten rumah tangga Vaness, Bram bergegas ke kamar mandi.Teringat kejadian memalukan yang di lakukan nya semalam. Mungkin saja Vanessa marah padanya. Mengingat sikap Bram memang sangat menjengkelkan.


Obsesinya pada Andin telah membuatnya hilang akal. Entah apa yang dilakukan olehnya semalam di bawah pengaruh alkohol. Yang pasti bukan sesuatu yang menyenangkan pastinya. Karena pagi ini Vaness marah kepadanya.


Panggilan berdering di ponselnya membuat lamunan nya buyar. Di seberang sana, kakak Han memintanya segera kembali ke Indonesia. Ada hal penting yang harus di tangani oleh Bram langsung.


"Baik kak, pagi ini juga aku berangkat".


"Kakak jangan khawatir, biar aku yang selesaikan masalah paman Burhan".


"Restoran itu tak boleh diambil,, aku yang akan mendapatkan nya kembali".


"Tunggu aku kak, pagi ini dengan penerbangan pertama".


Bram menutup sambungan ponsel dan langsung memasukkan pakaian nya kedalam koper. Restoran milik paman Burhan terancam di ambil ketua geng. Hanya Bram yang bisa mengatasi masalahnya.


Tanpa memperdulikan Vanesa, dia langsung menuju Bandara. Bahkan kepergian nya pun


tak ada satu pun orang yang tahu. Di balik sikapnya selama ini, Bram punya kebaikan besar yang jarang di ketahui orang.


Bukan salahnya kalau waktu itu dia sampai kehilangan Andin. Toni mungkin sudah merencanakan semuanya. Bram tak punya celah sama sekali untuk memberi penjelasan.


Dia hanya harus menunggu waktu yang tepat, supaya Andin bisa kembali mempercayainya.


...****************...