Let me Love You

Let me Love You
Bab 59.



Rossi melangkah menuju lobby hotel. Dia ingin mencari udara segar. Pikiran nya ikut stress memikirkan Toni yang galau dengan Andin. Langkahnya menuruni tangga terhenti ketika di lihatnya wanita yang sudah membuat teman nya galau, ada di ruang resepsionis sedang melayani tamu.


Sesaat Rossi memperhatikan dari kejauhan. Andin tampaknya sudah terbiasa dengan pekerjaan nya. Dia bahkan sudah akrab dengan beberapa tamu. Itu berarti, Andin memang sudah lama bekerja di hotel ini.


Rossi memutar badan nya dan kembali naik ke atas. Dia bergegas menuju kamar Toni. Pria itu harus tahu kalau wanita pujaan hatinya sedang bekerja di bawah.


"Toni, kau harus lihat ini,,kau tak akan percaya kalau Andin ada di bawah sekarang".


"Memangnya kenapa kalau dia di bawah??".


"Bukankah ada Bram yang mengawalnya??".


"Kau salah,,,dia bekerja sebagai resepsionis".


"Ku lihat beberapa tamu sudah akrab dengan nya, berarti sudah lama dia kerja di sini".


"Lalu,,apa maksud mu bicara seperti itu??".


"Kau berharap aku menemuinya dan berlutut di kakinya, memintanya kembali??".


"Hmm.....dasar bodoh!!".


"Dengar Toni,,bila Andin mengandung, apa kau biarkan dia kerja??".


"Tentu saja tidak, itu kalau aku masih jadi suaminya".


"Aku akan memanjakan dia di rumah saja".


"Tepat sekali".


"Aku masih belum paham, Rossi".


"Kalau dia masih sendiri, maka dia harus bekerja untuk menghidupi anaknya bukan??".


"Sebenarnya tak perlu karena aku sudah memberikan nya kartu kredit no limit".


"Berarti,,,, kau sadar kan sekarang??".


"Maksud mu, dia masih belum menikah dengan Bram?".


"Makanya dia harus tetap bekerja??".


"Kau pintar sekali Toni".


"Tapi tetap saja anak itu anak Bram kan??".


"Dia yang brengsek karena masih menyuruh Andin bekerja sementara dia mengandung anaknya".


Rossi meninggalkan Toni ke lobby hotel. Percuma saja menjelaskan kepada orang yang sedang marah. Kebenaran sekecil apapun tak akan masuk ke otaknya. Alhasil Rossi sendiri yang akhirnya menemui Andin.


"Andin,,kau masih mengingatku??".


Andin terkejut melihat Rossi yang tiba-tiba menghampirinya di lobby hotel. Berarti yang di lihatnya di rumah sakit tadi memang benar Rossi dan Toni.


"Tentu saja, mana mungkin aku lupa".


"Apa kabar Rossi??".


"Aku baik, dan kau sendiri??".


"Aku juga sehat,, tapi maaf Rossi, ini masih jam kerja ku, aku tak mau atasan ku menegur".


"Baiklah,, kapan kau selesai,,aku ingin ngobrol sebentar dengan mu".


"Mungkin sekitar 1 jam lagi".


"Baik, 1jam lagi aku akan menemui mu".


Rossi melangkah menuju restoran di samping hotel, sambil menunggu jam kerja Andin selesai. Ada beberapa hal yang sepertinya harus di luruskan. Dia sudah mendengar dari sisi Toni, dan nanti dia akan mencoba melihat dari sisi Andin.


Sepeninggal Rossi, Andin menyadari kalau Toni pasti juga menginap di hotel ini bersama nya. Mungkin mereka ingin mengambil surat cerai yang sudah di tandatangani nya dari Bram. Atau hanya sekedar ingin menunjukkan kemesraan mereka berdua di hadapan Andin.


Andin melihat daftar kamar para tamu. Mereka berdua memesan satu kamar hotel.


Itu berarti memang keduanya sudah menjalin hubungan yang serius. Selama ini Toni mungkin hanya membohongi Andin saja.


Atau memang dia sengaja membalas dendam. Tapi yang pasti, Andin mencintai Toni. Buktinya, sekarang dia mengandung anaknya.


Setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya, Andin bertekad untuk merahasiakan hal ini kepada Toni. Andin tak mau nantinya Toni mengambil anak mereka dan membawanya pergi dari sisinya. Toni tak boleh tahu tentang anak yang di kandungnya.


Biarlah ini menjadi rahasianya sendiri.


Rossi terlihat sudah menunggu di lobby hotel saat jam kerja Andin usai. Dia berjalan menemui gadis muda tersebut dan duduk di sebelahnya.


"Silahkan Rossi, apa yang ingin kau bicarakan?".


"Ini hanya sebentar saja,, aku ingin menanyakan tentang kehamilan mu?".


"Apa kau mengandung anak Toni??".


"Apa dia yang menyuruh mu menanyakan ini??".


"Tidak,, aku hanya ingin tahu saja".


"Bilang padanya Rossi,, ini anak ku, hanya anak ku".


"Jangan pernah kalian mengganggu hidup ku lagi".


"Aku sudah menandatangani surat cerai ku, jadi kalian berdua sudah bisa menikah sekarang".


"Setelah ini, jangan mencoba menemui ku lagi".


"Permisi Rossi, Bram sudah datang untuk menjemput ku".


"Lagi pula aku sudah terlalu capek kalau harus mendengar obrolan yang tidak berguna seperti ini,, permisi!!".


Rossi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak heran dengan sikap Andin padanya. Pertemuan nya terakhir kali juga meninggalkan kesan buruk. Apalagi sekarang Rossi sudah menanyakan hal sensitif kepada Andin. Tentu saja dia murka. Rossi bangkit dan hendak kembali ke kamar saat di lihatnya Andin dan Bram berjalan bersama menuju parkiran hotel.


"Kenapa wajah mu terlihat begitu kesal??".


"Mereka berdua menginap di sini Bram".


"Rossi baru saja mengajak ku bicara".


"Dia menanyakan kehamilan ku".


"Dan kau jujur padanya, kalau itu anak Toni??".


"Tidak akan pernah, kalau dia tahu, dia bisa mengambilnya dari ku dan membawanya ke Inggris".


"Dan aku tak mau itu terjadi".


"Bayi ini adalah anak ku, hanya aku saja yang berhak memilikinya".


"Ku mohon padamu, jangan pernah katakan apapun pada Toni".


"Berjanjilah pada ku Bram".


Bram mengangguk menuruti perkataan Andin. Baginya itu akan jauh lebih baik. Kalau Toni tahu itu bayinya, bukan tidak mungkin dia akan kembali lagi pada Andin. Sekarang mungkin ini jalan terbaik bagi hubungan mereka berdua.


Toni mondar-mandir di kamarnya menunggu Rossi yang tak kunjung kembali. Kalau hanya mencari makan,seharusnya dia sudah kembali ke kamar. Toni sudah berniat untuk menyusulnya, ketika akhirnya gadis itu membuka pintu kamarnya.


"Dari mana saja kau,aku sudah cemas memikirkan diri mu".


"Aku bicara dengan Andin di lobby hotel".


"Kau tertarik untuk mendengarnya??".


"Sudah lah Rossi, aku tak ingin membahas itu lagi".


"Sudah cukup bagi ku melihat dia bersama Bram".


"Akan jauh lebih baik, daripada bersama ku yang cacat ini".


"Tapi Toni,, ini tentang kehamilan Andin".


"Sudah cukup Rossi, hentikan ku bilang".


"Mulai saat ini, aku tak mau lagi mendengar tentang Andin ataupun bayi yang di kandungnya".


"Biarlah mereka hidup bahagia,, itu bukan lagi menjadi urusan ku".


"Kau mengerti kan??".


"Iya,,, dasar keras kepala!!".


"Ternyata kalian berdua sama saja".


"Aku juga tak akan mencampuri urusan kalian lagi".


"Aku capek, dan mau tidur sekarang".


Saking kesalnya, Rossi bahkan enggan menolong Toni melepas kaki palsunya saat hendak tidur di ranjang. Toni berusaha melakukan nya sendiri. Padahal dia mengajak Rossi supaya bisa membantunya. Tapi saat gadis itu sudah marah, dia sama sekali tak bisa di andalkan.


Pelan-pelan Toni melepas kedua kaki palsunya dan menaruh di sisi tempat tidur. Dia kemudian merebahkan diri. Dilihatnya Rossi di kasur sebelah, sudah terlelap di bawah selimut. Inilah yang di khawatirkan Rossi Toni selama ini kalau Andin tetap bersamanya. Dia akan selalu merasa kasihan pada Toni dan hidupnya tak lagi bebas, karena terus-menerus melayani Toni di sampingnya.


...****************...