Let me Love You

Let me Love You
Bab 21.



Insiden pertengkaran yang terjadi antara Bram dan Toni, sampai juga ke telinga Natalie dan Adam. Padahal Toni sudah berusaha menutupi bibirnya yang terluka sebisa mungkin. Tetap saja Natalie menyadari hal lain pada wajah Toni.


"Kalian ini,baru saja bertemu, kenapa bisa terlibat skandal seperti ini??".


"Ini tidak sengaja terjadi mom".


"Lagipula, Bella sudah mengobati luka ku semalam".


"Tetap saja, mom tidak suka sikap yang seperti ini".


"Kalau bukan suami Vaness, mom akan membatalkan pesanan gaun kalian".


"Natalie,,masalahnya sudah selesai sekarang".


"Ini hanya salah paham saja".


"Tak perlu di besar-besar kan".


"Aku sudah selesaikan semuanya dengan Vaness semalam".


"Ya sudah,,habiskan sarapan kalian,aku dan Adam ada janji dengan klien".


"Kami pergi dulu sayang,,,jaga Toni ku baik-baik".


Sepeninggal Adam dan Natalie, Bella menggoda Toni. Dia tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar mengenai sikap Natalie yang begitu memanjakan Toni.


"Hmm....rupanya kau anak mama juga ya".


"Kau lihat bagaimana Natalie mencemaskan mu??".


"Toni,, kau beruntung sekali".


"Orang tua mu begitu menyayangi mu".


Toni bangkit dan berdiri. Dia memeluk Bella dari belakang dan mencium kepalanya dengan penuh cinta.


"Aku yang beruntung memiliki wanita seperti mu".


"Aku tak ingin yang lain lagi di dunia ini".


"Asal kau bersama ku, itu sudah cukup".


"Andin,,,aku sangat mencintai mu".


"Berjanjilah kau akan selalu seperti ini".


"Jangan pernah tinggalkan aku walau sedetik pun".


Andin berdiri dan membalas pelukan Toni erat.Entah kenapa hatinya sangat rapuh sejak melihat Bram dan Vanessa kemarin. Seperti ada yang menyayat lukanya sampai ke dalam.


Tak bisa di pungkiri, Andin begitu terluka di tinggalkan begitu saja oleh Bram. Dia seperti gadis bodoh yang selalu menuruti kemauan Bram. Dan kemarin, saat Bram mencium bibirnya dengan paksa, Andin berusaha menahan semua perasaan nya. Hanya Tuhan saja yang tahu isi di hatinya.


"Toni,,,aku pernah terluka, jiwaku di sakiti oleh nya".


"Dan aku tak ingin mengalami nya lagi".


"Kalau kau benar tulus padaku, maka aku bersedia menjadi istri mu".


"Tapi kalau kau hanya ingin memanfaatkan aku sama seperti yang Bram lakukan, lebih baik kita akhiri saja sampai di sini".


"Jauh-jauh aku membawamu ke sini untuk melupakan Bram".


"Usaha mu hampir berhasil, tinggal selangkah lagi".


"Buang jauh semua kenangan yang menyiksa mu".


"Kubur Andin jauh-jauh dan jadilah Bella mulai sekarang".


"Bella istri Toni dan bukan masa lalu siapa pun".


"Aku takut Toni,,,dia sepertinya tahu siapa aku".


"Jangan khawatir, bersikaplah seperti biasanya".


"Aku yang akan meyakinkan nya untuk menjauh dari mu".


"Kau jangan khawatir Bella, ada aku di samping mu".


"Tak akan ada lagi yang bisa menyakiti mu".


Bella menangis di pelukan Toni. Dada nya yang hangat mampu menjadi sandaran baginya. Andin yakin mulai sekarang Bram tak akan melepaskan nya. Tapi dia cukup merasa nyaman karena ada Toni di samping nya.


"Ayo,,,aku antar kau ke salon sekarang, atau Natalie akan marah padaku nanti".


"Hmmm....iya,,,".


Bella dan Toni keluar dari rumah. Ternyata di pintu depan, Bram sudah menyambutnya dengan senyuman merekah. Dia lalu menghampiri Andin.


"Selamat pagi Toni,,,kebetulan aku lewat depan rumah mu".


"Dan aku merasa sebagai sahabat harus saling berkunjung bukan??".


"Apa aku tidak di persilahkan masuk??".


"Maaf Bram, ini bukan waktu yang tepat".


"Aku ada perlu dengan tunangan ku".


"Sementara orang tuaku sedang ada rapat di kantor".


"Sayang sekali, karena aku ingin bicara dengan tunangan mu ini".


"Tunangan ku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosong mu".


"Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku mengusir mu".


"Kau ingat, perlakuan buruk mu kemarin bisa membuatmu di penjara".


"Kau tahu,,aku tidak peduli".


"Oh,,,jadi kau menantang....".


"Sudah Toni,,biarkan dia bicara dengan ku".


"Kita dengar apa yang di ingin kan nya".


"Katakan apa mau mu cepat ..!!!".


"Aku tidak punya banyak waktu".


"Tidak di sini, kita perlu bicara berdua saja".


"Nanti aku akan menghubungi mu".


"Bicaralah sekarang atau tidak sama sekali".


"Maaf tuan,,ada kalanya kau harus menyesuaikan diri dengan orang lain".


"Tak semua yang kau inginkan bisa kau dapatkan begitu saja".


"Orang juga perlu berkorban,,walaupun terkadang itu menyakitkan".


"Kau sudah berubah rupanya".


"Kau bukan Andin yang sama lagi".


"Aku tegaskan tuan,,,nama ku Bella".


"Bukan Andin yang sering kau sebut itu".


"Waktu mu habis sekarang,,,bicara omong kosong yang tidak masuk akal".


"Ayo Toni, kita pergi dari sini".


"Dan Tuan Bram,, carilah Andin di tempat kau meninggalkan nya, bukan di sini".


"Karena sampai kapan pun kau tak akan pernah menemuinya lagi".


Bram terdiam, sementara Toni dan Bella melangkah meninggalkan dirinya. Andin merasa kata-katanya sudah cukup untuk membuatnya berhenti mengejar dirinya.


Mereka masuk mobil dan berangkat ke salon yang sudah dipesan kan Natalie.


"Maaf Toni, mungkin aku sudah kelewatan".


"Tidak, kau benar dengan bersikap seperti itu".


"Kita lihat nanti, Bram pasti tidak akan mengganggu mu lagi".


"Ah ...Toni, temani aku melewati semua ini".


"Jangan sampai aku merusak kebahagiaan Vanessa".


Toni menggenggam jemari Bella dan mencium nya lembut. Wanita inilah yang telah berhasil merebut hatinya dari awal. Walaupun Bram sempat mengisi hari-harinya, tapi kini Toni berhasil mendapatkan nya kembali.


Tak mungkin Toni akan melepaskan jemari ini


untuk siapapun, termasuk Bram. Dia akan selalu menjaga dan melindunginya agar tidak ada yang bisa mengambilnya lagi.


"Kita sudah sampai,,kau turunlah..satu jam lagi aku akan menjemput mu".


"Memangnya kau mau ke mana??".


"Aku ada urusan sebentar".


"Tenang saja aku akan menjemput mu nanti".


Bella turun dari mobil dan berjalan masuk ke salon. Sementara Toni segera mengarahkan mobilnya ke kediaman Vanessa. Ada hal penting yang harus dia selesaikan di sana.


Ini menyangkut kebahagiaan nya dan Bella.


Di rumah Vanessa, Toni di sambut hangat oleh kedua orang tuanya, tentu saja bersama Bram dan Vaness. Dia mengutarakan maksudnya hendak berbicara dengan Bram.


Mereka kemudian memberi kesempatan keduanya untuk bicara di perpustakaan.


"Apa mau mu,,katakan sekarang juga".


"Jauhi tunangan ku, atau aku tak segan-segan untuk menghabisi mu".


"Kau mengancam ku rupanya??".


"Sudah ku bilang bukan,,,dia akan kembali pada ku".


"Kau tidak berarti apapun baginya".


"Tutup mulut mu,,atau Vanessa dan keluarganya akan tahu siapa kau sebenarnya".


"Oh,,,,ya ...memangnya aku siapa??".


"Kau hanya seorang pecundang, yang tak becus menjaga kekasihnya".


"Diam,,,,tutup mulut mu atau aku akan kembali menghajar mu".


"Andin di culik, dan aku akan segera menemukan nya".


"Serta dalang dari perpisahan kami,,aku juga akan membongkar nya".


"Sebaiknya kau hati-hati kalau ternyata ada hubungan dengan semua ini".


"Karena aku bukan orang yang mudah memaafkan".


"Camkan itu baik-baik!!!".


Bram keluar meninggalkan Toni yang masih saja terkejut dengan reaksi dari Bram. Dia harus secepatnya menikahi Andin, atau Bram yang akan melakukan nya. Toni segera pamit dan meninggalkan rumah Vanessa.


...****************...