Let me Love You

Let me Love You
Bab 44.



Ketika Bram dan Andin tiba di apartemen, rupanya Risa sudah menunggu disana. Sejak pagi dia memang sudah berniat untuk mengunjungi rumah sahabatnya itu. Dia ingin segera mewujudkan rencana nya untuk mengambil Toni dari sisi Andin.


"Risa,, kejutan sekali...kenapa kau tidak menelpon ku lebih dulu??".


"Sudah.....beberapa kali aku menghubungi mu, tapi ponsel mu mati"


Andin baru ingat kalau dia memberikan ponselnya pada suaminya. Mereka akan mencari tahu orang yang sudah memeras Andin.


"Oh...iya,,aku lupa kalau ponsel ku lupa isi daya".


"Sayang,,,kenalkan ini Risa,,dia sahabat lama ku waktu di Jakarta dulu".


"Dan Risa,,ini suami ku Toni".


Toni menyambut uluran tangan dari Risa dengan sikap yang biasa saja. Sebaliknya, Risa sangat mengagumi ketampanan Toni. Pandangan matanya bahkan tak berhenti menatap ke arah Toni, sampai-sampai tangan Toni tak kunjung di lepaskan nya.


"Risa,, lepaskan tangan suami ku, atau kau mau memegangi nya terus??".


"Oh...maaf,,maaf Toni, Andin...aku hanya sedang teringat dengan mantan suami ku".


"Ya..sudah...ayo kita masuk, apartemenku di lantai atas".


"Ayo,, sayang....kau masih harus beristirahat".


Risa mengikuti Andin dan Toni masuk ke apartemen nya. Setelah mengantar Toni ke kamar, Andin keluar menemui Risa.


"Maaf Risa, Toni masih belum boleh banyak bergerak, atau lukanya bisa berdarah lagi".


"Memangnya suami mu terluka??".


"Kemarin, dia ditusuk oleh penjahat saat menolong seorang wanita yang hendak diperkosa".


"Alhasil sekarang, dia harus ekstra beristirahat karena luka tusukan di perutnya".


"Ya...Tuhan,, kenapa kau baru cerita sekarang".


"Aku terburu-buru waktu itu, jadi tak sempat cerita".


"Sebentar, biar aku buatkan minum untuk mu".


Andin kemudian pergi ke dapur untuk membuat kan minuman untuk Risa. Sementara itu Toni memanggilnya dari kamar. Karena Andin tidak mendengar, Risa memberanikan diri untuk masuk ke kamar dan menemui Toni.


"Toni,, Andin sedang ke dapur,, apa ada yang bisa aku bantu??".


"Maaf, aku langsung masuk, karena ku pikir kau butuh sesuatu".


"Tidak perlu Risa,, kau keluar saja....biar istri ku yang melayani ku".


"Ok,, baiklah...aku panggilkan Andin saja kalau begitu".


Risa keluar dari kamar Toni. Bram benar sekali, pria itu sangat mencintai Andin. Akan sangat susah untuk memisahkan mereka berdua. Melihat Toni sangat dingin menghadapi dirinya.


Tapi, bukan Risa kalau tidak merasa tertantang. Dia harus bisa mendapat kan pria dingin yang kaya raya itu. Apa susahnya menjadi seperti Andin. Risa yakin sekali kalau


dirinya jauh lebih layak mendampingi Toni di bandingkan dengan Andin.


"Sini,,biar aku saja yang membuatnya, suami mu memanggil dari tadi".


"Benarkah,,, dia memang akhir-akhir ini sangat manja".


"Tunggu sebentar Risa,, aku akan segera kembali".


Andin menghampiri suaminya di kamarnya. Dia merasa tak enak terhadap Risa. Sepertinya wanita itu jadi merasa tidak nyaman.


"Kenapa sayang,, kau butuh sesuatu??".


"Aku membutuhkan mu,,,kapan teman mu itu pulang??".


"Aku tidak suka dia masuk ke kamar pribadi kita".


"Memangnya dia masuk kemari?".


"Ah....sudah lah,, suruh teman mu itu cepat pulang".


"Dia mengganggu privasi kita".


Andin segera keluar,, dia masih heran kenapa Risa masuk ke kamar dan menemui Toni. Makanya Toni jadi bersikap kasar. Dia tipe orang yang paling tidak ingin di ganggu privasinya. Lagi pula Andin yang berteman dengan Risa. Tapi kenapa Risa justru masuk ke kamar pribadinya untuk menemui Toni.


"Apa aku mengganggu kalian Andin??".


"Dia tak ingin ada yang mengganggunya".


"Kau kelihatan nya sangat mencintai nya??".


"Lalu apa yang terjadi dengan Bram,, kau sudah melupakan nya??".


"Risa,, tolong jangan membicarakan Bram di sini".


"Kalau suami ku tahu, dia bisa salah paham dengan ku".


"Lagi pula, Bram sudah menikah sekarang".


"Mungkin dia juga sudah bahagia dengan istri nya".


"Aku tak paham dengan kalian berdua".


"Cinta kalian begitu besar,, kenapa bisa berakhir seperti ini??".


"Sudah lah....jangan bicarakan Bram lagi".


"Suami ku bisa marah nanti".


Risa tersenyum penuh arti. Dia sedikit banyak sudah tahu sifat dan karakter Toni. Berarti foto itu bisa di manfaatkan untuk menghancurkan hubungan mereka. Di tambah lagi dengan sedikit cerita yang dramatis,, Risa yakin hubungan mereka berdua akan segera berakhir.


Setelah agak lama mengobrol, Risa akhirnya pamit pulang. Andin mengantar nya sampai ke pintu. Dia sengaja tidak menyuruh Risa berpamitan kepada Toni, karena Andin tahu Toni tidak menyukai Risa.


Andin melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Dia melihat suaminya masih memejamkan matanya. Sejenak Andin ragu, takut mengganggu Toni yang sedang tidur. Andin berbalik hendak melangkah keluar kamar.


"Mau kemana kau,,apa teman mu itu masih ada di sini??".


"Tidak, dia baru saja pulang".


"Kalau begitu, kenapa kau masih di situ,, ayo cepat kemari !!!".


"Iya,,,aku datang !!!".


Cepat-cepat Andin berjalan menghampiri suaminya. Dia naik ke ranjang dan berbaring di sisi Toni. Andin hafal betul kalau suaminya sudah bernada tinggi, itu tandanya Andin harus segera membujuknya.


"Setelah teman mu datang kau langsung melupakan ku".


"Kau saja yang terlalu sensitif,, kau pasti sudah bosan terus-menerus berada di tempat tidur bukan??".


"Kau benar sekali, aku bukan anak kecil lagi".


"Cuma karena luka seperti ini,, aku bosan harus berada di tempat tidur terus".


"Cepat...ganti pakaian mu,,kita akan keluar !!".


"Kau yakin,,, jangan sok kuat sayang".


"Kau mau tidak,,atau aku pergi sendiri".


"Tentu saja aku mau,, tunggu sebentar, aku akan segera bersiap".


Sementara Andin berdandan, Toni mengganti pakaian nya dengan kemeja dan jas. Malam ini acara pesta penghargaan bagi Toni, karena terpilih sebagai pengusaha muda yang sukses mengembangkan karirnya di pangsa pasar Eropa.


Kejutan ini sekaligus akan menjadi ajang bagi dirinya untuk mengenalkan Andin sebagai istri sah nya. Mengingat pernikahan mereka berdua waktu itu hanya dihadiri oleh keluarga saja.


Sengaja Toni merahasiakan hal ini dari Andin. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan ini. Setelah sekian lama mereka bersama dan melewati segalanya berdua. Andin tak pernah meminta apa pun darinya. Dia dengan tulus memberikan seluruh cinta yang dia punya hanya untuk Toni.


Waktunya memang sangat tepat. Sekarang seluruh dunia hanya akan mengenal Andin sebagai istri Toni. Laki-laki lain seperti Bram harus berpikir dua kali untuk merebut Andin dari sisinya.


"Bagaimana penampilan ku sayang,, kau menyukainya".


"Kau sempurna,,,,malam ini kau terlihat sangat cantik".


"Memang nya kita mau kemana, sampai kau sendiri yang khusus memilihkan baju dan perhiasan ini".


"Kita akan bersenang-senang malam ini".


"Ayo,, sudah waktunya kita berangkat".


Andin dan Toni meninggalkan apartemen mereka menuju tempat pesta di selenggarakan. Natalie dan Adam sudah lebih dulu tiba di sana. Mereka berulang kali menelpon Toni, khawatir kalau putranya itu tidak bisa menghadiri acara. Maklum saja, Toni masih belum sembuh. Padahal, putranya itu adalah bintang di pesta malam ini.


...****************...