
🍃🍃🍃
Kringgg.....kring...kringggg....
Jam beker berdering nyaring membuat putri Adiwijaya terbangun. Refleks dia menelengkupkan kepalanya di bawah bantal dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
1 menit ... 2 menit ... jam beker itu masih berdering nyaring, membuat gadis itu dengan mata masih terpejam berusaha mengambil jam beker yang terletak didekat lampu tidurnya. Tanganya meraba-raba mencari benda yang dicarinya.
Setelah bersusah payah mengambil jam itu, dia langsung mematikanya dan menaruh di kolong tempat tidur. Kalian tau apa yang terjadi?
Ya gadis itu kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terpending
(Astogeh moloran banget deh kek author kalo hari minggu ups keceplosan deh*Author*)

(Gambar sebagai dukungan ajah)
Tlap...tlap...tlap...
Terdengar derap langkah seseorang. Seorang pria masuk ke kamar gadis itu dengan membawa segelas susu dia meletakan susunya di meja
dekat ranjang gadis itu, dan melangkah menyibakan gorden hingga matahari pagi menyeruak masuk ke dalam.
Perlahan-lahan pria itu membuka selimutnya membuat gadis itu menyipitkan matanya dan mendengkus kesal.
"Agrrrrrrr!!!!!!"gumamnya kesal .
"Morning baby, let's wake up ... I've prepared warm milk for you," (Pagi sayang, ayo bangunlah aku sudah menyiapkan susu untukmu) ucap kakanya sambil mengecup kening Viana.
Viana terpaksa membuka matanya yang tidak berkompromi untuk bangun, dan langsung melihat pemandangan wajah kakanya yang subhanallah guantengnyaaaa. (Justin Bieber lewat dehhhh *author*)
Seulas senyum mengembang diwajah pria itu membuat kesan siapapun yang menatapnya langsung klepek-klepek bak ikan terlepas dari habitatnya.
"Get ready ... soon at 7:00 it's time for breakfast. mom and daddy are waiting for you below," ( bersiap-siaplah... sebentar lagi pukul 7:00 am waktunya untuk sarapan. Mom and Daddy sedang menunggumu di bawah) terang kakanya lagi sambil mengacak-acak rambut Viana.
Mau tidak mau Viana terpaksa bangun dan berjalan gontai ke kamar mandi untuk bersiap-siap.
Selain keluarga berdarah biru,dia juga keluarga yang disiplin waktu. Semua jam makan, tidur, kumpul keluarga sudah terjadwal dengan rapi. Dan banyak peraturan ketat yang harus dipatuhi semua anggota keluarga Adiwijaya. Semua itu dibina agar menciptakan keluarga yang disiplin dan teratur.
🍃🍃🍃
Tak butuh waktu lama untuk bersiap-siap.Viana mengenakan celana jeans hitam dan atasan baju T-shrit putih bertuliskan huruf V & N baju itu kembali mengingatkan Viana akan pria berinisial N itu yang dibuatnya saat di LA. Jaket dia sampirkan kepundaknya, satu semprotan parfum Paris beraroma bulgarian rose sudah membuatnya harum tahan lama.
Setelah siap Viana bergegas menuruni tangga untuk sarapan. Semua anggota keluarga sudah berkumpul menunggu kedatanganya.
"Morning Gressyll ... ayo duduklah," ucap nyokapnya sambil mengoleskan selai coklat pada rotinya.
"Morning too mom ...," jawab Viana dengan datar. Ya seperti itulah Viana sekarang sikapnya yang berputar 180° membuat anggota keluarga Adiwijaya bingung bagaimana mengembalikan Viana seperti dulu yang ceria.
"Apa schedule kamu hari ini Gressyll ?" Ucap dadynya berusaha mencairkan suasana .
"Ke toko buku," singkatnya.
"Biar Gressyll aku yang antar," tawar kak Fero.
"Bukankah kau hari ini ada survei lapangan mengenai bisnis yang kemarin Fero?" Tanya daddynya menyerobot.
"Tak bisa di-delay dad?" Ucap kak Fero murung.
"Kau tau sayang ini bisnis penting akan ada klien dari America datang jadi partner bisnis daddy.Daddy tak ingin mengecewakanya, kau paham Fero?" Jelas daddynya membuat hati Fero dongkol tapi mau bagaimana lagi takdir berkata lain.
"Tak payah kalian ribut aku bisa pergi sendiri, aku bukan gadis kecil seperti dulu lagi yang harus kalian jaga kesana kemari. Percayalah aku akan baik-baik saja," titah Viana sambil menggigit roti potongan terakhir sarapanya.
"Gressyll dengarlah ... daddy tak mau tau berapa umurmu sekarang, yang daddy tau kau tetap gadis kecil daddy," kata daddynya membuat Viana sedikit nyaman melupakan kesedihan yang menyelimuti hatinya.
"Benar kata daddy sayang,baiklah kau akan mengendarai motor lamamu bukan? boleh saja asalkan kau berhati-hati dan bodyguard yang akan menjagamu," ucap momnya angkat suara.
Viana bergegas menuju gerbang utama. Terlihat motor Kawasaki Ninja 250 Fi menantinya. Motor yang baru dibelikan daddynya bulan kemarin di LA sebagai hadiah ranking, motor yang setia menemaninya kemanapun Viana pergi, tak hanya itu motor itulah yang selalu mengingatkan Viana pada kekasihnya.
Viana mulai menghidupkan motornya dan melaju setelah dibukakan gerbang oleh Security diikuti bodyguard pastinya.
Viana heran entah sampai kapan dia bisa bebas tanpa pengawasan dan seeye. Keluarganya masih menganggap Viana gadis kecil yang harus diawasi 24 jam nonstop, kemanapun dia pergi harus dijaga bodyguard, makan harus higienis dan 4 sehat 5 sempurna pastinya. Hampir semua scedule harian Viana diatur oleh keluarganya.
So??? Anak pingitan banget nggak sih??? Semua itu dilakukan demi kebaikan Viana sendiri,Viana paham akan perilaku keluarganya tapi ini terlalu posesif kan?
Viana mengendarai motornya dengan kecepatan normal. Pemandangan kota metropolitan ini berbeda jauh dengan LA. Kota metropolitan yang penuh dengan kemacetan, banyak orang terus-menerus membunyikan klaksonya,membuat suasana semakin bising dan memacu potensi emosial menaik.
Mereka terburu-buru berangkat kerja sekolah dan menjalankan rutinitas seperti biasanya namun apalah daya mau tidak mau mereka harus bersabar.
Toko buku Gramedia terletak di Jl. Kebahagiaan No. 4 - 14 Jakarta 11140, ramai orang berdatangan kesana. Toko buku yang cukup luas dan penuh dengan buku-buku fiksi maupun non fiksi disana juga terjual surat kabar, majalah, katalog remaja, dewasa, resep makanan dan masih banyak lagi.
Viana memarkirkan motornya dan membuka helm rambut yang sedari tadi dikucirnya dibiarkan tergerai, tudung jaket mulai dia kenakan dikepalanya agar tidak ada yang tau dia anak dari keluarga berdarah biru Adiwijaya. Trauma masa lalunya cukup membuat Viana depresi dan identitas dirinya tidak ingin diketahui khalayak umum.
Viana memberi isyarat dengan gestur agar bodyguard-nya tetap menunggu di luar, mereka pun mengangguk tanda mengerti. Viana membuka pintu toko dan langsung mencari buku yang dicarinya.
Satu demi satu buku dia telusuri dan tibalah pada satu rak besar disitu tertulis Kamus Lengkap Berbagai Negara, Viana mengambil satu kamus Indonesia-Jepang dan menaruhnya dikeranjang belanja.
Setelah itu Viana melangkah pergi mencari buku Ensiklopedia untuk menambah buku pengetahuan agar tidak tertinggal pelajaran di Indonesia. Perbedaan mata pelajaranlah yang membuat Viana harus menyiapkan semua materi yang akan dia pelajari disini.
Tatkala Viana sedang asik memilih buku yang akan dibelinya, tiba-tiba entah darimana seorang cowo kira-kira masih sebaya denganya sudah berada disampingnya sambil menceloteh panjang lebar berkecepatan tinggi dan volume keras menimbulkan getaran beberapa skala Ritcher (ehhh nggak sampai segitunya ding*author*).
Cowo yang mengenakan celana jeans dan jaket kulit terlihat kesal sambil mengambil buku lalu dikembalikanya dengan asal. Viana tetap asik dengan buku yang dicarinya meskipun hatinya dongkol mendengar celotehan unfaedah cowo stupid disebelahnya membuat kupingnya terasa panas.
"Shit!!! Apaan coba kaka ngajak ke toko buku mending ngajak nonton, nongkrong, ke cafe, ke mall atau kemana kek! Ini malah kesini mana cuma ada buku-buku nggak penting kaya gini lagi!" Celoteh cowo itu sambil mengembalikan buku asal.
Mendengar celotehan unfaedah dari cowo itu mending Viana cabut pulang kerumah daripada membuang-buang waktu percuma disini, lagian buku yang Viana inginkan sudah didapatkanya.
Viana membalikan tubuh dan tanpa disadari cowo itu sudah berada tepat dibelakangnya alhasil mereka tabrakan, buku-buku yang dibeli Viana jatuh kelantai.
Brukkk!!!
"Woy lu kalo jalan pake mata dong!" Bentak cowo itu. Viana acuh tak acuh dengan bentakanya, dia terlalu fokus mengambil buku-buku yang jatuh dan merapikanya kembali seperti semula.
"Hey lu bolot pake bisu ya? Oooo gue tau sekarang lu pasti sengaja ngelakuin ini biar gue bantuin lu mungutin buku-buku itu kan? Terus saling pandang-pandangan kaya didrama korea, iya kan? Ngaku ajah lu sekarang...secara gue kan pangeranya para cewe-cewe. Banyak tuh cewe cantik sampai cupu sekalipun pada ngantri demi nge-date bareng gue ...ya minimal minta tanda tangan gue lah. Ngaku lu sekarang! atau jangan-jangan lu fans fanatic gue ya?" Celotehnya panjang lebar sambil membanggakan diri.
" Damn it! Apaan sih nih cowo kepedean banget,najis gue fans fanatiknya mungkin urat malunya udah putus kali yah?!" umpatnya dalam hati.
Celotehan cowo itu tidak digubrisnya sama sekali jangankan melihat meliriknya ajah udah jijay. Setelah selesai merapikan buku-bukunya Viana bangkit dan ngeloyor pergi tanpa melirik cowo itu tapi kaki kananya sempat mendaratkan di kaki kiri sicowo dengan satu hentakan keras cukup membuat cowo itu meringis kesakitan.
"Awwwww!!! Woy cewe sinting sini lo! Sialan berani-beraninya nginjak kaki pangeran. Awas ajah gue bakal bikin perhitungan sama lu! Nggak
bakal gue lepasin dengan mudah!!!" teriak cowo itu keras, Viana tetap melangkah menuju kasir setelah selesai membayar dia langsung keluar dari toko itu.
" Shit!Dasar cewe sinting!!!belum pernah gue diperlakukan kaya gini!" Geramnya dalam hati entah kenapa nalurinya berkata bahwasanya akan bertemu lagi dengan cewe itu.
Ketika masih memikirkan insident langka barusan seseorang menepuk pundaknya membuat dia terlonjak kaget.
" Hey what happened to you brother? are you okay? Keliatanya kesel gitu, ribut sama siapa sih?" Ujar pria itu sambil celigak-celinguk mencari sosok yang ribut dengan adiknya.
"Never mind! Nggak penting! Kuy cabut," jawabnya singkat seraya pergi meninggalkan kakanya yang masih bingung dibuatnya.
"Ehh lu udah cari buku yang gue suruh belum?" tanya kakanya setengah berteriak. Pertanyaanya tak membuahkan jawaban oleh adiknya.
"Dasar kepala batu, masih saja kaya anak kecil," gumamnya lirih.
Mereka pun ikut meninggalkan toko itu jelang 15 menit setelah Viana.
-- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- --
-- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- -- --