Let me Love You

Let me Love You
Bab 19.



Toni melanjutkan langkah nya ke kamar dengan perasaan riang. Dia seolah tidak menginjak bumi. Hatinya melayang menembus awan. Andin mencium lembut pipinya. Dan itu sukses membuat hati Toni berbunga-bunga.


Dia merebahkan diri di ranjangnya. Tak sabar menunggu hari esok. Pujaan hatinya kini telah menerima nya. Apa lagi yang di inginkan oleh Toni. Detik ini juga, mati pun dia rela. Tak terasa Toni tertidur dengan senyum tersungging di bibirnya.


Di dalam kamar nya Andin malah gelisah. Dia sangat malu atas kelakuan nya tadi. Tapi dia sudah memikirkan nya masak-masak. Andin akan membuka hatinya untuk Toni. Dia lelaki yang sangat baik. Begitu pula dengan kedua orang tuanya.


Pagi hari di meja makan keluarga Natalie. Kedua sejoli ini terlihat salah tingkah. Kalau dulu di Jakarta, Toni terbiasa mendekati Andin dengan vulgar, dia malah menjauhi nya. Tapi ketika Toni terkesan kalem, justru Andin malah lebih agresif dengan nya.


Mereka saling melempar pandang dan tersenyum. Adam dan Natalie sampai heran di buatnya. Seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.


"Semalam kalian habis mabuk??".


"Toni,, Andin...mom sedang bicara dengan kalian".


"Tidak mom,,, aku yang mengantar mu ke kamar kan??".


"Mana mungkin kau menuduh ku seperti itu".


"Lalu apa ini, jelaskan pada mom sekarang juga".


"Sayang,, kau seperti tak pernah muda saja".


"Mereka sedang jatuh cinta, sama seperti sikap mu dulu".


"Kau juga malu-malu memandang ku".


"Dear Adam,, kau benar juga,, mereka kan baru saja menghabiskan waktu bersama".


"Kenapa aku tidak menyadari hal ini".


"Bella sayang, wajahmu bersemu merah".


"Kau ikut aku hari ini, kita ke butik Vaness".


"Gaun pengantin kalian sudah jadi".


"Kalian bisa fitting hari ini kan??".


"Toni.......!!!!".


"Iya mom,, aku mengerti".


Adam dan Natalie tertawa melihat tingkah Toni dan Andin. Mereka segera melanjutkan sarapan dan berangkat menuju ke butik Vaness untuk fitting baju pengantin.


Di hotel, Vanessa sedari pagi sudah berdandan cantik. Dia berharap Bram mengajaknya keluar rumah. Namun Bram masih tertidur di kamar hotel..Sementara Vanessa menerima telepon dari ibunya. Hari ini jadwal fitting baju, jadi ibunya tidak bisa ikut jamuan makan siang dengan teman-teman Vanessa.


"Mami, kau tenang saja, aku bisa mengatasi semuanya di sini".


"Lagi pula kau sudah janji dengan Natalie bukan,, jangan buat putranya kecewa".


"Lain waktu kita atur lagi jadwalnya".


"Ok mami,, good luck!!".


"Dan sampaikan salam ku pada Bella dan Toni".


Vanessa menutup telpon nya dan melanjutkan make up nya. Sementara Bram terbangun mendengar kata Bella di ucapkan oleh istrinya. Dia segera berbalik dan menyapa Vanessa.


"Kau ada janji dengan Bella hari ini??".


"Tidak Bram,, aku free, mami menggantikan ku untuk fitting baju pengantin Bella dan Toni".


"Sayang,, kau tidak boleh seperti itu,, namanya tidak professional".


"Ayo,biar aku yang mengantar mu ke sana".


"Kau serius Bram,, kau mau mengantar ku ke butik??".


"Iya sayang,, setelah itu kita bisa jalan-jalan".


"Kau mungkin bosan terkurung di hotel ini".


"Tunggu aku sebentar,, aku akan segera bersiap".


Sebuah kejutan besar bagi Vanessa ketika Bram memanggil nya dengan kata sayang dan bersedia menemaninya keluar. Tanpa berpikir panjang lagi, dia menyambut tawaran Bram dengan senang hati.


"Ayo cepat sayang, aku sudah selesai".


"Bagaimana penampilan ku??".


"Tak salah aku memilih mu jadi suami ku".


"Sudah basa-basi nya, kau tak ingin terlambat kan,, ayo kita segera berangkat".


Bram dan Vanessa segera menuju tempat parkir dan menaiki mobil nya. Tempat tujuan mereka adalah butik Vanessa. Di sana nanti, Bram akan mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan. Andin. Makanya dia bersemangat untuk mengantar Vanessa.


Toni dan Andin tiba di Vaness butik, setelah mengantar orang tuanya ke kantor. Tiba-tiba ada urusan penting yang tidak bisa di wakilkan. Jadi mereka hanya pergi berdua saja ke butik.


Toni dan Andin di sambut oleh ibu Vanessa. Dia menyuruhnya menunggu di ruang tamu, sementara ibu Vaness menyiapkan gaun pengantin nya.


"Kau gugup,,santai saja Bella, ini baru fitting saja".


"Tetap saja aku gemetaran, ini pertama kali bagi ku, seseorang mengajak ku serius menjalani hubungan".


"Kemarilah.....aku akan membuatmu lebih baik".


Toni merengkuh bahu Andin dan membawanya ke dalam dekapan nya. Dia menggenggam tangan nya supaya Andin tidak merasa gugup. Setelah itu, dia mengusap bahu Andin pelan sampai gadis itu merasa rileks di pelukan nya.


Tepat di saat itu, Bram dan Vanessa masuk. Mereka berdua terkejut dan segera melepaskan pelukan nya.


"Hmm ....kalian mesra sekali,,aku jadi iri melihatnya".


"Sayang,,,kau bisa kan menjadi romantis seperti mereka berdua".


Bram tidak menjawab, Dia sibuk mengendalikan arah nya. Melihat Toni dan Andin tadi berpelukan, kalau bukan di Inggris, entah sudah jadi apa Toni sekarang, habis di pukuli oleh Bram.


"Sayang,,kau mendengar ku tidak??".


"Iya,, aku dengar Vaness".


Toni dan Andin menoleh bersamaan mendengar suara yang tak asing di telinga nya. Mereka kemudian berdiri dan menyambut kedatangan Bram dan Vanessa.


"Bella, senang sekali melihat mu,, kau semakin cantik saja".


"Jaga dia Toni,, atau lelaki di luar sana akan sibuk memandang kecantikan Bella".


"Kau juga semakin cantik Vanessa, menjadi pengantin membuat aura mu makin bersinar".


"Hmmm..ini tak akan selesai, ayo kita ambil gaun pengantin mu dulu".


"Rupanya kau gerak cepat Toni,, kau takut Andin akan kembali pada ku bukan??".


"Kau salah, dia bukan Andin,, tapi Bella".


"Kau lihat kan, dia tak mengenali mu".


"Dia hanya sedikit lupa,, sebentar lagi aku akan mengingat kan nya pada kemesraan kami".


"Jangan buang waktu mu untuk melakukan fitting, karena kau tak akan pernah memakainya".


"Bicaralah sesuka mu, aku tidak perduli".


Toni meninggalkan Bram dan menyusul Andin. Dia sedang mencoba gaun nya. Saat Toni melihatnya, dia sangat terpesona. Andin luar biasa cantik.


"Bagaimana Toni,, kau menyukai gaun ini??".


"Tentu saja, indah sekali kalau kau yang memakainya".


"Benar, kau tampak seperti putri".


Bram ikut masuk ke ruang fitting, di lihatnya Andin tampak memukau. Dia bahkan tak berkedip melihat bidadari di depan nya.


"Sayang,, bagaimana menurut mu, Bella cantik bukan??".


"Hmmm......biasa saja,, kau jauh lebih cantik".


"Tentu saja, aku kan istri mu, Toni bisa marah kalau kau memujinya".


"Bella kau bisa putuskan gaun mana yang akan kau pilih".


"Ayo Toni, ikuti aku...kita akan mencoba jas mu sekarang".


Vanessa dan Toni meninggalkan Andin dan Bram berdua di ruangan fitting. Kesempatan itu tak di sia-sia kan oleh Bram. Dia langsung mendekati Andin yang sedang bercermin.


...****************...