Let me Love You

Let me Love You
Bab 53.



Pagi-pagi sekali Andin sudah berdandan. Selain hari ini sudah boleh pulang, dia juga akan mengunjungi suaminya di kamar nya.


Perawat masuk membawakan obat dan surat kontrol untuk Andin.


"Suster, hari ini saya sudah boleh bertemu dengan suami saya kan??".


"Boleh Bu Andin, silahkan".


"Kalau begitu, di kamar mana suami saya di rawat sekarang?".


"Tolong beritahu saya suster, ada kejutan yang ingin saya berikan padanya".


"Tapi Bu, pak Toni sudah di pindah kan dari rumah sakit ini".


"Beliau sudah tidak di sini lagi".


"Tolong jangan bercanda suster,,".


"Cepat katakan, di kamar mana Toni di rawat sekarang??".


"Suster sedang tidak bercanda Andin".


"Suami mu sudah di pindahkan ke Inggris dua hari yang lalu".


"Kenapa tidak ada yang memberitahukan hal ini pada saya".


"Saya kan istrinya,, cepat suster, antar saya menemui dokter sekarang".


"Ayo,, biar aku yang mengantar mu, Andin".


Bram mengantar Andin ke ruangan dokter yang merawat Toni. Keduanya masuk ke ruang periksa.


"Katakan dokter, sebenarnya suami saya kenapa??".


"Tidak ada seorang pun yang bilang kalau dia di pindahkan ke Inggris".


"Katakan yang sebenarnya dokter".


"Maaf Bu Andin....tapi, pak Toni sudah berpesan kepada kami untuk tidak memberitahukan kondisi medisnya pada siapa pun".


"Tapi saya istrinya dokter,, tolonglah...beri saya penjelasan,, atau berikan rekam medisnya".


"Maaf Bu, saya tidak bisa, lagipula rekam medisnya di bawa pak Toni ke Inggris".


Andin langsung lemas seketika. Dia sama sekali tak tahu apa yang coba di sembunyikan darinya, terkait keadaan nya. Dia hanya berharap kalau Toni sudah membaik keadaan nya sekarang.


"Sebaiknya ku antar kau pulang Andin".


"Pulang ke mana Bram,, aku bahkan tidak punya tempat lagi sekarang".


"Kau bisa tinggal di rumah mu yang dulu".


"Nanti kita bicarakan rencana selanjutnya".


"Bram,, kau yang menolong kami saat itu kan??".


"Apa Toni hilang ingatan atau tidak sadarkan diri, atau keadaan nya kritis??".


"Tidak,, dia baik-baik saja, bahkan dia sudah sadar saat di bawa ke Inggris".


"Kau jangan terlalu mencemaskan dirinya".


"Pikirkan dulu kesembuhan mu".


"Kalau bisa, aku ingin sekali menyusulnya".


"Aku bisa mengantar mu kalau kau mau".


"Tapi Bram,, kondisi ku masih belum memungkinkan".


"Harus menunggu keterangan dari dokter dulu".


"Ya sudah,, kita pulang dulu sekarang".


Andin memeriksa ponselnya yang baru. Tidak ada pesan masuk atau kabar dari Toni. Hanya ada fasilitas M-banking di sana. Dan saldo yang di berikan oleh Toni sangat besar jumlahnya. Toni juga mengirimkan sebuah kartu kredit tanpa limit kepada Andin.


Sepanjang jalan, Andin hanya terus melamun.


Berpikir kenapa Toni harus pergi tanpa pamit.


Rasanya dia sama sekali tidak merasa berbuat kesalahan. Kenapa hal ini justru terjadi di saat Andin hendak memberi kabar gembira padanya.


"Kau melamun Andin??".


"Sebaiknya jangan terlalu banyak berpikir Andin".


"Kau baru saja sembuh, jadi untuk sementara


kau harus menjaga kondisi tubuh mu".


"Iya,terima kasih banyak Bram".


Mobil Bram sampai di depan rumah kontrakan miliknya. Mereka turun dan langsung masuk ke dalam.


"Kau ingin tinggal di sini, atau aku akan sewakan apartemen untuk mu?".


"Aku di sini saja Bram, ini memang rumah ku bukan??".


"Secepatnya aku akan mencari kerja dan mengganti uang mu".


"Sudahlah....Andin, aku tak butuh uang dari mu".


"Aku sudah senang kau mau kembali tinggal di sini".


Bram memandang wajah Andin. Kesedihan tampak membayangi wajahnya. Bram tak mengerti apa yang di pikirkan oleh Toni, hingga dia nekat kembali ke Inggris dan meninggalkan Andin tanpa kabar dan berita.


Bram keluar dari rumah kontrakan milik Andin. Sampai di luar rumah, dia mencoba menghubungi Toni. Tersambung, tapi tidak di jawab. Berkali-kali dia mencoba, tapi tidak juga ada jawaban.


Di sebuah kamar di London, seorang pria duduk di atas kursi roda. Bunyi ponsel yang berdering keras, tidak juga menyadarkan dirinya dari lamunan. Di luar kamar, sepasang suami istri hanya bisa menangis melihat keadaan putranya tersebut.


Sejak kecelakaan yang menimpa nya beberapa hari lalu, putranya sudah tidak punya semangat hidup lagi. Setiap hari kerjanya hanya melamun. Makanan yang di antarkan kepadanya tidak pernah di sentuhnya. Dia sudah benar-benar kehilangan segalanya, baik kakinya ataupun hidupnya.


Bayangan Andin terkadang berkelebat mengganggu pikiran nya. Toni sangat mencintainya. Itulah sebabnya, dia memutuskan meninggalkan Andin dan menghilang dari hidupnya. Toni tak ingin Andin seumur hidup harus menanggung beban melayani orang yang cacat seperti dirinya. Biarlah Andin mencari kebahagiaan nya sendiri. Toni yakin, tanpa dirinya Andin akan jauh lebih berbahagia.


"Toni sayang, makan lah dear...".


"Mom sudah masak sesuatu yang enak untuk


mu".


"Ayo sayang,, biar mom suapi diri mu".


"Tolong tinggalkan aku sendiri mom".


"Aku tak ingin apapun,,, please mom".


"Tapi dear, kau bisa sakit nanti kalau terus-menerus tidak makan".


"Biarkan saja mom,, itu lebih baik karena aku justru ingin mati saja mom".


"Jangan seperti itu Toni,, kita bisa lakukan car lain".


"Mom sudah minta dokter membuatkan mu kaki palsu nak".


"Mom yakin kau akan bisa beraktifitas kembali".


Bujukan Natalie sama sekali tak di hiraukan oleh Toni. Dia tetap saja mengurung diri di kamarnya. Tak ada lagi semangat baginya untuk hidup. Kalau perlu dia malah akan mengakhiri hidupnya.


Bunyi ponsel berdering, diikuti pesan suara dari Andin mengagetkan nya. Sudah lama, sejak kecelakaan Toni tak pernah lagi mendengar ocehan nya di pagi hari. Dia juga tak lagi bisa merasakan perhatian dan tatapan manja dari istrinya tersebut.


"Toni sayang, aku sangat merindukan mu".


"Aku yakin kau pasti mendengar pesan ku ini".


"Tolong, hubungi aku secepatnya".


Banyak sekali pesan suara yang di kirimkan Andin untuk dirinya. Ingin rasanya Toni menekan tombol panggilan dan bicara dengan nya. Namun kembali dia urungkan niatnya. Dia malu karena sekarang sudah menjadi orang yang cacat.


Hanya pesan suara itulah penghibur nya saat dia merindukan Andin. Tanpa Toni tahu bahwa sebenarnya Andin juga sangat merindukan kehadiran nya. Berpuluh bahkan Beratus pesan suara sudah di kirimkan ke nomer suaminya. Andin tahu kalau Toni selalu mendengarkan, tapi dia sama sekali tak pernah membalasnya.


"Kau kenapa sebenarnya Toni,, apa yang terjadi padamu".


"Kau meninggalkan ku dan calon buah hati kita".


"Aku sangat membutuhkan diri mu saat ini".


"Ku mohon Toni, sekali saja angkat telepon dari ku".


Andin lagi-lagi hanya bisa menangis. Setiap mengingat Toni, hatinya benar-benar merana.


Toni sama sekali belum tahu kalau Andin tengah hamil. Di rahim nya sekarang ada buah cinta mereka berdua. Itulah mengapa Andin harus berjuang sendirian untuk buah hatinya. Walaupun Toni sudah sengaja meninggalkan dirinya. Andin berjanji untuk merawat dan membesarkan nya walaupun tanpa kehadiran Toni sebagai ayah dari bayi yang sedang di kandungnya.


...****************...