
Pagi pertamanya di Jakarta Dil lewatkan Andin dan Toni di hotel. Kali ini dia terbangun sendirian. Toni kebetulan ada urusan bisnis yang harus di kerjakan. Mumpung ada di Jakarta, dia sekalian memeriksa perusahaan yang sudah lama di tinggalkan nya.
Andin segera bangun dan berganti pakaian. Dia sekali lagi ingin mengunjungi rumah nya. Memastikan dengan benar, kalau barang-barang nya memang sudah tidak ada. Lagipula dia penasaran dengan orang yang membeli tempat tersebut.
Andin berada di dalam mobil, menuju rumah kontrakan, setelah sebelumnya meminta ijin kepada Toni. Masih pagi ketika dia tiba di rumah bekas kontrakan nya.
Andin memandang rumah yang ada di depan nya. Tampak lampu di dalam menyala, setelah semalam di lihatnya lampu masih padam. Itu berarti pemilik rumah pasti ada di dalam. Buru-buru Andin mengetuk pintu kontrakan, untuk memastikan siapa pemilik rumah sebenarnya. Cukup lama Andin menunggu, sampai pemilik rumah itu keluar.
Betapa terkejutnya Andin saat tahu kalau Bram yang membuka kan pintu rumah. Dan dia sepertinya belum menyadari kalau Andin yang ada di depan rumah nya.
"Bram,, jadi kau yang membeli rumah ini ??".
Bram terkejut mendengar suara Andin. Dia langsung membuka matanya dan memandang lekat wanita yang ada di depan nya.
"Kau rupanya,,, tentu saja,,apa ada masalah??".
"Kau sudah meninggalkan nya bukan, jadi aku membelinya untuk ku tempati".
"Dan...barang-barang ku??".
"Masuklah Andin, tidak baik bicara di depan pintu seperti ini".
Ragu-ragu Andin menerima undangan dari Bram. Namun, sedetik kemudian dia melangkahkan kakinya masuk ke rumah kontrakan nya. Sudah lama sekali, dan rumah ini masih tetap sama. Hanya saja terlihat lebih bersih, rapi dan modern.
Deretan lemari kaca berisi pakaian dan pernak-pernik wanita, tersimpan rapi berjajar di ruang tamu. Selebihnya hanya barang-barang pria, tentunya itu milik Bram.
Andin mendekati lemari kaca yang berisi barang-barang miliknya. Dia memutar kunci dan membuka lemari tersebut. Semua miliknya tersimpan rapi dan wangi di tempatnya. Semua kenangan nya masih utuh dan lengkap tanpa ada yang hilang.
"Kenapa kau lakukan ini Bram??".
"Kau membeli rumah ini hanya untuk menyelamatkan barang-barang ku bukan??".
"Aku hanya sedang menunggu Andin".
"Saat pemiliknya berada jauh dari tempat ini, maka hanya ini yang bisa ku lakukan".
"Sambil terus berharap, suatu saat dia ingat jalan pulang".
"Dia tahu harus kemana, karena tempat ini selalu ada dan setia menunggu dirinya".
Di balik punggungnya, Andin meneteskan air mata. Dia tahu maksud ucapan Bram. Laki-laki itu berharap kalau Andin masih akan kembali. Dan dia tahu benar bahwa Andin memang pasti kembali.
"Jangan seperti ini Bram,,kita hanya akan saling menyakiti".
"Kau tak perlu melakukan ini, karena kau tahu betul, aku tak bisa kembali".
"Kenapa tidak,,kau hanya harus meninggalkan Toni dan kembali bersamaku".
"Kau tahu itu tidak mungkin kan Bram??".
"Kenapa tidak mungkin Andin??".
"Apa karena Toni lebih kaya dan terkenal daripada aku??".
"Atau lebih tampan mungkin??".
"Kau tahu aku bukan wanita seperti itu".
"Dari kecil aku sudah terbiasa mandiri".
"Tak sedikitpun aku memikirkan harta".
"Kalau begitu, kenapa kau menolak kembali bersama ku".
Andin terdiam. Kerongkongan nya tercekat. Sulit bagi Andin menjelaskan kalau Bram tak lagi ada di hatinya. Kalau sekarang dia hanya jatuh cinta pada Toni saja.
"Bram, ijinkan aku membawa barang-barang ku".
"Kurasa di sini juga tidak ada gunanya bagi mu kan??".
Bram mendekati Andin dengan tatapan penuh amarah. Dia mencengkram bahunya erat.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku Andin".
"Kenapa kita tidak mungkin bisa kembali".
"Jawab....!!!".
Andin terkejut melihat sikap Bram. Selalu seperti ini kalau dia sedang marah. Untung saja Andin sudah hafal betul dengan perangainya ini.
"Sudah lah,, kendalikan diri mu Bram".
"Vanessa ada bersama mu sekarang".
"Dia istri yang baik,,,dan dia berhak mendapatkan kebahagiaan".
"Kau tahu betul kalau aku tidak mencintai nya".
"Maka, cobalah untuk mencintainya Bram".
"Vanessa berhak mendapatkan itu dari mu".
Bram kehilangan kesabaran nya. Dia memukul meja kaca yang ada di depan nya, hingga hancur berkeping-keping. Darah segar mengucur dari sela-sela jemari tangan nya.
Saat masih bersama, hal ini tentu akan membuat Andin panik. Tapi kali ini dengan tenang, Andin mengambil panci berisi air hangat dan segera mengobati tangan Bram.
"Jangan lakukan hal bodoh ini lagi".
"Belum tentu Vanessa bisa sabar seperti diri ku saat berhadapan dengan mu".
"Jangan sampai kau menyesali perbuatan mu di kemudian hari".
"Nah,,,,sudah selesai Bram".
Sikap Andin yang tenang tanpa emosi, semakin memancing kemarahan Bram. Dia malah melampiaskan kekesalan nya kepada Andin.
"Sebenarnya hati mu terbuat dari apa Andin??".
"Apa kau tak sadar kalau sikap mu ini perlahan-lahan bisa membunuhku".
"Jangan terlalu baik pada ku, kalau akhirnya kau pergi juga dari sisi ku".
"Sudah cukup Bram,,jangan lagi bersikap seperti anak kecil".
"Ijinkan aku membawa barang-barang ku dan aku akan pergi dari sini".
"O..ya,,lalu bagaimana kalau kali ini kau harus tetap tinggal disini bersama ku".
Bram mengunci pintu dan memasukkan ke dalam sakunya. Andin sama sekali tidak menyadari akan jadi seperti ini. Dia berusaha keluar dari rumah itu. Tapi, Bram hanya menonton kelakuan Andin sambil tertawa.
"Buka pintunya Bram, atau Toni tak akan mengampuni mu".
"Begitu kah,,,,kau pikir aku takut dengan nya??".
"Atau kau mau aku menelpon suami mu itu".
"Dan bilang kalau kau menginap di tempat ku malam ini".
"Kita lihat,,,bagaimana reaksinya kali ini".
Bram mengambil ponsel dari saku kemejanya dan hendak menghubungi Toni. Tapi, dengan cepat Andin merebut ponsel Bram dan melemparkan nya ke dinding. Dia kelihatan marah sekali pada Bram.
"Ini baru Andin ku....!!!".
"Aku suka diri mu yang seperti ini".
"Jangan bertindak bodoh Bram".
"Atau kau akan tahu siapa Andin sebenarnya".
"Kau begitu takut menyakiti hati suami mu".
"Sementara, demi mendapatkan mu, dia mematahkan hati banyak orang, terutama aku".
"Kita berdua ini korban Andin".
"Suami mu yang licik itu, pintar sekali memanfaatkan situasi".
"Sudah cukup,,,hentikan ku bilang".
"Aku lelah berdebat dengan mu Bram".
"Buka pintunya sekarang,, aku harus pulang, atau Toni akan mencari ku".
"Ku mohon Andin, untuk malam ini saja, tinggal lah di sini bersama ku".
"Setelah itu aku janji, tak akan lagi mengganggu mu".
"Bram,, terimalah takdir kita masing-masing".
"Kita sudah punya pasangan, jadi mustahil bagi kita untuk bersikap seperti ini".
"Jalani hidup mu dengan Vanessa, dan biarkan aku bersama Toni".
"Lupakan semua yang sudah pernah terjadi".
"Dan mari kita berdamai dengan hati kita sendiri".
Sekuat hati Andin mencoba menjelaskan kepada Bram. Namun, laki-laki itu tetap bergeming. Dia sama sekali tak berniat membuka pintu dan membiarkan Andin pulang. Andin masih harus bersabar menghadapi ulah Bram yang tidak masuk akal.
...****************...