Let me Love You

Let me Love You
Bab 50.



"Kau akan tetap di sini malam ini".


"Jangan harap kau bisa kembali ke hotel dan bersenang-senang dengan Toni".


"Malam ini kau hanya akan menjadi milik ku saja".


Andin mengambil ponsel dari dalam tas nya dan mencoba menghubungi Toni. Kelakuan Bram kali ini sungguh membuat Andin takut. Belum sampai Toni menjawab panggilan nya, Bram sudah mengambil ponselnya dan di banting ke lantai.


Di kantor Toni heran karena telepon dari Andin tiba-tiba terputus. Dia menghubungi kembali, namun nomernya sudah tidak aktif.


Toni langsung menyambar jas nya dan berlari keluar. Dia melajukan mobilnya ke rumah kontrakan Andin.


Perasaan nya memang tidak enak sejak tadi.


Dia khawatir terjadi sesuatu kepada Andin.


Untuk itulah, dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya di lokasi, Toni langsung bergegas menuju rumah kontrakan Andin.


Dari luar pintu di tutup rapat. Semula Toni ragu-ragu, namun akhirnya dia beranikan diri untuk mengetuk pintu rumah tersebut.


"Andin,, apa kau di dalam,, tolong buka pintunya!!".


Mendengar suara Toni di luar rumah, Andin segera berteriak memanggilnya.


"Toni,,aku disini, tolong aku Toni...!!".


Andin hendak berlari ke pintu, tapi dengan cepat Bram menangkapnya. Dia langsung membekap mulut Andin dan menodongkan pisau ke lehernya.


"Sekali lagi kau berani membuka mulut mu,, pisau ini akan langsung mendarat di leher mu".


"Diam saja,,, dan jangan bergerak, juga bersuara".


Dari luar masih terdengar suara Toni menggedor pintu. Bram membawa Andin ke kamar dan menutup pintunya. Karena tak sabar, Toni akhirnya mendobrak pintu dan mencari Andin di dalam rumah.


"Andin,, kau di mana??".


Toni berlari menuju kamar karena terdengar suara gaduh dari luar. Belum sempat membuka pintu, dari dalam Bram keluar bersama Andin.


Melihat pisau terhunus di depan leher istrinya, Toni kemudian menghentikan gerakan nya.


"Diam di situ, kalau kau tak ingin nyawa istri mu melayang".


"Lepaskan Andin, biar aku yang menggantikan nya".


"Manis sekali kau Toni,,,".


"Sayangnya, aku hanya mau Andin dan bukan diri mu".


"Jangan gila Bram,,lepaskan Andin sekarang juga".


"Jangan mengatur ku Toni,,aku tak suka ada orang yang suka ikut campur".


"Toni,,sayang...sebaiknya kau diam di situ saja".


"Aku tahu kalau orang ini tak akan mungkin menyakiti ku".


"Pikirkan diri mu sendiri, lukamu belum sembuh".


"Oh,,,manis sekali rupanya kau pada suami mu".


"Sayang nya, telingaku sakit mendengar kemesraan kalian".


"Cepat pergi dari sini, kalau kau ingin Andin selamat".


"Ayo.....keluar sekarang!!!!".


Pelan-pelan Toni melangkah menuju pintu. Dia tetap bersikap waspada. Saat Bram hendak menutup pintu, kesempatan itu di gunakan Toni untuk menendang pinggangnya. Bram tersungkur ke depan dengan pisau terlempar ke atas.


Toni segera menarik Andin keluar lalu menutup pintunya. Bram langsung berdiri dan membuka pintu. Sayang, kedua pasangan itu sudah pergi menggunakan mobilnya.


"Kenapa kau bisa bersama Bram di rumah itu??".


"Aku tak tahu kalau ternyata, Bram pemilik rumah itu sekarang".


"Bram membelinya karena ingin menyelamatkan barang-barang ku".


"Tapi dia menolak memberikan nya".


"Sudah Andin,,jangan lagi ke sana".


"Kau tahu kan sekarang, Bram itu seperti apa orang nya".


"Iya sayang,,aku minta maaf".


"Ku kira pemilik rumah itu tadi orang lain".


"Apa kau akan terus marah seperti ini??".


"Aku kan sudah minta maaf sayang".


"Apa,,,harus seperti ini dulu, baru kau memaafkan ku".


Andin reflek mencium pipi Toni. Dia masih diam saja tak bereaksi. Kali ini Toni benar-benar marah pada Andin. Ciuman darinya sama sekali tak berpengaruh. Alhasil dia hanya bisa diam dan menunduk.


Tak di hiraukan nya mobil Toni yang menepi dan berhenti tiba-tiba. Wajah Toni menoleh ke arah istrinya dan kemudian memegang dagunya. Toni mencium lembut bibir Andin di pinggir jalan. Mereka tak menghiraukan teriakan para pengguna jalan yang lain.


Ciuman Toni begitu dalam dan lama, sampai Andin hampir kehabisan nafas.


"Kau tahu kan sekarang, seberapa besarnya cintaku untuk mu".


"Aku hanya terlalu khawatir dan cemburu pada mu".


"Jadi, mulai sekarang, berhenti temui Bram".


"Aku tak akan mentolerir diri mu untuk alasan apa pun".


"Kau mengerti maksud ku kan??".


"Tentu saja Toni,,aku janji tak akan lagi menemuinya".


"Hidup ku saat ini hanya untuk mu saja".


"Jadi, tolong jangan ragukan cinta ku pada mu".


"Iya sayang,,aku pun juga seperti itu".


Keduanya kembali berciuman. Seolah dunia hanya milik mereka. Pasangan ini meluapkan


kerinduan nya, setelah lama tidak bermesraan .


"Apa kita akan tetap di sini??".


"Aku tak enak dengan tatapan mata orang-orang itu".


"Kita kembali ke hotel saja sekarang".


"Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu".


Toni segera menjalankan mobilnya kembali ke hotel. Sementara Bram masih terlihat sangat kesal karena dirinya gagal lagi membujuk Andin. Tadinya Bram mengira Andin akan simpati dan berterima kasih padanya. Namun semuanya jadi kacau karena kehadiran Toni. Hingga dia sampai pada puncak kemarahan nya. Dia menelpon orang yang bersedia menghabisi Toni.


"Aku punya pekerjaan penting untuk mu".


"Boleh saja , asal kan harganya cocok".


"Baiklah,, aku akan kirim detail informasi tentang dia, serta uang mukanya".


"Buatlah seolah-olah kecelakaan, lalu kau habisi dia".


"Aku hanya ingin dia lenyap dari muka bumi".


"Ok,, aku akan kirim harganya kepada mu".


Bram menutup sambungan telepon nya. Kali ini dia sudah bertekad kalau Toni harus mati. Mungkin itu satu-satunya cara supaya Andin kembali ke pangkuan nya. Dia menyewa jasa pembunuh profesional untuk menjalankan rencananya.


"Maaf Toni,, sepertinya nyawamu harus berakhir di tangan ku".


"Setelah kau mati, mungkin Andin baru mau kembali pada ku".


"Dalam cinta,, apapun sah di lakukan Toni".


"Tunggu sebentar lagi,, kau selamanya tak kan lagi bisa melihat dunia ini".


Bram tertawa menyeramkan. Ambisinya demi mendapatkan Andin, telah menutup hati nuraninya. Dia tak perduli lagi dengan semuanya. Yang terpikirkan hanyalah bisa hidup bersama dengan kekasih hatinya.


Andin dan Toni sudah sampai di hotel. Keduanya segera masuk ke kamar mereka.


Andin dan Toni menggunakan kesempatan kunjungan nya ke Jakarta ini untuk sekalian berbulan madu.


Setelah ciuman yang dalam tadi, dilanjutkan dengan kemesraan selanjutnya. Pasangan suami istri inipun melanjutkan percintaan mereka di dalam kamar hotel. Saking asyiknya, makan malam keduanya pun sampai terlewatkan.


"Apa kita tidak akan turun untuk makan malam, sayang??".


"Aku sudah menyuruh mereka membawanya. ke kamar".


"Saat bersama mu, aku jadi malas pergi".


"Kita di sini saja, melanjutkan kegiatan kita, kau tahu kan mom sudah ingin menimang cucu".


Andin tersenyum mendengar kata-kata suaminya. Tak ada salahnya juga bagi Andin untuk segera hamil. Siapa tahu dengan kehamilan nya, Bram tidak lagi terobsesi untuk mendapatkan Andin kembali.


...****************...