
Pagi-pagi sekali, mobil Bram sudah terparkir di halaman rumah Andin. Dia sengaja ingin mengantar Andin ke rumah sakit untuk periksa kehamilan nya. Mbak Tari absen karena harus giliran masuk pagi menggantikan Andin hari ini.
Sementara itu, Rossi dan Toni yang sedari tadi berputar-putar, akhirnya menemukan alamat yang di maksud. Mereka berdua menunggu di dalam mobil di seberang jalan. Sekedar memastikan, rumah mana yang di tinggali oleh Andin.
Keduanya menunggu cukup lama, ketika Andin muncul dari dalam rumah bersama Bram. Mereka masuk mobil dan segera pergi.
"Rossi, ikuti mereka....aku mau tahu kemana mereka pergi".
"Tapi Toni, kau yakin kondisi mu baik-baik saja".
"Jangan perduli kan aku, kau ikuti saja mobil mereka".
"Aku ingin lihat sendiri bagaimana kelakuan Andin yang sebenarnya".
Mobil melaju menuju ke rumah sakit Sakinah
khusus untuk ibu hamil dan anak.Bram membantu Andin turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit. Andin sudah membuat
janji dengan dokter, jadi dia langsung masuk ke dalam.
Tadinya Andin keberatan kalau Bram masuk ke dalam, tapi karena dia memaksa, Andin tak kuasa untuk menolak. Dia ingin melihat sendiri perkembangan bayi Andin dalam kandungan.
"Bagus sekali hari ini suami anda bisa mengantar".
"Bapak juga harus ikut menjaga dan mengawasi kehamilan istri anda ini ".
"Tapi dok,, dia bukan......".
"Tak masalah dokter,, saya janji akan selalu menemani istri saya mulai sekarang".
"Itu baru suami siaga pak,, ayo ibu kita mulai USG nya".
Bram dan Andin menatap layar monitor di depan mereka. Terdengar suara detak jantung bayi yang kencang. Serta gerakan tubuhnya yang sangat aktif.
"Sepertinya ini bayi laki-laki,, di lihat dari gerakan nya yang aktif".
"Kita bisa memastikan saat usia kandungan nya 5 bulan nanti".
"Bapak bisa punya teman bermain bola nanti".
"Yang terpenting putra kami sehat dokter".
"Itu sudah cukup membahagiakan".
"Putra anda memang sangat sehat pak".
"Untuk itu, tolong kesehatan istri anda di pantau juga".
"Bulan depan kesini lagi Bu,ini vitamin nya, bisa di ambil di depan".
Bram mengambil resep dari dokter dan mengucapkan terimakasih. Keduanya segera keluar dari ruang pemeriksaan. Sementara Bram menebus obat dan vitamin, Andin menunggu di kursi panjang depan apotik.
Matanya berkeliling melihat sekitar rumah sakit, ketika tatapan nya berhenti pada sosok pria yang tak asing baginya. Andin terkejut melihat Toni berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Andin segera bangkit dan berjalan menuju ke arah Toni.
Toni yang menyadari Andin sudah melihatnya, langsung menarik Rossi dan membawanya pergi.Dia bahkan tak perduli kalau Andin memanggil namanya.
"Toni,,,tunggu sebentar".
"Aku ingin bicara dengan mu, ku mohon berhentilah".
Karena kondisinya yang sedang hamil, Andin kesulitan mengejar Toni. Dia berhenti di tangga rumah sakit, sambil memperhatikan suaminya pergi bersama seorang wanita. Bram yang sudah selesai mengambil obat sampai kebingungan mencari keberadaan Andin.
"Ada apa Andin, kau terlihat kelelahan".
"Tadi Toni ada di sini Bram".
"Dia pergi bersama seorang wanita".
"Kau yakin itu Toni??".
"Aku tak mungkin salah lihat Bram, dia memang Toni".
"Ya sudah, kita pulang dulu,,lihat keadaan mu seperti itu".
Bram menggandeng lengan Andin menuruni tangga rumah sakit. Entah apa dirinya benar-benar melihat Toni, atau hanya orang yang mirip dengan nya. Namun, hal tersebut sukses membuat emosinya kacau.
Sampai di dalam mobil, Andin masih belum bisa tenang. Dia masih memikirkan kejadian di rumah sakit tadi. Jelas itu Toni, namun dia tak mau menemuinya. Andin masih saja bengong dan tidak fokus.
"Andin, setahuku Toni ada di Inggris, jadi dia tak mungkin tiba-tiba ada di sini".
"Terserah kau saja kalau tidak percaya Bram".
"Tapi, demi Tuhan...itu sungguh dirinya".
"Aku masih mengenalinya walaupun setelah sekian lama".
"Dan kau benar,, dia bersama Rossi tadi".
"Mungkin memang mereka sudah menikah".
"Kenapa suami ku sendiri menjauhi ku tanpa sebab".
"Padahal aku mengandung anak nya".
"Tapi dia memandang ku pun enggan".
"Kendalikan diri mu Andin".
"Kau sudah hampir berhasil melewati ini selama 6 bulan".
"Aku tahu kau bukan wanita yang lemah".
"Setidaknya pikirkan bayi mu, dia sungguh tak layak menerima ini semua".
Andin masih menangis.Pertahanan nya runtuh kali ini. Dia tak lagi bisa bersikap tegar di depan Bram. Melihat Toni kembali, hatinya rapuh, benar-benar hancur.
"Biar aku yang cari tahu,,apa benar Toni ada di kota ini".
"Kalau memang benar, aku akan mengatur pertemuan kalian berdua".
"Kau tak usah kerja sore ini, biar aku menelpon Reynaldi untuk meminta ijin".
"Tak usah Bram, aku malah bisa sakit kalau tidak kerja".
"Kau juga jangan mencari tahu tentang Toni".
"Kau benar,,aku sudah berhasil melupakan nya 6 bulan ini".
"Sebaiknya, aku tak terpengaruh lagi".
"Kami sudah bercerai bukan,dan dia bukan lagi urusan ku".
"Tolong antar aku ke hotel, sekarang sudah masuk jam kerja ku".
Bram tak bisa menolak. Dia mengarahkan mobilnya ke hotel tempat Andin bekerja. Akan
lebih baik jika dia bersama teman-teman nya.
Setidaknya, dia tak merasa bersedih lagi.
Toni dan Rossi sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap. Keadaan nya juga tak jauh berbeda dengan Andin. Dia mengira kedua pasangan itu sudah menikah dan tengah menanti buah hati mereka.
Sejak awal di lihatnya Bram begitu perhatian dan penuh cinta kepada Andin. Dari sikapnya, siapa pun bisa menerka kalau Bram itu adalah suaminya.
"Mom salah menyuruhku datang kemari".
"Menantu kesayangan nya justru sudah menikah dengan mantan pacarnya".
"Apalagi yang bisa ku harapkan, selain berpisah dengan nya".
"Andin sungguh keterlaluan!!!".
"Dia sama sekali tak mengerti perasaan ku".
"Kendalikan diri mu Toni,,kita bisa saja salah lihat bukan??".
"Lagipula apa salahnya kalau Andin sudah menikah dengan Bram?".
"Kau sendiri yang tidak mengijinkan istri mu mencintai mu bukan??".
"Aku tahu Andin Toni,,apa pun keadaan mu, dia akan tetap mencintai dan menerima mu".
"Seburuk apapun itu, dia bahkan mungkin bersedia mati untuk mu".
"Tapi kau sudah salah mengambil keputusan".
"You don't let her to love you Toni!!".
"Itulah kesalahan terbesar dalam hidup mu".
"Lihat diri mu di cermin sekarang??".
"Kau sempurna,,,tak ada yang mengira kalau kau ini cacat".
"Kau hanya terlalu takut dengan bayangan mu sendiri".
"Saran ku sekarang, temui Andin, katakan yang sebenarnya terjadi".
"Kalaupun dia sudah menjadi milik Bram, setidaknya Andin berhak tahu alasan mu meninggalkan dirinya".
"Pikirkan hal itu baik-baik,, aku keluar sebentar".
Toni terdiam. Dia memikirkan perkataan Rossi. Kadang kala gadis itu memang sangat bijaksana. Tapi menurut Toni, ini semua sudah terlambat. Toni tak mau merusak hubungan di antara Bram dan Andin lagi. Biarlah dirinya yang terluka dan kehilangan cinta. Setidaknya, Toni tak memisahkan ayah
dari anaknya.
...****************...