Let me Love You

Let me Love You
Bab 41.



Andin kembali ke apartemen dengan membawa hidangan makan siang yang lengkap. Di lihatnya suaminya masih tertidur di ranjang nya. Andin langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan bagi suaminya.


Andin membawa makanan untuk suaminya ke kamar. Dia lalu membangunkan dengan hati-hati. Sedari tadi Toni kelihatan tertidur nyenyak.


"Sayang,, bangun lah...aku membawa makan siang untuk mu".


"Hmm ......berapa lama aku tertidur??".


"Sudah lama,, mungkin obat bius yang di berikan dokter tadi masih bereaksi".


"Ayo bangunlah.....hati-hati,, aku akan menyuapi mu".


"Apa luka di perut mu masih terasa perih??".


"Ini sudah lebih baik sayang".


"Syukurlah kalau begitu,,aku tak perlu khawatir lagi".


Dengan telaten Andin menyuapi suaminya dan membantunya minum obat. Kali ini dia kelihatan sangat manja. Mungkin rasa sakit akibat jahitan di luka barunya masih terasa ngilu, jadi Toni lebih banyak berbaring, menuruti kata-kata dokter.


"Kasihan suami ku, ini akibatnya kalau kau jahil pada istri mu".


"Kau jadi tak bisa bangun lagi kan,, Untung lah aku, seharian ini bisa tenang".


"Jangan menggoda ku sayang,,, kalau aku mau, aku masih bisa menyentuh mu".


"Coba saja,,pasti kau akan langsung kembali menginap di rumah sakit".


"Berbaring lah,, aku ada kerjaan sebentar".


"Kenapa tidak kau kerjakan di sini saja".


"Kau harus istirahat kan,, jadi biar aku kerja di luar,, agar kau bisa tidur".


"Aku ingin kau temani aku di sini".


"Lupakan kerjaan mu sampai aku sembuh nanti".


"Tapi aku ada proyek dengan Vanessa, sayang".


"Aku akan menemani mu di tempat tidur, tapi sambil kerja, boleh kan??".


"Ayo..sini,, kau akan lebih baik nanti".


Andin memijit kepala Toni dengan lembut. Sesekali dia mengusap rambutnya. Tak seberapa lama, Toni akhirnya kembali tertidur.


Andin lalu membuka laptopnya dan mendesain gaun yang di pesan oleh Vanessa.


Rencananya dia akan memakainya di acara fashion show nanti.


Secara khusus, Vanessa sudah memesan kepada butik Natalie. Dan, kali ini Natalie mempercayakan kepada Andin agar dia yang menanganinya.Untuk itulah, Andin tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Natalie berikan. Semaksimal mungkin dia berusaha mengerjakan dengan baik.


Ketika tengah bekerja, ponsel Andin berbunyi.


Dia segera keluar dari kamar, agar tidak membangunkan Toni. Rupanya lagi-lagi Bram yang menelpon.


"Ada apa lagi Bram,, aku sedang sibuk sekarang".


"Aku ingin bertemu dengan mu Andin,, atau aku ke apartemen mu sekarang".


"Tidak usah,, Toni masih sakit, aku tak mau dia terganggu".


"Kalau begitu, temui aku di bawah sekarang,, kalau tidak, aku yang akan naik ke kamar mu".


"Memangnya ada urusan apa Bram".


"Kau bisa bicara di telpon saja kan??".


"Tidak bisa, aku harus bertemu dengan mu".


"Biar aku yang ke sana sekarang".


"Jangan,, tunggu aku di bawah,, aku akan segera turun".


Dengan terpaksa, Andin bergegas menemui Bram. Setelah memastikan Toni masih tertidur,Andin segera menuruni lift apartemen. Tiba di lobby, Bram sudah menunggu dengan wajah tersenyum.


Andin lantas menghampiri Bram dan langsung menariknya ke sudut ruangan.


"Ada apa lagi sekarang Bram??".


"Bukankah aku sudah memintamu untuk tidak mengganggu ku".


"Toni sedang sakit saat ini, tolong kau mengerti kondisi nya".


"Aku hanya ingin melihat wajah mu".


"Aku tak tahan untuk tidak bertemu dengan mu".


"Aku pergi sekarang,, kau memang sudah gila Bram".


"Tunggu sebentar Andin,,dengarkan aku dulu".


Sayangnya, Andin sama sekali tak menyadari kalau dari tadi, sepasang mata tengah mengawasinya. Beberapa kali dia mengarahkan kamera ponselnya untuk mengabadikan kemesraan Andin dan Bram.


Dia tersenyum, kemudian pergi meninggalkan lobby apartemen.


Andin segera bangkit dan berjalan meninggalkan Bram. Dia tak ingin terlibat skandal di depan banyak orang. Andin segera memencet lift dan naik, ketika sebuah sepatu menahan pintu lift dari luar.


Rupanya Bram mengejar Andin sampai lift. Dia ikut masuk di dalam bersama Andin.


"Kenapa kau suka sekali mematahkan hati ku".


"Aku hanya ingin bersama mu sebentar saja".


"Lepaskan aku Bram, jangan membuat ku takut".


"Kau takut padaku,,atau kau takut cinta mu masih besar untuk ku".


"Katakan sejujurnya, Toni tak memberi kebahagiaan padamu kan??".


"Kenapa tidak,,aku bahagia bersama Toni".


"Bohong,,,,mata mu mengatakan yang sebaliknya".


"Aku tahu kau masih sangat mencintai ku".


Andin melangkah maju hendak menekan tombol lift. Namun tangan kokoh Bram menahan nya. Dia sangat tahu, Andin tak mungkin bisa lolos dari Bram.


"Kalau kau sudah tak mencintai ku, kenapa kau gelisah begini".


"Aku buru-buru Bram, Toni mungkin sudah bangun sekarang".


"Biarkan aku keluar dari sini".


"Hanya jika kau berjanji untuk menemui ku besok".


"Sudah cukup,,aku tak mau lagi bertemu dengan mu".


"Baiklah,, maka kita akan tetap di sini seharian nanti".


Andin tetap bersikeras. Dia menolak menemui Bram. Dia hanya mencari kesempatan, saat Bram lengah. Tapi kemudian, pintu lift terbuka dari luar. Andin segera berlari meninggalkan Bram.


Dia langsung masuk ke apartemen nya. Rupanya Toni sudah bangun dan bersandar di tempat tidurnya.


"Dari mana kau Andin, aku mencari mu sejak tadi".


"Aku,,,tadi menunggu kain yang dikirim dari butik".


"Tapi, rupanya mom sendiri yang akan membawanya kemari".


"Apa kau perlu sesuatu, biar aku ambilkan".


"Aku haus,, tolong ambilkan minum untuk ku".


"Ok,,tunggu sebentar sayang".


Andin segera melangkah menuju ruang makan. Dia mengatur nafasnya dan tangan nya yang gemetar ketakutan. Andin takut, kalau sampai Toni mengetahui dirinya pergi dengan Bram.


Andin menenangkan dirinya sejenak. Dia kemudian membuka ponselnya yang berbunyi. Ada pesan masuk berisi foto-fotonya, saat bersama Bram di lobby tadi.


Andin tentu saja bertambah panik. Dia menghubungi pengirim pesan tersebut. Namun, nomornya sudah tidak aktif. Tak berapa lama, dia mengirim pesan singkat kepada Andin.


"Rupanya istri CEO ternama sedang berselingkuh".


"Akan jadi menarik kalau pesan ini sampai ke ponsel suami mu".


"Katakan apa mau mu sebenarnya".


"Kirim uang ke rekening ku, dan aku akan tutup mulut".


Andin berpikir sejenak, kemudian dia memutuskan untuk mengikuti permainan si pengancam ini.


"Aku mau file ini di hapus, baru kemudian aku memberi uang padamu".


"Kirim dulu uangnya, setelah itu aku kirim kan master filenya".


"Kita bertemu saja,,kau atur sendiri waktunya".


"Kita bicara lagi nanti".


Andin kemudian masuk, dan membawa minum untuk Toni. Suaminya itu terlihat kesal, karena haru menunggu lama.


"Sedang apa kau di dapur, kenapa lama sekali??".


"Sekalian membereskan piring yang kotor".


"Sebentar lagi mom kemari,, aku tak ingin dia


mengatakan aku pemalas".


Andin masih tidak percaya, mulutnya berbohong berulang kali. Namun, dia benar-benar takut. Kalau sampai dia melawan si penelpon, foto-foto itu pasti akan sampai ke tangan Toni.