Let me Love You

Let me Love You
Bab 18.



Natalie dan Adam sudah kembali ke rumahnya. Mereka meninggalkan Toni dan Andin yang masih ingin melihat suasana London di malam hari. Mengendarai mobil sport miliknya, Toni mengajak Andin ke taman kota yang sudah agak sunyi. Ini sudah larut malam, jadi pengunjung sebagian sudah pulang.


Bukan tanpa alasan Toni melakukan nya. Dia Ngin menghibur hati Andin. Bagaimanapun juga, Toni mengerti dan memahami perasaan nya. Mereka sudah lama menjalin cinta. Dan Toni ingin, sebelum mereka menikah, sosok Bram sudah hilang dari hati Andin.


Wajar sekali bagi Andin untuk bersedih hati. Kekasihnya mencampakkan dirinya dan menikahi wanita yang jauh lebih kaya. Apalagi mereka tadi bertemu secara langsung. Tentu saja luka di hatinya kembali terbuka.Makanya Toni sengaja membawa Andin menjauh sejenak. Supaya dia bisa mengeluarkan racun di hatinya tersebut.


"Kenapa kau membawaku kemari Toni??".


"Kenapa lagi,,tentu saja untuk menghibur mu".


"Aku tahu bagaimana rasanya hatimu sekarang".


"Menangis lah.....aku akan meminjamkan bahu ku untuk mu bersandar".


"Bagaimana pun kau harus mengeluarkan Bram dari hati mu bukan??".


"Kau salah sangka Toni,,,".


"Di hati ku sama sekali tidak ada lagi nama Bram".


"Kalau kau pikir aku bersedih, kau salah Toni".


"Aku baik-baik saja".


"Memangnya kenapa kalau dia menikah,,,dia pikir aku akan bersedih??".


"Tidak,,,dia salah besar...pernikahan nya sama sekali tidak berpengaruh bagi ku".


Andin berbicara panjang lebar, dengan berderai air mata. Toni hanya mendengarkan.Dia membiarkan wanita yang dicintainya itu mengeluarkan curahan hatinya.


Andin bersandar di bahu Toni. Kemejanya bahkan sudah basah oleh air mata. Doni kemudian mengambil tangan Andin dan digenggam nya.Dia mengusap kedua air mata di pipi Andin.


"Sudah selesai,,,,apa kau butuh pelukan???.


"Kemarilah,,biarkan aku memberi mu dukungan sekarang".


Andin masih terisak dalam dekapan Toni. Tidak seperti Bram yang temperamen, Toni jauh lebih sabar dan lembut memperlakukan wanita. Dia juga terlihat tulus dan perhatian.


"Tega sekali dia Toni,,,aku benci padanya".


"Dia meremehkan ku karena aku gadis jalanan".


"Jangan berkata begitu,,kau sekarang pemilik rumah mode di Inggris".


"Tunjukkan padanya kau bukan Andin yang lemah dan bisa di permainkan".


"Tunjukkan kalau kau Bella, gadis pemberani dan mandiri".


"Entah aku harus membalas kalian dengan cara apa?".


"Kau, Natalie dan Adam telah merubah hidupku".


"Aku hanya bisa berterimakasih untuk semua ini Toni".


"Kau masih bersedia mencintai ku dengan segala kekurangan ku".


"Maaf kan aku Toni, belum bisa sepenuhnya menyerahkan hati ku padamu".


"Aku akan menunggu sampai kau membuka hati mu".


"Sampai saat itu tiba, aku janji tak akan menyentuhmu".


Andin melihat ketulusan pada kata-kata Toni. Selama ini dia tertipu mulut manis dan rayuan dari Bram. Tapi sekarang Andin berjanji akan mulai membuka hatinya untuk Toni.


Di hotel tempat pernikahan Bram dan Vanessa, acara sudah selesai. Kedua pengantin segera masuk ke dalam kamar mereka untuk berbulan madu. Namun nyatanya, Bram malah memikirkan Andin.


"Vanessa, kata mu kau berteman dengan Andin??".


"Siapa Andin,,aku baru mendengar namanya".


"Maksud ku,,,em ...Bella...ya,,Bella!!!".


"Ya,,kami bekerja sama juga,,dia pebisnis andal rupanya".


"Rumah mode Natalie berkembang pesat di tangan nya".


"O...ya, sejak kapan kau mengenalnya".


"Belum lama, mama yang mengerjakan gaun pengantin nya".


"Sebentar lagi dia menikah dengan putra Natalie,,,Toni...kau mengenalnya kan?".


"Apa...????".


Bram batuk karena tersedak.Bagaimana mungkin Andin menikah dengan Toni. Bram tak akan membiarkan nya. Dia akan mencegah pernikahan itu supaya tidak terjadi.


"Hati-hati Bram,,kau ini kenapa??".


"Aku,,tersedak tadi,,lupakan.....kau tahu alamat


Bella kan??".


"Tentu saja, mereka tinggal di rumah Natalie".??????p???


"Bagus,, kita bisa berkunjung ke sana kan??".


"Atau,, beri aku kontak Bella"


"Aku memberi mu kebebasan, tapi tolong hormati aku dan keluarga ku".


"Bella gadis terhormat, jangan kau ganggu dia".


"Lagi pula sebentar lagi dia akan menikah".


"Jangan membuat skandal di sini".


"Tenang saja Vanessa, aku hanya ingin berteman dengan nya".


"Lagipula ada kau juga kan??".


Vanessa akhirnya mengalah. Dia memberi kontak Bella kepada Bram. Seperti mendapat mainan baru, Bram sangat senang mendapatkan kontak Andin. Saking senang nya dia bahkan tak sengaja mencium pipi Vanessa. Bram lalu keluar dari kamar hotel menuju balkon. Dia langsung menghubungi Andin.


Andin sudah memperbaiki penampilan nya yang berantakan setelah menangis tadi. Dia dan Toni tengah bersiap untuk pulang, ketika ponselnya berdering. Andin ragu untuk mengangkat telepon nya, pasalnya nomornya tidak ada di kontak nya.


"Kenapa tak di angkat, terima lah dulu aku akan menunggu mu".


"Aku tak tahu siapa yang menelpon,, tidak banyak yang ku kenal di sini".


"Kalau kau mau, kau saja yang menjawab".


Andin menyodorkan handphone nya kepada Toni. Setelah diterima, Toni langsung menjawabnya.


"Selamat malam, ada yang bisa di bantu??".


"Aku ingin bicara dengan Andin, berikan ponsel ini padanya".


"Tidak ada yang bernama Andin di sini, anda mungkin salah sambung".


"Toni, aku sedang tidak bercanda, berikan telepon nya pada Andin, ini aku Bram".


"Maaf Bram,, kau salah sangka, dia Bella bukan Andin".


"Sejak kau mengajariku waktu itu, aku sudah tidak pernah bertemu dengan nya lagi".


"Dan Bram,, Bella ini tunangan ku, jadi jangan lagi menelpon nya".


"Atau aku tak segan untuk bertindak".


Toni menutup telpon nya dan mengembalikan pada Andin. Dengan wajah kaget Andin bertanya pada Toni.


"Untuk apa laki-laki itu menelpon ku".


"Entah,,, kau tenang saja, aku sudah menyuruhnya untuk tak mengganggu mu lagi".


"Ayo kita pulang,, Natalie akan cemas kalau kita masih di sini".


"Hmm.....iya,, kau benar Toni".


Andin dan Toni segera mengendarai mobil mereka. Dini hari mereka baru sampai di rumah. Dan benar saja, Natalie dan Adam masih menunggu mereka di sofa kamar tamu.


"Kalian kemana saja,, aku cemas sekali".


"Mom,,, seharusnya kau tidur, kau harus jaga kesehatan mu".


"Ayo,, biar aku antar kau ke kamar".


"Toni,, kalian belum menjawab pertanyaan ku".


"Kami cuma jalan-jalan,, besok pagi saja kita bahas lagi".


"Ayo,, kau harus istirahat sekarang".


Toni dan Andin mengantar Natalie dan Adam sampai ke dalam kamar mereka. Setelah memastikan mereka beristirahat, keduanya baru keluar dari kamar.


"Kau juga harus istirahat sekarang Bella".


"Ayo, aku akan mengantar mu ke kamar".


Toni juga melakukan hal yang sama pada Andin. Dia juga memastikan Andin segera istirahat di kamarnya.


"Selamat malam Bella, semoga kau mimpi indah".


"Terimakasih Toni".


Toni melangkah meninggalkan kamar Andin. Sejurus kemudian, Andin kembali memanggil nya. Toni berbalik dan mendekat ke arah Andin.


"Ada lagi yang kau ingin kan?".


"Cup,,, good night Toni".


Sebuah ciuman lembut dari Andin mendarat di pipi Toni. Setelahnya dia masuk kamar dan menutup nya. Toni sangat terkejut dan langsung tersenyum senang. Andin sudah membuka hatinya untuk dirinya.


...****************...