
Para pelayan masuk ke ruang pribadi yang sudah di pesan Andin dan Toni, untuk mengantarkan makanan dan minuman.
Makanan di sajikan di atas meja, sementara Andin masih mengagumi ruangan tempatnya makan tersebut. Terkesan seperti kamar hotel. Ada tempat tidur yang telah di persiapkan bagi pasangan bulan madu. Suasana di dalam kamar terlihat syahdu dan romantis.
"Kenapa sayang,,,kau ingin mencoba bercinta di tempat ini??".
"Tenang saja,, di sini seperti hotel,, tempatnya juga privat".
"Apa kau masih belum puas juga,, kita sudah hampir seharian melakukan nya".
"Bersama mu, aku tak akan pernah puas".
"Apa pun tentang mu,,,aku selalu menyukainya".
"Kemarilah,,,aku bahkan masih merindukan mu sekarang ini".
Andin mendekat dan meraih tangan Toni. Pria itu mencium bibirnya mesra. Seakan dunia hanya milik mereka berdua saja. Tak sedetikpun berlalu tanpa saling cinta.
Sementara Andin dan Toni masih merengkuh madu asmara, di tempat lain, Bram dan Vanessa sudah kembali dari pulau Maldives.
Selepas mendarat, keduanya langsung kembali ke kediaman Vanessa.
Sikap Bram kepada Vanessa bahkan sudah jauh lebih lunak, di bandingkan dengan saat
dirinya belum membawa lari Andin. Saat ini
Bram membutuhkan Vanessa untuk langkah nya selanjutnya mendapatkan simpati dari Andin.
Bram belajar kalau kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Justru dengan kekerasan, akan semakin menjauhkan dirinya dari Andin. Makanya, Bram harus segera mengubah strategi nya. Kalau dia masih berharap pada cinta Andin, dia harus mengubah haluan dan mengikuti permainan Toni. Dan Bram masih butuh Vanessa untuk melakukan itu semua.
"Vaness, kau sudah janji kan, akan membantuku minta maaf pada Toni dan Andin".
"Aku sudah sangat bersalah, memperlakukan Andin seperti itu".
"Lagipula pasti Toni juga kesal sekali dengan ku kemarin".
"Iya,,,begitu kita sampai di rumah nanti, aku akan telepon mereka berdua".
"Semoga saja mereka mau bertemu dengan kita".
"Tapi kau harus janji Bram,,saat di sana nanti, jangan buat onar lagi".
"Aku sudah malu sekali dengan mereka berdua".
"Iya,, aku janji Vaness, aku hanya akan minta maaf saja".
"Setelah itu aku baru bisa bernafas lega".
Bram dan Vaness, akhirnya sampai juga di kediaman mereka. Orang tua Vaness sendiri yang menyambut kedatangan putrinya. Mereka senang sekali melihat kemesraan anak dan menantu nya.
"Sayang,, mama rindu sekali pada kalian".
"Bagaimana dengan bulan madunya??".
"Menyenangkan ma,,tapi aku capek sekali".
"Bolehkan, aku istirahat dulu".
"Tentu, masuk dan istirahat lah,,nanti kita bicara lagi".
Bram dan Vaness berlalu dari ruang tamu dan masuk ke kamar mereka. Vaness senang melihat perubahan sikap Bram. Dia tidak temperamen lagi seperti biasanya.
Sementara mereka beristirahat, di restoran ini, pasangan Andin dan Toni tengah menikmati makan siang mereka. Suara ponsel Toni memecah kesunyian mereka berdua. Dia kemudian mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telpon.
"Halo,,,Toni....ini aku Vaness".
"Ya, Vaness...ada yang bisa di bantu??".
"Aku ingin mengundang kalian berdua untuk makan malam di rumahku".
"Bukan nya kalian masih di Maldives".
"Kamu sudah pulang Toni".
"Aku dan Bram sengaja mengundang kalian untuk minta maaf".
"Insiden waktu itu, sungguh memalukan".
"Ku mohon,,,maaf kan Bram, dia sudah berubah sekarang".
"Dia sudah bisa menerima hubungan kalian berdua".
"Dia juga janji, tak akan mengganggu Andin lagi".
"Bagaimana,,kau bisa datang kan Toni,,ku mohon,,,maafkan lah Bram".
"Baiklah,,,aku tanya kan Andin dulu,, apa dia masih mau bertemu dengan Bram".
"Baik lah,,,aku tunggu jawaban kalian".
Toni meletakkan ponselnya dan kemudian memandang Andin.
"Bram ingin minta maaf pada mu".
"Bagaimana menurut mu,,apa kau setuju??".
"Terserah kau saja sayang,,sekarang,,aku hanya menuruti perkataan mu saja".
"Baiklah kalau begitu, kita lihat...seberapa besar usaha Bram untuk meminta maaf pada mu".
"Kita ke rumahnya nanti malam".
"Lalu,,kita tak jadi menginap di sini??".
"Tentu saja,,kenapa tidak...kita bisa kembali ke sini setelah nya".
"Apa pun keinginan mu, aku pasti menuruti nya".
Mereka berdua menghabiskan waktu sore itu di restoran yang sudah di pesan Toni. Saat malam tiba,Andin dan Toni berangkat dari restoran menuju rumah Vanessa.
Tiba di rumahnya, Vaness dan Bram menyambut kedatangan mereka berdua.
Keduanya masuk ke dalam ruang tamu.
Bram memandang Andin dan Toni saat duduk bersama. Toni tak pernah melepaskan pegangan tangan nya dari jemari istrinya tersebut. Bahkan sesekali mereka saling melempar senyuman mesra
Melihat tingkah laku keduanya, hancur luluh hati Bram seketika. Dia berusaha menyembunyikan emosi nya agar tidak terlihat oleh Andin dan Toni.
"O,,ya Toni....aku belum mengucapkan selamat padamu atas pernikahan kalian".
"Aku benar- benar tak menyangka Andin akhirnya memilih diri mu".
"Makanya,,aku minta maaf atas kelakuan buruk ku kemarin".
"Aku sekarang sadar kalau kalian berdua saling mencintai".
"Terimakasih Bram,,lagipula kami sudah memaafkan perbuatan mu".
"Syukurlah kalau kau akhirnya bisa menerima bahwa kau adalah suami dari Vanessa".
"Aku doakan semoga kalian selalu berbahagia".
"Kita sudah punya pasangan masing-masing bukan,,jadi sebaiknya cintai pasangan kita dengan sepenuh hati".
Bram mendengarkan omongan Toni dengan seksama, walaupun di hatinya dia menolak dengan perkataan nya itu. Namun dia hanya bisa bergumam dalam hati.
"Kau bisa berkata seperti itu, karena kau mencuri Andin dari ku".
"Baiklah,, mari kita lihat,, seberapa jauh, cinta mu bertahan untuk Andin".
"Pasangan sejati versi mu,, akan segera berpisah".
Semua orang melihat ke arah wajah Bram yang masih terbengong memandangi wajah Andin.
"Bram,, kau mendengar ku bukan".
"Bram..........!!!!!!!!!".
"Eh......ya.....maaf, aku agak sedikit utang fokus".
"Iya,,, tentu saja,, kalian memang pasangan sejati".
Vanessa melotot mendengar omongan Bram yang seperti tidak sinkron. Vaness bisa melihat sejak tadi, Bram terus memperhatikan Andin. Pesona wanita itu memang sukses menghipnotis Bram suaminya. Vaness berusaha mengalihkan perhatian Bram kepada Andin.
"Kau sendiri Andin,, apakah sudah mulai beraktivitas kembali di butik??".
"Kami baru akan mulai kerja besok pagi Vaness".
"Aku kasihan pada Natalie dia yang mengurus semuanya selama kami berbulan madu".
"Butik kalian sudah punya nama di sini,,aku bisa bayangkan, betapa sibuknya Natalie".
"Iya,,,aku beruntung...mendapatkan suami seperti Toni,,dan keluarga seperti mereka".
"Lalu,,,,bagaiman dengan ku Andin,,,apakah hubungan kita dulu, tidak kau perhitungkan??".
"Bram,,,omong kosong apa yang kau tanyakan ini".
"Maaf, Toni...kuharap kau mengerti, tidak mudah bagi ku bisa melupakan Andin begitu saja".
"Kau sudah lama mengenal ku bukan??".
"Kita sudah sering bertemu di tempat paman Burhan".
"Tentunya Andin mengingat tempat tersebut".
Bram terus saja memancing ingatan Andin tentang kebersamaan mereka berdua. Tempat yang sering mereka kunjungi dan kenangan tentang kebersamaan keduanya.
Hanya cara ini lah yang mungkin bisa di lakukan oleh Bram. Dia sudah tidak tahan lagi ingin segera merengkuh wanita itu ke dalam pelukan nya. Semoga saja dia mengingatnya, dan segera sadar tentang pasangan sejatinya selama ini,,,yaitu Bram.
...****************...