
"Dasar....gadis aneh,, tidak punya sopan santun".
"Lain kali, aku tak akan membukakan pintu untuk dia lagi".
"Aku benar-benar tak suka dengan gadis itu".
Toni tersenyum melihat kemarahan Andin. Dia terlihat sangat menggemaskan saat sedang cemburu. Alih-alih menemani Toni duduk di sofa, Andin langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras.
Toni sampai geleng-geleng kepala, melihat tingkah para wanita di depan nya. Kalau sedang marah, rupanya mereka sangat senang membanting pintu. Baru kali ini Toni harus senam jantung mendengar pintu di banting berkali-kali.
Toni berdiri dan menyusul istrinya masuk ke dalam kamar. Andin berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia masih acuh, ketika Toni mendekati dirinya.
"Sayang,, apa kau masih marah??".
"Tentu saja, kenapa kau harus tanyakan hal itu lagi".
"Memangnya aku yang mengundang Rossi ke sini, dia datang sendiri kan??".
"Tetap saja aku tidak suka".
"Gadis itu sungguh menyebalkan".
"Ok,, lain kali aku akan mengusirnya kalau dia kemari lagi".
"Sekarang tersenyumlah,, kau tampak jelek saat sedang marah".
"O,,ya...apa aku lebih jelek dari Rossi??".
"Bukan begitu maksud ku sayang,, kau salah sangka".
Toni benar-benar di buat pusing kali ini. Apapun yang di katakan olehnya, selalu salah di mata Andin. Baru kali ini Toni melihat Andin benar-benar marah padanya. Toni jadi bingung harus melakukan apa.
Sampai sore hari, Andin masih mendiamkan Toni. Sudah berbagai cara dia lakukan untuk membujuknya. Dia tetap saja masih betah menutup mulutnya.
"Sayang,,tolong kau lihat luka di perut ku,, sepertinya berdarah lagi".
"Aku tak tahan,, rasanya perih sekali".
Andin melihat ke arah Toni. Wajahnya terlihat kesakitan. Semula Andin mengira Toni berbohong. Tapi nampaknya, suaminya itu tidak sedang bercanda. Andin lalu melompat dan berlari menghampiri Toni. Dia memeriksa luka di perut suaminya. Tampak darah segar keluar dan membasahi perban nya.
"Luka mu terbuka lagi,, kita harus ke rumah sakit sekarang".
"Itulah akibatnya kalau kau terlalu banyak bergerak".
"Lain kali, kau harus mendengarkan perkataan ku".
"Ayo,, biar aku yang mengemudi".
Dengan hati-hati Andin memapah suaminya masuk ke dalam mobil. Mereka segera berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Toni segera di periksa oleh dokter.
Benar saja, karena terlalu banyak bergerak, jahitan di perut Toni terbuka kembali. Dokter segera menangani dan menjahit lukanya kembali.
Andin menunggu di depan ruangan dokter. Saat sudah selesai, dokter memanggilnya untuk masuk ke dalam.
"Bu Andin,, saya sudah bilang kan..kalau pak Toni tidak boleh banyak bergerak".
"Ini akibatnya kalau kalian tidak menurut".
"Tinggal sekarang kalian boleh memilih".
"Tetap bed rest di rumah, atau kembali rawat inap??".
"Terserah dokter saja, mana yang terbaik, kami ikut saja".
"Kalau begitu, kalian bisa pulang, tapi pastikan dua hari sekali kesini, dan jangan lupa untuk tetap di tempat tidur".
"Tolong sekali Bu Andin,, anda harus ikut mengawasi suami anda ini".
"Baik dokter, saya mengerti!!".
Andin membawa Toni pulang, setelah mendapat ijin dari dokter. Masih dengan menahan rasa sakit, Toni di dorong masuk ke apartemen. Andin kemudian membaringkan suaminya di tempat tidur.
"Sebentar, aku akan siapkan makan dan obat untuk mu".
"Kau jangan kemana-mana, atau lukamu tidak kunjung sembuh".
"Aku pergi sebentar untuk cari makan".
"Andin,,jangan lama-lama".
Andin mengangguk dan tersenyum. Dia lalu keluar apartemen untuk membeli makanan.
Kalau ini Andin memilih restoran seafood supaya luka Toni cepat kering. Dia memesan semua menu yang ada di restoran tersebut.
"Risa,,, ini kau kan,, benar kan kau Risa".
Perempuan itu menoleh dan tampak kaget melihat kehadiran Andin. Dia lalu berdiri dan memeluknya erat.
"Sedang apa kau di sini Andin??".
"Terakhir kali kita bertemu, bukan kah kau bekerja di restoran paman Burhan??".
"Iya Risa,, tapi...aku sudah lama pindah ke sini".
"O,,ya...kenapa kau tak menelpon ku??".
"Kau bekerja di sini sekarang??".
"Di mana,, lalu kemana Bram,, aku tidak melihatnya".
"Wow....mana dulu yang harus ku jawab".
"Pertanyaan mu seperti kereta".
"Aku sudah menikah, dan tinggal di sini bersama suami ku".
"Kejutan sekali,, lalu di mana Bram sekarang, dia tidak ikut bersama mu".
"Memangnya untuk apa kau mencari Bram??".
"Loh,,,bukan nya kau menikah dengan dia??".
"Bukan,,aku menikah dengan Toni, bukan dengan Bram".
"Bram sudah menikah lebih dulu dengan Vanessa".
"Tapi dia juga tinggal di sini sekarang".
"Rupanya aku sudah ketinggalan informasi".
"Lalu, siapa Toni ini, apa aku mengenalnya??".
"Kau belum tahu siapa Toni,, kalian belum pernah bertemu".
"Tapi, suami ku ini orangnya sangat baik,, dia pasti senang berkenalan dengan mu".
"Ok,,berikan alamat mu Andin,,kapan-kapan aku main ke sana".
Andin menuliskan alamat rumahnya kepada teman nya Risa. Sungguh tak di sangka, di tempat asing ini, dia bisa bertemu dengan sahabat karib nya. Mereka berdua ngobrol sampai pesanan Andin datang.
"Risa,,aku pulang dulu,kau tunggu kau di rumah ku nanti".
"Suami ku sedang tidak sehat, jadi aku harus cepat pulang".
"Baiklah Andin,,hati-hati di jalan".
Risa mengamati dari depan restoran. Teman nya itu mengendarai mobil sport keluaran terbaru. Berbanding terbalik dengan dirinya yang hidup serba kekurangan di Inggris.
Padahal, dulunya Risa adalah orang yang sangat kaya. Dia pergi ke Inggris untuk mengejar pujaan hatinya. Namun, pria itu rupanya adalah penipu ulung. Setelah berhasil merampas semua harta Risa, dia lantas mengusirnya. Dan,,disinilah sekarang dia berada. Berpetualang dari satu pria ke pria yang lain untuk mendapatkan uang.
Risa akhirnya menjadi wanita penghibur. Dia tak punya pilihan lain, kalau masih mau bertahan hidup di Inggris. Baginya, semua lelaki sama, hanya menginginkan tubuh wanita untuk bersenang-senang.
Risa mengeluarkan ponselnya dan mencari profil Andin bersama suaminya melalui alamat rumahnya. Risa membaca biodata Toni. Rupanya suami dari sahabatnya itu bukan orang sembarangan. Kekayaan nya di Inggris sudah hampir menguasai setengah dari wilayahnya.
"Menarik sekali,,bagaimana kalau aku yang berada di posisi Andin sekarang".
"Aku tak perlu capek-capek melayani hidung belang".
"Aku tinggal duduk manis, dan harta Toni yang akan menjamin hidup ku".
"Maafkan aku, teman ku sayang".
"Salah mu sendiri, kenapa kehidupan mu begitu sempurna, aku jadi iri".
"Biar aku yang menggantikan posisi mu".
"Kau,,sama sekali tak cocok menjadi orang kaya".
Risa tertawa senang. Banyak sekali rencana di pikiran nya. Dia akan mendekati Andin, dan kemudian merebut Toni dari sisinya.
Risa yakin, dengan pesona dan kecantikan wajahnya, Toni akan berpaling dari Andin. Tinggal menunggu waktu yang tepat, dan Risa akan segera mengunjungi nya.
...****************...