Let me Love You

Let me Love You
Bab 15.



Bram mengantar Vanessa kembali ke hotel, sementara dirinya hendak keluar dari dalam kamar hotel. Namun langkah kaki nya terhenti karena Vanessa memanggilnya.


"Ada apa lagi,,,bukankah kau sudah makan,,,tidurlah...aku ada urusan sebentar".


"Tapi Bram, aku takut di sini sendirian".


"Begini saja, kau bawa aku, aku janji tidak akan mengganggu mu di sana".


"Kau ini,, kepalaku sedang pusing, mengerti lah!!".


"Aku butuh sendiri saat ini".


"Kau boleh ke mana saja sesuka mu,, biarkan aku selesaikan urusan ku".


Vanessa urung menjawab. Seperti nya Bram benar-benar sedang galau saat ini. Vanessa akhirnya mengalah. Dia membiarkan Bram pergi ke luar dari kamar hotel.


Sesampainya di parkiran hotel, Bram menelpon anak buah nya. Dia menanyakan perihal Andin. Namun, sejauh ini usaha mereka masih menemui jalan buntu. Andin masih belum ditemukan. Bram memukul bodi mobil untuk meredakan kekesalan di hatinya.


"Sebenarnya kau kemana Din??".


"Aku sangat merindukan mu".


"Kenapa kau menghilang tanpa jejak seperti ini".


"Aku bisa gila memikirkan mu".


Bram mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia tak tahu lagi mesti berbuat apa. Pikiran nya kacau dan buntu. Dia kemudian masuk ke mobil dan mengarahkan mobilnya ke tempat hiburan malam. Mungkin pikirnya dengan minum-minuman keras bisa melupakan Andin dari pikiran nya.


Sementara, Andin dan Toni yang sudah tiba di Inggris, masih menunggu di bandara. Mereka akan menempati rumah ayah angkat Toni.


Salah seorang bangsawan kaya di Inggris.


Makanya, dalam hal materi Toni tidak akan pernah kekurangan.


Kerajaan bisnis nya yang tersebar di beberapa negara, semua hanya diperuntukkan bagi Toni. Mereka memang tidak punya anak. Jadi sejak masih bayi, Toni mereka asuh layaknya anak sendiri. Orang tua Toni meninggal dalam kecelakaan, ketika Toni masih bayi. Karena keduanya berteman, maka Toni diangkat sebagai putra mereka. Mereka adalah Tuan Adam dan Nyonya Natalie.


"Kita ke rumah orang tua ku dulu".


"Aku akan memperkenal kan mu pada mereka berdua".


"Aku yakin mereka pasti menyukai mu".


"Apalagi aku mengatakan kalau kau calon istri ku".


"Andin,,kau mendengar ku kan??".


"Iya.....aku mengerti,,terserah kau saja".


"Kau masih memikirkan laki-laki itu?".


"Hmm..tidak Toni,, aku hanya masih sedikit pusing,,perjalanan kita lumayan panjang tadi".


"Itu....sopir kita sudah datang,,ayo...biar aku bantu".


"Orang tuamu....mereka tidak kemari".


"Mereka menunggu kita, makanya kita segera pulang".


"Tuan Toni,,senang sekali bertemu anda lagi".


"Mari,,,biar saya yang bawa barang nya".


"Terima kasih pak, anda baik sekali".


Toni menggandeng tangan Andin keluar dari bandara. Mereka segera menaiki mobil. Kota ini masih asing di mata Andin. Dia meninggalkan semua nya demi mengobati sakit hati nya. Penghianatan Bram sudah sangat melukai relung hatinya. Dia mengumumkan pernikahan dan sama sekali tak berusaha mencari Andin. Mungkin benar kata Toni, Bram hanya menjadikan nya pelampiasan nafsu.


Sepanjang perjalanan, Andin hanya terdiam.


Bukan nya mengagumi keindahan kota Inggris, dia malah melamun sendiri. Bahkan Toni sedari tadi bercerita tentang keindahan kota London,, tapi Andin tetap bergeming.


"Kita sudah sampai,,,ayo turunlah".


"Orang tuaku pasti sedang menyambut mu saat ini".


Andin turun dari mobil. Entah kenapa kali ini dia merasa gugup. Mungkin karena baru pertama kalinya dia mengalami kejadian ini. Berkenalan dengan orang tua lelaki yang dekat dengan nya.


"Toni,,,tunggu.....bagaimana penampilan ku??".


"Kau masih terlihat cantik walaupun sudah di perjalanan lama".


"Ayo,,,,masuklah....selamat datang di rumah masa kecil ku".


Toni tersenyum dan menggandeng lengan Andin. Melihat nya gemetar, Toni langsung menggenggam jemarinya erat.


Ketika masuk ke dalam rumah, orang tua Toni sudah menyambut keduanya dengan senyum sumringah. Natalie mendekati Andin, mencium pipi nya dan memeluknya erat.


"Welcome......dear,,,,,kau cantik sekali".


"Terima kasih nyonya, saya tersanjung dengan sambutan anda".


"No...just call me Natalie atau Mom saja".


"Dan ini suami ku Adam".


"Aku senang sekali kau akhirnya membawa


kan menantu kami kesini".


"Sayang,,anggap rumah sendiri,,,kalau Toni macam-macam katakan pada ku".


"Wah ..sepertinya akan ada putri baru di keluarga ini".


"Dad,,,siap-siap tidur di luar bersama ku".


"Lihat sayang,,,,Toni selalu menggoda kami seperti itu".


"Anak nakal ini harus di beri pelajaran".


Andin terharu. Air matanya tak terasa menetes di pipi menyaksikan kehangatan keluarga Toni. Perlakuan ini tak pernah di dapatkan nya sama sekali. Dia tak pernah tahu siapa orang tuanya. Melihat keharmonisan Natalie dan Adam, Andin sungguh tak kuasa.


Melihat butiran air mata di pipi Andin, Natali mengusapnya. Dia memeluk gadis yang sebentar lagi menjadi menantu nya itu dengan penuh kehangatan. Layaknya putrinya sendiri, Natalie menghibur Andin.


"Sudah .....ayo kita makan saja".


"Atau aku akan ikut menangis bersama Andin nanti".


"Toni,, ajak Andin masuk ke dalam".


"Ok....Mom..!!".


Toni memegangi tangan Andin yang masih terdiam di tempatnya. Dia memandangi wajah cantik nya yang masih tampak sembab. Baru kali ini Andin menangis di hadapan nya. Mungkin dia merindukan orang tuanya, ketika melihat Natalie dan Adam tadi.


"Are you ok??".


"Iya Toni,, aku tak apa-apa, ayo kita masuk".


"Tak enak Natalie dan Adam sudah begitu baik padaku".


"Mereka memang seperti itu terhadap siapa pun".


"Makanya aku sangat menyayangi kedua orang tua ku itu".


"Hei,,,berhentilah mengobrol".


"Ayo cepat kesini, Andin pasti sudah lapar".


Andin dan Toni segera menuju ruang makan. Hanya untuk empat orang saja, menurut Andin jamuan kali ini terasa sangat mewah.


Semua hidangan istimewa tersedia di meja.


Natalie mempersilahkan Andin untuk mencicipi semua makanan. Keramahan Natalie membuat Andin cepat akrab dengan mereka.


"Andin sayang,,untuk sementara kau bisa tidur di ruang tamu".


"Kalian harus menikah dulu supaya bisa bersama".


"Aku menghormati budaya di negara mu".


"Baik, Natalie...apapun perkataan mu aku akan turuti".


"Justru aku minta maaf karena sudah merepotkan kalian berdua".


"No.....jangan begitu sayang, kita ini keluarga".


"Sebentar lagi kau akan jadi menantu ku bukan?".


"Satu lagi,,besok aku akan memperkenalkan mu pada teman-teman ku".


"Mereka harus tahu kalau menantu ku sangat cantik sekali".


"Mom,,,Andin tidak sempat berkemas".


"Jadi dia tidak membawa baju"


"Oh....tak masalah,,biar aku yang urus semuanya".


"My dear Adam,,kau pasti bersedia menemani ku bukan?".


"Natalie....aku senang melihat mu bersemangat seperti ini".


"Kau jadi melupakan sakit mu".


"Aku pasti menemani mu dear".


"Ok,,selesai.....biar aku dan Adam yang berbelanja untuk Andin".


Keluarga baru itu menyelesaikan makan malam nya. Mereka kemudian istirahat di kamarnya masing-masing.


Entah kenapa di tempat yang asing ini, Andin justru menemukan kedamaian. Dia seolah mendapatkan kembali kasih sayang orang tua nya yang telah lama hilang.Dia sejenak bisa melupakan pengkhianatan Bram kepada nya.


Andin memejamkan mata, menikmati hidup baru nya yang jauh dari kekejaman Bram.


...****************...