Let me Love You

Let me Love You
Bab 28.



"Kita gagal Bram,, Andin tak bersedia keluar pagi ini".


"Entah apa yang mereka berdua lakukan di dalam kamar".


"Mungkin saja bulan madu mereka menyenangkan kali ini".


"Diam kau Ricky,, atau kau mau kehilangan semua gigi mu?".


"Cobalah lagi mengajak mereka keluar sampai berhasil".


"Atau aku sendiri yang akan mendobrak pintu kamar nya".


"Silahkan kalau kau punya nyali".


"Aku lebih memilih bermain santai".


"Kalau mereka tidak mau, kita tunggu sampai mereka sendiri yang menemui kita".


"Sepertinya kau tidak mengenal Toni".


"Dia tak akan mengajak Andin menemui mu lagi".


"Kau salah,, Toni tidak seperti diri mu yang posesif".


"Percayalah Bram,, aku sudah mengenal Toni dan Andin dengan baik".


"Bersabarlah......ajak istri mu jalan-jalan dulu".


"Mungkin kau bisa sedikit terhibur".


"Sialan.......kau Ricky......!!!".


Ricky tergelak menyaksikan emosi Bram yang memuncak. Kalau seperti ini terus, malahan bagus karena Ricky yang di untungkan. Andin tak menyukai keributan, jadi dia pasti akan pergi kalau kedua orang dekatnya ribut satu sama lain.


Bram menyusul Ricky kembali ke cottage nya. Membayangkan aktivitas Andin dan Toni di dalam kamar mereka, membuat dada Bram serasa mendidih. Ingin sekali rasanya mendobrak kamar Andin dan menyeretnya keluar. Namun, dia masih berusaha menahan diri.


"Ayo Bram,, ini sarapan mu,, kau habis olahraga kan?".


"Aku sudah menyiapkan semuanya untuk mu".


"Makan lah.....ini lezat sekali".


"Tak salah kita berbulan madu kemari".


Bram mengunyah sarapan nya yang terasa hambar. Pandangan matanya tak lepas dari cottage yang disewa oleh Andin dan Toni. Hari sudah siang, dan mereka masih belum keluar. Tentu saja pikiran Bram sudah kemana-mana. Membayangkan kemesraan Andin dan Toni di ranjang.


Tanpa sadar karena kemarahan nya, Bram menggebrak meja makan, sehingga membuat Vanessa kaget. Dia memandang heran wajah Bram dan buru-buru merapikan meja makan kembali.


"Kau ini sebenarnya kenapa Bram??".


"Aku tidak minta kau mengajakku ke sini,, tapi kau sendiri kan yang berinisiatif".


"Apa yang membuat mu begitu marah padaku".


"Lebih baik kita pulang saja, aku tak mau diperlakukan seperti ini".


"Tunggu Vaness,, kau tidak boleh kemana-mana tanpa perintah ku".


"Kau istri ku bukan,, jadi turuti kata-kata ku".


"Tapi kau kasar sekali Bram,, aku takut pada mu kalau seperti ini".


" Lakukan aktivitas mu dan abaikan aku".


"Lagipula aku tidak marah padamu".


"Lalu kenapa sikap mu seperti itu?".


"Aku sedang menahan diri ku agar tidak lepas kontrol".


"Maksud mu lepas kontrol karena apa??".


"Bram,, jangan bermain teka-teki, katakan saja masalahnya langsung".


"Aku sudah menduga kau kesini pasti punya tujuan".


"Jadi, katakan padaku sebelum aku tahu dari orang lain".


"Aku lebih menghargai kalau kau mau jujur pada ku".


"Aku mengejar Andin ke sini.....".


Akhirnya Bram sudah tidak sanggup lagi membohongi Vanessa. Gadis itu sudah baik hati melayani emosi Bram selama ini. Mungkin pikir Bram, ini waktu yang tepat untuk bicara yang sebenarnya pada Vanessa.


"Andin siapa maksud mu??".


"Sebelum menikah dengan mu, aku sudah punya seseorang yang ku cintai".


"Namanya Andin,, mungkin karena marah, sekarang dia menyebut dirinya Bella".


"Ya Tuhan,,,jadi maksud mu Bella, istri Toni??".


"Iya Vaness,,, dia Andin,,, dia itu milikku, kesayangan ku yang di rebut oleh Toni".


"Kau tahu pernikahan kita ini hanya sandiwara kan??".


"Harusnya dia juga tahu, bukan nya malah menikah dengan Toni".


Vanessa jadi ingat kalau dirinya kerap bercerita kepada Bella tentang cintanya kepada Bram suaminya. Dia juga lah yang mengatakan kalau pernikahan mereka akan menjadi cinta. Vanessa dengan berjalan nya waktu sudah mulai jatuh cinta pada Bram.


Dan Bella mengetahui semua itu.


"Kenapa kau diam saja Vaness,kau kecewa dengan perkataan ku??".


"Lalu bagaimana menurut mu??".


"Entahlah,,, karena ku lihat Andin yang sekarang begitu mencintai Toni".


"Mungkin kekecewaan nya padamu begitu mendalam".


"Jadi dia memutuskan untuk menikah dengan Toni yang begitu mencintainya".


"Lalu kau pikir aku tak mencintai nya??".


"Kau salah Vaness, cintaku jauh lebih besar daripada yang Toni berikan".


"Dan aku akan mendapatkan Andin ku kembali, bagaimanpun caranya".


Vaness termangu, dia tak akan pernah membiarkan keinginan Bram terkabul. Vaness akan memperjuangkan Bram sampai kapan pun juga.Walau bagaimanpun, dia sudah sangat mencintai suaminya tersebut sekarang. Jadi, dia Taka akan pernah mau untuk bercerai dari Bram.


Vanessa keluar ke balkon. Dilihatnya Andin tengah menikmati udara pagi bersama Toni suaminya. Tahulah sekarang Vaness tentang maksud Bram datang kemari.


Cottage Vaness dan Andin kebetulan bersebelahan. Vaness beranikan diri untuk menegur Andin dan suaminya tersebut.


"Andin,,kalian juga bulan madu kemari??".


"Senang sekali melihat mu di sini".


"Vaness,, kau juga ada di sini??".


"Tentu saja, aku baru tiba semalam".


Mendengar suara Andin di luar, Bram bangkit dan menghampiri mereka. Dia melihat Andin dan Toni sedang bersama. Memakai lingerie yang seksi, Andin kelihatan sangat cantik.


Bram bahkan tak berhenti menatap wajah kekasihnya itu.


"Kau disini rupanya,,,ku lihat kalian bersenang-senang".


"Maaf Bram, kurasa itu bukan urusan mu".


"Apa yang kulakukan dengan istri ku tidak ada hubungan nya dengan mu".


"Apa seperti itu Andin,,, apa kau tidak ada hubungan nya dengan ku??".


"Maaf Vaness, kami harus masuk dulu, aku dan Toni belum sarapan tadi".


"Ayo sayang,, sebaiknya kita sarapan dulu".


"Silahkan Andin".


Andin meraih lengan suaminya mesra. Mereka kemudian masuk ke dalam kamar. Tinggal Bram yang masih mengepalkan tangan nya menahan amarah melihat kemesraan keduanya.


"Kau lihat sendiri kan,, Andin mencintai Toni tanpa paksaan".


"Mereka terlihat sangat mesra".


"Jangan-jangan waktu bersama mu dia hanya pura-pura cinta saja".


"Kau sudah di kelabui oleh wanita itu Bram".


"Mereka berdua sengaja mengerjai diri mu".


"Hentikan Vaness, aku tak mau mendengar apa-apa lagi".


"Aku akan mencari penjelasan untuk ini".


"Penjelasan seperti apa maksudmu?".


"Kau ingin berbicara berdua dengan Andin saja,,, jangan mimpi Bram".


"Bahkan Toni tak meninggalkan nya barang sedetik pun".


"Terimalah kalau Andin mu itu sudah mencintai orang lain".


"Diam Vaness,, jangan teruskan lagi".


"Aku sungguh kasihan pada mu Bram".


Vaness masuk ke kamar dan membereskan sisa sarapan mereka. Sementara, Bram masih berdiri di balkon memandangi kamar Andin.


Mereka tengah sarapan bersama di dalam.


"Bagaimana mungkin, mereka berdua tiba-tiba bisa kemari menyusul kita??".


"Entahlah.....aku sendiri terkejut sayang".


"Mungkin saja mereka berbulan madu sendiri kemari,, bukan bermaksud menyusul".


"Mereka juga pengantin baru bukan?".


"Iya, kau benar sayang".


"Sudah lah,, biarkan saja mereka melakukan apa yang di sukai nya".


"Lagipula itu bukan urusan kita kan??".


"Aku tak mau hal ini merusak kebahagiaan kita".


"Ini sarapan mu sayang,, makan lah...".


Toni menyambut baik perkataan Andin. Rupanya di hati istrinya itu sudah tidak ada lagi nama Bram. Toni berharap kalau selamanya istrinya akan selalu bersikap.seprti ini, tidak pernah berubah.


...****************...