
Andin terjebak dalam dilema. Pertemuan nya dengan Bram malah berakhir petaka. Foto-foto mereka berdua sengaja di kirimkan untuk memerasnya. Dia berpikir keras, siapa yang sudah memanfaatkan dirinya. Andin sungguh takut kalau Toni sampai melihatnya. Apalagi di saat yang tidak tepat seperti ini.
Bel pintu berbunyi, mengagetkan Andin dari lamunan nya. Dia segera berlari dan membuka pintu.
"Mom,, ayo silahkan masuk".
"Bagaimana keadaan Toni, sayang.....ku dengar dia kembali ke rumah sakit".
"Iya mom,, seharian kemarin Rossi di sini, jadi Toni tak sempat beristirahat".
"Jadi, luka di perutnya kembali terbuka, dan sekarang dokter menyuruh dia untuk bed rest mom".
"Oh...kasihan sekali putra ku,,di mana dia sekarang??".
"Ayo mom,, dia ada di kamarnya".
"Sejak tadi dia tertidur, mungkin karena efek obat bius tadi pagi".
Natalie mengikuti Andin masuk ke kamar Toni. Dia melihat raut wajah putranya yang pucat. Natalie jadi kasihan kepadanya, mengingat putranya itu jarang sekali sakit.
"Sayang,, mom ada di sini,, bangun lah".
"Dear Toni,, apa kau baik- baik saja??".
"Hmm.....mom,,kau tak perlu mencemaskan ku, aku sudah lebih baik".
"Andin merawat ku dengan baik, jadi mom bisa tenang sekarang".
"Bagaimana mungkin mom bisa tenang, melihatmu seperti ini".
"Lain kali jangan kau ulangi lagi, walau itu Rossi atau siapa pun, biarkan polisi yang membantunya".
Sementara Natalie dan Toni berbincang, Andin membuatkan minuman untuk ibu mertuanya. Dia mengantar nya ke kamar mereka.
"Silahkan mom,, aku sudah buatkan teh yang enak untuk mu".
"Terima kasih sayang,, tak salah Toni memilihmu jadi istrinya".
"Ini untuk mu sayang,, ayo minum lah".
"Aku yang beruntung mom, karena Toni memilih ku".
"Aku mendapatkan begitu banyak cinta dari putra mom ini".
"Syukurlah,, mom lega mendengarnya,, kalau mungkin, kalian tinggal di rumah saja".
"Aku dan Adam kesepian tinggal di rumah sebesar itu sendirian".
"Dan kalau mungkin lagi,, beri kami berdua cucu secepatnya".
"Sudah waktunya aku istirahat, biar Toni yang melanjutkan semuanya".
"Aku ingin sekali bisa bermain dengan cucu ku, di usia senja kami".
"Andin,, kau dengar itu kan,, sepertinya kita harus usaha lebih keras lagi".
"Iya sayang,, tapi untuk saat ini, kau hanya harus fokus dengan kesembuhan mu".
"Setelah itu, kau boleh melakukan apapun yang kau mau".
"Kau benar sayang,, jaga dia sampai sembuh".
"Mom harus pulang dulu".
Natalie berpamitan kepada Toni dan Andin. Dia lalu meninggalkan apartemen dan langsung menyusul Adam ke kantor. Setelah Natalie pergi, Andin Menghampiri suaminya di ranjang.
"Kenapa kau menatap ku seperti itu??".
"Sayang...kau tak dengar kata-kata mom tadi".
"Ayo..berikan cucu untuknya segera".
"Aku sudah tak sabar untuk melakukan nya".
"Toni,, kau ini memang keras kepala".
"Sembuhkan dulu luka mu itu,, baru nanti ku pikirkan akan memberi cucu berapa untuk mom".
"Ini sungguh menyebalkan,, aku sungguh benci harus menahan keinginan ku untuk menyentuh mu".
"Aku sudah benar-benar merindukan mu sayang".
Andin sungguh tak tega melihat suaminya. Dia menghampiri Toni dan menunduk di
hadapan nya. Di ciumnya bibir Toni dengan lembut, sambil memainkan lidahnya di sana.
Sentuhan Andin di leher Toni dan usapan di kepalanya, membangkitkan hasrat yang sudah berusaha di pendam nya. Toni terhanyut. Dia tak kuasa melepaskan ciuman dalam dari istrinya tersebut.
"Itu hadiah kecil dari ku, karena kau sudah patuh".
"Hadiah mu itu malah membuat masalah baru untuk ku"
"Kau harus tanggung jawab Andin, ini karena ulah mu".
"Ayo,, selesaikan apa yang sudah kau mulai".
"Kau harus bersabar sampai luka mu benar-benar sembuh".
"Sementara itu, hanya ini yang bisa aku berikan".
"Kau benar-benar kejam Andin".
Andin melangkah keluar kamar sambil tertawa. Dia berhasil menggoda suaminya. Sementara di dalam kamar, Toni sedang merajuk. Dia harus berusaha keras meredakan hasratnya untuk bercinta dengan Andin. Setelah yang di lakukan nya tadi, nampaknya akan sulit bagi Toni untuk tertidur nyenyak malam ini.
Sementara di tempat yang berbeda, Risa sudah melancarkan aksinya untuk memperoleh uang dengan cara yang mudah.
Koleksi foto kebersamaan Andin dan Bram, sudah pasti akan menghasilkan uang yang banyak, tanpa harus bekerja. Dia juga punya ide brilian untuk melakukan penawaran kepada Bram. Risa ingat betul kalau dia masih menyimpan nomer telepon mantan pacar Andin tersebut.
Risa kemudian mencari di deretan kontak di handphone nya. Dia menemukan kontak Bram masih tersimpan. Risa segera menghubungi nya.
Bram terkejut melihat layar ponselnya. Risa menghubungi dirinya. Dia ingat betul kalau gadis itu adalah sahabat karib Andin. Sudah lama sekali, sejak pertemuan terakhirnya waktu itu sebelum berangkat ke Inggris.
"Bram,,,kau masih ingat dengan ku bukan??".
"Ya, aku ingat kau teman Andin,, ada perlu apa kau menelpon ku".
"Aku punya penawaran menarik untuk mu Bram".
"Apa kita bisa bertemu di restoran sekarang??".
"Kalau boleh tahu, penawaran tentang apa Risa, aku tak punya waktu kalau kau hanya ingin bermain-main".
"Ini tentang Andin,, apa kau masih tertarik??".
"Aku punya cara untuk membuatnya kembali padamu".
"Katakan di mana aku harus menemui mu".
"Sore ini Bram, di restoran seberang mall, aku tunggu kau di sana".
Risa menutup telpon nya. Kedua umpan yang di lemparnya, masuk ke dalam perangkapnya.
Tinggal memainkan sandiwara,,dan dia akan
mendapatkan harta tanpa harus bekerja.
Risa tertawa kegirangan. Dia seperti mendapat durian runtuh. Andin akan kembali bersama Bram, sementara dirinya akan merebut suami Andin yang kaya raya. Rencana yang sempurna. Tinggal menunggu eksekusi nya saja.
Bayangan dirinya bergelimpangan harta, sudah ada di pelupuk matanya.
"Kau memang pintar Risa,,, tak ada salahnya kau datang ke Inggris".
"Sekarang, kau tak akan menjadi wanita penghibur lagi".
"Sebentar lagi,,kau akan jadi nyonya menggantikan sahabat mu Andin".
Bram tak sabar menantikan waktu pertemuan nya dengan Risa. Apa pun itu, asal tentang Andin, pasti menarik perhatian nya. Vanessa sampai heran melihat kelakuan suaminya.
"Sejak tadi ku perhatikan, kau kelihatan gelisah".
"Kau menunggu seseorang??".
"Ya,, sebentar lagi kami janjian di restoran".
"Apa aku mengenalnya??".
"Tidak,, ini teman ku dari Jakarta,, sudah lama kami tidak bertemu".
"Apa kau ingin aku menemani mu??".
"Tidak perlu Vaness, ini urusan laki-laki".
"Baiklah,, jangan pulang telat".
Bram segera menaiki mobilnya menuju ke restoran. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Risa. Bukan apa-apa, kalau Risa bisa membuat Andin kembali padanya, tentu Bram akan sangat bahagia.
Bram bisa memberikan apa yang Risa minta. Mengingat selama ini, Risa memang sahabat karibnya. Jadi Bram berusaha untuk mempercayainya.
Sampai di restoran, Bram langsung mencari meja yang sudah di pesan oleh Risa. Melihat kedatangan Bram, Risa melambaikan tangan ke arahnya.
Bram ingat betul dengan wajah gadis itu. Dia tak banyak berubah, hanya sekarang make up nya jauh lebih baik. Risa kelihatan lebih cantik dari sebelum datang ke Inggris dulu.
...****************...