INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
TUMBAL



"Arrghhh!!"


Di sebuah kamar khusus Arya berteriak keras saat Ki Brojo terus menyiksanya. Lelaki itu terus menyiksanya setelah berhasil memakaikan kalung serigala di leher Arya.


"Aku akan terus menyiksamu jika kau terus melawan dan tidak mau menurut padaku!" seru Ki Brojo kembali menusuk tubuh Arya dengan bambu kuning.


Arya terus mengerang kesakitan, namun Ki Brojo tak memberinya ampun. Lelaki itu terus melampiaskan dendamnya kepada pria itu.


"Kalung serigala adalah cangkang bagiku, apalah arti sebuah cangkang jika isinya sudah tidak ada. Apa yang kau lakukan hanya sia-sia sama seperti yang dilakukan oleh kakek buyutmu padaku. Dan yang harus kau tahu apapun yang akan kau lakukan padaku semuanya akan kembali padamu. Meskipun kau membunuhku aku tidak akan pernah bersedia mengabdikan hidup ku pada manusia serakah seperti dirimu. Sama seperti Ki Marijo kau juga akan mati di tangan ku!" tutur Arya


#Kediaman Arya Tejo


*Krieeettt!!


Gili membuka pintu rumah itu setelah sebelumnya memencet bel terlebih dahulu.


Langkahnya begitu percaya diri ketika memasuki rumah yang terlihat sepi itu.


Ia segera menghampiri Luci yang terbaring di atas tikar pandan.


"Kasian sekali Luci, apa kalian belum mendapatkan penawarnya?" tanya Gili menghampiri Luci


Ia mengusap lembut rambut gadis itu.


"Apa kau benar-benar akan membunuhnya dengan tetap membiarkannya sekarat tanpa mencari obat penawar?" imbuh Gili menoleh kearah Guntur yang berdiri di balik pintu.


Guntur hanya tersenyum menanggapi kekhawatiran pemuda itu.


"Sebaiknya khawatirkan saja dirimu, dan jangan ikut campur urusan orang lain," sahut Guntur


Gili yang emosi segera menyerang Guntur dengan mencekiknya dan mendorong lelaki itu ke dinding kamar.


"Sebaiknya jaga mulutmu, kau hanya dukun kemarin sore jadi jangan sok tahu!" Gertak Gili


"Bukan sok tahu, tapi karena aku tahu semuanya hingga berani berkata seperti itu. Jika kau benar-benar menginginkan Luci menjadi pengantin mu maka kau harus melakukan apa yang aku minta?" sahut Guntur melepaskan tangan Gili dari lehernya


"Tentu saja aku tidak mau, lagipula aku punya penawar racunnya dan kau pasti membutuhkannya untuk mengobati Luci bukan?" jawab Gili menyeringai


"Aku tidak butuh penawar racun itu, karena jika aku mengambilnya darimu tetap saja kami akan kehilangan Luci, karena kau pasti membawa dia pergi bukan." sahut Guntur


"Ternyata kau b


Bagaimana jika kita melakukan barter?" tanya Guntur


"Barter??" Gili mengernyitkan keningnya


"Hmmm, aku tahu betapa kau sangat membutuhkan Balung Wangi agar bisa terus hidup dan menjadi manusia sakti. Jadi bagaimana jika kita barter Luci dengan Arya?"


"Tapi sayangnya aku tidak menerima barter mayat," jawab Gili


"Jangan Khawatir, meskipun kami tidak memiliki penawaran racun tapi bunga aster yg di genggam Luci sudah cukup untuk menjadi penawar alami untuk menghilangkan racun yang ada di tubuhnya,"


"Apa!!" seru Gili terkejut


"Jadi bagaimana?" tanya Guntur lagi


"Baiklah aku setuju," sahut Gili mengulurkan tangannya


Guntur segera menjabat tangan Gili, namun lelaki itu segera menariknya dan kemudian membanting tubuh Guntur dan memitingnya.


"Kau pikir aku akan bekerja sama dengan manusia lemah seperti dirimu, jangan mimpi!" seru Gili kemudian mengeluarkan belati dari balik bajunya.


"Aku sudah menduganya," ucap Guntur terkekeh


"Apa maksudmu??" Gili begitu bingung dengan ekspresi wajah Guntur


Benar saja, tidak lama sebuah ia mulai menyadari jika dirinya di jebak.


"Ah sial, jadi kecurigaan ku benar rupanya. Darah keluarga lebih kental hingga kau pasti akan melindungi kakak mu meskipun kau sangat dendam padanya. Dasar pengkhianat!" ucap Gili


"Sekarang katakan apa mau kalian?" tanya Gili dengan santainya


"Selamatkan Arya dari cengkeraman Ki Brojo, dan kami akan memberikan Luci padamu," sahut Guntur


"Aku tidak percaya dengan barter ini, aku yakin Arya tidak akan membiarkan kalian mengorbankan kekasihnya untuk menjadi tumbal ku. Jadi bagaimana aku percaya kalian?" jawab Gili


"Aku yang akan menjadi jaminan jika kau gagal mendapatkan Luci sebagai tumbal mu maka kau bisa membunuh ku," jawab Guntur


"Aku tidak butuh dukun abal-abal seperti dirimu, kalian pikir aku bodoh apa, silakan bunuh saja aku lagipula sebentar lagi aku akan mati jadi percuma saja aku hidup bukan?" sahut Gili


Guntur kemudian mengambil kendali atas keputusasaan Gili. Lelaki itu kemudian memberitahu pemuda itu bagaimana cara survive sebagai seorang mahluk jadi-jadian.


Alvin bahkan tak menyangka jika Guntur memahami semua kehidupan mahluk gaib dan para keturunannya.


"Siapa sebenarnya dirimu, bagaimana kau bisa tahu semuanya, bahkan kau tahu bagaimana cara membangkitkan aku dari kematian?" tanya Alvin


"Aku hanya seorang manusia biasa yang penuh dengan cinta," jawab Guntur membuat Leo seketika terkekeh mendengarnya


"Ah tidak ku sangka kau somplak juga Gun," ucap Leo


"Biasa aja Bro," jawab Guntur


"Kalau begitu apa kau bisa menyelamatkan aku dari kematian?" tanya Gili mendekatinya


"Hidup mati seseorang sudah digariskan jadi aku tidak bisa mencegah kematian, karena itu adalah hak prerogatif Tuhan yang tak bisa diubah oleh siapapun. Aku hanya bisa membantu memperpanjang usiamu jika Tuhan masih memberikan kesempatan hidup, tapi bukan dengan darah balung wangi," jawab Guntur


"Bagaimana aku bisa hidup jika tanpa darah Balung wangi," sahut Gili


"Kau bisa hidup kembali seperti semula dengan cara memanggil sedulur papat limo pancer jika kau memang masih benar-benar hidup. karena tidak ada sejarahnya manusia yang sudah mati bisa hidup kembali Dengan meminum darah manusia itu hanya dongeng belaka, bukan begitu Al?" tanya Guntur membuat Alvin terdiam


"Ah sial, bagaimana kau tahu soal itu!" celetuk Alvin menepuk keningnya


"Jadi selama ini kau menipuku??"


"Hmm, bisa dibilang begitu,"


"Lalu untuk apa darah balung wangi yang selama ini aku minum?" tanya Gili lagi


"Aish, kau terlalu banyak bertanya, sebaiknya cepat temui Ki Brojo dan bawa Arya kemari jika kau masih ingin hidup," sahut Alvin


Gili yang membenci Alvin sama sekali tidak menggubris ucapan lelaki itu. Guntur kembali mendekati pemuda itu dan mencoba mengambil hatinya. Dengan kesabaran dan pendekatan yang dilakukan Guntur, Gili akhirnya bersepakat untuk membantu mereka menyelamatkan Arya Tejo.


Gili segera menuju Padepokan Ki Brojo dan mencari keberadaan Arya di tempat itu.


Namun setelah menggeledah semua ruangan padepokan Gili tetap tetap tak menemukan dimana Arya di sembunyikan.


"Kenapa kamu kembali, apa yang kamu cari di sini?" tanya Ki Brojo


"Dimana kau sembunyikan Arya?" tanya Gili dengan santainya


"Kenapa apa kau berniat melepaskannya agar bisa menukarnya dengan Luci?" tanya Ki Brojo menyeringai


"Tentu saja tidak Aki, aku tahu Arya tidak akan membiarkan aku hidup jika ia tahu aku akan menjadikan kekasihnya sebagai tumbal ku. Begitupula dengan Leo dan Guntur aku yakin mereka tidak akan memberikan Luci padaku mengingat mereka begitu menyayangi gadis itu," jawab Gili


"Lalu untuk apa kau mencarinya?"


"Aku ingin membantumu membangkitkan Arya,"


"Baiklah kalau begitu ikutlah denganku," ucap Ki Brojo membawa Gili ke ruangan rahasia


Lelaki itu kemudian mengunci pintu ruangan itu setelah Gili benar-benar masuk ke ruangan itu.


"Sekarang tamatlah riwayat mu mayat hidup!" ucap Ki Brojo menyeringai manakala mendengar Gili menggedor-gedor pintu ruangan itu.