INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Karma



Banyuwangi, 12 Juni 1945


"Hari ini aku akan pergi berperang, doakan aku semoga bisa kembali dengan selamat," ucap Tejo berpamitan dengan Surti


"Semoga kau segera pulang dan kembali membawa kemenangan. Jangan pernah terluka dan kau harus kembali dengan selamat jika kau memang mencintai aku," sahut Surti


"Tentu saja Dinda, aku sudah melangkah jauh demi untuk hal itu, kalau begitu sampai jumpa lagi,"


Tejo kemudian pergi bertempur ke Medan Perang bersama para pejuang lainnya.


Selama di medan perang Tejo begitu percaya diri sehingga ia tidak pernah sedikitpun takut untuk menghadapi para penjajah meskipun ia tidak memiliki senjata api seperti lawan-lawannya.


Keberanian Tejo rupanya mengusik salah seorang pejuang lain yang penasaran dengan semangat juang Tejo yang begitu membara.


Diam-diam lelaki itu mencari tahu apa yang membuat pemuda itu begitu berani hingga tak takut mati.


"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu bersemangat untuk berperang, padahal pemuda seusia mu biasanya paling takut untuk berperang?" tanya lelaki itu


"Pertama aku ikut berperang demi mendapatkan restu untuk menikahi wanita yang ku cintai. Kedua aku tidak takut mati karena aku memiliki sebuah jimat yang akan melindungi ku dari senjata apapun, itulah kenapa aku begitu bersemangat dan tidak takut mati," jawab Tejo


"Aku pun membawa jimat sakti untuk melindungi diri. Kalau boleh tahu apa jimat yang kau bawa untuk melindungi diri?" tanya lelaki itu lagi


Tejo kemudian melepaskan kalungnya dan memperlihatkannya kepada lelaki itu.


"Jimat apa ini, sepertinya aku belum pernah melihatnya?" tanya lelaki itu penasaran


"Ini adalah kalung Serigala milik Pangeran Adipala Sayuti," jawab Tejo memberikan penjelaskan singkat tentang kalungnya


"Oh begitu rupanya, jadi jika kita memakai kalung ini maka kita akan kebal dari Senjata apapun, benar begitu?"


"Benar," sahut Tejo kemudian memakai kembali kalungnya


Malam itu tepat tanggal 14 Juni 1945, purnama bersinar terang. Seperti pesan mbah Ponijan setiap malam Jumat Tejo harus memberikan sesaji untuk jimatnya itu. Malam itu Tejo meninggalkan medan pertempuran untuk mencari binatang persembahan. Ia kesulitan mencari kembang tujuh rupa karena tak banyak bunga di dalam hutan. Meskipun begitu Tejo yang cerdik mengakalinya dengan tujuh jenis bunga lain yang tetap sama wangi dan kegunaannya.


Diam-diam Marijo lelaki yang selalu penasaran dengan kalung Serigala miliknya, mengikuti lelaki itu hingga ke hutan.


Marijo begitu menginginkan kalung itu setelah melihat kesaktiannya di Medan perang.


"Aku harus mengambilnya, jika ada kesempatan," ucap lelaki itu terus mengawasi Tejo yang sedang menyembelih hewan buruannya.


Tejo yang sudah selesai mengumpulkan sesaji segera kembali ke barak. Ia meninggalkan kalungnya dan kemudian bergegas untuk membersihkan tubuhnya sebelum melakukan ritual persembahan.


Saat ia sedang Mandi Marijo mengambil kalung saktinya.


Akhirnya aku berhasil juga mendapatkan kalung sakti ini,


Marijo segera keluar dari barak dan menemui sang pemimpin laskar pejuang. Pria itu sengaja menyampaikan berita bohong jika Tejo akan meninggalkan medan perang demi untuk bertemu dengan sang kekasih.


"Apa benar kau akan meninggalkan laskar pejuang demi menikahi kekasih mu?"


Arya Tejo begitu tercengang mendengar ucapan sang pemimpin laskar pejuang.


"Tentu saja tidak, aku akan tetap berjuang hingga darah penghabisan," sahut Tejo


"Lalu untuk apa kau mengemasi barang-barang mu?"


"Aku bukan sedang berkemas tapi aku mencari benda milikku yang hilang." jawab Tejo


"Benda apa itu?"


"Sebuah jimat yang melindungi ku selama ini. Malam ini adalah waktunya untuk ku memberikan sesaji. Jika malam ini aku tidak memberikannya sesaji maka mahluk itu akan datang kemari untuk membunuhku." jawab Tejo pasrah


"Kalau begitu pergilah dari sini, jangan sampai mahluk itu mencelakai kami disini,"


"Bagaimana jika semua ucapan mu salah," sahut Marijo


"Berarti orang itu tahu bagaimana cara memperlakukan jimat itu," jawab Tejo


"Kalau begitu tetaplah disini, karena hanya kamu yang tahu bagaimana menghadapi mahluk itu," sahut pimpinan laskar


"Baik," Tejo kemudian mempersiapkan sesaji itu jauh dari barak.


Lelaki itu sengaja mengadakan ritual di tempat sepi agar tak seorangpun melihatnya.


Dibawah cahaya rembulan Tejo melakukan ritual tanpa kalung itu. Angin berhembus kencang menghempaskannya barak-barak para pejuang. Semua orang lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu untuk menyelamatkan diri.


Marijo begitu ketakutan saat sosok Manusia berkepala Serigala muncul dari kalung yang dipakainya. Ia segera berlari menyelamatkan diri dari mahluk yang akan menerkamnya itu..


Dalam keputusasaan Marijo berlari ke hutan mencari keberadaan Tejo.


"Tolong aku Tejo!!!" seru Marijo berlari sekencang-kencangnya.


"Tolong aku!" seru lelaki itu begitu ketakutan


Ia terjatuh saat kakinya menyandung sebuah akar pepohonan. Dia mulai merayap saat Asu Baung mendekatinya.


"Aku akan mengembalikan kalung ini tapi tolong jangan bunuh aku," ucap Marijo melemparkan kalung itu


Tejo segera menangkap kalung itu saat Marijo melemparkannya.


"Hentikan!" seru Tejo saat melihat mahluk itu akan menghisap darah Marijo


"Aku akan memberikan sesaji seperti yang kau minta, darah binatang dan kembang tujuh rupa. Jadi lepaskan dia," bujuk Tejo mencoba merayu mahluk itu


Ia berjalan mengendap-endap menghampiri mahluk itu dan mengusap lembut mahluk itu.


"Sekarang masuklah kembali ke kalung ini dan aku akan memberikan yang kau inginkan," imbuhnya


Tiba-tiba saja mahluk itu mengangguk, kuku-kukunya yang panjang mulai menghilang. Netranya yang memerah seketika berubah menjadi putih lagi, dan ajaibnya wujudnya berubah menjadi sosok lelaki tampan dengan pakaian khas seorang pangeran kerajaan.


Ia kemudian menghampiri Tejo. Cukup lama ia menatapnya tanpa berkata apapun. Ia kemudian menghilang menjadi sebuah cahaya dan masuk kedalam kalung Serigala.


Tejo kemudian membawa kalung itu dan memulai ritualnya.


"Syukurlah selesai juga," ucap Tejo menghela nafas


Marijo kemudian segera bangun dan mengambil belati dari balik bajunya dan menikam Tejo saat pemuda itu hendak mengambil kalungnya yang sudah dimandikan darah binatang.


"Kenapa kau melakukan ini setelah aku menyelamatkan nyawa mu," ucap Tejo lirih


"Maafkan aku Tejo, aku juga ingin menjadi sakti dan memiliki istri cantik dan kaya seperti dirimu. Jadi maafkan aku jika aku harus membunuh mu untuk menggantikan posisi mu," jawab Marijo kemudian menarik belatinya.


Ia kemudian meninggalkan Tejo yang sekarat dan memakai kalung itu.


"Dengan kalung ini bukan hanya Surti yang akan bertekuk lutut di hadapan ku tapi juga para tentara Jepang. Aku bisa menjadi pimpinan laskar pejuang atau naik jabatan menjadi seorang ajudan jenderal," ucapnya lirih


Saat Lelaki itu pergi meninggalkan Tejo tiba-tiba sebuah cahaya keluar dari bandul Kalungnya.


Cahaya itu melesat mendekati Tejo. Tiba-tiba saja cahaya itu berubah menjadi sosok pangeran Adipala Sayuti.


"Kau harus menanggung karma mu sebagai penerus ku, karena tak bisa menjaga kalung itu hingga jatuh kepada orang yang salah. Tapi karena kamu memiliki rasa welas asih terhadap mahluk seperti diriku, maka aku menyelamatkan dirimu dari kematian, dan jadilah Asu Baung menggantikan diriku," lelaki itu kemudian menghisap habis darah Tejo hingga lelaki itu benar-benar sekarat dan pingsan.


Saat Tejo berada diambang Kematian, Sukma Pangeran Adipala Sayuti segera merasuk ke dalam tubuh Tejo membuatnya hidup kembali sebagai sosok Asu Baung.