
Sementara itu Leo mulai merasakan seluruh tubuhnya menggigil. Lelaki itu meringkuk dan menutupi tubuhnya dengan dedaunan untuk menghalau rasa dingin.
"Sepertinya malaikat maut sudah datang menjemput ku," ucap Leo saat melihat sekelebat bayangan hitam menghampirinya
"Kenapa kau masih saja bodoh Wira Andika, bahkan kerbau saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Tapi kau malah mengulangi kebodohan mu," ucap bayangan hitam itu mencemoohnya
"Persetan dengan semuanya, lagipula aku ini bukan kerbau jadi mana mungkin aku melakukan hal yang sama dengan dia, go a head!" sahut Leo
"Kau memang benar-benar keras kepala Dika, sekarang bersiaplah untuk menyambut kedatangan malaikat maut!" seru lelaki itu kemudian menghilang dari hadapan Leo
"Dasar brengsek, ganggu kekhusukan gue aja!" celetuk Leo
Kenapa di saat sakaratul maut tak ada seorangpun yang datang menolong ku, Arya dimana kau berada kenapa kau melupakan aku,
Leo tiba-tiba membuka matanya saat ia merasakan seseorang mengusap lembut rambutnya.
"Ibu?" Matanya berkaca-kaca saat melihat wanita itu tersenyum menatapnya
"Kenapa kau ada di sini?" tanyanya penasaran
"Ibu akan selalu berada dimana pun kau berada nak, aku tidak akan membiarkan mu seorang diri," jawab wanita itu kemudian memeluknya erat
Leo tak kuasa menahan air matanya saat mendengar jawaban ibunya.
"Sebaiknya kau pergi saja dari sini, berbahaya jika Ibu terus berada di sini. Pergilah!" jawab Leo mendorong wanita itu
"Tidak putraku, lebih baik aku mati daripada harus kehilangan mu untuk kedua kalinya. Aku memang tidak bisa menyelamatkan mu dari sini tapi aku bisa mengirimkan signal keberadaan mu kepada Arya Tejo,"
"Jangan lakukan itu Ibu, kembalilah pulang dan jangan pernah ganggu aku lagi itu sudah cukup bagiku," jawab Leo
"Bagaimana mungkin seorang Ibu tega melihat putra semata wayangnya kesakitan sendirian. Meskipun aku bukan ibu yang baik untuk mu aku tetap tidak bisa mengacuhkan dirimu. Jika kau menginginkan aku menghilang dari hidupmu, baiklah aku akan mengabulkannya untuk mu," wanita itu mencium kening Leo sebelum menghilang menjadi ribuan kunang-kunang
Leo tak kuasa membendung air matanya yang kembali bercucuran saat melihat sosok ibunya lenyap dan berubah menjadi kunang-kunang.
Meskipun aku sangat membencimu, tetap saja aku sedih saat kehilangan mu ibu,
Leo kembali memegangi dadanya yang mulai terasa ngilu.
"Arrgghhh!!"
Darah segar menyembur dari mulutnya, saat Leo tak sanggup menahan sakit yang menyerangnya.
************
Sementara itu Guntur berusaha membantu Arya Tejo menyusuri alam gaib untuk mencari keberadaan Leo.
Lelaki itu terlihat putus asa saat tak kunjung menemukan sahabatnya itu.
"Dimana kamu Le," ucap Arya gusar
Lelaki itu terlihat begitu getir saat tak berhasil menemukan Leo. Saat Arya benar-benar gusar memikirkan keberadaan Leo, seekor kunang-kunang tiba-tiba hinggap di tangannya.
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku kunang-kunang?" tanya Arya
Kunang-kunang itu kemudian terbang kembali. Mengetahui Arya tak mengikutinya, kunang-kunang itu kembali hinggap di tangannya.
"Apa lagi, apa kau ingin mengajakku pergi?" tanya Arya lagi
Kunang-kunang itu kembali terbang, dan kali ini Arya benar-benar mengikuti kunang-kunang itu pergi.
Ketika Arya tiba di tempat yang begitu gelap dan dingin tiba-tiba ratusan kunang-kunang lain datang dan menjadi pelita yang menerangi jalan setapak yang di laluinya.
Kunang-kunang itu berhenti didepan sebuah Gua dan berterbangan meninggalkan Arya Tejo.
"Ada apa di gua ini,"
Arya Tejo melangkah memasuki mulut gua.
Angin berhembus menyapu dedaunan yang menutupi tubuh Leo.
Arya menghentikan langkahnya saat melihat sesosok manusia tergeletak di depannya.
"Leo,"
Ia segera berlari dan memeluk erat sahabatnya itu.
"Dingin sekali, kamu pasti sangat kedinginan hingga membiru seperti ini,"
Arya kemudian menggendong tubuh Leo dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Apa yang harus kita lakukan dengan mayat ini?" tanya Arya merebahkan tubuh Leo di atas tikar pandan.
"Dia hanya butuh kehangatan, kau tinggal memeluknya sepanjang malam pasti dia akan siuman," jawab Guntur terkekeh
"Dih Sue, jangan bercanda saat darurat kek gini!" cibir Arya
"Coba saja kamu peluk dia selama tiga jam pasti dia siuman," sahut Guntur
"Dih ogah, masa cowok peluk cowok sih kan jadi ngilu dengernya,"
"Apa perlu Luci yang memeluknya?" tanya Guntur seketika membuat Arya meradang
"Sial, kalau gitu mending gue aja yang peluk dia," sahut Arya langsung berbaring di samping Leo dan memeluknya erat.
"Selamat menikmati kebersamaan kalian berdua," ucap Guntur kemudian meninggalkan kamar rahasia itu.
"Awas jangan macam-macam sama Luci, atau aku akan memberi mu pelajaran!" seru Arya
"Nikmati saja kebersamaan kalian, dan jangan pernah ikut campur urusan ku dengan Luci!" goda Guntur dari balik pintu
"Ah sial, dasar brengsek!" umpat Arya
Saat Adzan Subuh berkumandang, Leo perlahan membuka matanya. Pemuda itu segera mendorong tubuh Arya yang masih memeluknya erat.
*Buuggghhh!!
Arya mengaduh kesakitan saat ia membentur tembok.
"Ah, dasar brengsek lo, dasar gak tahu balas budi!" gerutu Arya
"Sorry bro, gue geli aja kalau dipeluk sama cowok," sahut Leo segera bergegas meninggalkanya
"Haish dasar kampret, emang gue seneng meluk lo, kalau bukan demi menyelamatkan lo gue juga ogah menjatuhkan harga diri gue didepan Luci," ucap Arya
Lelaki itu teringat saat Luci membuka pintu kamar itu dan melihatnya sedang memeluk Leo.
Leo yang kelaparan langsung menunju ke dapur.
"Hmm, wangi banget. Kamu lagi masak apa sih sayang?" sapa Leo menghampiri Luci yang sedang memasak di dapur
"Makanan kesukaan Mas Arya," jawab Luci begitu polos
"Kesukaan gue gak ada gitu?"
"Ada kok, tuh udah di atas meja," jawab Luci menunjuk kearah meja makan
"Uunch, sweat banget sih kamu tayank, coba gue belum punya pacar pasti sudah ku pacari kamu," sahut Arya berusaha memeluk gadis itu.
Namun Luci segera menghindar darinya.
"Ehemm!" seru Arya membuat Leo langsung duduk di kursinya
"Dududu," Leo bersenandung sembari menikmati sepiring nasi goreng dihadapannya
"Sarapan bro, inget jelous juga butuh tenaga," goda Leo
"Gue gak nafsu makan," sahut Arya kemudian meninggalkan ruangan itu
"Dih, gitu doank baper, gak asik lo!" celetuk Leo
"Bodo!!" sahut Arya segera naik ke lantai dua.
Melihat Arya Tejo merajuk, Leo segera meminta Luci untuk membujuknya. Gadis itupun menyetujui permintaan Leo dan segera menyusul Arya di kamarnya.
*Tok, tok, tok!!
Mendengar suara ketukan pintu Arya masih enggan membukakan pintu karena mengira itu adalah Leo.
"Apa Mas Arya sakit??"
Mendengar suara Luci Arya segera beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
"Apa kamu sakit?" tanya Luci lagi
Arya tak bisa berkata-kata saat mendengar suara Luci, baginya melihat gadis itu dari dekat saja sudah membuatnya senang apalagi mendengar ia mengkhawatirkannya.