
Tok, tok, tok!!
Mendengar suara ketukan pintu Arya terlihat enggan membukakan pintu karena mengira itu adalah Leo.
Pasti dia mau minta maaf, dasar buaya bisa-bisanya dia berusaha menikungku,
Lelaki itu kemudian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan mengabaikan suara ketukan pintu.
"Apa Mas Arya sakit??"
Mendengar suara Luci Arya perlahan membuka selimutnya, ia kemudian beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
Senyuman manis Luci seketika mampu mematahkan amarah dalam diri pemuda itu
"Apa kamu sakit?" tanya Luci lagi
Ia kemudian mengusap lembut kening Arya untuk memeriksa suhu badannya.
"Panas sekali, sepertinya kamu demam,"
Luci mengernyitkan alisnya saat mendengar bunyi detak jantung Arya Tejo yang tidak karuan. Ia kemudian menempelkan telapak tangannya di dada pemuda itu.
Seketika wajah Arya memerah saat Luci menempelkan telinganya untuk mendengar detak jantung pemuda itu.
"Sepertinya sakit mu sudah sangat parah hingga detak jantung mu tidak beraturan. Sebaiknya kita pergi ke dokter saja bagaimana?" tanya Luci menatap lekat lelaki itu
Arya tak bisa berkata-kata saat mendengar suara Luci, baginya melihat gadis itu dari dekat saja sudah membuatnya senang apalagi mendengar ia begitu mengkhawatirkannya.
"Ah itu... sepertinya tidak perlu, aku akan baik-baik saja setelah istirahat," sahut Arya gugup
"Kalau begitu sarapan dulu, minum obat lalu istirahat, ok!" sahut Luci dengan wajah ceria
Tidak ada satupun obat yang ampuh untuk menyembuhkan sakit ku selain dirimu,
Arya hanya diam dan menurut saat Luci menariknya dan mendudukkan ia di bibir ranjangnya.
Gadis itu kemudian dengan telaten menyuapinya hingga nasi di piringnya habis. Arya terus menatap gadis itu tanpa sedikitpun berkedip.
Andai saja kau memiliki perasaan yang sama seperti diriku, mungkin aku akan menjadi satu-satunya pria yang berbahagia di dunia ini.
Selesai menyuapinya, Luci kemudian membaringkan Arya ke ranjangnya dan menyelimutinya.
"Sekarang istirahatlah, aku akan mengambil air es untuk mengompres mu agar panasnya cepat turun," ucap gadis itu mengusap rambutnya pelan
Ia kemudian bergegas pergi ke dapur untuk mempersiapkan air es untuk mengompres Arya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Leo
"Dia demam," Luci
"Itu pasti karena ia begitu banyak menyalurkan energinya untuk menyembuhkan aku, kasian juga Tejo!"
"Kau mau kemana?" tanya Leo
"Mau mengompres Mas Arya, semoga saja panasnya cepat turun setelah aku mengompresnya," sahut Luci
"Tak perlu, lagian sejak kapan Asu dikompres, haish... ada-ada saja," celetuk Leo
"Apa Asu??" tanya Luci mengerutkan keningnya
"Ah itu Asu tetangga sakit masa mau di kompres kan aneh," sahut Leo
"Bisa saja Mas, hewan juga perlu perawatan saat sakit sama seperti manusia,"
"Tapi masalahnya ini bukan hewan biasa,"
"Terus??" tanya Luci
"Dia hewan jadi-jadian," bisik Leo
"Jangan ngadi-ngadi, jaman modern seperti ini mana ada mahluk jadi-jadian,"
Luci segera meninggalkan Leo dan kembali ke kamar Arya.
Ia kemudian mengompres Arya yang pura-pura terlelap.
"Dasar manja, pasti dia sengaja pura-pura tidur agar Luci tetap menjaganya di sisinya. Dasar modus!" celetuk Leo dari depan pintu
Cukup lama Luci terus menemani Arya dan mengganti kompresnya hingga ia kelelahan dan tertidur di sampingnya.
Saat mendengar Adzan magrib berkumandang Luci perlahan membuka matanya.
Gadis itu berjalan menyusuri tangga menuju ke kamarnya.
"Sepi sekali, kemana Mas Arya??"
Gadis itu mengucek-ucek matanya dan mencari keberadaan sang Majikan.
Namun ia tak menemukan pria itu dimanapun juga.
"Mungkin saja dia sekarang ada di rumah sakit bersama Leo, atau sudah berkerja lagi??. Apa perlu aku menelponnya untuk memastikan keadaannya??"
"Ah sepertinya tidak perlu, aku yakin dia sudah lebih baik sekarang," Luci kemudian duduk di ruang tamu sembari memandangi foto-foto yang terpajang di dinding ruangan itu.
Kenapa aku tiba-tiba teringat ibu,
Luci kemudian menghapus air matanya yang tiba-tiba membasahi pipinya.
Sementara itu di luar komplek terdengar suara riuh membuat Luci yang penasaran segera keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang terjadi.
Ia menerobos kerumunan warga untuk melihat apa yang terjadi.
"Ibu!" seru gadis itu saat melihat wanita yang begitu mirip dengan ibunya
Sang Wanita segera menutupi wajahnya saar melihat Luci mendekatinya.
"Aku tidak salah lagi, Ibu kenapa kau ada disini?" tanya Luci
wanita itu tetap bungkam dan terus menyembunyikan wajahnya dari Luci.
"Sebenarnya ada apa ini?, kenapa kalian menangkap dan menginterogasi ibuku?" tanya Luci
"Wanita itu, dia ketahuan mencuri di Rumah makan Pak Gagah," sahut seorang security komplek
"Memangnya apa yang dia curi?" tanya Luci lagi
"Entahlah, untuk itulah Kami sedang memeriksanya sekarang,"
Pria itu kemudian menggeledah sang wanita yang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. Namun sang sekuriti tak berhasil mengambil sesuatu yang disembunyikan dari genggaman tangan wanita itu. Melihat para satpam komplek itu terus menggeledahnya membuat Luci iba melihat ibunya.
Ia kemudian menarik ibunya dan merebut sesuatu yang ia sembunyikan di balik pakaiannya.
Betapa terkejutnya Luci saat melihat isi bungkusan yang ia ambil dari wanita itu.
"Ayam???"
"Sudah hampir seminggu aku kehabisan uang hingga hanya bisa makan nasi saja tanpa lauk. Aku terpaksa mencuri ayam goreng itu dari karena kasian sama Agnes yang sudah mogok makan selama tiga hari, aku takut di sakit."
Wanita itu terlihat begitu sedih saat menyampaikan ceritanya.
"Astagfirullah, kenapa Ibu tidak menghubungi Luci?"
"Sudah hampir dua Minggu kami menghubungi mu tapi tak ada kabar, kami bahkan mengunjungi kediaman Majikan kamu, tak ada seorangpun disana,"
Astagfirullah, aku lupa. Aku kan terkurung di dalam lukisan beberapa hari, wajar saja jika ibu tak bisa menghubungi ku,
"Kalau begitu, biarkan aku menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dengan pak Gagah. Jadi aku mohon lepaskan ibu saya," ujar Luci memohon kepada satpam komplek
Mereka kemudian mengijinkan Luci membawa Ibunya pergi dari tempat itu. Luci terlebih dahulu mendatangi Rumah makan milik Pak Gagah untuk menyelesaikan masalah ibunya.
"Baiklah, aku tidak akan memperpanjang masalah ini ke jalur hukum, jika kamu membayar ganti rugi kerugian rumah makan ku sebesar dua juta rupiah," ucap Pak Gagah
"Astagfirullah, Begitu mahalkah harga dua buah ayam pop hingga kami harus membayarnya sebesar itu?" sahut Luci sinis
"Bukan masalah ayam popnya, tapi kami juga harus menanggung kerugian karena harus memberikan uang tips kepada satpam komplek yang membantu menangkap pencuri itu. Belum lagi kerugian waktu yang harus terbuang karena aku ikut mengejar-ngejar wanita itu. Uang segitu tak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan kerugian kami. Apa kau lebih memilih Ibumu mendekam dalam bui daripada membayar uang damai itu!" seru Gagah
"Sejak kapan satpam komplek meminta imbalan saat membantu permasalahan warganya!" ucap Arya memasuki rumah makan Pak Gagah
"Mungkin uang dua juta bagi anda tidak ada artinya, namun bagi beberapa orang jangankan dua juta bahkan dua ribu saja sangat berharga. Andai saja mereka punya uang mungkin dia tidak akan mencuri ayam untuk lauk pauk anak-anaknya." ucap Arya membuat Luci begitu terharu mendengar lelaki itu membelanya
"Kau tidak perlu khawatir aku akan membayar uang damai itu," ucap Arya menatap Luci
"Terimakasih banyak Mas," jawab gadis itu sumringah
"Dan kau ibu tiri, aku akan mengirimkan lauk pauk ke rumahmu jadi cepatlah pulang," imbuhnya
"Terimakasih banyak Mas Arya, terimaksih sudah membantuku,"
"Berterima kasihlah pada Luci, karena aku melakukannya demi dia," jawab Arya membuat Luci semakin terharu mendengarnya