INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Hati yang tertaut



Apa kau tidak takut denganku?" tanya Arya


"Kenapa aku harus takut, dari kecil aku selalu diikuti oleh banyak mahluk halus. Mulai dari yang menyeramkan hingga yang berwujud lelaki tampan. Aku sudah terbiasa melihat mahluk gaib sehingga aku tidak kaget saat mengetahui kau juga bukan Manusia. Karena yang aku tahu hanya mahluk gaib yang menyukai seorang balung wangi," terang Luci


"Jadi kau meragukan cinta ku karena aku seorang mahluk gaib?" tanya Arya


Luci hanya terdiam mendengar ucapan Arya, gadis itu tak berani menjawabnya.


"Baiklah kalau itu alasannya, aku tidak akan memaksamu lagi," ucap Arya getir


Tiba-tiba Luci mendekati pemuda itu dan mencium bibirnya, membuat Arya terkejut bukan main di buatnya.


Luci tertunduk malu setelah mencium lelaki itu, membuat Arya semakin gemas dibuatnya.


Arya menarik tubuh gadis itu dan mencium bibirnya dengan begitu lembut. Lelaki itu semakin mendalam ciumannya dibawah sinar rembulan, membuat Luci hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati cumbuannya.


Ketika Luci dan Arya masih saling memagut, Leo sudah tiba di hutan tepi pantai. Pemuda itu berjalan menyusuri hutan sambil berteriak memanggil nama Guntur. Ia terus meneriakkan nama sahabatnya itu, namun tak ada jawaban apalagi tanda-tanda jika Guntur ada di tempat itu.


"Sepi sekali, apa dia tidak datang ke sini?"


Saat Leo akan pergi meninggalkan hutan, tiba-tiba kakinya tersandung hingga membuat lelaki itu hampir jatuh.


"Mayat??" Leo segera memeriksa tubuh manusia itu.


Ia begitu kaget saat melihat wajah mayat yang di temukannya.


"Guntur?!" Leo segera memeriksa denyut nadi pemuda itu untuk memastikan apa dia masih hidup atau sudah mati.


"Dia masih hidup, aku harus segera membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat," Leo kemudian memapah pemuda itu dan membawanya kembali ke villa.


"Apa yang terjadi!" seru Arya menghampiri Leo saat pemuda itu memasuki Villa


Arya segera membantu Leo memapah tubuh Guntur dan merebahkannya di sofa.


"Sepertinya ada yang berusaha membunuhnya," sahut Leo menunjukkan bekas luka tikam di tubuh pemuda itu.


"Benar, luka tikamnya ada di punggung, itu menandakan jika yang melakukannya adalah orang yang mengenalnya. Mereka pasti bertemu sebelum ia di tikam hingga tak ada jejak perlawanan dari Guntur," ucap Arya mulai menganalisa penyebab Guntur ditikam.


"Sebaiknya cepat telpon ambulance, atau dia akan mati karena kehabisan darah," ucap Luci


Leo segera mengambil ponselnya dan menghubungi ambulance. Tidak lama sebuah mobil ambulance tiba di depan Villa dan membawa Guntur ke rumah sakit. Leo sengaja masuk kedalam ambulance untuk mengawal Guntur. Pemuda itu sengaja ikut kedalam mobil ambulance untuk mengantisipasi sang penjahat akan mengulangi kembali aksinya saat tahu Guntur masih hidup.


Setibanya di rumah sakit Leo terus mengawasinya hingga ia terus menunggunya di ruang Operasi.


Guntur perlahan membuka matanya, ia tertegun melihat Leo terlelap di kursi.


"Terimakasih Le," ucapnya lirih


Tidak lama seorang perawat datang dan mengecek kondisinya pasca operasi.


"Syukurlah, lukanya sudah mengering," ucap sang perawat kemudian memasang kembali perban di punggungnya.


"Jangan lupa obatnya diminum setelah sarapan," imbuhnya


"Terimakasih sus," ujar Leo menghampirinya


"Sama-sama,"


Pemuda itu mengantar sang perawat hingga ke depan bibir pintu.


"Maaf aku ketiduran," ucap Leo menghampiri Guntur


"Tak apa, kau pasti kelelahan bukan. Sebaiknya kau istirahat saja, aku sudah baikan kok," jawab Guntur


"Bagaimana bisa kau baik-baik saja setelah kehabisan darah begitu begitu banyak. Beruntung ada Luci yang mendonorkan darahnya untuk mu,"


"Apa, Luci mendonorkan darahnya untukku?" tanya Guntur


"Benar, aku sudah mencari darah ke semua kantor PMI, namun tidak ada donor yang sesuai dengan darahmu. Kebetulan golongan darah Luci sama denganmu dan dia mau mendonorkannya untukmu," jelas Leo


Guntur langsung menyingkap selimutnya dan turun dari brangkarnya.


"Dimana Luci dirawat?" Guntur balik bertanya


"Di paviliun Cempaka no.235,"


Guntur segera bergegas pergi meninggalkan ruangannya dan mencari bangsal perawatan Luci.


"Ah sial!" seru Leo segera menyusul Guntur


*Paviliun Cempaka


Seorang perawat memasuki ruangan itu membawakan sarapan pagi untuk pasien dan meletakkannya di meja.


"Jangan lupa di minum vitaminnya," ucap wanita itu setelah memeriksa kondisi Luci


"Terimakasih Sus," jawab Arya


Lelaki itu kemudian mengambil jatah sarapan Luci dan duduk di sebelah gadis itu.


"Sekarang gantian aku yang akan merawat mu," ucap pria itu menyendok nasi dan menyuapkannya pada Luci


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri kok," tolak Luci mengambil sendok dari tangan Arya


"Kenapa kau tak mau aku suapi, padahal aku ingin sekali menjadi kekasih yang romantis seperti dalam drama Korea," jawab Arya


"Kamu sudah berada di sisiku dan menemani ku sepanjang malam saja sudah romantis menurutku, jadi nikmat mana lagi yang aku dustakan,"


"Ah ternyata kamu benar-benar gadis sederhana, aku heran kenapa aku bisa begitu menyukai gadis biasa seperti dirimu," ucap Arya menggelengkan kepalanya


Luci hanya tersenyum melihat wajah Arya yang menggemaskan.


"Jangan tersenyum seperti itu, kau bisa membuat ku diabetes jika selalu tersenyum seperti itu," celetuk Arya


Seketika Luci langsung memanyunkan bibirnya.


"Ah sial, bahkan kau seperti itu saja masih terlihat cantik. Sepertinya aku benar-benar sudah terkena guna-guna!" rancau Arya


Ia tak percaya jika dirinya selalu terpesona dengan Luci bagaimanapun keadaan gadis itu.


Apa ini yang namanya bucin akut,


Meskipun Arya berusaha menolaknya namun, semakin ia mencoba bersikap biasa rasa sayangnya akan semakin bertambah untuk Luci.


"Dahulu aku selalu merasa sendirian, meskipun aku punya keluarga tapi tak seorangpun peduli apalagi menyayangi ku. Hanya ayah ku satu-satunya lelaki yang selalu menyayangi ku dengan tulus, tapi mereka merebutnya dariku. Saat ayah ku masih ada aku bertahan hidup untuknya tapi setelah ayahku tiada hidupku seperti Neraka. Beberapa kali aku berusaha bunuh diri namun selalu saja gagal. Aku selalu menyalahkan dan mengutuk mahluk astral yang selalu menyelamatkan aku saat aku hendak bunuh diri. Tapi sekarang aku bersyukur padanya dan sangat ingin berterima kasih padanya,"


"Kenapa?" tanya Arya


"Karena jika bukan karena dia, kita tidak akan bertemu. Kau tahu ... aku sangat bahagia karena sekarang aku tidak sendirian lagi. Ada kamu yang selalu berada di sisiku dan juga melindungi ku," ucap Luci menyandarkan kepalanya di bahu Arya


"Tentu saja, aku tidak akan pernah membiarkan mu sendirian lagi mulai sekarang, kau bisa memanggilku kapanpun kau mau. Dan mulai sekarang aku juga akan menjadi bodyguard mu yang akan menjaga dan melindungi mu 24 jam," ucap Arya mengusap lembut rambutnya


"Benarkah??"


"Tentu saja, kau tahu kan jika makhluk gaib lebih setia daripada manusia," jawab Arya


"Benar, kalau begitu berjanjilah padaku kau tidak akan berubah apapun yang terjadi padaku kelak,"


"Tentu saja, meskipun rambut mu akan memutih, kau akan menua dan mati aku akan selalu mencintaimu dan cintaku takkan pernah berubah sedikitpun. Jika aku mengkhianati mu maka kau bisa membunuh ku," ucap Arya


"Bagaimana bisa aku membunuh mahluk gaib seperti dirimu?" tanya Luci


"Kau bisa membunuh ku dengan cintamu," jawab Arya membuat Luci langsung memukulnya


"Ish dasar gombal!" seru gadis itu terus memukulinya.


Sementara itu Guntur terus berdiri di depan pintu sembari menatap kedekatan keduanya.


Rasanya begitu pedih saat melihat wanita itu dekat dengan pria lain. Guntur tak bisa menyembunyikan rasa galaunya saat melihat keduanya berciuman. Bagaimanapun juga pemuda itu mulai merasakan benih-benih cinta pada gadis itu.