INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Penunjuk jalan



"Sebenarnya siapa kamu dan kenapa kau mengusikku!" seru Arya


Gili hanya tertawa melihat kemarahan Arya, hingga membuat pemuda itu semakin geram dan melemparkannya kearah anj*ng-anj*ng liar.


Wah aku ketinggalan pertunjukan seru kali ini,


Alvin tersenyum sinis memperhatikan Arya yang sedang memberikan pelajaran kepada Gili.


"Arrgghhh!!" Gili mengerang kesakitan saat hewan-hewan liar itu terus menyerang dan menggigitnya


Owh, sadis sekali Tejo... sepertinya akan lebih seru bila pertarungan ini berlangsung seri, biar ada season ke duanya hihihi,


Alvin segera melesat dan menyambar tubuh Gili saat pemuda itu hampir mati terkena gigitan Anj*ng liar


"Alvin, kenapa bajing*an itu ikut campur, Sial!" seru Arya kesal


Saat lelaki itu hendak mengejarnya, Leo langsung menghentikannya.


"Sekarang bukan saatnya mengurusi bajing*n itu, sebaiknya kau selamatkan saja Luci," ujar Leo


Arya mengangguk setuju, dan secepat kilat lelaki itu melesat ke tengah laut untuk mengejar Luci.


Ia berusaha meraih tangan gadis itu, saat berada di pusara yang menarik tubuhnya. Saat Arya berhasil meraih tangannya sebuah ombak besar kembali datang dan menghempaskan tubuh Arya hingga ke daratan.


"Tejoooo!!"


*Arrgghhh!!


Arya berteriak keras saat melihat Luci tersedot masuk kedalam pusara air laut. Lelaki itu mengepalkan tangannya, wajah tampannya seketika berubah menjadi sosok Asu Baung, kuku-kukunya mulai meruncing dan panjang.


Dengan mata merah menyala mambarkan kemarahannya Arya berjalan menuju tepi pantai.


Dengan kepalan tangannya ia kemudian melesat dan melepaskan pukulan mautnya ke bibir pantai. Seketika tanah bergetar hebat membuat Air laut seketika surut. Arya kemudian berjalan hingga ketengah Laut dan kemudian hilang tersapu ombak.


"Arya!!!" seru Leo berusaha mengejarnya


Leo langsung menceburkan diri ke pantai untuk mencari keberadaan Arya, namun sedalam apapun ia berenang lelaki itu tak kunjung ditemukannya.


Kemana dia, apa dia sengaja menyusul Luci atau dia bunuh diri karena patah hati,


Leo segera kembali ke daratan dan kemudian kembali ke villa.


"Tidak perlu khawatir dhimas, Kanda baik-baik saja," ucap Alvin


*Grep!


Leo segera melepaskan lengan lelaki itu saat menyentuh pundaknya.


"Ah, kau masih saja pemarah seperti dulu Dhimas," ucap Alvin


Leo yang sudah geram dengan tingkah pemuda itu langsung melepaskan pukulan kearahnya hingga Alvin sempoyongan.


Lelaki itu langsung tertawa terbahak-bahak setelah menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya.


"Kau memang luar biasa dhimas, meskipun kau anak seorang pelacur tapi kau memiliki kekuatan yang luar biasa,"


Tak tahan mendengar lelaki itu menghina ibunya, Leo kembali melepaskan pukulannya. Namun kali ini Alvin dengan cepat menepisnya.


Leo kembali menyerangnya dan Alvin tidak tinggal diam. Keduanya kemudian saling serang hingga pertarungan tak bisa dihindarkan lagi.


Sebuah tendangan keras menghantam tubuh Alvin hingga ia terhempas ke pantai.


"Sial, ternyata kau masih kuat seperti dulu," celetuk Alvin ia segera bangkit dan kemudian menghilang saat Leo kembali melepaskan tendangan kearahnya.


"Dasar pengecut!" seru Leo kemudian berteriak melepaskan amarahnya.


Setibanya di vila ia kemudian merebahkan tubuhnya di sofa.


"Apa yang terjadi, kenapa kau begitu gusar?" tanya Guntur menghampirinya


"Arya dan Luci menghilang di pantai," jawabnya menghela nafas


"Tidak perlu khawatir, Mas Arya baik-baik saja, hanya saja dia membutuhkan bantuan untuk membebaskan Luci," jawab Guntur


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Leo penasaran, kenapa Guntur bisa tahu apa yang sedang dengan Arya dan Luci.


Guntur menarik nafas panjang, kemudian berjalan keluar Villa diikuti oleh Leo. Pemuda itu menghentikan langkahnya di tepi pantai yang mulai ramai.


Ia terus berjalan hingga berhenti di ujung pantai yang sepi dan tak seorangpun ada di sana.


Guntur mengambil air laut dengan kedua tangannya untuk membasuh wajahnya.


"Angin berhembus ke daratan seolah memberitahukan bahwa ada yang akan datang." ucap Guntur menerawang


"Siapa yang akan datang?" tanya Leo semakin tak mengerti saat Guntur mulai merancau dengan kata-kata yang sama sekali tak di mengerti olehnya.


Ia mencoba menyadarkan Guntur yang terlihat sedang bermonolog sendiri.


"Jaga bicaramu anak muda!" seru Guntur membuat Leo seketika berhenti menggerutu


"Sebaiknya kau diam dan dengarkan saja. Bila ada yang penting catat supaya tidak lupa," ucap Guntur


"Dih ngelawak wkwkwkw!" sahut Leo terkekeh


Guntur kembali bermonolog sendiri, pemuda itu seperti sedang berbicara dengan mahluk tak kasat mata hingga membuat Leo bergidik ngeri dan kemudian meninggalkannya.


Baru beberapa langkah Leo meninggalkan Guntur tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis kecil berlalu lalang di depannya.


Anak-anak itu seperti berusaha menghalang-halangi langkah Leo saat lelaki itu hendak meninggalkan pantai.


"Permisi, bisa minggir sebentar dek, abang mau lewat!" seru Leo mencoba meminta jalan saat anak-anak perempuan itu semakin banyak berdatangan dan mengerubunginya.


Guntur kemudian menghampiri Leo dan menebar sebuah beras kuning kearah anak-anak perempuan itu hingga meraka berebut untuk mengambil beras-beras itu yang berjatuhan di pasir.


"Ah akhirnya lepas juga tuh anak-anak!" celetuk Leo langsung menghampiri Guntur.


"Thanks Bro, btw tuh bocah-bocah siapa sih kenapa juga menghalangi jalanku?" tanya Leo


"Mereka adalah anak-anak perempuan yang menjadi tumbal di pulau ini," sahut Guntur


"Tumbal apa?"


"Tumbal kedigdayaan, dan Sepertinya Luci akan bernasib sama jika kita tak segera menolongnya," sahut Guntur.


"Hmmm, siapa sebenarnya yang melakukan hal kejam ini?"


"Coba tanyakan saja sama Ombak di lautan," jawab Guntur


"Dih ngelawak, hahahaha!" sahut Leo terkekeh


"Serius nih gue nanya, siapa yang sudah melakukan semua ini?" tanya Leo lagi


"Hanya orang-orang serakah yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan dan kedigdayaan, tapi mereka lupa jika semuanya tidak ada yang gratis," jawab Guntur


"Btw kita mau kemana lagi ini," tanya Leo yang mulai merasakan kakinya pegal karena terus mengikuti Guntur menyusuri pantai.


Guntur kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah istana.


"Sial, pantas saja kakiku sampai pegal, ternyata kau membawaku ke alam gaib!" gerutu Leo


Guntur terdiam sambil menghitung jumlah tiang Bambu Kuning yang terpasang di depan istana itu. ribuan mawar putih terhampar sepanjang jalan menuju ke pintu masuk istana.


"Mereka sudah menyambut kedatangan kita," ucap Guntur kemudian melangkah masuk.


Tak lama terdengar suara gamelan jawa, dan pintu gerbang istana seketika terbuka. Para penari tampak menari tarian selamat datang untuk menyambut kedatangan kedua pemuda itu.


"Kita ada dimana Bro?" bisik Leo


"Kita ada di istana penguasa Laut selatan," jawab Guntur


"Astoge, aku masih belum mati Gun, please jangan tumbalin gue," rengek Leo


"Siapa juga yang mau numbalin Lo, lagipula mana ada demit yang doyan sama lo yang sudah tidak suci lagi," ledek Guntur


"Anj*r, apa maksud lo," bisik Leo


"Demit lebih pemilih daripada manusia. Mereka hanya mau menerima tumbal perjaka ting-ting saja bukan perjaka Ting tong kaya lo!" sahut Guntur terkekeh


"Dih Sue,"


Seorang wanita cantik dengan pakaian serba hijau datang menghampiri keduanya.


"Sugeng Rawuh Gusti Pangeran Wira Andika," ucap wanita itu menyunggingkan senyumnya


Leo hanya celingukan mencari siapa yang disapa wanita itu. Melihat Leo kebingungan Guntur segera membisikkan sesuatu padanya.


"Dia menyapamu Bro,"


Seketika Leo langsung tersenyum lebar menatap wanita itu, " Terimakasih atas sambutannya Nyai,"


"Ada apa gerangan Aki datang ke istanaku?" tanya wanita itu begitu ramah


"Aku hanya ingin mencari tahu keberadaan teman kami Arya Tejo dan Luci. Kebetulan keduanya hilang setelah terseret ombak di laut selatan. Apa kau tahu dimana keberadaan mereka?" jawab Guntur balik bertanya


"Mohon maaf Aki, Sepertinya mereka tidak ada disini. Meskipun mereka hilang terbawa ombak tapi ombak itu bukan dari laut kidul. Tapi dari kekuatan jahat seorang penganut ilmu hitam yang sengaja mengkambing hitamkan diriku," jawab wanita itu


"Apa kau tahu siapa dia?" tanya Leo


"Tentu saja Pangeran, kami akan membantumu menemukan teman-teman anda."


Tiba-tiba ribuan kunang-kunang bermunculan di istana itu.


"Ikuti saja kunang-kunang itu, mereka akan membawa kalian ke tempat dukun itu,"