
"Kenapa ini, kenapa remnya tiba-tiba blong!" serunya panik
Gadis itu berusaha mengerem motornya namun tetap saja motornya tak berhenti malah semakin cepat lajunya.
Guntur yang tak sengaja melintas di jalan itu segera membelokkan sepeda motornya dan mengejar Luci
Siapa yang mencoba mencelakainya,
Guntur mempercepat laju kendaraannya mengejar Luci.
"Ya Allah bagaimana ini," ucap Luci
Ia semakin panik saat sebuah truk dari arah samping melaju kencang.
Pemuda itu sengaja menabrak motor Luci, "Lepaskan motornya dan raihlah tanganku!" seru Guntur mengulurkan tangannya
Luci segera mengulurkan tangannya, dan Guntur langsung menariknya.
*Braaaakkkk!!!
Tiba-tiba saja sepeda Motor Suci terpelanting menghantam bahu jalan.
"Arrrrrghhh!!" Luci menjerit saat motor Guntur hampir tertabrak truk yang melintas dari samping.
*Ciiit!!
Beruntung Guntur segera mengerem mendadak hingga motornya menukik tajam.
Bruuughh!!!
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Guntur saat Luci memeluknya erat sembari menjerit ketakutan.
Gadis itu hanya mengangguk tanpa berucap sepatah katapun.
Guntur kemudian menepikan sepeda motornya, untuk menenangkan Luci.
"Semuanya baik-baik saja sekarang, jadi jangan takut," ucap pemuda itu kemudian melepaskan helmnya
Ia tersenyum simpul saat melihat tangan Lucu masih melingkar erat di pinggangnya.
"Biarkan nanti aku yang mengurus sepeda motor mu, sekarang aku antar kamu pulang ok,"
Lagi-lagi Luci hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Ia bahkan masih membenamkan wajahnya di punggung Guntur.
Guntur kemudian melesatkan motor sportnya
dan berhenti didepan sebuah kafe.
"Kita sudah sampai turun yuk?" ucap pemuda itu
"Kalau begini terus aku mana bisa turun, kau bisa kan melepaskan pelukannya sebentar saja, nanti kau boleh memelukku lagi setelah turun dari motor ok," ujar Guntur membujuknya
Perlahan Luci mulai melepaskan pelukannya, dan Guntur segera turun dari motornya.
"Kenapa kita ke kafe bukannya balik ke rumah?" tanya Luci saat menyadari dirinya sudah ada di depan sebuah Kafe
"Seperti kau perlu sesuatu yang bisa mengembalikan kondisi mu seperti semula, so itulah alasannya kenapa aku membawamu kemari," ujar Gauntur
"Oh begitu, maaf kalau sudah merepotkan kamu," jawab Luci terlihat malu
"Tidak masalah kok, lagipula aku seneng kok kalau direpoti kamu. Yuk masuk," sahut Guntur
Lelaki itu tersenyum menatap Luci yang masih belum beranjak.
"Kau boleh memelukku lagi, jika itu membuat mu nyaman," imbuhnya
"Ah, maaf Mas," ucap Luci lagi
Gadis itu begitu malu terhadap Guntur hingga langsung menutupi wajahnya.
"Tidak apa Lu, lagian aku senang jika kamu merasa nyaman saat bersamaku," ucap Guntur membuka telapak tangan Luci yang menutup wajahnya.
Ia kemudian menggenggam erat jemari gadis itu dan menggandengnya.
"Kalau kau malu untuk memelukku lagi, apa seperti ini sudah membuat mu nyaman?" tanya Guntur membuat Luci langsung mengangguk pelan
"Syukurlah, kalau begitu ayo kita masuk," ajak Guntur menggandengnya
"Hmm," jawab Luci segera mengikuti pemuda itu.
Setibanya di dalam kafe Guntur segera menarikkan kursi untuknya.
"Duduklah," ucapnya santun
Ia kemudian memanggil seorang pelayan dan memesan makanan.
Tidak lama seorang pelayan kembali mendatangi meja mereka sembari membawakan sebotol air mineral.
"Sekarang minumlah dulu supaya kau tenang," ujar Guntur kemudian memberikan sebotol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.
"Terimakasih Mas," jawab Luci kemudian meneguknya
"Sama-sama," sahut Guntur tersenyum tipis
Tidak lama menu makanan yang mereka pesan pun sudah tiba.
Guntur segera mengambil pisau dan memotong-motong daging steak di piringnya dan memberikannya kepada Luci.
"Sekarang makanlah,"
"Terimakasih Mas," jawab Luci kemudian segera menyantap steak di depannya.
"Jangan buru-buru makannya nanti kesedak,"
"Tapi aku harus buru-buru Mas, aku takut Mas Arya mencari ku karena jam segini aku belum pulang," jawab Luci
"Terserah kamu saja Lu, yang penting kamu senang," jawab Guntur kemudian menyantap makanannya.
Selesai makan Guntur kemudian mengantarkan Luci pulang.
"Kalau kamu masih takut kau boleh kok memelukku lagi," ucap Guntur
Merasa mendapat lampu hijau Luci segera melingkarkan tangannya dan merebahkan kepala di punggung Guntur.
Selama perjalanan pulang tak ada pembicaraan antara keduanya. Guntur pun melajukan kendaraannya dengan cepat agar Luci taj kemalaman tiba di rumah majikannya.
*Ciiit!!
Pantas saja kau baru pulang, kalian pasti baru pulang berkencan,
"Terimakasih banyak Mas Guntur untuk hari ini, kalau tidak ada Mas mungkin aku sudah tidak ada disini lagi sekarang. Terimakasih juga buat makan malam dan semuanya, aku benar-benar merasa berhutang budi padamu," ucap Luci saat sudah tiba di depan rumahnya
"Sama-sama, lain kali kalau kau ketakutan atau dalam bahaya panggil saja namaku aku pasti akan datang menolong mu,"
Dasar modus, memangnya kau ini aku yang bisa mendengar suaranya meskipun dari jarak yang begitu jauh,
"Bagaimana cara memanggil mu, sedangkan nomor ponsel saja tidak punya," jawab Luci
"Kalau begitu berikan ponselmu," ujar Guntur
Luci segera memberikan ponselnya dan Guntur segera menulis nomor ponselnya.
"Ini nomorku, panggil saja jika kau memerlukan bantuan ku, I always available for you 24 hours," ucapnya
Dasar buaya,
"Terimakasih Mas, aku jadi terhura," jawab Luci tersipu-sipu
"Ehemm!!" seru Arya membuat keduanya segera menoleh kearahnya.
"Kalau begitu aku pamit ya, sampai jumpa lagi besok," ucap Guntur berpamitan
"Dadah!" seru Luci melambaikan tangannya
Gadis itu segera masuk kedalam rumah saat melihat wajah manyun Arya.
"Maaf Mas saya pulang terlambat karena terjadi kecelakaan kecil dengan sepeda motor ku," ucap Luci mencoba memberikan penjelasan kepada Arya
"Kenapa kau tidak memanggil namaku seperti biasanya?" tanya Arya
"Bukankah kau sudah melarang ku untuk memanggil namamu saat dalam bahaya ataupun tidak," jawab Luci
"Mulai sekarang kau boleh memanggil namaku kapanpun kau mau," ujar Arya
Luci tidak menjawabnya, ia justru segera pergi meninggalkan Arya menuju ke kamarnya.
"Mau kemana?" tanya Arya menarik lengan gadis itu
"Aku mau ganti baju dulu," jawab Luci
"Beginikah sikap mu setalah membiarkan aku menunggumu menahan lapar sepanjang petang. Tidakkah ada permintaan maaf atau penyesalan darimu yang telah meninggalkan tanggung jawab mu tanpa memberi kabar padaku," tutur Arya membuat Luci tak enak hati
"Maaf kan aku Mas, aku lupa memberi tahu kamu kalau sekarang aku memiliki pekerjaan tambahan, sehingga hari ini aku pulang terlambat," jawab Luci
"Aku gak mau tahu, yang jelas sekarang gue laper dan lo harus siapin gue makanan sebelum gue jatuh pingsan karena cacing-cacing di perutku mati kelaparan," tutur Arya
"Baiklah, tunggu sebentar," Luci segera bergegas menuju ke dapur dan mencari bahan makanan di kulkas untuk membuat makan malam.
Satu jam kemudian Luci sudah selesai membuat makan malam untuk Arya.
"Silakan, makan malam sudah siap," ucap Luci
"Thanks," jawab Arya
Ia kemudian segera menuju meja makan.
"Lo mau kemana?" tanya Arya
"Aku mau mandi, rasanya badanku lengket banget,"
"Cepat mandi setelah itu temani aku makan, aku tak mau makan sendirian," sahut Arya
"Yaudah kalau gitu aku temani Mas Arya makan dulu baru mandi," sahut Luci
"Ok,"
Luci kemudian menuangkan nasi beserta lauk pauk ke piring Arya .
"Lo gak makan?" tanya Arya
"Aku masih kenyang tadi Mas Guntur mengajakku makan sebelum pulang," sahut Luci
"Kalau gitu aku juga gak mau makan, aku sudah kenyang melihat nasi didepanku," jawab Arya
"Yuadah iya, demi Mas Arya aku akan makan lagi," jawab Luci
"Nah gitu dong, gue paling gak suka sama cewek-cewek jaim yang selalu menahan lapar dengan dalih diet agar langsing,"
"Aku gak pernah diet mas, aku ingin menikmati hidup," jawab Luci
"Good, aku suka cewek kaya lo, jujur meskipun kadang suka malu-maluin," ucap Arya tertawa kecil
"Katanya masih kenyang, tapi habis dua piring dasar maruk," cibir Arya
"Hehehe, maaf Mas mungkin karena saking enaknya masakan gue hingga tak terasa sudah menghabiskan dua piring," sahut Luci
"Alasan,"
"Hehehehe," Luci terkekeh melihat ekspresi wajah Arya
Sementara itu di depan gerbang, tampak seseorang diam-diam memata-matai rumah itu.
"Jadi ini rumahnya, Lumayan besar juga."
Mencium gelagat mencurigakan dari orang itu membuat Guntur yang sedang berpatroli segera meringkus orang itu.
"Arrrrrghhh, lepasin Gue!" seru orang itu terus meronta
"Sebaiknya kamu jelaskan semuanya ke pos nanti," ucap Guntur kemudian memelintir lengan orang tersebut
"Awww!" seru orang itu berteriak kesakitan
"Lepasin Gue, gue bukan maling!" serunya membuat Luci dan Arya keluar dari dalam rumah karena berisik.
"Ada apa ini, kenapa berisik sekali!" hardik Arya
"Saya menangkap seseorang yang mencurigakan sedang mengintai rumah anda," jawab Guntur
Arya dan kemudian berjalan menghampirinya untuk melihat wajah orang yang berusaha mencuri di rumahnya.
"Suzy!" seru Luci begitu kaget saat melihat gadis itu