
Seorang lelaki terus menghalangi istrinya yang akan pulang kampung dengan alasan akan melahirkan bayinya di tanah kelahirannya.
"Tidak bisakah kau melahirkan di Jakarta saja, agar aku bisa melihat putriku lahir," tandas lelaki itu mengiba
"Kau sudah tahu bukan alasan aku melahirkan di kampung halaman ku?, aku hanya ingin anak kita selamat." jawab wanita itu enteng
"Memangnya dia tidak akan selamat jika lahir di Jakarta?" tanya suaminya lagi
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu begitu percaya degan hal-hal mistis seperti itu. Ingat Ning sekarang ini jaman modern jadi hal-hal seperti itu sudah tidak mungkin ada lagi. Apalagi aku dan kamu bukan orang-orang yang mempercayai kejawen apalagi mengamalkan lelakunya. Sudahlah kita serahkan semuanya kepada Gusti Allah, karena hidup mati manusia sudah di tetapkan kita juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jika memang bayi kita sudah ditakdirkan untuk hidup maka dimanapun kau melahirkannya dia akan tetap hidup dan sebaliknya. Sebaiknya kau istirahat saja, bukankah besok adalah jadwal pemeriksaan kehamilan mu?" ucap lelaki itu begitu lembut
"Baiklah Mas," jawab wanita itu kemudian segera masuk kedalam kamarnya dan beristirahat.
**************
"Sekarang aku serahkan patung ini padamu, jika kau ingin menyelamatkan Luci maka lakukan apa yang aku suruh, atau kau akan menyesal karena akan kehilangan dia untuk selamanya,"
"Ah sial, masa sih aku yang harus mencium patung bisa turun tingkat ke cool an Arya Tejo dimata para wanita. Terpaksa gue cium juga nih patung demi Luci, ku harap aku bisa menyelamatkannya setelah ini," ucap Arya
Lelaki itu segera memejamkan matanya dan mencium bibir patung wanita itu.
*Wuushh!!!
Ciuman bibir Arya membawa lelaki itu ke masa lalu dimana ia menghabiskan waktu hukumannya di Alas Ijen.
Dimana aku ???
Arya tampak kebingungan saat menyadari dirinya kembali ke alas Ijen.
Kenapa aku kembali lagi kesini, dimana patung itu, dimana Guntur??.
"Tejo!!!" suara Ki Broto Seno menggema di seluruh Alas Ijen
Bukankah itu suara Ki Broto, kenapa dia ada disini?? bukankah dia sudah wafat???
Kembali sebuah pertanyaan terlintas dalam benak Arya Tejo saat mendengar suara Ki Broto memanggil namanya
"Aku sudah melarang mu untuk tidak membunuh Marijo tapi kau tak mengindahkan peringatan dariku. Kau sudah melanggar pantangan besar yang harus kau hindari jika ingin menjadi manusia kembali. Karena kau sudah melanggar perintah ku maka aku akan mengurung mu di hutan ini selamanya. Bertapa lah agar kau bisa merenungi kesalahan mu dan kau bisa menjadi manusia lagi. Kali ini kau tidak akan bisa keluar dari hutan ini sampai ada seseorang yang bisa mengeluarkan dirimu dari penjara ini," tutur Ki Broto Seno
"Suara ini?, sepertinya aku pernah mengalami kejadian ini. Apakah aku mengalami De javu??, atau aku sedang bermimpi?" Tejo segera menepuk-nepuk pipinya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bermimpi
"Awww, sakit. Apa ini berarti ini bukan mimpi. Apa gue kembali ke Alas Ijen karena patung wanita itu. Ah sial, pasti si Guntur Bumi sengaja mengirim gue kesini agar dia bisa bersama Luci. Dasar brengsek!"
"Apa alasan si brengsek itu mengirim ku kembali ke sini!" gerutu Arya
Ia berusaha mencari jalan keluar dari dari hutan itu. Namun sekeras apapun ia mencoba keluar dari hutan itu, ia selalu kembali ke tempat yang sama.
"Ah sial!!"
"Kenapa aku kembali lagi kesini, bukankah aku harusnya sedang bersama Guntur di rumah Alvin??. Apa Ki Broto sengaja mengirim Guntur untuk memenjarakan aku lagi di hutan ini?. Oh sial, kenapa juga aku harus mempercayai bajing*n itu dan melakukan semua perintahnya, dasar brengsek. Tunggu saja pembalasan ky Guntur, aku pastikan kau akan mendapatkan balasan yang setimpal karena sudah mempermainkan seorang Arya Tejo!" gerutunya
Seorang wanita begitu kebingungan manakala mendapati dirinya sudah berada di sebuah hutan.
"Dimana ini, kenapa aku bisa berada di sini?" wanita itu segera bangun dan mengucek-ucek matanya.
*Srak, srak, srak!!!
Wanita itu berjalan mencari jalan keluar.
"Bagaimana aku bisa berada di dalam hutan, siapa yang memindahkannya aku kesini," ucapnya begitu ketakutan
"Mas Agung dimana kamu!" seru wanita itu memanggil suaminya
Wanita itu mencoba tegar dan terus berjalan menyusuri hutan demi mencari jalan pulang meskipun ia begitu ketakutan.
"Siapapun yang sudah membawaku ke tempat ini, aku yakin dia ingin membantuku menyelamatkan putriku," ujarnya mencoba berprasangka baik meskipun kesedihan mulai menderanya.
Sepertinya ada yang datang ke tempat ini?
"Bagaimana mungkin ada manusia yang datang ke hutan ini, apa dia pendaki yang tersesat atau dia sedang uji nyali?" Arya terus mengamati wanita yang berjalan mendekat kearahnya itu.
"Dia sedang hamil??, bagaimana mungkin wanita yang sedang hamil tua berkeliaran di hutan angker seorang diri. Apa dia tersesat atau dia datang untuk bunuh diri??" rasa penasaran membuat Arya terus mengikuti wanita itu.
"Kenapa aku mengikuti wanita itu, apapun yang terjadi padanya itu bukan urusan ku. Lagipula siapa suruh dia memasuki hutan angker ini seorang diri," Arya kemudian membalikkan badannya
"Sabar ya nak, sebentar lagi kita pasti bisa keluar dari hutan ini." ucap wanita itu mengusap perutnya.
"Kenapa kamu terus bergerak dan tak bisa diam nak, apa kau sudah tak sabar untuk melihat dunia ini?" imbuhnya menyunggingkan senyumnya
"Arrgghhh, perutku!" seru wanita itu mengaduh sembari memegangi perutnya
"Arrrrrghhh sakiiit!" serunya lagi
Mendengar teriakan wanita Arya Tejo segera menghentikan langkahnya.
"Apa yang terjadi, apa dia akan melahirkan??. Berbahaya sekali jika ia melahirkan di hutan ini, aku takut para penghuni hutan akan memangsa bayi itu," ucap Arya
Ia segera membalikkan badannya untuk melihat keadaan wanita itu.
Benar saja, seperti dugaan Arya, wanita itu benar-benar melahirkan bayinya di hutan itu
Tidak lama terdengar Suara tangisan bayi menggema membangunkan para lelembut penghuni Alas Ijen.
"Balung wangi!!" seru Arya mengendus aroma wangi yang begitu memikatnya. Seketika lelaki itu segera berubah menjadi Asu Baung saat menghirup aroma wangi sang tulang wangi
Aroma wangi darah sang bayi menyebar keseluruh penjuru hutan mengundang para mahluk gaib mendatangi tempat itu.
Ribuan mahluk gaib berterbangan menghampiri wanita itu.
Mengetahui banyak mahluk tak kasat mata menginginkan buah hatinya, wanita itu segera memeluk erat bayinya.
"Sepertinya dugaan wanita itu benar, kelahiran mu akan memancing banyak lelembut yang menginginkan dirimu," ucapnya menatap ribuan bayangan hitam yang mengitarinya
"Sial, mereka benar-benar datang," Arya segera melesat dan menyambar tubuh sang bayi saat para lelembut itu mencoba merebut bayi itu dari ibunya.
*Wuushh!!!
Saat para mahluk gaib itu tak berhasil merebut bayi itu, dari tangan Arya mereka pun menyerang ibu sang bayi dan menjilati darahnya.
"Dasar mahluk sialan enyahlah dari sini!" seru Arya Tejo menghantamkan pukulan keras ke tanah hingga membuat semua mahluk gaib terhempas dari tempat itu.
Ia kemudian menarik sesosok lelembut yang masih menempel di tubuh sang ibu bayi.
Ia kemudian melepaskan tendangannya kearah mahluk itu hingga musnah menjadi kepulan asap hitam.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Arya menghampiri wanita itu
"Aku tidak apa-apa, asalkan bayiku selamat, bahkan jika aku harus mati sekarang aku tak mengapa," jawab wanita itu
"Bangunlah, aku akan membawamu ke tempat aman dan mengobati lukamu," ucap Arya mengulurkan tangannya
"Tidak perlu, terimaksih sudah menolong kami Aku sudah bahagia melihat putri ku lahir dengan selamat sehingga aku tak bisa merasakan lagi sakitnya luka di tubuhku," ucapnya tersenyum simpul
"Sial, para demit itu sudah memakan sebagian tubuhnya, bagaimana dia bisa bertahan hidup!" keluh Arya saat melihat tubuh wanita itu yang penuh dengan bekas gigitan mahluk gaib.
" Sepertinya ucapan wanita itu benar aku akan bertemu dengan seorang yang akan melindungi putri ku suatu saat nanti, jadi aku tak akan khawatir lagi dengannya, tolong jaga putriku," ucap wanita itu menggenggam erat jemari Arya
"Bagaimana mungkin seorang siluman seperti diriku bisa melindunginya, yang ada justru aku akan memakannya," jawab Arya
"Semuanya bisa saja terjadi, tidak ada yang mustahil di dunia ini. Jadi tolong lindungi putriku," ucap wanita itu mengiba
"Tentu saja itu tidak mungkin, tidak ada sejarahnya harimau akan merawat seekor bayi rusa, jika rusa merawat bayi harimau itu mungkin saja. Seekor predator tidak akan pernah bisa menjaga mangsanya karena itu sesuatu yang mustahil," jawab Tejo
Wanita itu tiba-tiba saja kejang dan mengeratkan genggaman tangannya.
"Tolong lindungi putriku," ucap wanita itu kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.