INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Pertemuan



*Flashback


Di sudut ruang kamar yang begitu megah terlihat sosok lelaki sedang menangisi putranya yang terbaring lemah di ranjangnya.


Dokter memvonis anak itu terkena Kanker Getah bening stadium akhir, hingga usianya diperkirakan tidak lebih dari tiga bulan. Sudah berbagai cara ia lakukan demi kesembuhan putra semata wayangnya, mulai dari pengobatan medis di dalam negeri hingga ke luar negeri namun penyakitnya tak kunjung membaik.


Saat kondisinya mulai sekarat seorang rekan bisnisnya menyarankan ia untuk berobat kepada Ki Brojo Anom.


Dikalangan para pengusaha nama Ki Brojo memang sudah tak asing lagi, selain dipercaya sebagai dukun sakti yang kerap membantu melancarkan bisnis para pengusaha, ia juga sangat mahir dalam menyembuhkan penyakit langka.


Ditemani oleh rekan bisnisnya ia membawa putranya ke padepokan Ki Brojo.


"Bagaimana bisa aku menyembuhkan anak itu, dia tidak mengidap penyakit supranatural, dia hanya perlu perawatan dari dokter," ucap Ki Brojo berusaha menolaknya


"Tenang saja Aki, aku yakin dengan kekuatan yang kau miliki kau bisa menyembuhkannya," sahut Alvin Syailendra


"Kalau kau bisa mengobatinya kenapa menyuruh lelaki itu datang padaku!" seru Ki Brojo


"Aku tidak bisa menyembuhkannya sendiri tanpa bantuan mu. Aku yakin suatu hari anak ini akan berguna untuk mu. Dia akan membantu mu membalaskan dendam kepada Arya Tejo," jawab Alvin


Lelaki itu mendekati sang pemuda yang terbaring di atas tikar pandan kemudian mencekiknya hingga ia mati.


Ki Brojo Anom yang ketakutan segera menghampirinya.


"Sial, kenapa kau membunuh anak itu. Apa kau tidak tahu jika ayahnya adalah seorang pejabat sekaligus anggota dewan, kita bisa kena masalah besar jika ia tahu kita membunuh putra tunggalnya." ucap Ki Brojo


"Tentu saja aku tahu, justru akan lebih mudah menyembuhkannya setelah kita membunuhnya," jawab Alvin Syailendra


"Apa maksudmu?"


"Kita akan menghidupkannya kembali dengan menggunakan darah balung wangi," bisik Alvin kemudian terkekeh


Ki Brojo benar-benar tidak percaya dengan ide gila Alvin Syailendra.


"Bagaimana jika tidak berhasil?" tanya Ki Brojo


"Bukan Alvin Syailendra jika aku tidak bisa menghidupkan kembali manusia dari kematiannya. Dan kau ... tidak perlu lagi memberikan persembahan untukku jika aku gagal,"


"Baiklah, aku percaya padamu, kau adalah iblis terlicik dan terkuat yang ada di muka bumi ini, itulah alasannya aku mengabdikan diri ku padamu yang mulia," ucap Ki Brojo kemudian menundukkan kepalanya memberi penghormatan kepada Alvin Syailendra


Lelaki itu kemudian segera mencari tumbal balung wangi. Tidak mudah memang mencari seorang balung wangi, namun dengan kemampuan supranaturalnya Ki Brojo akhirnya berhasil mendapatkan tumbal sesuai permintaan Alvin Syailendra.


Malam itu Ki Brojo membawa satu botol darah balung wangi dan memberikannya kepada Alvin Syailendra yang sudah mempersiapkan altar persembahan di padepokannya.


Alvin kemudian memulai ritualnya, Iblis itu menggunakan kekuatannya untuk membangkitkan jiwa pemuda itu. Selesai melakukan ritual Alvin meminumkan darah Balung Wangi kepada sang pemuda dan ajaibnya mayat itu kembali hidup lagi.


"Mulai sekarang aku akan manjadi jalan bagiku untuk membalaskan dendam ku kepada Arya Tejo, Gili kau akan menjadi bom waktu yang siap membantu ku membunuh Arya kapanpun aku mau," ucap Alvin menyeringai


*Flashback off


"Kali ini aku pastika kau akan mati di tanganku anak haram, aku tidak akan membiarkan dirimu hidup setelah mengetahui semuanya,"


*Tak, tak, tak!!


Alvin melangkahkan kakinya mendekati Leo yang tengah bertahan agar tak jatuh dari tempatnya bernaung. Bak Malaikat maut Alvin begitu bahagia melihat saudara tirinya itu di ambang kematian.


Alvin menggilasnya tangan Leo dengan sepatu fantopelnya hingga membuat pemuda itu mengerang kesakitan dan melepaskan tangannya hingga terjatuh dari lantai lima GREENLAND building.


*Aaarrrggghh!!!


Alvin kembali tertawa terbahak-bahak mengungkapkan kebahagiaannya saat berhasil menyingkirkan Leo.


"Selamat tinggal Wira Andika, sekarang tidak ada lagi yang akan menghalangi ku untuk membunuh Arya Tejo," ucapnya kemudian membalikkan badannya.


Sesosok bayangan putih melesat menangkap tubuh Leo.


"Ibu??" lelaki itu berkaca-kaca saat melihat wajah Juleha tersenyum menangkap tubuhnya.


"Belum saatnya kau menyerah putraku, kau masih harus berjuang untuk melindungi kakakmu. Sekarang kembalilah," ucap Juleha


Wanita itu kemudian melemparkan tubuh Leo hingga kembali ke tempatnya semula.


Berjuanglah putraku,


Lelaki itu perlahan turun dari Jendela, agar tak mengejutkan Alvin. Ia diam-diam merayap dan menarik kaki Alvin saat pemuda itu hendak melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan itu.


Alvin segera menoleh kebelakang saat merasakan seseorang menarik kakinya.


Matanya memerah saat menoleh ke bawah, ia tidak percaya begitu melihat siapa yang mencoba menghentikan langkahnya.


"Wira, bagaimana bisa kau...."


Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Alvin sebelum pemuda itu menyelesaikan ucapannya.


"Sekarang aku tidak selemah yang kau bayangkan Alvin??" ucap Leo menyeringai


Lelaki itu kembali melepaskan pukulannya kearah ulu hati Alvin, pertarungan keduanya tak dapat dihindarkan lagi.


Seperti dendam kesumat di masa lalu, Alvin juga tak mau melepaskan Leo meskipun ia sudah babak belur di buatnya.


Sial, bagaimana bocah tengik itu bisa menjadi sekuat ini!


Menyadari kekuatan Leo semakin meningkat, Alvin sadar jika ia tak bisa mengalahkan Leo kali ini, pemuda itu kemudian langsung menghilang dari tempat itu begitu ada kesempatan untuk menyelamatkan dirinya.


"Dasar pengecut, kau selalu saja kabur saat terdesak!" celetuk Leo


Pemuda itu kemudian merebahkan tubuhnya di kursi kerjanya.


Ia kemudian mengambil cermin untuk melihat kondisi wajahnya.


"Ah sial, gara-gara Iblis itu wajah tampanku jadi sedikit ternoda, sepertinya aku harus segera pergi ke klinik kecantikan untuk melakukan perawatan. Bahaya jika para gadis melihat wajahku yang kacau seperti ini," Leo segera menyambar tas kerjanya dan bergegas meninggalkan ruang kerjanya


Ia sengaja menutupi wajahnya yang memar dan penuh luka-luka dengan memakai penutup kepala Hoodie yang dipakainya.


Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah klinik kecantikan langganannya di pusat kota.


*Ciiit!!!


Tiba-tiba ia harus mengerem mendadak mobilnya saat melihat seorang wanita di begal didepannya.


"Kenapa harus sekarang??" gerutunya


Ia mencoba mengacuhkan wanita itu dan menyalakan mobilnya, namun hati nuraninya yang lembut membuat ia langsung mematikan mobilnya dan segera turun untuk menolong gadis itu.


"Oii, lepaskan dia!" seru Leo dengan suara lantang


Dua orang begal yang menggunakan senjata langsung menodongkan pisaunya leher gadis itu.


"Jangan ikut campur atau aku akan membunuh gadis ini!" ancam sang Begal


Dasar bodoh, kau kira bisa mengancam ku dengan trik murahan seperti itu.


"Jika kalian butuh uang, sebaiknya lepaskan gadis itu, karena dia hanyalah seorang gadis miskin yang tidak memiliki uang banyak, bahkan ponselnya pun masih ponsel jadul yang sudah tak bernilai jika kau jual," ucap Leo dengan santai


Pemuda itu kemudian kembali ke mobilnya untuk mengambil sesuatu.


"Ambillah uang ini dan lepaskan gadis itu!" seru Leo melemparkan segepok uang kepada para begal.


Kedua begal itu kemudian mendorong gadis itu kearah Leo dan segera pergi setelah mengambil uang dari Leo.


"Terimakasih sudah menolong ku," ucap gadis itu


"Makannya jangan suka memakai barang-barang KW karena itu bisa menarik para penjahat. Karena bagaimanapun juga meskipun barang-barang itu imitasi tetap saja akan terlihat asli jika dipakai wanita cantik seperti dirimu," ucap Leo membuat wanita itu tersanjung namun juga merasa malu.


Sialan, dasar brengsek aku kira dia memuji ku tapi ternyata justru mengolok-olok diriku.


"Tunggu, sepertinya aku familiar dengan wajahmu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya gadis itu mengernyitkan hidungnya


"Tentu saja gadis manis, kau adalah teman Luci yang merayuku saat di rumah Arya bukan?"


Seketika wajah Vie memerah saat mendengar ucapan Leo.


"Leo????"