INHUMAN KISS

INHUMAN KISS
Tanda Tanya



*Bruuugh!!


Tejo yang mulai lemas terjatuh ke lantai.


"Kang Mas!" pekik Alvin gusar


*Tak, tak, tak!


Ki Brojo melangkah menghampiri Arya Tejo dengan sumringah. Senyum kemenangan nampak terpancar dari wajahnya.


"Tidak ku sangka akhirnya aku berhasil membalaskan dendam leluhur ku juga. Mulai sekarang aku akan mengembalikan kalung ini kepada pemiliknya dan menjadikan Arya Tejo sebagai kaki tangan ku, hahahaha!" seru Ki Brojo anom


"Dasar manusia laknat, kalian bersekongkol untuk mengkhianati ku rupanya." Alvin berusaha bangun meskipun pandangannya mulai kabur.


"Selama aku masih hidup aku tidak akan membiarkan kalian memperbudak kakakku. Jika memang dia harus mati maka hanya aku yang boleh membunuhnya bukan kalian!" seru Alvin berusaha menyerang Gili dengan pedang Iblis di tangannya.


Namun serangannya terus meleset karena ia mulai kehilangan penglihatannya.


"Sepertinya kau sudah sekarat sekarang Yang Mulia. Baiklah aku akan mengakhiri penderitaan mu sebagai ucapan terimakasih ku karena kau sudah membangkitkan aku dari kematian," ucap Gili merebut pedang iblis dari tangan Alvin


"Sekarang saatnya menemui Malaikat Maut Alvin Syailendra,"


Tidak, kau tidak boleh membunuhnya,


Arya segera bangkit dan menggunakan sisa tenaganya untuk menahan serangan Gili.


"Dasar bodoh kenapa kau melakukan hal konyol itu," ucap Alvin begitu gusar melihat Arya Tejo kembali tersungkur ke lantai


"Pergilah, dan selamatkan dirimu!" ucap Arya kemudian melepaskan kilatan putih kearah Alvin hingga pemuda itu seketika lenyap dari tempat itu.


*Bruugghhh!!!


Guntur begitu terkejut saat mendapati Alvin jatuh di tempat kerjanya.


"Alvin??" Lelaki itu segera memeriksa kondisi Alvin yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri.


"Dia masih hidup??"


Tiba-tiba Alvin membuka matanya, dan menggenggam erat jemari Guntur. Seolah tahu hanya Guntur yang bisa menyelamatkan Arya, ia segera mengatakan sesuatu sebelum ia kembali tak sadarkan diri.


"Tolong selamatkan Kang Mas Sayuti...." ucap Alvin memegang erat jemari Guntur


"Arya Tejo???" tanya Guntur tak percaya


"Tolong selamatkan dia...." ucap Alvin sebelum ia kembali tak sadarkan diri.


Guntur segera menggendong Alvin dan membawa lelaki itu ke rumah Arya.


*Ting Nong!


Mendengar suara bel rumahnya berbunyi Leo segera keluar untuk melihat siapa yang datang.


Pemuda itu sedikit terkejut saat melihat Guntur yang datang sambil menggendong Alvin Syailendra musuh bebuyutannya.


Awalnya ia menolak, saat Guntur meminta izin untuk merawat Alvin di kediaman Arya. Namun. mendengar alasan Guntur membuat Leo sedikit melunak dan mempersilakannya untuk membawa Alvin masuk kedalam rumah.


Guntur segera membaringkan tubuh Alvin di karpet yang sudah di sediakan oleh Leo.


"Bagaimana cara menyelamatkannya, apa kau bisa memberikan pertolongan pertama pada Iblis seperti dia?" tanya Leo


"Entahlah, aku juga belum tahu," jawab Guntur


"Kalau lo belum tahu ngapain membawanya ke mari!" cibir Leo


"Kita belum tahu kalau belum mencobanya, so berikan aku kesempatan untuk HBO menyelamatkannya, aku yakin jika aku bisa menyelamatkannya maka kita bisa menolong Luci dan Arya juga," terang Guntur


"Kalau begitu cobalah, maaf aku tak bisa membantu mu kali ini. Kau tahu kan jika aku hanya manusia biasa yang hanya bisa mencintai para wanita, janda-ajanda muda nan jelita," sahut Leo


"Baiklah kalau begitu bisa minta tolong siapakan sesaji untuk ku?" tanya Guntur


"Sesaji?, buat apa?" tanya Leo


Guntur kemudian menyampaikan maksudnya untuk meminta bantuan kakek buyutnya bagaimana cara menyelamatkan Alvin dan juga Arya.


Leo kemudian pergi menuju ke pasar tradisional untuk membeli keperluan sesaji yang di minta oleh Guntur.


"Kalau bukan karena Mas Arya, males banget gue jalan-jalan ke pasar." gerutu Leo


Dengan menggunakan outfit casual dan kacamata hitam Leo begitu percaya diri melangkahkan kakinya ke pasar tradisional. Tidak lupa ia memakai Topi untuk melengkapi penampilannya. Pemuda itu sengaja menutupi wajahnya, agar para wanita tidak histeris saat melihatnya di pasar.


Bagaimana bisa artis sekaligus top model seperti gue kelayapan di pasar, yang ada juga harusnya gue belanja di mall. Ah dasar Guntur sialan, bisa-bisanya gue nurutin kemauan dukun karbitan itu. Wait...apa gue sudah di guna-guna olehnya sehingga selalu menurut saat diperintah olehnya, Oh My God kenapa gie jadi bodoh gini,


Leo terus bermonolog sendiri hingga tak sadar ia menabrak seorang wanita.


"Oi, kalau jalan pakai mata dong!" seru seorang gadis membuat Leo segera membuka kacamatanya.


"Vie??"


"Itu anu, aku...." jawabnya terbata-bata


"Ish pakai gugup segala, nih minum dulu biar gak oleng," celetuk Vie memberikan sebotol air mineral untuknya


"Btw kamu di pasar ngapain?" tanya Leo


"Membantu Ibu jualan,"


"Ibumu jualan di sini?" tanya Leo lagi


"Hooh,"


"Kalau gitu bisa minta tolong gak?"


"Apa, selama aku masih bisa pasti aku bantu,"


Leo kemudian membisikkan sesuatu kepada Vie. Gadis itu seketika melirik sinis kearahnya. Gadis itu tidak menyangka jika cowok metroseksual seperti Leo juga mempercayai hal-hal berbau klenik.


"Jangan suudzon dulu, gue membeli semua itu bukan untuk gue tapi buat teman gue," ucap Leo seketika menebak isi hati Oktavia.


"Ok, kalau gitu sebaiknya lo temui nyokap gue, karena dia lebih ngerti masalah ginian daripada gue," sahut Vie


Gadis itu kemudian mengajak Leo menemui ibunya. Betapa terkejutnya Leo saat tahu jika Wenni adalah ibu dari Oktavia.


"Wah dunia memang begitu sempit, tidak ku sangka kau ternyata putri dari bu Weni,"


"Mas Leo jauh-jauh ke pasar ada perlu apa toh, mungkin bisa saya bantu?" tanya wanita paruh baya itu dengan ramah


"Saya memerlukan bahan-bahan ini untuk keperluan sesaji Bu," jawab Leomemberikann secarik kertas kepada Wenni


Pemuda itu juga kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Arya dan Luci hingga membuat Wenni begitu antusias untuk menolongnya. Bagaimanapun juga Luci dan Arya sudah menyelamatkan Vie saat gadis itu nyaris menjadi tumbal saat mencari pekerjaan di sebuah sekolah negeri. Alih-alih sebagai balas budi Wenni juga ikhlas membantu Arya karena Arya sering membantunya dari segi materi.


"Baik, biar saya bantu Carikan. Sebaiknya Mas Leo duduk saja di sini," ucap Wenni


"Terimakasih Bu Wen,"


"Sama-sama Mas,"


Wenni kemudian meminta Vie untuk menemani Leo selama ia mencari barang-barang yang di cari oleh Leo.


Tidak butuh waktu lama bagi Wenni untuk mencari barang-barang yang dibutuhkan Leo. Hanya setengah jam wanita itu sudah kembali dengan membawa satu kantong plastik pesanan Leo.


"Alhamdulillah semuanya ada Mas, kata orang sih kalau mencari bahan-bahan sesaji Semuanya ada pertanda baik. Semoga semuanya lancar ya Mas, dan Luci serta Mas Arya bisa cepat sembuh," ucap Weni memberikan kantong belanjaanya kepada Leo


Setelah mendapatkan semua keperluan ritual Guntur, Leo kemudian berpamitan dan segera pulang.


Setibanya di rumah ia segera memberikan semua belanjaannya kepada Guntur.


Malam harinya Guntur melakukan ritual pemanggilan arwah leluhur. Lelaki itu seperti sudah menguasai ilmu perdukunan ia begitu khusu melakukan ritual itu.


Setelah meneguk segelas kopi hitam, Guntur mengambil sebatang rokok yang ada dalam baki sesaji dan menyalakannya. Ia kemudian menghisapnya sambil menikmati rasa kretek khas untuk para lelembut itu. Pemuda itu kemudian membuang asap rokoknya ke udara, dan tak lama seperti seorang kesurupan Guntur menari dengan gemulai di bawah cahaya rembulan.


Sementara itu Leo terus mengawasi Luci yang semakin lama semakin membiru wajahnya.


"Bagaimana ini sudah lebih dari tiga jam, aku takut dia sekarat sekarang," Leo kemudian menyentuh kening Luci yang semakin dingin.


Ia kemudian menyusul Guntur yang masih menari sambil menikmati rokoknya.


"Udahan belom ritualnya Gun, Luci sekarat!" seru Leo menghampiri Guntur


"Jangan khawatir cah bagus, Luci akan baik-baik saja," jawab Guntur dengan santai


"Gundul mu, bagaimana dia baik-baik saja jika kondisinya semakin kritis," cibir Leo


"Percayalah, Gili tidak akan membunuh gadis itu karena dia sangat menginginkannya, jadi sebaiknya kita fokus menyelamatkan Alvin agar bisa menyelamatkan Arya lebih dulu," jawab Guntur


"Apa kau sudah mendapatkan wangsit?" tanya Leo


"Tentu saja," Guntur kemudian masuk kedalam rumah dan menghampiri Alvin


Ia kemudian mengambil darah ayam cemani dari sesaji dan menyeramkan keatas bagian tubuh Alvin yang terluka. Ajaib tiba-tiba lukanya langsung mengering dan menutup.


Tidak lama lelaki itu membuka matanya, dan segera bangun.


"Terimakasih sudah membangkitkan aku Aki," jawab Alvin kemudian duduk bersila.


Lelaki itu kemudian memejamkan matanya, dan tidak lama ia menghampiri Luci.


Saat ia akan memberikan penawaran racun kepada perempuan itu, Guntur segera mencegahnya.


"Kenapa??" tanya Leo penasaran


"Kita akan menjadikan Luci sebagai sandra untuk membebaskan Arya," jawab Guntur